Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 7 | Permohonan Maaf


__ADS_3

Suasana jadi menyenangkan di antara kami. Tim yang asalnya dibuat karena keterpaksaan itu pun berujung menjadi tim yang dipenuhi hasrat penerimaan. Aku tidak lagi memandang Riska dan Putri dengan sorot mata tajam. Mengingat saja kalau semalam mereka juga andil dalam membawa Shafira sampai tim medis menjemput di pertengahan jalan.


Tersisa empat orang yang berada di tenda. Kami sibuk membenahi pakaian dan perlengkapan karena siang hari diperkenankan pulang. Shafira tidak bergabung sejak semalam. Sudah diantar pulang oleh tim medis dan pihak sekolah karena kondisi tidak kunjung membaik.


Pekerjaanku selesai lebih awal. Setelah memakai sepatu, aku pamit kepada mereka. "Aku cuci botol dulu, ya."


Tidak mengajak siapa pun karena memang berniat sendirian mengantre di toilet umum. Sudah terkenal antrian panjang, sehingga aku tidak mau melibatkan teman hanya untuk mencuci sebuah botol minuman.


Sebuah colekan tiba-tiba terasa dari belakang badan. Kepalaku menengok sebentar. Ada Cecilia di sana, menatap dengan sorot mata tak wajar. Iya, dia tak wajar. Biasanya, kan, dia suka menatap jijik. Sekarang berbeda, tatapannya sekarang terlihat lebih santai.


"Kenapa?" tanyaku berhati-hati karena bagaimanapun dia tidak mungkin secepat itu menyukaiku.


"Mau ngobrol, aja, sama lo," jawabnya sambil menebar pandangan ke sembarang arah.


"Penting banget emang?" Hanya sedikit memastikan.


"Hm ... gitu, deh," katanya terdengar mengambang.


"Ya, udah ngomong di sini, aja." Tidak rela rasanya kehilangan slot mengantri. Tersisa lima orang lagi yang harus kutunggu. Jika pergi mengobrol sekarang, slot menuju toilet milikku akan diambil orang.


"Oke."


Dia terdiam sejenak sampai sebuah uluran tangan mengapung di hadapanku. Sedikit kebingungan, tetapi aku mencoba menahan diri untuk bertanya. Penuh kehati-hatian dia mencoba melafalkan maksud dan tujuan. "Gue mau ngajak ... damai."


"Yakin, lo?"


Aku tidak mau, ya, diajak damai sehari terus besoknya begitu lagi.


"Iya. Gue gak mungkin melangkah sejauh ini kalau gak yakin sama pilihan gue." Kali ini dia berani melihat ke wajahku lagi.


Sebelum membalas uluran, aku menyempatkan diri membaca arti tatapan itu padaku. Beberapa detik bersitatap, anehnya hatiku langsung yakin. Dia serius mengajak berdamai. Namun, untung mencegah hal yang tidak diinginkan ke depannya, aku masih ingin menanyakan sesuatu hal. "Alasan ngajak damai tiba-tiba apa?"


"Ya, gue merasa kalah, aja. Sekarang gue ngerti, alasan Arfan gak bisa semudah itu lupa sama lo."


Ah, apa dia tersentuh atas perlakuanku kepada Shafira semalam?


"Selain jangka waktu pacaran kalian yang lama. Gue semacam menemukan hal yang lo punya, tapi gue gak punya."


"Apaan kira-kira?" Aku jadi penasaran.


"Lo lebih gak pakai otak."


"Maksud lo?" semprotku sambil mengambil selangkah mundur karena antrian sudah berkurang satu orang.


"Ya, contohnya kayak semalam. Gue, sih, kalau jadi lo ogah, ya, gendong si Shafira. Udah, mah, berat. Belum lagi bawa diri sendiri. Pasti berat juga, tapi begitu gue balik dari panggil tim medis dan menemukan lo masih ngegendong dia, di situ gue berpikir kalau lo bukan cewek abal-abal."


Penjelasannya belibet, padahal intinya sama saja. Dia ingin memujiku hebat dan setia kawan 'kan?


"Sekarang gue beneran ngerti. Alasan Arfan dan Bagas rebutan seorang Dara. Mungkin karena lo memang mahal di mata mereka. So, gue mau ngajak baikan." Uluran tangan itu kembali bergoyang.


Sayangnya, masih ada hal yang membuatku penasaran. "Ini cuma baikan, doang?"


"Lah, terus lo mengharap apa lagi dari gue?" Dia langsung memelototiku.

__ADS_1


"Kasih janji, kek." Aku mulai kurang ajar. Eh, memang dari dulu kurang ajar, deng.


