
Rancangan konsep yang sudah rampung kami bahas ditolak Pak Abigail dua minggu sebelum technical meeting dilaksanakan. Seluruh panitia mulai kalang kabut membenahi perombakan karena ingin acara berjalan sesuai keinginan pihak sekolah.
Pak Abigail ingin semua perlombaan dirombak, terkhusus lomba gaya busana mojang jajaka. Beliau ingin kata mojang jajaka dihapuskan, supaya peserta tidak hanya menunjukkan pakaian adat Sunda. Jelas saja kami menurut, membahas ulang konsep sampai Pembina OSIS tersebut setuju. Alhasil jadilah nama Kontes Busana Adat Indonesia. Nantinya semua kontestan harus mengenakan pakaian adat dari kocokan bola yang mereka pilih bersama.
Aku dan Kak Bagas jadi harap-harap cemas. Mendadak memiliki keinginan mengenakan kebaya karena di antara semua baju adat, adat Sunda-lah yang paling simpel barang bawaannya. Namun sepertinya, Tuhan tidak setuju dengan harapan kami. Terbukti saat technical meeting, kocokan untuk adat Sunda dimiliki telak oleh kelas XI-A, yakni kelas Kak Bagas yang diwakili oleh Kak Cecilia dan Arfan. Indah betul mereka. Rencana Kak Cecil berhasil total sepertinya.
Kini, tersisa tiga kocokan untuk tiga perwakilan organisasi dan ekstrakulikuler sekolah. Aku yang sudah pasrah berujung melemparkan kesempatan memilih kocokan kepada Kak Bagas. Semua baju adat yang mudah dikenakan sudah dipilih semua orang. Meyakini hal itu, aku jadi tidak bernafsu untuk berharap lebih karena tahu ujungnya akan mengecewakan.
Kak Wisnu membuka kocokan kami. "Baik. Saya akan membaca baju adat yang dipilih oleh Bapak Ketua OSIS."
Senyum Kak Wisnu yang lebar membuat napasku mengembus berat. Sudahlah. Raut wajah moderator rapat itu sudah memberiku isyarat bahwa baju yang kami pilih akan terasa berat untuk dikenakan.
"Perwakilan OSIS akan menampilkan baju adat Bali."
"Bali?" Kepalaku terangkat karena tak percaya dengan pengumuman itu.
Kak Bagas yang turut mendengar hal itu berangsur melangkah gontai ke arahku. Kepalanya tertunduk.
"Kak, adat Bali itu gimana?" Aku langsung memberi pertanyaan begitu Kak Bagas sampai di kursi kami.
"Coba kita search, ya," jawabnya lemah.
Ponsel canggih itu pun keluar dari kantung kekasihku. Jemarinya mengetik lancar materi yang kami butuhkan, hingga tak berapa lama muncullah hal yang kami cari.
"I-itu, kepalanya pakai apa itu ...." Telunjukku mengarah ke sebuah gambar yang terpampang di sana.
Kak Bagas tidak menyahut, hanya mengerang tertahan sambil memejamkan kedua mata. "Ucapan kita terkabul, Sayang," bisiknya terdengar penuh sesal. "Kita gak mau pakai kebaya. Jadi, Tuhan kasih baju adat yang lain."
***
Kami lantas memberitahukan acara kontes busana adat ini kepada Ibu dan Mami. Semacam membutuhkan bantuan untuk mencari baju adat tersebut karena waktu yang tersisa tinggal seminggu lagi. Kami memasrahkan masalah kostum kepada dua ibu karena kami harus fokus menghapal materi untuk menjawab soal dari dewan juri nanti.
"Nih, Kak. Dengar Dara dulu," pintaku seraya memberikan kertas berisi data Raden Ajeng Kartini kepadanya.
Kami sudah duduk berhadapan, memilih ruang tamu sebagai lokasi menghapal materi untuk perlombaan.
"Nama lengkapnya Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Lahir di Mayong, Jepara, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Beliau putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah."
"Udah?" Kak Bagas tampak memastikan.
__ADS_1
"Iya, baru hapal itu. Kakak juga hapalin, dong. Masa Adek, doang." Aku bicara begitu karena sedari sampai di rumah dia terus menengok ke layar ponsel.
"Lagi malas. Kakak biasa belajar SKS. Jadi, nanti, aja, hapalinnya." Dia kembali melihat ponsel.
"Benar, ya? Awas, lho, kalau gak dihapalin."
Kak Bagas tidak menyahut, hanya memberi anggukan singkat sambil lalu. Hal itu justru semakin menarik perhatianku untuk melihat ke arahnya. Tanpa dia sadari, kepalaku pelan-pelan mengintip. Ingin mencari tahu alasan Kak Bagas terus-menerus melihat ponsel.
"Astaga!" Aku menggeleng tak percaya setelah tahu alasan dia terus melihat ponsel. "Kirain lagi balas chat atau apalah, gitu. Tahunya lagi lihat moge."
"Iya." Dia berujung menunjukkan foto motor hijau yang dijadikan sebagai wallpaper utama. "Berat, aja, karena nanti ke sekolah gak sama dia."
Mataku menyipit. Benaran tidak habis pikir. Meninggalkan moge sehari saja lagaknya sudah seperti meninggalkan motor itu sebulan. Kira-kira kalau disuruh pilih moge atau Dara, dia bakalan pilih siapa?
"Dara ... Dara ...."
