Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 25 | Keputusan Hari Libur


__ADS_3

Jumat siang, sekitar jam istirahat Kak Bagas mengirimkan hasil tangkapan gambar kertas yang bertuliskan, SURAT GESER OFF. Dia benaran melakukan keinginanku. Entah menyadari itu hari ulang tahunku atau tidak, aku sudah cukup bersyukur karena Kak Bagas memperjuangkan keinginan ini kepada apoteker pembimbing. Hal yang paling tidak kusangka darinya adalah alasan yang ia cantumkan. Acara keluarga memperingati hari meninggalnya kakek, begitu tulisnya. Berbohong total, ya. Fatal pula kalau sampai ketahuan dustanya. Demi mengabulkan keinginanku, dia sampai berani melangkah ke tahap itu. Campur aduk rasanya. Jelas ada bahagia, sedih, dan merasa bersalah.


“Gak apa-apa. Bohong biar Adek bahagia, kakak rela.”


Mataku langsung berkaca-kaca. Sepulang sif siang, dia masih menyempatkan diri mengabariku via video call. Dia bahkan belum membasuh diri dan mengganti seragam. Masih lengkap kucel, kacau efek kelelahannya. Aduh, Tuhan. Kenapa mendadak aku merasa semua ini berlebihan? Aku hanya dikhianati Arfan, tetapi Dia begitu berbesar hati mengirim pengganti yang seribu kali lipat lebih baik.


“Lagian mereka juga percaya dan kasih kakak izin. Jadi, hari Senin kita udah fix bakal ketemu.” Senyum merekahnya semakin membuatku terharu.


“Beneran gak apa-apa, kan?” Takutnya, dia juga berbohong padaku. Takutnya, dia bersikap seolah atasan mengizinkan, padahal tidak.


“Beneran. Udah ACC, Sayang.” Terdengar menyakinkan.


“Kakak tadi gak dimarahi, kan?” Masih saja aku khawatir.


“Enggak. Mereka juga memaklumi.”


“Bukannya Kakak bilang kalau hari Senin susah OFF?” Aku ingat betul kata-kata itu.


“Iya, denger-dengernya sih, begitu. Mungkin mereka kasih kakak izin karena kirim surat geser off tiga hari sebelum hari H. Terus bisa jadi alasannya karena kakak masih PKL. Masih tahap bantu-bantu bukan karyawan tetap.”


“Tapi gak akan mengurangi nilai, kan?” Begitu banyak hal yang aku takutkan dari kebohongan ini.


“Enggak akan, Sayang. Kakak jamin, ini semua bakalan aman.”


“Hah, ya, udah.” Aku baru bisa mengembuskan napas lega sekarang.


“Memang kita mau ke mana, sih? Sampai kakak harus geser OFF. Kayaknya bakalan ada acara penting.”


Terlihat jelas dia ingat hari penting nanti. Ucapan, sorot mata, hingga senyuman yang tersaji seolah tengah menggodaku.


“Masa Kakak gak tahu kalau ada acara penting nanti.” Aku pura-pura merajuk.


“Cie ....”


Malah itu yang dia katakan.


“Kok, cie?” Mataku sampai menyipit.


“Cie ... tahun ini rayainnya bareng kakak.”


Ah, aku pikir dia akan bicara apa. Bisa saja, ya, Kak Bagas ini. Menjahili, tetapi menciptakan sensasi bahagia.


“Awas kalau pas hari H, Kakak kelupaan datang!” Aku berganti menajamkan mata.


“Gak mungkin lupa. Masa hari pentingnya pacar kakak lupa. Dirayain di mana, sih? Sama keluarga atau kakak, doang?” Benih-benih rasa penasaran terlihat jelas di wajahnya.


“Sama Kakak doang, lah.” Aku tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


“Serius? Di mana lokasinya? Kakak penasaran."


“Hm ... kasih tahu, gak, yaaa ....” Asyik juga ternyata menggoda Kak Bagas.


“Kasih tahu, lah. Gimana kakak mau datang kalau gak dikasih tahu lokasinya.”


“Nah, biar Kakak datang, lokasinya bakalan dikirim enam jam sebelum acara dimulai.”


“Eh, kok, gitu? Dadakan banget, dong.”


“Ya, enggak, lah. Enam jam sebelum acara cukup tahu buat siap-siap. Kakak bisa mandi dulu, setrika baju, makan siang, anterin ibu nyalon, sama kemacetan di perjalanan.” Aku sampai mendikte semua hal yang bisa dia lakukan.


“Kemacetan? Daerah mana, sih, Sayang? Adek tega biarin kakak penasaran? Kalau kakak gentayangan gimana?”


Aku tergelak. Bahasanya sudah bawa-bawa hantu gentayangan. Dia sudah siap mati apa, bagaimana? Sayangnya, rasa penasaran yang merongrong diri Kak Bagas tidak berhasil membujukku untuk memberitahu lokasi makan malam nanti.


“Pokoknya, nanti adek kasih tahu. Pas hari H, enam jam sebelum acara.” Sudah aku putuskan dengan mantap.


Sontak terdengar embusan napas panjang dari ujung sana. “Oke, deh. Kakak ikut mainnya Adek, aja. Oh, ya, mau kado apa?”


Apa-apaan bertanya begitu? Alih-alih memberi kejutan, dia malah bertanya kepada yang punya hajat. Ah, sungguh mengecewakan. Aku pikir Kak Bagas akan berinisiatif memilihkan sendiri hadiah untukku.


