Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Sepakat Dikenalkan


__ADS_3

Sejak semalam, ponsel yang biasanya hambar mendadak berbunyi terus-terusan. Pesan dari Kak Bagas selalu muncul, padahal topik yang kami bahas tidak termasuk dalam ranah penting dan berfaedah. Ya, kami membahas hal yang biasa dan pada umumnya. Sekadar bertukar kata lagi apa, udah makan atau belum, besok mau pergi jam berapa, dan sebagainya.


Hal itu nyatanya berlanjut sampai keesokan hari. Pagi ini tepatnya di ruang makan, aku tak berhenti menatap ponsel sambil menunggu Mami selesai menyiapkan dua bekal sarapan.


"Dia belum berangkat, Ra?" tanya Kak Sonia. Mungkin dia bingung karena kami terus berkomunikasi, padahal waktu sudah menunjukkan jam setengah enam pagi.


"Udah," jawabku tanpa mengalihkan pandangan.


"Terus itu lagi ngapain?" Kepalanya sampai melongok ke layar ponselku.


"VC."


"Astaga!" jeritnya histeris. "Lo bucen sampe segitunya? Lagian ngapain vc? Bentar lagi juga ketemu."


"Dara cuma mau liat jalan yang Kak Bagas lewatin."


Sontak semua penghuni rumah melongo, menatapku keheranan karena aku berperilaku di luar dugaan. Kak Sonia yang ikut-ikutan tak habis pikir langsung memalingkan pandangan dan lanjut melahap makanan.


"Kenapa belum dikenalin ke kita-kita, sih, Ra?"


Pertanyaan Mami menarik perhatian Papi dari piring nasinya.


"Bukannya Dara masih sama Arfan?"


"Ah, Papi ketinggalan zaman," ejek Kak Sonia mendahuluiku.


"Udah ganti kali, Pi. Arfan udah kelaut," timpal Mami.


"Yah, resiko kerja di luar kota. Anak bungsu ganti pacar, aja, papi sampe enggak tau." Wajah Papi terlihat begitu kecewa saat mengatakan itu.


Sayangnya, perhatianku masih tertuju ke layar ponsel. Kak Bagas sudah melewati gapura Kompleks Dago Asri. Tinggal menempuh dua belokan lagi untuk sampai ke rumahku.


"Mi, bekalnya udah?" Aku sedikit terburu, beranjak dari kursi dan segera menyampirkan tas di kedua bahu.


"Udah, nih! Kasih juga buat Bagas." Mami mendorong dua kantong plastik berisi sandwich ke tepian meja.


"Lho, katanya belum dikenalin ke keluarga. Kok, Mami udah tau namanya?" protes Papi.


"Mami cuma tau namanya doang, Pi." Aku lekas memberi klarifikasi karena takut terjadi kecemburuan sosial.


"Kalau wajahnya tau, enggak?" Papi semakin terlihat penasaran.


"Tau, lah! Orang tiap pagi mami liat dari sini, kok!" Mami menunjuk jendela ruang makan yang bisa mengakses pemandangan garasi.


"Ra, kamu dosa, lho! Masa punya pacar baru enggak dikenalin ke kita!"


Kobaran api penasaran di hati Papi semakin membuncah sepertinya. Aku yang belum siap mengenalkan Kak Bagas kepada mereka hanya bisa berkata, "Nanti, ya! Nanti juga bakalan dikenalin kalau Kak Bagas udah bener-bener kesemsem sama Dara."


"Lah, dia kurang kesemsem apa sih, Ra?" semprot Kak Sonia yang tidak menerima penundaan waktu untuk mengenalkan Kak Bagas kepada mereka. "Dia anter jemput kamu tiap hari. Pake rela ninggalin motornya di sini."

__ADS_1


Kak Sonia bilang begitu karena tidak tahu saja sesuatu dibalik hubungan kami. Segalanya bakalan beda cerita kalau mereka tahu tentang ini. "Pokoknya tunggu waktu yang tepat, aja. Nanti juga Dara kenalin, kok."


......***......


Gara-gara Kak Sonia, pikiranku saat di perjalanan tadi menjadi tidak menentu. Aku terus memikirkan kata kesemsem yang sempat dijabarkan olehnya. Memang ada benarnya juga, sih. Kurang kesemsem apa coba Kak Bagas? Motor kesayangan saja sampai rela ditinggalkan karena aku tidak mau ke sekolah memakai moge. Dia juga sudah mengenalkanku kepada Ibu dan Baim. Kenapa aku tidak ikut mengenalkannya juga kepada Mami dan Papi?


Saking sibuknya memikirkan itu, aku jadi lupa mengajak Kak Bagas mengobrol. Membiarkan dia fokus seorang diri membawa motor, sampai tidak terasa kami sudah sampai di parkiran sekolah. Masih terlihat sepi karena kami sampai di sini pukul 06.00.


"Dek!" Kak Bagas memajukan kepalanya. Seperti biasa, dia pasti memintaku menyisir rambutnya dengan jemari setelah terlepas dari helm. "Abang kurang ganteng, ya?"


"Hah?" Pertanyaan random dan tiba-tiba semacam itu, jelas membuat keningku mengernyit dalam.


"Abang kurang mempesona, ya?"


Lagi-lagi dia melemparkan pertanyaan yang belum aku pahami arahnya. "Ini maksudnya apa, sih?"


"Ya, abang iseng nanya aja. Habisnya, Adek kayak enggak berani, gitu, ngenalin abang ke Papi sama Mami."


Sukses mataku mengedip tak percaya. Jadi, dia juga ingin aku kenalkan? Lah, kenapa tidak bilang?


"Abang enggak malu-maluin, kan, Dek?" Wajahnya semakin memberengut. Dia semakin menarik kalau sedang merajuk begitu. Wajahnya jadi terlihat seperti Baim.


