
Tugasku begitu berat hari ini. Menerima takdir dan berpura-pura seolah semua kejadian buruk sudah hilang dalam ingatan. Entah kelompok ini dicurangi atau tidak, aku akan mencoba menerimanya.
Aku tatap wajah mereka satu per satu. Eren yang tidak pernah melakukan kesalahan fatal padaku, bisa balik menatap dengan penuh percaya diri. Adapun Riska dan Putri yang lebih sering menundukkan kepala. Aksinya yang seolah sudah menyesali diri, sayangnya tidak menarik rasa iba sama sekali. Dia pernah bersandiwara, pernah berkhianat meski sudah aku beri rasa percaya. Lain hal dengan mereka, ada juga Shafira yang sedari tadi membuang muka. Tangannya yang dilipat depan dada, memberiku isyarat kalau dia tak berminat diketuai oleh seorang Dara Dwiana.
"Karena udah kayak gini, mau enggak mau kita harus nerima keadaan," ucapku sebagai kata pembuka dalam kelompok tiga. "Mohon bantuan dan rasa profesionalnya, ya! Sebenci apa pun kalian sama saya, sudah sewajarnya kita bekerja sama karena kelompok ini juga bukan atas dasar saya yang minta."
Kalau bisa memilih juga, aku ogah bertemu kalian lagi, kalian lagi.
"Oke, di sini ada yang lagi enggak enak badan? Atau ada yang enggak biasa kena angin?"
"Aku, Dara!"
Pandanganku melipir ke arah orang yang begitu percaya diri mengacungkan tangan. Aku tersenyum miring. Baguslah kalau memang dia orangnya.
"Ada lagi, gak?" Aku kembali menatap satu per satu wajah mereka. Setelah lima detik menunggu dan tidak ada lagi yang mengacungkan tangan, aku kembali berkata, "Berarti cuma Shafira yang enggak enak badan, ya." Mereka terlihat menganggukkan kepala. "Yah, sayang sekali Shafira tidak bisa bergabung bersama kita."
"Asyiiikkk, yuhuu!" Dia bersorak-sorai penuh semangat. "Berarti aku enggak perlu naik mobil ini, kan? Aku bisa naik motor panitia, kan?"
Aku kembali tersenyum miring. Tidak semudah itu, Ferguso! Bukan begitu juga konsepnya.
"Kok, naik motor panitia? Ya, naik mobil inilah, Shafir."
Dia kira, aku tidak tahu niat busuknya? Aku hapal betul, dia ingin berboncengan dengan Kak Bagas.
"Kan, aku enggak enak badan, Ra." Shafira kembali berkilah.
"Iya, berhubung kamu lagi enggak enak badan, kamu jadi bisa duduk di sini." Aku berjalan mengitari mobil pikap, membuka pintu penumpang di samping sopir. "Silakan menikmati kursi VVIP kami. Mohon jangan mengeluh enggak enak badan lagi!"
......***......
__ADS_1
Aku duduk di samping Eren, berhadap-hadapan dengan Riska dan Putri yang masih saling menundukkan kepala. Ingin rasanya menegur mereka. Apa tidak pegal menunduk terus? Namun, ya, sudahlah. Takut panjang urusan kalau mengajak mereka bicara.
Satu per satu mobil yang membawa muatan peserta LDKS melaju dan meninggalkan pelataran sekolah. Membunuh waktu yang membosankan, aku beralih memperhatikan layar ponsel yang sudah dihiasi pesan pop-up dari Kak Bagas.
Dari : Abang❤️
Semangat ya. Kakak pantau dari belakang
Aku menunggu. Menengok ke arah belakang, tetapi dia tidak kunjung terlihat pandangan. Napasku berembus berat. Pantau dari belakang mana? Dari belakang, kan, mobil kelompok empat.
"Ra." Eren memanggil sambil mencolek sebelah lenganku. "Kenapa kamu enggak bareng Kak Bagas?"
"Dia, kan, panitia." Aku menjawab ala kadarnya.
"Ya, maksudku itu kenapa enggak naik motornya? Kan, dia ketos."
Kenapa semua berpikiran kalau pacar ketua OSIS akan diperlakukan berbeda, ya? Justru karena aku pacar ketua, harus serba bisa berlapang dada. Berkorban tidak bersama, padahal ingin pergi berkendara berdua-duaan saja.
Kak Wisnu mengapungkan megaphone pengeras suara ke udara, menyalakan sirenenya guna memancing perhatian semua orang.