"Janji apaan?" Alisnya saling bertautan.


"Janji gak akan ganggu gue lagi," kataku yang ingin terbebas dari orang-orang julit.


"Iya. Kalau itu, sih, gak usah ditanya. Gue, kan, kasih fasilitas damai. Berarti sama itu juga. Gue gak bakalan ganggu lo juga, intinya." Dia menatap wajar kembali.


"Oke." Kali ini, aku mantap memegang janji sekaligus menggenggam perdamaian ini.


"Oh, ya, semoga kita bisa jadi teman baik, ya, Dara," pesannya dengan nada penuh harap.


"Iya, semoga kita bisa jadi teman yang baik juga, Cecilia." Aku hanya ikut-ikutan.


"Cecilia ... Cecilia. Panggil gue Kakak. Gue setingkat lebih tua daripada lo."


"Iya, iya." Kalau ini, sih, aku merasa bisa mengalah. "Besok-besok gue bakal panggil lo Kakak."


"Pakai acara besok segala. Harus sekarang, dong! Lo gimana, sih? Makin gak waras, aja, kayaknya," dumel dia semakin menjadi.


"Iya. Mulai hari ini gue panggil lo dengan sebutan Kakak. Udah, ah. Gue mau cuci botol, nih." Tanpa terasa antrian di belakang badanku sudah tersisa seorang saja.


"Ya, udah silakan. Gue juga udah selesai ajakin lo ngomongnya."


Dia berlalu, tanpa pamit langsung berjalan saja mendahuluiku menuju area kemah sekolah Farmasi Bangsa. Punggung tegaknya yang santai mengingatkan aku pada sesuatu. Aku merasa memiliki cara supaya pria yang diinginkan Cecilia bertekuk lutut padanya.


"Kak! Kak Cecil," panggilku mulai melancarkan janji.


Sedikit sungkan, tetapi dia tetap menolehkan kepalanya.


"Iya. Gue sayang, tapi kayaknya mau udahan, aja."


Terpantau menyerah, Bunda. Rautnya menunjukkan gelagat kesedihan mendalam.


"Gak perlu nyerah," kataku berusaha menyuntikkan semangat. "Cukup menghilang dan jangan kasih kepedulian. Pegang kata-kata gue. Kalau lo cuek sama dia. Dia bakal balik kejar lo habis-habisan."


***


Sebelum pulang, kami diminta berkumpul lebih dulu di lapangan. Masih berbaris sesuai tim, kami berdiri menghadap tiang bendera buatan, barisan para guru dan staf, juga barisan panitia acara LDKS. Ada satu hal yang paling mencolok mata dan menaruh minat, yakni sebuah meja yang sudah ditata beragam kotak bersampul cokelat. Semacam hadiah, tetapi hadiah untuk apa?


Arfan yang masih bertugas menjadi pembawa acara lantas berdiri di tengah-tengah barisan depan. Dia membacakan satu per satu susunan acara yang sudah berhasil terlaksana hingga kemudian menyerahkan waktu dan tempat kepada Pak Abigail untuk memberikan petuah akhir. Tak berhenti di situ, Kak Bagas juga ikut memberikan kata sambutan terakhir. Dia menyempatkan diri mengucapkan terima kasih kepada peserta LDKS yang lolos sampai akhir.


Rasa penasaranku seakan terjawab sekarang. Arfan mulai menunjuk meja yang berisi tumpukan kotak hadiah, lalu menjelaskan arti dan isinya melewati mikrofon dalam genggaman.


"Jadi, selama acara ini. Kami selaku staf OSIS mengamati pergerakan kalian diam-diam. Baik dari segi sikap terhadap pembina, staf sekolah, kakak kelas, hingga sesama, kami perhatikan semuanya. Nah, di meja itu sudah tertata hadiah dari berbagai nominasi untuk kelompok yang berprestasi. Hadiah akan diserahkan langsung oleh Pak Abigail dan Bagas sebagai ketua pelaksana acara." Dia mengambil jeda untuk bernapas sebentar. "Gimana, nih? Sudah merasa penasaran belum sama nominasi yang dicantumkan para senior OSIS?"


"Sudah." Semua peserta LDKS termasuk aku menjawab lantang.


"Oke. Saya akan bacakan nominasi pertama. Untuk kategori religion value, dimenangkan oleh kelompok lima."


Keriuhan mulai terjadi. Baik riuh tepuk tangan ataupun riuh jeritan dari kelompok yang bersangkutan.


"Ya, kepada perwakilan kelompok lima, saya persilakan maju ke depan."

