
Jika dihitung-hitung, sekitar seminggu dia begitu. Benar-benar hanya mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk jajan camilan, dan mengupayakan segala cara berhemat dengan membawa kotak bekal buatan sang ibunda.
Entah apa yang menjadi penyebab dia begitu bertekad. Berkali-kali sudah aku tanyakan tentang alasannya, tetapi dia tidak pernah memberiku jawaban yang memuaskan. Ya, iseng. Dia selalu bilang kalau hemat cuma iseng. Lelah dengan jawaban tersebut, aku sampai menahan gejolak emosi setiap kali dia memberikan jawaban yang mengambang dalam segala hal.
Siang ini, Kak Bagas tiba-tiba sulit dihubungi sampai tidak bisa kutemukan di mana-mana. Baik di ruang kelas, ruang OSIS, hingga koperasi, aku tidak jua menemukan batang hidungnya.
Namun, ada yang lebih parahnya lagi. Sekelas Kak Wisnu yang notabene dikenal sebagai ajudan pribadinya tidak tahu keberadaan lelaki satu itu. Heran. Sekolah seluas telapak tangan, tetapi aku tidak bisa menemukannya.
Alih-alih menemukan tambatan hati, aku malah dipertemukan dengan mantan yang menyebalkan. Dari arah berlawanan dia berjalan mendekat, semakin mendekat hingga kami berujung berdiri berhadapan. Dia tiba-tiba memamerkan senyum lebar dan penuh kemenangan.
"Apa?" tanyaku garang karena ingin cepat-cepat berlalu dari hadapannya.
"Pasti cari Bagas," tebaknya, tetapi aku berusaha tidak peduli.
"Gak juga. Gue mau ke kantin." Telunjuk mengarah ke lorong kelas yang berada tepat di belakangnya.
"Biasanya juga makan sama ayang. Ayangnya menghilang, ya?" Dia semakin melancarkan aksi.
"Gak mungkin hilang, lah." Aku berusaha membela Kak Bagas. "Dia cuma lagi sibuk, aja—"
"Ya, pasti sibuk, lah," potong Arfan sambil memiringkan kepala. "Namanya juga ngurus orang sakit, pasti sibuk."
"Gak usah belibet, deh. Kalau mau panas-panasin langsung gas. Gak usah bertele-tele," semprotku yang menahan rasa penasaran.
"Kamu mau tahu alasan Bagas hemat uang habis-habisan?"
Tubuhku langsung menegang. Kenapa dia tahu perihal Kak Bagas yang berhemat? Arfan tahu dari mana, nih?
"Dia lagi berusaha kumpulin uang buat beliin Shafira hadiah. Sebentar lagi, Shafir keluar rumah sakit, lho!"
Tidak. Tidak mungkin. Jangan dibawa panas hati. Aku yakin Arfan cuma memanas-manasi. Tak mau disangka termakan omongan, aku lekas memberinya gelak tawa membahana. "Keren banget sampai tahu ke akar-akarnya. Pasti sering kepo, ya, sama kehidupan pacarnya mantan," ejekku yang sukses mengubah raut wajahnya.
"Apa perlu aku kasih bukti biar kamu percaya?" Dia semakin menantang dan aku semakin terpancing.
"Hidup, kok, lucu banget, ya." Aku sudah melayangkan tatapan tajam. "Kalau disuruh pilih, orang bego juga lebih pilih percaya Kak Bagas daripada percaya sama buaya."
"Ra, aku khilaf. Berapa kali, sih, harus aku jelasin?" Dia malah membahas hal lain.
"Duh, udah, ya. Gue gak demen bahas yang dulu-dulu. Udah kedaluwarsa." Tanganku sampai mengibas di depan wajahnya supaya dia semakin terhina. Tak mau mendengar apa pun lagi, aku langsung tancap gas. Berjalan cepat melewati tubuhnya.
"Buktinya ada di koperasi. Kamu bisa lihat langsung di sana."
__ADS_1
***
Tidak mau termakan omongan, tetapi kakiku malah menepi di tempat yang tadi diteriaki Arfan. Sialan. Pandai betul dia menarik rasa penasaranku.
Lokasi yang tadi sempat aku datangi, kembali menarik perhatianku. Kali ini bukan perkara mencari Kak Bagas. Tujuan kedatanganku kali ini, hanya ingin menemukan bukti yang dibilang Arfan tadi.
Berbekal keberanian, aku menarik pintu rolling door yang terbuka setengahnya. Toko yang membutuhkan cahaya lampu itu, aku masuki secara mengendap-endap. Mataku menelisik beberapa barang yang mencurigakan di sini. Begitu sampai di pojok toko, aku menangkap tampilan kotak yang mencurigakan. Perlu berjongkok guna melihat lebih jelas tulisan yang tersemat di penutupnya. Aku sampai menyalakan mode senter dalam ponsel supaya bisa melihat tulisan tersebut dengan jelas.
Untuk S? Untuk S? Dua kata itu berkelebatan penuh mengisi otakku. Seakan menemukan sebuah kebenaran, aku kembali menyimpan kotak itu ke tempat semula. Cukup tahu saja, ya, Dara. Selebihnya, tidak perlu kamu buka lagi.
