
Begitu membuka mata, tubuhku langsung beranjak. Suasana ruangan OSIS sudah bercahayakan lampu. Pantulan bayang-bayang pohon di luar ruangan menyembul di ambang pintu yang terbuka. Sudah malam, buru-buru aku melihat jarum jam.
"Buset?!" jeritku. "Udah jam sembilan. Pantes, aja, serba nyala."
Secepat kilat, aku bergerak. Memasukkan laptop ke dalam ransel, lalu meraup jas almamater yang tergeletak di lantai. Wewangian parfum seketika semerbak, memancingku mengendus layaknya anjing pelacak yang mencari orang hilang. "Sebentar, sebnetar ...." Aku mengendus lagi karena
merasa kurang yakin. "Kenapa kayak bau cowok, ya?" Dahiku mengeryit, merasa aneh dan bingung di waktu yang sama.
Takut indra penciumanku yang salah, tanganku bergerak ke bagian kerah. Ada size yang lain di sini. Pantas saja wanginya maskulin, ternyata jas ini bukan milikku. Celingukan aku mencari sosok yang sekiranya masih diam di sini. Bukankah tega, jika semua anggota meninggalkanku sendirian? Aku memang ketiduran, tapi itu karena menunggu balasan Pak Abigail tentang proposal terbaru yang selesai tepat di jam enam petang. Merasa tidak menemukan apa pun sebagai petunjuk keberadaan orang, napasku berembus panjang. "Mana mungkin mereka nunggu. Setia kawan juga ada batasnya."
Pasrah ditinggalkan, setelah memakai ransel aku memutuskan keluar ruangan. Tanpa mengunci pintu, aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Kesunyian ini membawaku pada pikiran-pikiran aneh. Semilir angin malam sudah pasti membuat bulu kuduk bergidik. Aku berhenti di tengah lorong merasa tidak kuat dengan dinginnya keheningan. Jas yang belum bertemu pemiliknya pun terpaksa aku kenakan lagi. Setidaknya, tubuhku harus hangat, supaya frekuensi merinding berakhir.
Masih mode memberanikan diri, akul
melanjutkan langkah. Berusaha tidak menoleh ke belakang karena tidak mau membayangkan hal yang menakutkan. Tiba di persimpangan menuju kelas dan parkiran, aku menahan napas dalam. Ingin langsung ke parkiran, tapi sepatuku di rak depan kelas. Ingin mengambil sepatu, tapi gelap. Jadi, aku harus bagaimana?
"Dara?!"
Teriakan itu sukses membikin tersentak sekaligus bahagia. Ada yang masih di sini. Tidak semua orang pulang ternyata. Kepalaku menoleh ke arah si pemanggil. Dia berdiri di ujung koridor, seperti keluar dari toilet laki-laki. Sosoknya yang tidak terkena cahaya lampu membuatku tidak bisa melihat dengan jelas. Suara memang tidak asing, tapi daripada salah panggil, cap lebih baik aku menunggu dia menghampiri.
"Ke sini," perintahku dengan tangan melambai.
"Kamu udah bangun?" Kali ini aku sudah bisa melihat dan memastikan sosoknya yang datang. Wajah dan senyumannya sudah tertangkap pandangan karena dia berjalan menghampiriku di lorong yang terang.
"Kamu kenapa belum pulang?" Aku balik bertanya kepada Prayoga. Apa dia sengaja diam di sini? Merasa bertanggung jawab
karena aku ketiduran dan belum pulang?
"Sengaja," katanya seolah menjawab pertanyaan hatiku. Kami sudah berdiri berhadapan sekarang.
"Kenapa?" tanyaku lagi karena ingin mendengar jawaban yang lebih pasti.
"Masa mau ninggalin kamu di sini."
"Kamu, kan, bisa bangunin aku," balasku memberinya jalan tercepat untuk kepulangan kami.
"Bisa, tapi bahaya. Kalau bangunin kamu yang ngantuk, nanti naik motornya gimana? Gak bakalan oleng di jalan?"
Alasan dia boleh juga. "Kalau proposal gimana?" Deg-degan, sih, kalau bertanya tentang yang satu ini. Takut harus mengulang, mana sudah malam.
"Aman. Puji Tuhan udah di acc Pak Abigail. Besok uangnya cair, Ra."
Napasku berembus lega. "Ah, Tuhan! Akhirnya. Dara bisa bobok tenang malam ini."
"Bobo lagi? Pulang dulu kali." Dia menyentil ujung hidungku sambil tertawa geli.
"Iya, ini juga mau pulang, kok." Mataku langsung beralih ke rak sepatu di sudut kelas.
"Kenapa bengong? Takut, ya?" Dia terkekeh lagi.
__ADS_1
"Hm, Ga ...."
"Apa?" sahutnya sambil mendorong wajah ke depan wajahku.
"Boleh minta tolong?" Malu juga mengatakan ini. Takut disangka penakut, tapi memang betul takut, sih.
