Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
MC dan AS Datang


__ADS_3

Status panitia memaksaku datang subuh. Berangkat sebelum jam enam pagi hingga melewatkan sarapan buatan Mami. Alhasil, sampai di parkiran perut terasa keroncongan. Energi pagi seakan terkuras habis, akibat mengetatkan pandangan karena perlu menyalip beberapa pengendara yang lewat. Sudah layak mengikuti seleksi moto GP kalau begini terus. Nyaliku bukan lagi menetap di angka 20-30 km/jam. Sudah naik level hingga 60 km/jam setiap harinya.


Aku berjalan setelah menyimpan helm di bagasi motor. Mencoba merapatkan tujuan ke ruang OSIS karena prioritas utama bukan lagi mengatasi perut yang kelaparan. Masih harus mengikuti rapat dan doa bersama sebelum acara dimulai. Mungkin setelah memastikan semua aman, baru perutku yang menjadi tujuan.


Sayup-sayup terdengar gelak tawa begitu kaki menginjak lantai yang dingin. Dari tangkapan suara, aku bisa menebak nama-nama orang yang sudah datang. Prayoga yang paling kental kalau urusan tawa, tapi selain dia telingaku juga menangkap suara Riska, Eren, dan Maya. Terbukti saat tiba di lokasi, empat nama yang baru saja melintas memang sudah menempati ruangan.


"Tuh, apa aku bilang. Orang kelima yang datang pasti Dara." Ucapan penuh semangat itu dilontarkan Maya setelah aku memasuki ruangan.


"Kalian lagi ngapain, sih?" tanyaku sambil terus berjalan mendekati kursi di samping kanan Prayoga.


"Lagi main tebak-tebakan orang yang datang sambil bahas hukuman kalau ada orang yang telat," jelas Riska tanpa kurang sepatah kata pun.


Aku mengangguk. Tidak menaruh minat melakoni hal yang sedang mereka kerjakan. Belum saatnya bagiku melepaskan tawa karena ada tugas utama sebelum rapat pra acara dimulai.


"Ra, gak lupa sesuatu, kan?" Prayoga bertanya bertepatan dengan tanganku yang menarik ritsleting ransel.


Kebetulan sekali. Hari ini, aku tidak melupakan pesannya. Terhitung dua minggu jas almamater Prayoga menjadi penghuni kamar Dara. Sudah sempat dicuci dan disetrika Mami, tapi selalu lupa aku kembalikan akibat ketinggalan. Faktor buru-buru dan bukan prioritas, sehingga aku mudah melupakan.


"Makasih, ya." Aku memberikan jas yang masih terlipat sempurna.


"Astaga. Udah dibilangin jangan dicuci. Jadi, ngerepotin kan, Ra." Dia menghirup aroma pewangi pakaian yang berhasil mengganti parfum maskulinnya.


"Bukan aku yang cuci, kok. Jadi, gak repot sama sekali," kataku ala kadarnya sambil nyengir kuda.


Tidak disangka, acara pemberian jas almamater itu dilihat ketiga manusia jail. Mereka menatap wajah kami bergantian sambil tidak lupa menyempatkan senyum seribu maksud. Sudah pasti, sebentar lagi akan muncul godaan atau bahkan ejekan tentangku dan ketua pengganti.


"Dara boleh juga, ya. Gak ada Kak Bagas, Prayoga pun jadi." Maya yang mengawali ejekan ini.

__ADS_1


"Baru tahu, ya? Dara, kan, punya pelet yang mantulita." Eren ikut menambahkan.


"Kamu kalau mau dapat cowok ganteng, wajib minta resep sama Dara," saran Riska yang tidak jauh berbeda kelakuannya.


Aku menggelengkan kepala tiada henti. Merasa tidak habis pikir dengan tingkah mereka yang tidak ada bosan-bosannya menjadikan nama Dara sebagai bahan ocehan. Beruntung karena Prayoga tidak mudah terbawa suasana. Dia terlihat biasa saja, saat namanya disangkutpautkan denganku oleh mereka.


Rapat memantapkan konsep dimulai dua puluh menit setelah ocehan mereka berdendang. Sejauh ini, tidak ada satu pun poin yang mengalami perombakan karena kami sudah menyiapkannya secara matang.