"Tes ... satu ... dua ... satu ... dua." Terdengar suara Kak Wisnu setelah sirene itu berbunyi. "Bagi seluruh peserta dimohon untuk bisa menjaga dirinya masing-masing. Sekian dan terima gaji."
Aku menahan tawa. Bisa-bisanya dia menghebohkan seisi jalan hanya untuk memberi keterangan yang tidak menguntungkan. Kak Bagas berujung melepas satu pegangan tangan, meminta mikrofon kendali atas mikrofon yang dikuasai kawannya.
"Tes ... satu ... dua ... satu ... dua." Suara Kak Bagas terdengar, menggantikan suara Kak Wisnu yang tadi memberi informasi tak berfaedah.
"Ketua kelompok tiga, diharapkan fokus dan semangat! Perlu lolos LDKS dulu, supaya bisa dibonceng saya lagi. Sekian, salam sayang!"
Terdengar sorak-sorai yang mengisi kekosongan jalanan. Aku yang terus memperhatikan Kak Bagas hanya menganggukkan kepala sambil melempar senyum lebar. Jangankan LDKS, jurit malam saja akan aku lakoni supaya bisa bertakhta di samping Kak Bagas lagi.
__ADS_1
Dia benaran mengawasiku dari belakang. Bahkan selama perjalanan, tak sekalipun dia menyalip mobil kelompok tiga. Begitu sampai di Ranca Upas Ciwidey, barulah Kak Bagas mendahului kami. Tentu saja karena lahan memarkirkan motor, berbeda dengan lahan parkir mobil peserta.
Aku meloncat lebih dulu, membantu anggota kelompok menurunkan ransel gunung mereka masing-masing. Shafira yang katanya tak enak badan pun, tak luput dari bantuanku. Muka masamnya mulai menghiasi pandanganku. Tangannya kembali dilipat dan disimpannya di depan dada.
"Kenapa?" tanyaku sedikit tak suka dengan raut wajahnya.
"Shafira, enggak ngerti, deh. Dara biasa, aja, tapi kok Bagas bisa sampe segitunya?"
Hah, astaga! Mulai lagi dia. Sudah aku bilang profesional, tidak mau mendengar juga.
"Apa aku harus jadi cewek gatel dulu, ya, buat rebut Bagas dari kamu?"
Aku tergelak mendengar pertanyaannya yang kepalang polos dan tak berbobot. Eren yang mendengar hal itu pun lantas ikut menyatakan sebuah pertanyaan. "Shafira, mau kamu gatel sampe lupa harga diri pun, Kak Bagas enggak bakalan kegoda. Ya, kali dia mau ngelepasin Dara demi mantan tiga hari. Eh, tiga hari?" Eren seperti terkejut dengan ucapannya sendiri. "Tiga hari mah nengok doang kali. Enggak layak disebut mantan, sih, harusnya."
"Eren, kok, ikut-ikutan hujat Shafira? Dara yang hasut, ya?"
"Lah, tanpa dihasut juga semua orang udah tau kalau kamu yang mutusin Kak Bagas waktu itu." Aku membela diri sekaligus mengklarifikasi. Enak saja, aku menghasut semua orang. Berperilaku baik itu tidak perlu mendapat pengakuan orang. Cukup mereka yang melihat dan merasa-rasanya sendiri.
"Ya, tapi, kan, selalu ada kesempatan kedua. Tuhan, aja, mau menerima hamba yang mau bertobat, kenapa Bagas enggak?"
"Ya, kan, lo bilang Tuhan." Suara Kak Bagas cukup menyentak tubuh kami yang sedang berkerumun ini. Dia terlihat berjalan ke arahku lalu merangkul pinggangku erat. "Lo bilang, yang suka ngasih kesempatan kedua itu Tuhan, kan? Ya, itu kan Tuhan, bukan gue si manusia biasa. Jadi, jangan di sama-samain."
"T-tapi Bagas, aku juga bisa kok sekuat Dara."
"Ya, kalau sekiranya bisa, waktu itu lo enggak mungkin lari dong." Kak Bagas memiringkan kepala. "Mending lo cari cowok baru, yang sekiranya bisa merhatiin lo dan ngasih segalanya, kalau bisa lebih dari gue juga enggak pa-pa."
"Kok, kamu malah nyuruh aku cari yang baru?"
"Ya, karena cinta ke lo, tuh, udah enggak ada. Bener kata Eren tadi, tiga hari itu bukan pacaran, anggap aja nengok jodoh orang."
__ADS_1
......***......