“Gak asyik, ah!” Aku merajuk.


“Lho, kok, cemberut. Kakak tanya kado, lho. Yakin gak mau request?” Dia seperti siap memberiku apa pun.


Alhasil, giliran dia yang tergelak sekarang. “Iya-iya, kakak gak bakalan tanya lagi. Biar nanti Adek kaget, ya.”


“Nah, begitu.” Aku tersenyum puas.


“Ada-ada, aja. Dasar.” Kak Bagas sampai menggeleng semacam menahan gemas. “Sayang,” panggilnya setelah hening sebentar.


“Hm?”


"Makasih, ya ...."


"Eh, buat apa?" Entah kenapa mendengar kata terima kasih membuat hatiku dag-dig-dug.


"Makasih udah jadi pacar yang dewasa. Mengerti betul kondisi kakak yang lagi sibuk-sibuknya. Gak rewel dan gak banyak minta."


"Gak banyak minta, tapi sekalinya minta harus bohongi satu apotek, ya." Aku mengejek diriku sendiri.


"Gak masalah. Selama kakak bisa penuhi, ya, bakalan kakak usahain sampai keinginan Adek terkabul. Udah, Sayang. Gak usah merasa gak enak lagi."


"Iya." Tatapanku menunduk. "Takut, aja, berefek fatal nanti. Adek takut nilai Kakak bermasalah karena bohong sehari itu."


"Coba lihat kakak!"

__ADS_1


Permintaan itu lantas aku indahkan. Aku dapati wajah Kak Bagas yang tengah tersenyum lembut dan penuh pemahaman.


"Tanpa Adek minta juga kakak memang bakalan tukar off. Tadinya mau kasih surprise, tapi berhubung bakalan ada acara dari yang punya hajat jadi kakak bakalan ikuti tanggal mainnya, aja."


***


Teleponan semalam membuatku lega akan semua hal. Tidak tanggung lagi, hari ini aku tidak mau menahan diri. Konsep yang sebelumnya sudah dirancang bersiap untuk diluncurkan. Pertama yang kulakukan adalah menghubungi karyawan Romantic Cafe untuk memesan meja. Cafe yang terletak di kawasan Lembang ini memiliki desain yang instagramable, banyak spot foto, dan yang pasti panorama malam harinya indah banget.


Bukan cuma itu saja, sih, alasannya. Review internet mengatakan kalau makanan di sana enak-enak. Tidak peduli soal jarak karena yang terpenting itu lokasi dan pemandangan yang bisa didapatkan, bukan? Jauh tidak menjadi penghalang asalkan makan malam bareng Ayang terealisasi sempurna.


Cukup bagiku menunggu sekitar lima menit sampai sambungan dijawab karyawan kafe. Tanpa sempat menyapa atau berbasa-basi ria, aku lantas mengajukan sebuah inti pertanyaan yang menjadi alasanku menghubungi mereka. “Mbak, reservasi satu meja buat Senin malam bisa?”


“Bisa, Kak. Mau reguler smooking area, reguler free smooking area, iglo, atau swim pool?”


“Kalau iglo berapa, ya, Mbak?” Sebenarnya, aku sudah tahu tarif reservasi untuk makan malam di area itu. Hanya saja, supaya lebih meyakinkan aku sengaja mempertanyakan harga demi memantapkan konsep acara.


“Minimal pembelian makanan satu juta, Kakak sudah bisa menikmati nuansa romantis di area iglo. Area tersebut bisa masuk dua sampai delapan orang, ya, Kak.”


Buset! Untung bertanya dulu. Bisa mati digampar Papi kalau aku menyewa satu tempat seharga sejuta ini. Ah, bagaimana, sih? Jejak internet tidak pasti.


Tidak mau terlalu kecewa dengan harga yang baru saja dilayangkan, aku bergegas meluncurkan opsi B. “Kalau paket di swim pool?”


“Untuk area swim pool minimal pemesanan makanan tiga ratus sampai delapan ratus ribu bisa diisi dua sampai empat orang.”


“Tapi kalau untuk makanannya bebas kita yang pilih, kan?” Takutnya ada paket-paket tertentu juga.


“Betul, Kak. Untuk jenis menunya bisa Kakak pilih sendiri.”


Baiklah. Berhubung uang yang terkumpul hanya lima ratus ribu, mau tak mau aku harus menanggalkan area iglo dan menggantinya dengan area kolam renang. Ah, urusan ongkos ke sana biar aku pikirkan lagi nanti.


“Ya, sudah, Mbak. Saya pesan area kolam renang saja.” Keputusanku sudah final.


“Baik. Atas nama siapa dan untuk berapa orang?”


“Atas nama Dara Dwiana, untuk dua orang.”


“Baik. Bisa saya tahu estimasti jam kedatangan?”


“Pasangan, sih, datangnya jam tujuh malam. Kalau saya pasti datang setengah jam sebelum acara dimulai.”


“Saya akan jadwalkan pukul 18.30, ya, Kak. Dimohon untuk tidak terlambat. Maksimal keterlambatan itu lima belas menit.”


“Baik, Mbak. Kalau pembayarannya gimana?”


“Pembayaran minimal DP 50% ditransfer ke rekening Romantic Cafe.”


"Saya bayar 250.000 dulu, ya, Mbak. Langsung kirim, aja, nomor rekeningnya. Nomor ini terhubung ke aplikasi chat, kok."

__ADS_1


***


__ADS_2