__ADS_1


Sontak kami bertepuk tangan, memberikan apresiasi kepada Angga yang berhasil membawa kelompoknya menjadi kelompok yang paling agamis. Terlihat betul, sih, dia religius sekali. Anggota tim-nya selalu diajak berdoa sebelum memulai sesuatu. Berbeda jauh dengan seorang Dara yang langsung sat-set-sat-set, war-wur-war-wur.


"Oke, lanjut ke kategori speed of completing a challenge. Kategori ini melihat waktu yang kalian perlukan dalam membangun dan merobohkan tenda, membereskan perlengkapan kemah, hingga menyelesaikan tantangan di jurit malam."


Ah, tubuhku mengendur. Merasa tidak percaya diri kami memiliki waktu tercepat. Jalan saja lambat. Sudah pasti sampai pun di menit yang paling lama ketimbang kelompok lain.


"Pemenang untuk kategori ini jatuh kepada kelompok satu. Silakan kepada perwakilan kelompok satu, maju ke depan, lalu berdiri di samping perwakilan kelompok lima."


Aku memperhatikan raut bangga Kak Bagas. Dia yang menjadi mentor dan anak-anaknya yang mendapat perhargaan.


"Tenang ... tenang. Masih ada dua kategori lagi yang belum saya sebutkan."


"Tiga kategori juga kayaknya gak bakalan ada kita. Ya, gak?" bisik Eren dari arah belakang yang sontak mendapat anggukan persetujuan dariku.


"Kategori selanjutnya, smart and creative. Kategori ini dinilai berdasar kepintaran kalian dalam menjawab soal setiap pos dalam jurit malam. Ingat, ya, menjawab soal di sini maksudnya benar-benar menjawab soal sendiri tanpa bantuan atau tanpa bertanya kepada mentor."


Kategori ini jelas gagal lagi. Pos pertama saja, kelompok tiga dijawab langsung oleh Cecilia.


"Pemenang untuk kategori smart and creative, jatuh kepada kelompok lima."


Semua tercengang karena kelompok lima kembali menyabet juara.


"Kategori terakhir, yakni kategori cooperation and care for others." Arfan mendadak menatap ke arah kelompok tiga.


Jantungku sontak bertalu. Entah kenapa aku meyakini kalau kategori terakhir akan dimenangkan oleh kami.


"Kategori ini dimenangkan oleh kelompok tiga. Sudah jelas, ya, alasannya. Mereka membawa satu tim yang sakit. Langsung digendong oleh ketua kelompok, dibantu juga oleh tim yang lain."


Riuh tepuk tangan terdengar. Semua mata melihat ke arah kelompok kami dengan sorot mata kagum bercampur haru. Hah, ternyata perjuangan menembus kegelapan malam dibayar dengan sebuah kebahagiaan.


Aku mengambil langkah ke depan setelah sebelumnya berdiskusi singkat dengan anggota kelompok. Mereka mempersilakan aku untuk menjadi perwakilan dalam mengambil hadiah.


Satu per satu ketua kelompok mendapat uluran kotak dari Pak Abigail. Disusul pemasangan medali plastik oleh Kak Bagas. Aku juga tak kalah mendapat bagian. Berbeda dengan kelompok lain, setelah mengalungkan medali di leherku Kak Bagas tidak langsung pergi. Dia mengambil posisi di sampingku sambil menautkan rangkulan di bahuku.


Perilaku itu sontak mendapat perhatian dari Pak Abigail. Beliau serta merta meminta mikrofon kepada Arfan untuk berbicara sesuatu.


"Bagas, ini adikmu?" tanya beliau dengan senyum misterius.


"Pacar, Pak. Pacarnya," jawab semua orang begitu serempak hingga menimbulkan keriuhan.


"Oh, pacar. Pantas lengket dari kemarin. Ini rangkulan begini, ada apa? Mau ke mana?" tanya beliau lagi yang kini menarik keheningan semua orang.


Kak Bagas berdeham. Penuh rasa percaya diri dia mengambil mikrofon lain yang diulurkan Cecilia. "LDKS, kan, sudah mau selesai, ya, Pak?"


"Ya."


"Itu artinya, Dara sudah resmi jadi anggota OSIS, ya, Pak?" tanya Kak Bagas lagi.


"Hm, lalu?"


"Nah, berhubung Dara sudah resmi, saya mau mengajak dia pulang bareng naik motor. Sekalian touring, Pak."


"Cie ... cie ... cie ...."

__ADS_1


Keriuhan itu malah menarikku untuk menundukkan kepala. Kalau persoalan begini, nyali dan mentalku mendadak ciut, mendadak malu.


***


__ADS_2