Prayoga yang sudah puas dengan hasil kinerja tim-nya lantas beranjak, mengambil posisi berdiri tegak untuk mengucapkan beberapa patah kata sebelum memimpin doa. "Okay, Guys! Kita akhirnya sampai di hari H acara. Tolong, sebisa mungkin rapatkan koordinasi, eratkan kerjasama, dan jangan lupakan arti sebuah tanggungjawab! Hasil rancangan kita nantinya dilihat dari berbagai sisi. Berhasil atau tidaknya itu urusan nanti karena yang terpenting sekarang adalah berjuang. Sebelum berjuang, mari kita memohon kerelaan Tuhan, supaya segala sesuatunya berada dalam lingkar kelancaran. Berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing dimulai."


Selesai berdoa, semua panitia lomba terjun ke lapangan. Tersisa aku, Prayoga, dan Emil yang masih menetap karena tugas kami hanya mengawasi dan membantu apabila mereka kekurangan orang. Sekian belas menit terbuai dengan pekerjaan masing-masing, walkie talkie yang sengaja disimpan di tengah-tengah meja berbunyi.


"Cek ... Pak Ketu ... Pak Ketu ...."


Prayoga dengan sigap mengambil benda itu. "Ya, monitor."


"Oke, Roger."


Keningku mengeryit, bersamaan dengan Emil yang mengajak adu tatap. Kami saling tersenyum miring karena tidak paham ucapan dua manusia melalui walkie talkie itu. Prayoga yang sempat asyik bertukar informasi pun melihat tingkah kami yang kebingungan.


"Kenapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Kalian ngomongin apa tadi?" Emil balik bertanya, mewakiliku yang penasaran juga.


Sejenak Prayoga terbahak. Entah hal apa yang membuatnya tertawa kegelian. Aku dan Emil merasa tidak melucu apalagi mengajak bercanda. Terlalu penasaran dengan kode-kode mereka, kami pun menatap Prayoga penuh serius dan tanda tanya.


"Oke, oke," katanya setelah tawa mereda. "Jadi, tadi itu suara Ibra."

__ADS_1


"Aku tahu," sahutku yang merasa tidak diberitahu juga sudah bisa menebaknya.


"Iya, dia kasih info kalau MC dan AS udah datang."


"MC dan AS itu siapa?" Emil gantian menyahut, mendesak si ketua untuk menjelaskan dengan cepat.


"MC, Main Captain. AS, Assistant. Kalian pasti paham, kan, siapa mereka?" Mata Prayoga mengerling ke arahku. Seolah tengah memberi isyarat khusus tentang dua orang yang datang ini.


"Oh, aku tahu, aku tahu," sorak Emil sambil mengapungkan tangan. "Pasti yang baru datang itu Kak Bagas sama Kak Cecil, kan?"


"Ya, betul." Prayoga menjentikkan jari.


Terpantau hanya mereka yang terlihat bahagia, sedangkan diriku tidak. Ini akan menjadi hari pertemuan pertamaku setelah kata break/putus. Sudah berjanji agar tidak menghindar, tapi giliran dia datang, rasa ingin bertemu pun seakan hilang. Terasa lebih baik berjauhan, tidak saling melihat dan bertegur sapa, supaya luka cepat mengering juga.


"Ra?" Teguran itu spontan menghentikan kelebatan benak yang bertubrukan. Aku memandang Prayoga dan menunggunya berbicara lebih lanjut. "Ayo!"


"Ke mana?" tanyaku atas ajakannya.


"Ruang Pak Abigail. Tim udah siap, logistik juga udah dipasang. Kita tinggal kasih informasi, barangkali beliau mau gunting pita."


Dia bercanda lagi dan itu memancingku untuk memberi sebuah pukulan penuh. "Mana ada gunting pita. Dikira buka toko kali pakai acara gunting pita. Bercanda terus, deh, Yoga!"


"Habis kalian serius mulu dari tadi. Santai dikit kenapa? Jangan dibawa tegang. MC dan AS juga gak bakalan banyak komentar," cerocosnya panjang lebar. "Udah, Ra. Kamu ikut saya, yuk! Bawa kertas susunan acara sama denah lokasi perlombaan."


"Lah, terus aku di sini sendiri?" Emil menunjuk dirinya.


"Iya, lah. Jaga gawang. Takut ada anak yang butuh duit," ucap Prayoga sebelum berjalan keluar ruangan mendahuluiku.

__ADS_1


***


__ADS_2