Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 18 | Vitamin Cinta


__ADS_3

Memulai pagi dengan berangkat ke sekolah sendiri. Motor matic yang sudah sekian purnama aku tinggalkan, akhirnya dikemudikan lagi seorang diri. Jalanan pagi yang tampak ramai lancar nyatanya tidak bisa mengisi kekosongan hati seorang Dara. Penuh di mata, tetapi sepi di hati.


"Ah, gila!" teriakku sambil menarik gas di tangan kanan. Belum genap sehari, tetapi rasanya sudah tak kuat ingin bertemu si doi.


Pelataran parkir masih terbilang aman. Sengaja datang tidak terlalu pagi supaya bisa pulang secepatnya dari sini. Ponsel terasa bergetar bertepatan dengan tanganku yang melepas helm. Tanpa melihat nama pengirim, aku sudah tahu kalau pesan yang masuk itu berasal dari seseorang yang kurindukan.


Dari : Ayang


Kerja dulu, ya. Doakan semoga lancar.


Tidak mempedulikan sekitar, tanganku buru-buru menyapu layar ponsel. Takut Kak Bagas tidak sempat membaca suntikan semangat dariku.


^^^Untuk : Ayang^^^


^^^^^^Amin. Akan selalu adek doakan. Kakak yang semangat, ya. Adek tunggu dari sini. GBU.^^^^^^


Dari : Ayang


Deg-degan, tapi stimulasi cari duit di masa depan buat Adek, nih, jadi harus semangat. wkwkwk


^^^at lUntuk : Ayang^^^


^^^Nah, benar. Anggap, aja, lagi latihan buat masa depan kita^^^


Dari : Ayang


Adek juga semangat, ya. Sekolah yang fokus.


^^^Untuk : Ayang^^^


^^^Siap laksanakan, Bos.^^^


Dari : Ayang


Kakak masuk dulu❤️


Pesan terakhir bertanda hati membuatku tersenyum lebar. Asupan vitamin cinta yang kelewat batas, sih, ini. Ponsel mendadak jadi barang penting disetiap kesempatan, padahal biasanya kami tidak begini-begini amat.


Tukar pesan pun berlanjut saat jam istirahat dimulai. Kak Bagas yang sudah tahu jadwalku lantas membuat sambungan video call.


"Ganggu, gak?"


"Enggak, dong. Malah senang ditelepon begini." Senang karena lumayan bisa melihat wajah Kak Bagas di rumah dinas.


"Kakak dapat libur Kamis."


Informasi pertama itu membuatku tersenyum senang. Senin ke Kamis, tidak akan lama. Tinggal beberapa hari lagi. Kami bisa bertemu lebih cepat dari hari yang diperkirakan. Mau heran, tetapi anak kesehatan. Pasti tidak akan mendapat libur weekend seperti layaknya pekerja kantoran.


"Berarti bisa jenguk adek, dong?"


Dia tidak mungkin lupa janjinya, kan?


"Bisa. Nanti kakak pulang, ya."


"Kalau jam dinas udah keluar?" tanyaku memastikan.


"Hm, belum. Katanya, masih diatur. Kenapa?"


"Enggak." Aku menggeleng sambil tersenyum simpul.


Tadinya, aku ingin meminta jadwal dinas Kak Bagas. Bukan bermaksud posesif, lho, ya. Aku cuma ingin tahu jam-jam dia sibuk bekerja supaya bisa menahan diri untuk mengirim pesan. Ya, intinya ingin menghindari diri dari overthinking kalau sewaktu-waktu Kak Bagas lama membalas pesan.


"Mau lihat?" Dia menawarkan.


"Mau. Nanti kalau jadwalnya keluar, kasih tahu adek, ya."


"Siap, Sayang. Eh, sebentar kelupaan tanya. Kenapa masih di kelas?"


"Ah, itu ... adek titip makanan ke Riska. Jadi, tunggu mereka datang, aja."


"Kirain gak jajan karena ditelepon kakak."

__ADS_1


Ya, memang. Aku menolak pergi dari kelas karena lebih mementingkan telepon sang doi.


"Pokoknya, kakak titip. Jangan sampai telat makan."


"Kakak juga, ya. Jangan makan mie terus."


"Kayaknya mie rebus pilihan akhir kalau kakak kepepet. Kalau gak kepepet, kakak bakalan makan di kantin RS, aja."


"Makanannya enak-enak?" Aku jadi penasaran.


"Tadi baru coba karedok, sih. Rasa biasa, tapi harga bintang lima."


Aku terkekeh. "Kemahalan maksudnya?"


