
Tiga hari berlalu setelah peristiwa itu. Ayu yang sulit meluluhkan hati dan tak mau sadar akan kesalahan, berujung diseret paksa ke ruang BK. Berbekal foto-foto bukti yang dikumpulkan Kak Wisnu, tak sulit bagi kami untuk menyeret Nola, Mayang, Putri, dan Riska sebagai kaki tangan.
Mereka yang satu per satu naik ke permukaan, diberikan dua pilihan oleh pihak sekolah. Mengakui kesalahan di depan semua orang atau dikeluarkan dari SMK Farmasi Bangsa. Tentu saja semua pelaku termasuk Putri dan Riska memilih opsi pertama. Hingga dalam kurun waktu sehari, gosip tentang perundungan itu diketahui massa.
Perubahan besar pun terjadi. Teman sekelas yang sebelumnya memberi hujatan, berakhir menjadi pendukung setia. Permintaan maaf pun tak berhenti aku terima sampai beberapa orang menawarkan diri untuk menggantikan kursi yang sempat Riska duduki. Ya, pihak sekolah mengambil langkah tegas. Riska dan Putri dilarang sekelas atau berdekatan denganku. Alhasil mereka terpaksa angkat kaki dari kelas unggulan.
Namun, nyatanya masalahku belum sepenuhnya selesai. Aku masih perlu menepati perjanjian kontrak yang tersisa 23 hari lagi dan melawan kesepakatan yang sempat dibuat dengan Arfan.
"Jatuh temponya hari ini, lho!" Seperti halnya hari ini, Arfan menahan lenganku saat kami berpapasan di kantin.
Lekas aku tepis keras genggaman itu sebelum dilihat banyak orang. "Dara mau ingkarin janji," ucapku mantap karena sudah memikirkan hal ini semalaman.
"Enggak bisa gitu, dong! Manusia itu harus bisa dipegang omongannya."
"Oke," sahutku tersenyum senang. "Dara bakalan mutusin Kak Bagas."
"Nah, gitu, baru bener!" Dia mulai menebar senyum penuh kesenangan.
"Tapi nanti, ya, enggak sekarang." Aku berkata sambil lalu.
"Eh, kok, nanti?" pekik Arfan tertahan karena tak ingin mengundang tanya dari banyak orang.
Aku mengabaikannya saja. Tidak mau terlalu menggubris karena tak mau ditagih juga. Lagipula, kenapa dia begitu ingin melihatku putus, sih? Aku saja tidak pernah memintanya putus dengan Cecilia.
Dua gelas es jeruk beserta satu pincuk nasi padang, mengiringi langkahku menuju koperasi sekolah. Sudah menjadi hal biasa bagi Kak Bagas dan Kak Wisnu menghabiskan jam istirahat mereka di sana. Selain untuk menggantikan Bu Nurmala yang cuti melahirkan, mereka juga digadang-gadang mendapatkan upah bulanan. Ya, meskipun cuma seratus ribu per bulan, tetapi bisa jadi kebanggaan tersendiri karena uang jajan bertambah tanpa harus bersusah-payah.
"Pesanan datang," ucapku penuh kehebohan saat memasuki toko. Kak Bagas yang mendengarku masuk, lantas mengganti posisi dari terlentang jadi terduduk tegak.
"Udah datang, Dek," sapanya sembari meletakkan ponsel di samping badan.
"Kak Wisnu mana?" tanyaku karena tak mendapati satu penjaga di sini.
"Ambil hape di kelas."
Jawaban itu membuatku mengangguk. Tak ingin membuang waktu istirahat yang terbatas, aku lekas mendudukkan diri di samping Kak Bagas. Meletakan dua gelas jus dihadapan kami.
"Ini buat Adek." Kak Bagas menata kotak makan siang yang dibekalkan Ibu kepada kami.
Wah! Ada nasi putih, ayam bakar, tempe bacem, dan beberapa sayuran rebus. Berhubung sudah hapal rasanya, aku jadi tambah bersemangat, ayam bakar buatan Ibu sangatlah mantap.
"Dek?"
__ADS_1
"Hem," sahutku tanpa memandanginya karena mulai fokus menyantap makanan.
"Mau hadiah apa?"
"Hah?" Baru aku mengangkat kepala, tidak paham dengan maksud pembicaraannya.
"Besok, kan, abang gajian. Ya, barangkali mau jalan-jalan. Sekalian ngerayain misi kita yang udah selesai."
Tanpa sadar aku menahan senyum. Pada saat seperti ini, dia tak lupa memberiku imbalan. "Ditraktir, nih, ceritanya?"
"Iya, nanti abang traktir. Mau ke mana?" tanyanya.
"Terserah yang mau nyetir aja." Aku tidak mau banyak minta soalnya.
"Kalau seharian gimana?"
"Ke mana?" tanyaku yang lebih ingin tahu tujuan pastinya.
"Ya, ke mana, aja, yang penting seharian kita habisin waktu di luar."
