Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Perkara Mantu


__ADS_3

Menu makan siang yang memancing rasa iba. Sekarang aku paham alasan Kak Bagas kukuh mengambil pincuk yang kemasannya sudah dirobek oleh si pedagang. Ternyata menu kami sengaja dibuat berbeda.


Porsi Kak Bagas sedikit, hanya nasi, tahu-tempe goreng, lalapan, dan sambal. Lain dengan punyaku yang nasinya dilengkapi ayam goreng kremes, tahu-tempe goreng, lalapan, dan sambal. Kenapa coba bisa beda begini?


"Makan, Dek!"


Boro-boro mau makan, melihat piringnya saja aku malas. Anehnya, Kak Bagas tampak tidak terpengaruh dengan menu itu. Sudah tertebak kalau kesenjangan menu ini memang disengaja. Berhubung aku sadar kalau makanan ini dibeli atas uangnya, sengaja ayam goreng yang belum tersentuh itu aku alihkan ke piring Kak Bagas.


"Ngapain?" Tangannya yang berlumur minyak dari tahu goreng sedikit terangkat dari piring.


"Buat Abang," balasku apa adanya.


"Enggak usah!" tolaknya yang lekas memberikan lagi ayam itu. "Abang enggak suka ayam."


"Ah, yang bener?" Mataku menyipit untuk menyelidik.


"Udah makan, aja! Adek harus perbaikan gizi biar enggak pingsan kayak tadi."


"Oh, itu ...." Aku menunduk. Apa aku bilang saja, ya? Mereka, kan, dari kubu BagasLovers.


"Pasti karena belum sarapan, kan?" tebaknya yang salah sasaran.


"Bukan karena itu," kataku tanpa melihat wajahnya.


"Terus karena apa?"


"Bang, kenapa enggak disamain menu makannya?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh, itu ...." Kak Bagas tersenyum. "Ibu masih marah, jadi abang enggak dikasih uang jajan hari ini."


"Eh, marah kenapa?" Aku sampai berhenti menyuap nasi karena informasi itu.


"Gara-gara abang ngebiarin Adek pulang sendiri."


Sukses aku menahan senyum. Ternyata di ada yang membelaku di dalam rumah Kak Bagas. Baguslah! Dengan begitu, dia tidak akan semena-mena padaku, kan?


"Terus Adek tau, enggak? Si Bocah juga ikut-ikutan, lho, musuhin abang."


"Oh, ya?" Mungkin maksudnya Kak Bagas mengadu kali, ya. Hihi, lucu sekali dia.


"Iya. Dia naroh upil di meja belajar sama hape abang. Mana tadi pagi disiram pake air lagi."


Aku tergelak, puas juga mendengar Kak Bagas diperangi adiknya sendiri. Ya, suruh siapa tidak menahanku pulang?


Sedang asyik-asyiknya menertawakan cerita Kak Bagas, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia meletakan piring ke meja sebentar untuk merogoh ponsel yang disimpan di saku celana.


"Tuh, kan, udah ditelpon komandan," gumamnya.

__ADS_1


Sedikit kucuri pandang ke arah ponselnya. Entah siapa yang dibilang komandan oleh Kak Bagas karena aku tidak bisa melihat layarnya dengan jelas.


Dia terlihat mematikan panggilan, menelepon balik si penelepon dengan metode video call. Aku yang tak ingin dibilang KEPO lebih memilih menundukkan kepala.


"Kakak! Kata Ibu, cepet minta maaf ke Dara!"


Suara Baim terdengar. Aku lekas menoleh untuk memastikan hal itu memang benar. Ah, jadi, yang dipanggil komandan olehnya itu Ibu.


"Dara ... Dara ... panggilnya Kakak, Bocah!" Kak Bagas melanjutkan aktivitas makan yang sempat tertunda.


"Astaga Bagas! Malah santai-santai, bukannya minta maaf dulu ke Mantu Ibu. Gimana coba sekarang nasib hubungan kalian? Jangan bilang kalau Dara minta putus gara-gara masalah kemaren, ya!"


Aku memandangi Kak Bagas saat ibunya berbicara tentang menantu. Seolah tidak terpengaruh, Kak Bagas hanya menggerak-gerakkan kepala dengan santai. Acara makannya pun terus berlanjut, terlihat sekali nafsunya tidak berkurang sedikit pun. Aku yang mendapati ekspresi itu mendadak kebingungan. Jika dia terlihat santai, artinya memang ucapan Ibunya tidak dibawa serius, kan?


"Kayaknya kurang, deh, kalau ibu cuma ambil jatah jajan. Besok-besok kamu enggak boleh ke sekolah pake motor!"


"Lah, terus Bagas naik apa ke sini?"


Kali ini dia terusik. Hah! Peringkat Dara di hidupnya tidak ada apa-apanya ketimbang moge.