"Iya, mahal banget. Ya, mungkin karena ini di pegunungan. Jadi, jauh ke mana-mana."


Tak berapa lama berselang dari ucapan itu, pesanan makananku pun datang. Menu yang menjadi andalan hari ini adalah nasi uduk.


"Tumben gak makan nasi padang," celetuk Kak Bagas setelah melihatku menerima bungkusan nasi.


"Iya, nih. Nasi padang bikin kangen seseorang."


"Duh, ada yang kangen berat kayaknya sama kakak." Dia malah nyengir bahagia.


"Lah, memang yang di sana gak kangen adek?" Tentu saja aku pura-pura merajuk.


"Kangennya ditahan buat hari Kamis. Kalau gak begitu, nanti kakak kabur dari sini."


“Huh, bohong banget! Kakak gak mungkin kabur sekarang.” Aku meremehkan.


“Pakai acara gak mungkin. Kakak berani, lho, kabur dari sini demi nemuin Adek."


“Gak akan berani!” Aku berucap tegas. “Polisi di mana-mana, paling juga kalau mau kabur tunggu malam atau subuh.”


Menyadari ucapanku yang ada benarnya, dia malah tergelak. Sekelas dia yang nekat juga pasti berpikir dua kali kalau polisi berpatroli. Takut si moge digusur, ya, kan? Tak berselang lama dari ucapanku tersebut seorang lelaki beralmamater berbeda menepuk pundak Kak Bagas.


“Saya duluan, ya, Gas,” katanya.


“Orang bucin mana inget waktu, Gas,” canda orang itu.


“Oke, oke, bentar. Saya pamit dulu sama Ayang.” Kak Bagas pun melihat kembali ke layar. “Kakak masuk dulu, ya. Cuma dikasih waktu makan setengah jam. Nanti disambung lagi.”


Setelah memberiku beberapa kalimat penyemangat sambungan video call kami terputus. Aku yang tidak mau terpengaruh karena perbedaan jam istirahat pun memilih fokus memakan nasi uduk. Hah, padahal lagi kangen-kangennya. Biasa makan bersama, sekarang jadi sendiri-sendiri.


“Risiko LDR, ya, Bu. Pasti gegana,” celetuk Putri seperti biasanya.


“Baru sehari, Gais. Mari kita lihat seberapa kuat couple bucin ini menahan rindu!” Eren malah ikut-ikutan mengejek.


“Seenggaknya mata kita aman, ya, Gais, ya. Tiga bulan tidak melihat keromantisan orang,” timpal Riska.


“Kalian senang banget kayaknya, ya.” Aku berusaha tetap santai dan tidak terpengaruh pada ejekan mereka.


“Pasti senang, dong. Kalau gak ada Ayang, kan, kamu pasti main sama kita.”


Napasku berembus berat. Sekarang aku paham alasan mereka mengejek begitu. Pasti ada kaitannya denganku yang selalu ogah setiap kali diajak hang out. Ya, maaf. Aku berusaha menghemat pengeluaran karena bulan ini adalah bulan kelahiranku.


“Keluar, yuk, Dara. Nonton, gitu,” ajak Riska kemudian.


“Hm ... kapan-kapan, aja, ya,” kataku tetap tidak mau diajak keluar walaupun sedang berjauhan dengan pacar. Serius, bulan ini aku sedang menghemat pengeluaran. Rencananya di hari ulang tahun nanti, aku mau mengajak Kak Bagas makan enak diluar.


“Yah, Dara gak seru, ah!” gerutu Putri.


“Iya, mohon maaf. Aku lagi hemat. Lagi ada barang yang pengin aku beli.”


***


Malamnya, Kak Bagas benaran menepati janji. Sesi video call yang tadi siang terputus pun tersambung lagi. Sudah seperti ragam sinetron, ya, tidak boleh ada kata tamat, diusahakan harus bersambung terus.


“Eh, cantik banget.”


Mata Kak Bagas membulat dan berbinar. Dia tahu saja kalau ada perubahan dari wajahku. Beruntung karena tadi sempat membubuhkan beberapa make up. Lumayan, jadi dapat pujian dari Ayang.

__ADS_1


“Iya, dong. Biar yang di sana gak sabar ketemu adek.”


“Yah, jangan begitu, lah. Kakak jadi benaran pengin kabur, nih,” keluhnya terlihat pura-pura merajuk.


“Sabar,” kataku padahal hati juga ketar-ketir. “Hari Kamis sebentar lagi.”