"Enggak!" Aku berusaha menjelaskan. "Adek sebenernya pengen, kok, ngenalin Abang. Cuma ...."


"Cuma apa?" tanyanya cepat.


"Lah, abang aja ngenalin Adek ke Ibu sama Baim. Itu abang udah ngasih kode tau, Dek. Abang pengen Adek ngelakuin hal yang sama."


"Ya, Abang enggak bilang kalau itu kode," balasku semulus jalanan tol.


"Ya, masa kode harus bilang-bilang dulu. Bukan kode atuh namanya, pengumuman!" dumelnya semakin terlihat sebal.


"Terus kenapa tiap ganti motor Abang selalu nanya, Mami ada di dalem? Mami pergi, Dek? Seolah Abang, tuh, takut buat ketemu Mami." Aku sampai memperagakan wajah paniknya saat hendak bertukar motor sepulang sekolah.


"Bukan itu maksudnya, Sayang!" Kak Bagas seperti menahan gemas. "Abang nanya begitu karena enggak punya persiapan apa pun."


"Persiapan apa?" Sudah kayak upacara saja butuh persiapan.


"Persiapan ketemu Mami, lah! Ya, masa enggak bawa apa-apa."


Aku sampai menepuk jidat, baru tahu kalau Kak Bagas ribetnya minta ampun. "Kalau mau datang, ya, tinggal datang, Bang! Enggak perlu repot-repot bawa sesajen."


"Engga bisa gitu, Dek! Adek, kan, dulu pernah bawa Arfan ke rumah. Kalau kesan pertama Abang lebih buruk dari Arfan gimana? Minimal kalau Abang bawa martabak, Mami jadi kepincut, gitu."


Ya, ampun. Sudahlah, bilang saja karena takut tersaingi dengan orang di masa laluku. Pakai belibet menjelaskannya pula.


"Oh, iya. Hari ini abang jadi tatib!" Dia mulai menggenggam tanganku, mengajak untuk menyudahi perdebatan perkara ketemu Mami dan Papi.


"Iya." Aku masih ingat jadwalnya. Dua minggu jadi tatib dan dua minggu selanjutnya menjadi pemimpin upacara.

__ADS_1


"Nanti abang bakal berdiri di belakang Adek." Informasinya lagi.


"Oh, iya? Bukannya minggu kemaren Abang jadi tatib di kelas XII, ya? Kenapa sekarang milih kelas X?"


"Sengaja. Mau jagain cewek kesayangan, takut direbut sang mantan!"


......***......


Aku baru memahami ucapan Kak Bagas setelah peristiwa itu terjadi. Peristiwa aneh yang tidak seperti biasanya. Baru kali ini Kak Bagas dan Arfan berdiri berdampingan untuk menjadi tatib, di lahan yang sama pula. Mereka janjian atau bagaimana, sih? Tumben sekali melihat dua orang yang biasa berjaga di area kakak kelas, jadi berjaga di belakang adik kelas.


"Lo ngapain di sini?"


Diam-diam telingaku menangkap bisikan suara Kak Bagas. Pasti dia bertanya kepada Arfan.


"Bertugas, Bos!" Jawaban yang cukup mampu membungkam lawan bicaranya. "Lo sendiri ... ngapain di sini?"


"Gue? Jaga kepemilikan."


Tanpa sadar kepalaku menoleh dan bersitatap dengan yang barusan berbicara. Dia mengedipkan sebelah mata sambil menorehkan senyum yang menawan. Ah, sudahlah! Tanpa dijaga pun, aku pasti tetap di jalan yang sama. Memilih Kak Bagas.


"Ketua, tapi enggak profesional," dumel orang yang berdiri di samping kirinya.


"Sori, Ngab! Gue profesional. Sebelumnya, gue udah izin ke anak buah buat jaga di sini dan mereka mengiyakan. Gue juga jujur-jujur, aja, ngomong kayak begitu. Seenggaknya gue enggak munafik kayak lo yang jadiin kata tugas buat godain cewek orang."


Terdengar panjang-lebar, tetapi aku cukup puas. Kak Bagas menampar wajah Arfan dengan sekali ucapan.


"Lo yakin, dia cewek lo?" Arfan terdengar merendahkan.


"Yakin, lah! Buktinya kita udah jadian."


Ah, aku harap Kak Bagas tidak keceplosan membawa-bawa kontrak pacaran.


"Kalau pada akhirnya godaan gue berhasil bikin dia berpaling, gimana?"


Pertanyaan terabsurd yang kudengar. Telingaku mendadak terasa gatal dan memanas. Tak ingin dia tambah membusungkan dada, aku lekas menolehkan pandangan ke arah belakang. "Eh, maaf-maaf, nih! Mau lo goda sampai sujud-sujud di kaki juga gue kagak bakalan berpaling! Jangan samain hati gue yang kokoh, sama hati lo yang plin-plan!"


Mendapat perlakuan tak terduga semacam itu, Arfan langsung bungkam. Matanya berubah menajam. Ekspresi itu jelas menunjukkan kalau dia sudah kalah telak dari kami.


"Ngeri, Bos! Lo lepasin cewek yang salah!" Kak Bagas menahan tawa sambil melirik lawannya.


"Jangan bangga dulu!" tahan Arfan dengan mata melotot. "Gue punya seribu cara buat narik perhatian Dara. Lo pasang kuda-kuda, aja! Takut kena karma!"


"Lah, bukannya lo yang lagi kena karma?" Kak Bagas menang lagi. "Suruh siapa lo lepasin dia?"


"Gue bukan lepasin," sanggahnya tegas. "Gue cuma melipir sebentar, tapi tetep Dara tempat berpulang."


......***......


__ADS_1


__ADS_2