Merasakan hati yang remuk redam, kakiku kembali melangkah keluar toko. Tak lupa supaya tidak ketahuan, pintu rolling door kembali aku tarik sampai posisinya terlihat sama seperti sebelumnya.
Perih dan pedih terasa saat aku berjalan menjauhi area koperasi. Tubuhku sampai gemetar akibat menahan gejolak emosi dan kekecewaan yang penuh kepada Kak Bagas. Aku bisa semudah itu percaya karena logikanya hanya Shafira, lah, yang namanya diawali huruf S.
Entahlah, jika sudah begini aku juga bingung sendiri untuk bereaksi. Terlebih karena orang yang kucari dan ingin kuhindari tiba-tiba hadir di ujung lorong koperasi. Dia melambai, tersenyum lebar seolah tidak melakukan dosa terbesar. Masih dengan tubuh gemetar, aku berusaha mempercepat langkah, berniat melewatinya, tetapi tangan sigap Kak Bagas sudah lebih dulu menangkap sebelah lenganku dan menahannya erat dalam genggaman.
"Mau ke mana?" tanya Kak Bagas.
"Ke kelas, lah." Kali ini, aku juga ingin memberinya jawaban mengambang. Aku bahkan memalingkan wajah karena tak mau bersitatap dengannya. Entahlah lagi. Sekadar mendengar suaranya, jantungku sontak bertalu-talu diikuti mata yang berkabut.
"Kenapa, Sayang?"
"Adek marah, ya?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawabku ketus sembari menepis genggaman tangannya.
Bukan Kak Bagas namanya kalau dia rela menyerah begitu saja. Terbukti, semakin ditepis semakin tangannya menggenggam lagi dan lagi. Kini aku terdiam, mencoba pasrah dengan usahanya yang tengah menahan langkahku.
"Adek marah. Kakak tahu. Sekarang coba jelasin, kenapa Adek marah?"
Dia mengangkat daguku sampai kedua mata kami bersitatap. Buru-buru aku menahan napas, menahan hawa panas yang menggebu supaya mata berkabut ini tidak berujung berair.
"Kakak tahu Ayang marah. Coba kasih tahu kakak, di mana letak kesalahannya?"
"Buat apa, sih, aku kayak gitu?" tanyaku yang sukses membuatnya bingung. "Buat apa aku kasih tahu semuanya. Toh, Kakak juga gak pernah terbuka lagi sama aku."
"Gak terbuka? Gak terbuka apa?"
"Gak usah pura-pura bego," bentakku kembali memalingkan wajah.
"Memang kakak gak paham lho, Dek. Ini, tuh, ada apa? Gak terbuka tentang apa dan sebelah mana? Selama ini kakak berusaha cerita semuanya ke kamu—"
__ADS_1
"Coba aku tanya," potongku langsung. "Kenapa akhir-akhir ini Kakak menghemat banget uang jajan?"
""Ya Tuhan ...." Ucapannya terdengar tercekat. "Itu lagi ... itu lagi ...."
"Ya, aku bakalan terus nanya tentang itu. Aku tahu Kakak tipe cowok kayak apa. Pasti ada hal yang mau Kakak beli, kan? Pasti ada hal yang mau Kakak siapin, kan?"
"Gak ada, Sayang. Kakak cuma iseng—"
"Gak mungkin!" teriakku dengan mata berkaca. "Gak mungkin cuma iseng." Suaraku sudah berubah parau.
"Sayang, kenapa kamu susah percaya, sih? Beneran iseng. Gak bohong. Kakak juga gak sembunyiin apa-apa. Kenapa masalah kecil, aja, kamu gede-gedein, sih?"
"Memangnya gak boleh?" Aku semakin terbakar emosi.
"Bu-bukan gak boleh." Kak Bagas menghela napas sebelum kembali melanjutkan. "Kakak cuma ngerasa ini gak penting buat diperdebatkan."
"Bagi Dara ini penting," tandasku. "Sekarang aku tanya sekali lagi sama Kakak."
"Oke, tanya apa?" Wajahnya sudah terlihat pasrah.
"Kotak yang ada dipojokan koperasi, itu buat siapa?" Telunjukku sampai mengarah ke tempat tersebut.
"Kotak? Kotak hadiah, maksudnya?"
"Ya," jawabku cepat.
"Adek lihat? Kenapa Adek tahu ada kotak itu?"
Sayangnya, aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Rahangku semakin mengeras saja. "Aku tanya, hadiah itu buat siapa?"
"Buat kamu," jawab Kak Bagas pelan.
"Bohong, kan?" Aku sungguh tidak percaya. "Kenapa inisialnya S? Kenapa bukan D? Pasti itu buat Shafira."
"Bukan, Sayang." Kepala Kak Bagas menggeleng. Dia sampai menangkup pipiku. "Buat kamu, Dara. Bukan buat Shafira. Stop berpikiran macam-macam."
"Terus kenapa inisialnya S?" Pecah sudah. Tangis yang sedari tadi tertahan akhirnya buyar.
"Adek lupa? Adek juga inisialnya S bagi kakak. S untuk Sayang."
***
__ADS_1