“Eh, iya.” Kak Bagas yang seperti teringat sesuatu beranjak dari layar. Telingaku sempat menangkap grasak-grusuk di ujung sana, hingga tak berapa lama dia muncul kembali. “Jadwal kakak udah ada.” Dia menunjukkan selembar kertas yang berisi jam kerja selama di rumah sakit.


“Adek boleh minta?”


“Buat apa, Sayang?”


Aku tersenyum. Sedikit malu untuk memberi penjelasan. “Rencananya ... jadwal itu mau adek buat sebagai patokan.”


“Patokan?” Kak Bagas mengernyit.


“Hm-m. Biar adek tahu jam-jam sibuk Kakak, sama biar adek gak ganggu jam kerja Kakak.”


Kak Bagas malah mengendurkan posisi duduk sampai punggungnya bersandar ke kepala kasur. “Sayang, jangan kayak begitu. Adek pacar kakak. Adek berhak ganggu.”


“Gak mau.” Kepalaku menggeleng. “Tanggungjawab kita gede kalau di lapangan. Kalau sampai Kakak gak fokus kerja karena gangguan chat dari adek bisa kebayang, gak, sih risikonya segede apa?” Dia yang terdiam membuatku kembali berkata, “Adek gak mau rasa kangen ini berubah jadi gangguan apalagi sampai bikin Kakak kena hukuman.”


“Sayang,” panggilnya tiba-tiba.


“Apa, Sayang?” Jarang-jarang aku memanggilnya sayang.


“Nikah, yuk!”


“Apaan, sih, Kak,” semprotku karena dari kemarin dia terus membuat candaan itu.


“Kakak lamar sekarang, nikahnya delapan tahun yang akan datang. Boleh, gak?”


Spontan aku tertawa. Ada, ya, yang begini? Lamar hari ini, nikahnya delapan tahun lagi.


“Serius,” katanya yang ikut menahan tawa. “Adek terlalu indah buat dilepasin. Jadi, mending kakak lamar sekarang biar enggak keduluan orang. Urusan nikah, bisa kita gelar delapan tahun lagi.”


“Kenapa delapan tahun, Kak? Kenapa gak dua tahun lagi?” Terlalu lama menurutku kalau harus menunggu delapan tahun.


“Kakak ada rencana kuliah apoteker. Gak apa-apa, kan, Sayang?” Dia berucap sungkan.


Mendengar dia sudah memiliki rencana masa depan, aku jadi tertarik mendengar lebih dalam. “Setahun lagi, kan, Kakak lulus SMK. Kuliah apoteker butuh waktu lima tahun. Total waktu yang Kakak butuhkan itu cuma enam tahun. Kenapa Kakak hitungnya delapan tahun?”


“Dua tahunnya lagi mau Kakak bawa kerja. Kakak mau kumpulin uang buat nikah, terus sisanya buat bikin rumah. Syukur-syukur kalau kelebihan uang. Jadi, kita bisa buat apotek biar ada tambahan pundi-pundi cuan.”


Ah, Ya Tuhan. Terima kasih sudah menunjukkan Kak Bagas, lelaki yang benaran pas buat Dara. Dia bahkan sudah memikirkan langkah-langkah untuk masa depan.


“Pokoknya, kakak kepengin matang dulu sebelum ajak Adek nikah. Urusan mapan atau enggaknya, kakak yakin Adek mau nemenin. Iya, kan?”


“Ah, enggak juga. Kok, Kakak PD amat,” candaku.


“Yah, butuh waktu sepuluh tahun, dong, kalau Adek pengin kakak mapan dulu.”


“Kok, makin lama, sih? Apa gak bisa dipercepat?” tuntutku, padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkan dia yang mapan dengan yang biasa saja.


“Bisa, aja, dipercepat. Itu pun kalau ada tangan orang tua. Cuma kakak gak mau dibantu ayah-ibu terus. Mereka punya Baim yang masih butuh biaya banyak. Jadi, sebisa mungkin kakak harus tata waktu biar mereka juga terbantu.”


“Dara terima.”


“Hah?”


“Dara terima,” ulangku mantap.


“Terima apa, Dek?”


“Bukannya tadi Kakak ngajak nikah, ya? Ayo, kita nikah. Kalaupun benar butuh waktu delapan tahun juga, ayo!”


“Adek gak bakalan nyesel tunggu kakak?” Dia memandang penuh kelembutan.


“Enggak, kenapa harus nyesel? Adek juga nunggunya gak bakalan sambil diem. Nanti adek bisa kuliah, kerja juga.”


“Sepakat, ya? Kakak keep, nih. Gak pakai DP, gak pakai transfer.”

__ADS_1


***


__ADS_2