"Ambilin sepatu?" Dia memastikan tebakannya.
"Iya." Aku menjawab sambil nyengir kuda.
Prayoga mengangguk. "Tunggu di sini."
"Oke."
Aku melihatnya berlarian kecil menuju kelas X-A, mendekati rak yang disimpan di sudut lorong, lalu meraih sepatu yang tersisa. Secepat kilat dia mengambilnya, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dia pun sudah kembali ke sisiku.
"Takut, ya?" Sekarang ejekan itu berbalik padanya.
Dada yang kembang kempis, tetap memaksanya untuk memberiku sebuah jawaban. "Gak."
"Terus kenapa lari-lari?" Aku sampai menahan senyum karena dia enggan mengakui ketakutannya.
"Takut kamu nunggu kelamaan," dustanya sambil terkekeh.
"Alesan," cibirku sambil lalu.
"Hm?" Aku menyahut tanpa menatapnya karena tangan fokus mengenakan sepatu.
"Kamu pulangnya gimana?"
"Naik itu, lah!" Aku menunjuk motor matic di parkiran.
"Apa gak takut pulang sendiri? Udah jam sembilan lebih, lho."
"Ya, paling kecepatannya yang nambah."
Dia pun mengangguk paham. "Oke, kalau begitu. Hati-hati, ya."
Kami berpisah, berjalan berbeda arah karena motor Prayoga tersimpan di lahan parkir yang lain. Ransel yang memuat laptop untuk sementara waktu turun dari kedua pundak. Butuh perjuangan mencari kunci yang tertimbun beberapa buku. Setelah mendapatkannya, aku mulai memakai kembali ransel, menaiki motor, dan memasang helm.
Motorku menyala bertepatan dengan motor Prayoga yang mendekat. Lampunya yang menyorot tepat ke arah wajah sontak membuatku memejamkan mata selama beberapa saat. Beruntung karena si pengemudi menyadari aksinya yang menyilaukan orang. Terbukti, dia langsung mematikan mesin motornya.
"Ra?"
Aku menoleh. "Kenapa?"
"Yakin berani pulang sendiri?"
"Yakin," sahutku cepat dan mantap.
__ADS_1
"Gimana kalau saya kawal, aja?"
Deg!
Deja Vu.
Dulu juga pernah begini, tapi bukan dengan Prayoga. Kenapa dia menawarkan hal yang sama, ya? Hati yang sudah lupa mendadak ingat lagi, jadinya.
"Ra?" tegurnya karena aku belum memberi keputusan.
"Gak usah deh, Ga," tolakku karena tidak ingin terlibat dalam wisata masa lalu selama di perjalanan.
"Lho, kenapa?"
"Aku bisa pulang sendiri. Jalan ke arah rumahku gak sepi, kok. Aman kalau lewat sebelum jam sebelas."
Berkat penolakan itu, aku jadi pulang seorang diri. Berkendara di kecepatan 80 km/jam karena takut bertemu manusia usil. Bukan main hebatnya Dara. Tidak sampai dua puluh menit, aku sudah menepi di depan rumah. Papi yang kebetulan ada di sana, cepat-cepat membukakan pagar, lalu membantu anak bungsunya memasukkan motor.
"Papi ngapain di luar?" tanyaku begitu turun dan melepas helm.
"Nunggu kamu, lah," jawab Papi. Tangannya mengambil alih helm dan ransel dari pundakku.
"Bukannya sore tadi Dara udah kasih kabar, ya, ke Mami?" Seingatku begitu. Kenapa Papi masih menunggu? Anaknya, kan, sudah memberitahu akan pulang telat.
"Memang udah, tapi Papi tetep mau nunggu. Gak tenang kalau salah satu anak belum pulang."
"Aaa ... Papi!!!" Aku menghambur memeluk beliau. "Dara seneng karena Papi seromantis ini."
"Romantis ... romantis. Lagian kamu ngerjain apa, sih, sampai di sekolah malam banget?" omel Papi sambil menepis pelukanku.
"Kumpul OSIS terus ngerjain proposal." Aku tidak menyebut ketiduran karena takut Papi beranggapan kecapekan.
"Bagas gak ikut kumpul memangnya?"
"Kenapa jadi Kak Bagas?" Aku balik bertanya sewot. Susah payah menghindar dari wisata masa lalu, malah diingatkan juga pas pulang ke rumah.
"Bukannya dia ketua, ya?"
"Iya, memang ketua." Kepalaku sampai mengangguk.
"Terus kenapa dia gak anter kamu pulang? Masa ketua gak ikutan kumpul?"
Hah, astaga. Papi lupa apa, gimana?
"Kak Bagas gak ikut kumpul karena masih prakerin, Pi," jelasku sambil menahan gemas.
"Lah, terus yang kamu pakai jas siapa? Kenapa bau cowok?"
***
__ADS_1