"Ya, udah, ayo!" Aku menyanggupi apa pun keputusannya.
"Dara udah dateng?" Kak Wisnu akhirnya datang. Sebelum masuk dia menyempatkan diri menengok ke bawah etalase.
Penuh semangat Kak Wisnu masuk ke toko, mengambil posisi duduk lesehan di sampingku. Segera, dia membuka pincuk nasi, lalu menatanya di depan kaki. "Makasih, ya, Dara!" kata Kak Wisnu sebelum menyantap makanan.
"Dara tumben enggak pesen ayam balado?" tanyanya di sela makan.
"Dara, kan, punya jatah makan dari Emak gue," balas Kak Bagas mewakiliku.
"Hubungan calon mantu dan calon mertua yang baik," komentarnya sambil menganggukkan kepala. "Dara mau minta sambal Wisnu enggak?" Kertas nasi berisi nasi padang didekatkannya ke samping kotak nasiku.
"Engga, ah, buat Kak Wisnu aja!" tolakku halus lalu melahap makanan lagi.
"Dara enggak suka pedes emang?"
"Lah! Lo, kan, sering liat dia makan padang. Ya, berarti Dara suka pedes, Wis!" Lagi-lagi Kak Bagas yang menyahuti pembicaraan.
"Dara suka, kok, tapi sukanya cuma pedes dari cabe, aja!" terangku yang langsung membuatnya melongo.
"Emang semua rasa pedes itu dari cabe, kan?"
__ADS_1
"Engga. Ada, kok, yang dari papermint." Aku menjelaskan.
"Oh, Dara enggak suka rasa mint. Rasanya padahal enak lho, Dara."
"Engga, ah!" Aku menolak untuk memberinya julukan rasa enak. "Enggak enak di lidah."
"Kalau bibir Bagas enak di lidah enggak?"
Uhuk ... uhuk ... uhuk
"Eh, kenapa, Bang?" Perhatianku teralih karena lelaki yang duduk di sampingku tiba-tiba terbatuk. Dia sampai memukul dadanya berkali-kali guna menyurutkan rasa tak nyaman di tenggorokan. Wajahnya yang semula biasa saja, berubah memerah padam.
Aku yang tidak tega melihatnya terbatuk begitu, lantas mendorong segelas jus miliknya. "Minum dulu, Bang."
Aneh, kenapa Kak Bagas bisa tersedak begitu, ya? Jelas-jelas Kak Wisnu hanya bercanda.
"Bagas enggak jago, ya, Ra?" Pertanyaan kembali terdengar dari sisi kananku.
"Jangan didengerin, Dek! Jomblonya udah another level. Jadi, kalau ngomong enggak pernah disensor!"
"Ra! Jawab, dong!" desak Kak Wisnu yang tidak peduli hinaan Kak Bagas.
"Apa, sih, Kak?" tanyaku mulai gusar.
"Jawab yang tadi," tuntutnya semakin menjadi.
"Kalau Dara enggak mau jawab gimana?"
"Yah, Dara enggak seru!" dumelnya. "Jawab, dong, Ra! Bagas sejago apa, sih? Kakak juga, kan, pengen tau."
"Eh, lo beneran pengen tau?" Telunjuk Kak Bagas sudah mengarah ke wajahnya. "Daripada nanya-nanya, mending lo rasain sendiri. Sini! Mana bibirnya?"
......***......
Hari Minggu, pukul 08.00. Kak Bagas ternyata menepati janji. Akan memberiku hadiah karena sudah berjuang bersamanya dalam menumpas habis BagasLovers. Dia benar-benar akan mengajakku pergi ke bioskop terdekat.
Berhubung ini kali pertama kami berjalan-jalan, aku sengaja berdandan lebih awal. Butuh waktu sekitar setengah jam sampai merasa diri dalam keadaan siap berangkat. Aku memilih kemeja putih oversize, dipadukan dengan celana berbahan jeans.
Sebelum keluar kamar, aku mematut diri sekali lagi di depan cermin. Memastikan poniku terlihat rapi dan bajuku tercium parfum. Tak sengaja mataku melirik kalender di meja rias. Telunjukku menyusuri tanggal sambil menghitung hari. Sudah 21 hari ternyata. Ah, waktuku tinggal sedikit lagi. Tepat diakhir bulan nanti, kami akan kembali ke posisi semula.
Menyadari hal itu, dadaku mendadak terasa sesak, begitupun hawa panas yang ikut-ikutan menyergap kedua mata. Aku mengulum senyum untuk menguatkan hati dan pikiran. Bagiamana pun, sejak awal Kak Bagas bukanlah milikku dan hubungan ini dibangun karena adanya batasan waktu. Aku tidak berhak menawar, aku juga tidak boleh banyak berharap. Akhir bulan, aku harus pulang ke posisiku semula, menjadi adik kelas sekaligus mantan pacar bohongannya.
__ADS_1
...***...