"Terserah. Naik angkot, kek. Naik ojek, kek. Ibu pokoknya enggak mau tau. Kalau mau uang jajan plus moge balik kamu harus minta maaf dulu ke Dara," tuntut Ibunya tanpa ampun.


"Bu, Bagas udah minta maaf," ucapnya yang kini sudah memandang ke arahku. Aku yang merasa tidak mendapatkan kata maaf secara resmi hanya mengangkat bahu, seolah tidak peduli dan tidaka akan memaafkannya.


"Masa? Mana buktinya?"


"Itu kamu punya uang! Jangan-jangan pinjem dari Mantu Ibu, ya?"


"Astaga! Bu, yang anak Ibu itu Bagas, bukan Dara. Ya, lagian kenapa kalau Bagas pinjem uang Dara?"


"Ya, bikin malu keluarga, dong! Udah, ah, kasiin hapenya ke Dara. Ibu mau ngomong sama Dara!"


Mendengar hal itu, Kak Bagas lekas menyerahkan ponselnya padaku. Berhubung tangan kananku masih dilumuri minyak sisa-sisa makanan, alhasil tangan kiriku yang bertugas untuk menggenggam ponsel.


"Halo, Ibu," sapaku penuh kelembutan disertai senyum senang.


"Sayang! Kamu lagi apa?" tanya Ibu.


"Sayang, sayang! Lembut banget kayak kapas. Giliran ngomong sama anak, lidahnya pedes ngelebihin lidah mertua," gumam Kak Bagas yang masih bisa kudengar dengan jelas.


"Ini lagi makan siang, Bu." Aku menunjukkan piring milikku.


"Aduh! Bagas gimana, sih? Kok, baru ngajak kamu makan siang jam segini? Emangnya jam istirahat dia ke mana?" tanya Bu Ester sambil berteriak.


"Bagas lagi, Bagas lagi yang kena," dumel cowok di sebelahku.


"Bukan, Bu. Ini bukan salah Kak Bagas. Tadi Dara sem—"

__ADS_1


"Jangan!" tahan Kak Bagas di lenganku. "Jangan ceritain tentang pingsan ke Ibu."


"Kenapa enggak boleh?" Aku membalas bisikannya.


"Nanti abang kena omel lagi, Dek. Emangnya Adek tega liat abang makan tahu-tempe terus? Abang juga pengen makan padang," rengeknya makin menggemaskan.


"Halo, Dara?" Suara Ibu kembali terdengar. "Kamu enggak lagi di apa-apain sama Bagas, kan, Nak?"


"Enggak, Bu. Dara tadi ngobrol dikit sama Kak Bagas." Aku lebih baik membelanya, kan? Kasihan jika uang Kak Bagas ditahan lebih lama lagi.


"Tadi Dara-nya enggak nafsu makan, Bu. Jadi, makannya sekarang, deh!" Aku memilih menyalakanku sendiri. Toh, memang Kak Bagas telat makan karena aku pingsan.


"Aduh, nanti lagi Ibu buatin kalian nasi bekal, ya? Jadi, enggak perlu beli-beli ke kantin."


"Duh, Bu, jangan! Ngerepotin, aja, ah!" tolakku karena tidak ingin terbebani.


"Engga, enggak pa-pa. Sekalian ibu buat bekal nasi Baim. Oh, ya, kasih hapenya dulu ke Bagas."


Aku menurut, menunggu Kak Bagas selesai mencuci tangan di wastafel, lalu memberikan benda itu kepadanya.


"Apa, Bu?" tanya Kak Bagas setelah sambungan kembali padanya.


"Besok kamu harus bawa nasi bekal, lho!"


"Iya," jawab sambil mengambil lahan duduk lagi.


"Jangan sampe lupa bawa! Pokoknya besok pagi Ibu simpen di motor kamu."


"Jadi, besok Bagas boleh bawa motor, nih?" Kak Bagas mulai bersemangat.


"Iya, boleh, lah! Kalau enggak bawa, nanti masakan ibu buat Dara dibawa siapa?"


"Tapi, Bu, Bagas enggak punya duit buat beli bensinnya. Mana tadi pinjem uang Wisnu lagi buat beli makan."


"Iya, iya, nanti Ibu kasih lagi uang jajannya."


"Bener, ya?" Kak Bagas tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Iya, bener, tapi kamu harus jaga Dara baik-baik, ya! Jangan sampe disakitin lagi!"


"Siap, Komandan!" teriak Kak Bagas. "Makasih, ya, Sayang! Besok kita bisa jajan es krim!"


Ditatap begitu dengan janji seperti itu, tanpa sadar hatiku senang dan berharap hari esok segera tiba. Aku menantikan jajan es krim yang dibilang Kak Bagas.


......***......


Senggol dulu, ah!

__ADS_1


Pembaca Dara-Bagas punya Instagram enggak, nih? (Jawab dikolom komentar, ya!)


__ADS_2