Panggilan Mami dari dalam rumah membuat perhatian kami teralih sementara. Beliau datang menghampiri ke ruangan depan dengan senyum semringah. "Ayo, siap-siap!" Tanpa rencana, Mami langsung menyuruh bersiap-siap.
"Mau ke mana, Mi?" tanyaku mewakili kebingungan Kak Bagas juga.
"Fitting baju. Ibunya Bagas udah nemu baju adat Bali. Ayo, cepat kita ke salon sekarang. Keburu bajunya disewa orang." Mami yang bersemangat langsung meninggalkan kami yang melongo di tempat.
Aku yang setuju dengan pendapat itu pun menimpali. "Hm, mereka seniat itu cari bajunya."
"Astaga ... malah bengong." Cuma hitungan menit yang Mami habiskan untuk bersiap-siap. "Kita berangkat pakai mobil aja, ya! Bagas bisa nyetir, kan?"
"I-itu, anu ... Mami. Bagas gak punya SIM."
Mataku mendelik sambil menghela napas panjang. Dia pasti beralasan karena tidak bisa pergi tanpa moge.
"Ya, gak jadi masalah." Beruntungnya karena Mami tidak ingin keinginannya ditolak orang lain. "Kamu nyetir, aja. Nanti kalau ada polisi, kita gantian. Mami yang bakal nyetir."
***
Kami sampai di lokasi yang sudah dikirim oleh ibunda Kak Bagas. Perjalanan lancar tanpa bertemu polisi, sehingga supir mobil tidak perlu diganti. Bagusnya Kak Bagas, walaupun kesal meninggalkan moge di rumah, dia tak sekalipun menunjukkan raut wajah tak suka dengan cara Mami memerintah. Wajahnya tetap profesional, tersenyum lebar, dan menjawab segala hal yang Mami ajukan.
De Lafina Salon. Kami masuki dengan Mami sebagai pemandu utama. Beliau yang tahu lokasi janjian pun membuka pintu toko, lalu berjalan ke meja administrasi. Aku mengalihkan pandangan, memilih melihat gaun-gaun pernikahan yang terpanjang di manekin ruangan. Terlalu cantik untuk dipakai, sehingga cocok untuk dipajang.
"Kayak yang terpesona," bisik Kak Bagas sambil menyenggol lenganku.
__ADS_1
"Hm, cantik-cantik," balasku dengan senang hati.
"Kalah dipakai Adek bakalan lebih cantik lagi kayaknya."
Bola mataku langsung membulat. "Gombal mulu, ah."
"Serius." Kak Bagas mencubit pipiku gemas. "Apa mau sekalian fitting gaun juga?"
"Lah, buat apaan?"
"Buat nikahan kita, lah," candanya sambil tertawa kecil.
Mulutku yang sudah terbuka dan berniat membalas candaan Kak Bagas pun terpaksa tertahan karena Mami sudah selesai berbicara dengan karyawan salon.
"Ayo," ajak Mami yang berjalan lebih dulu menuju ruangan berpintu.
Sudah ada Ibu Ester di ruangan ini. Tengah mengobrol bersama salah satu karyawan salon. Tangan beliau terlihat sibuk memeluk beberapa printilan untuk baju adat anaknya.
"Mami, sudah datang."
Bu Ester yang menyadari kehadiran kami lantas menyapa Mami dan menghampirinya. Entah sejak kapan mereka akrab. Panggilan pun sampai mengikuti panggilan anak-anaknya.
"Maaf, ya, Bu Ester. Agak ngaret sedikit," kata Mami setelah sebelumnya berpelukan singkat bersama ibunda Kak Bagas.
"Iya, gak masalah. Saya juga belum lama di sini. Baru datang langsung sewa bajunya." Bu Ester sampai menunjukkan baju incaran mereka.
Mami langsung mengambil baju yang ditunjukkan Bu Ester. Melebarkan kain itu ke segala arah untuk memperhatikan detail kain lebih jelas. "Sisa ini saja, Bu, bajunya?"
"Iya, Mi. Hana bilang di WhatsApp baju adatnya ada dua, tapi pas datang tinggal ini yang belum disewa."
Tiada henti aku melihat wajah keduanya secara bergantian. Mengapresiasi dengan hati hangat atas pergerakan kedua ibu yang tanggap terhadap tugas anak-anaknya. Aku baru bisa berhenti jadi pemerhati saat lengan ini digenggam Kak Bagas erat. Dia membimbingku berjalan mendekati sofa yang disediakan.
"Bakal diskusi lama kayaknya, mending kita duduk, aja."
Saran itu tanpa basa-basi aku indahkan. Aku juga memiliki firasat yang sama tentang itu. Mami dan Ibu bakalan terlibat diskusi panjang dalam menentukan baju adat yang akan kami kenakan. Lebih baik menunggu sambil duduk, kan, daripada mematung terus di tengah-tengah mereka?
Lelaki di sampingku kembali membuat pergerakan. Dia tanpa kata menepuk sebelah pundaknya, seolah memberi isyarat supaya aku menunggu sambil bersandar ke bahunya. Tentu saja aku tersenyum. Aku akan menunggu sambil bersandar di bahu Kak Bagas dengan perasaan senang dalam hati.
Terhitung setengah jam, kedua ibu berdiskusi tentang pakaian adat bersama karyawan salon. Kami yang menunggu sudah hampir termakan lelah dan bosan. Beruntung karena Mami menyadari kebosanan kami. Beliau tiba-tiba melambai dan langsung memberikan sebuah instruksi. "Dara coba dulu bajunya, Sayang."
__ADS_1
***