Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Sedih Pun Hilang


__ADS_3

Dari : Ayang


Udah sampai?


Kalau udah sampai rumah kabari kakak ya


Ra, kakak janji pulang prakerin balik lagi jadi pacar kamu


Kakak tetap anggap kita break


Demi Tuhan, kakak masih sayang


Tunggu kakak bisa?


Beberapa pesan yang masuk masih aku abaikan. Tidak ada keinginan untuk membalas, apalagi mengiyakan ucapannya. Hal lain mungkin bisa aku iyakan, tetapi jika Kak Bagas sudah mengambil keputusan secara sepihak, maka semuanya aku anggap usai. Tidak ada yang harus aku perjuangkan karena dia pun sudah tidak ingin bertahan. Tugasku sekarang hanya menjadi pembaca pesan. Biar dia mendapat notifikasi kalau segala penjelasan hanya kuanggap sebagai angin lewat.


Pintu kamarku diketuk, tanpa suara juga tanpa permohonan izin untuk masuk. Sudah bisa ditebak. Tidak mungkin salah, itu pasti Mami.


Mula-mula aku mengatur napas. Melihat wajah di layar ponsel guna memastikan tidak ada bekas-bekas air mata. Terdeteksi ada raut wajah sembab. Hah, tidak ada pilihan lagi selain pasrah. Kasus yang satu ini memang tidak bisa disembunyikan.


"Masuk," teriakku setelah siap menyambut Mami.


Pintu terbuka lebar, menampakkan posisi ambang pintu yang kosong. Tidak ada siapa-siapa. Lalu, siapa yang—


"DOR!"


"******!?" Aku melempar kotak tisu kepada tersangka yang membuatku tersentak. Gila dia! Aku pikir yang datang Mami. Sudah siap-siap membenahi diri, tahunya yang datang Kak Soraya.


"Pasti kaget, kan? Pasti ngira yang datang Mami," gelaknya sambil menutup pintu dan berjalan masuk.


"Iya, lah. Pasti Dara ngira begitu. Kakak, kan, kalau masuk gak pernah pakai adab." Mataku sudah mendelik tak suka. Ada saja ulahnya. Iseng terus. Untung kakak kandung, kalau bukan sudah aku lempari batu.


"Kali ini kakak pakai adab karena menghormati hati adik yang sedang berduka." Dia menempelkan kedua tangan di depan dada seraya memberiku bungkukan belasungkawa.


"Akhirnya," ucap dia lagi. "Akhirnya, hati jomblo ini terbebas dari tingkah gila dewa-dewi bucin."


Bibirku tersenyum miring. "Oh, ngerti! Pantesan hubungan Dara kandas, ternyata banyak yang iri."


"Betul," sahutnya mantap seraya mengambil sedikit lahan duduk di samping ranjang.


Aku terdiam karena merasa segala hal yang diucap Kak Aya tidak lucu lagi. Hati mendadak berubah sensitif, jika menyangkut hubungan yang berakhir.


"Bercanda," katanya sambil mencolek lenganku.


"Gak lucu, aja," balasku.

__ADS_1


"Iya, iya. Kakak gak akan kayak begitu lagi." Janjinya. "Kamu bener udahan?"


"Mami titip pertanyaan itu, ya?" Biasanya, kalau sedang berduka Mami mengirimkan Kak Soraya sebagai intel dalam rumah. Entah tugasnya menanyai atau menghibur, tapi lebih pastinya dia akan datang setiap aku mengurung diri di kamar.


"Mami gak tahu kamu galau."


Ah, kali ini prediksiku meleset.


"Beneran putus?" Dia mengulang pertanyaan yang sama.


"Mintanya break, tapi aku gak mau terima." Sebentar lagi dipastikan akan terjadi sesi curahan hati.


"Kenapa coba? Kamu, kan, sayang banget sama dia."


Aku mengangguk. Ternyata perasaan dariku untuknya bisa dilihat dan dirasakan orang sekitar. "Justru karena aku sayang banget sama dia, makanya milih udahan."


"Hah!" Kak Soraya malah mendengkuskan napas. "Niat denger cerita malah jadi pusing gue! Coba jelasin detailnya, siapa tahu kakak bisa bantu."


"Untuk saat ini Dara yakin Kakak gak akan bisa bantu apa-apa."


"Bisa," elaknya dengan tatapan tajam. "Kakak bisa bantu hibur. Ajak kamu jalan-jalan, makan, dan potong rambut."


Dia memang pandai kalau soal mencari alasan.


"Intinya daripada kamu makan sendiri, mending sedihnya bagi-bagi. Ya, biar sedikit lega. Bukannya kalau lagi sedih, kita suka butuh pembelaan orang?"


"Jadi, kenapa kalian bisa putus?" tanyanya langsung ke pokok pembahasan.


"Iya …." Aku menghela napas karena dada kembali sesak. "Awalnya dia minta break—"


"Alasannya?"


"Alasannya …." Suaraku ikut memberat. "Dia capek."


"Capek? Gak salah denger gue? Capek kenapa? LDR?" cerocos Kak Aya yang tidak menyadari mataku sudah berair.


"Ya … intinya, dia capek sama hubungan ini."


"Gak wajar." Tanggapannya. "Jangan-jangan si Bagas setipe sama Arfan."


Aku juga takutnya begitu. "Tapi dia janji bakal balik lagi kalau PKL udahan."


"Terus kamu percaya?"


Hening. Ada tamparan keras di sini dan itu membuatku meneteskan air mata.

__ADS_1


"Ih, malah nangis." Kak Aya mengambil beberapa helai tisu, lalu membantu menghapus tetesan yang jatuh. "Kakak bukan mau nakut-nakutin cuma, kan, kita harus belajar dari kisah yang dulu. Arfan juga tiba-tiba minta putus karena ada yang baru."


"Ya … kakak, kan, tahu Bagas beda sama Arfan." Aku terisak dengan tubuh bergetar. "Masa dia selingkuh juga."


"Iya, iya, iya. Dia beda sama Arfan, iya." Kak Soraya memajukan tubuhnya, berakhir memelukku, serta membiarkan pundaknya menjadi topangan tangis.


"Nangis boleh, tapi besok balik lagi jadi adik kakak yang tahan banting. Oke?"


Aku mengangguk dalam pelukan itu. Malam ini, Kak Soraya benaran menunaikan tugas sebagai kakak yang baik.


"Pokoknya, kamu harus inget kalau Bagas bukan satu-satunya pilihan," ujar Kak Soraya setelah tangis dan pelukan terhenti. "Masih banyak yang mau sama kamu. Marcel juga tadi bilang suka sama kamu."


"Marcel?" Kepalaku langsung mendongak. Tak tanggung-tanggung, aku juga memberinya tatapan tajam. "Kenapa tiba-tiba bahas itu?" kataku setengah membentak.


Giliran Kak Soraya yang meringis. Tanpa dijelaskan, aku sudah bisa menebak kalau Marcel mengakui sesuatu yang fatal.


"Kenapa tiba-tiba bahas dia?" Aku menuntut penjelasan sambil menarik lengannya.


"Pas kamu turun dari mobil, dia tiba-tiba cerita tentang cewek yang dia suka."


Ah, sialan! Benar-benar si Marcel. Kenapa tidak menyimpan perasaan untuk dirinya sendiri, sih?


"Marcel bilang, kalau sekiranya kamu disakiti Bagas, dia bisa jadi pengobat yang baik."


"Pengobat, pengobat …," cibirku. "Belum apa-apa udah jadi pengobat."


"Ra," Kak Soraya kembali menatapku. "Kamu bisa pertimbangkan dia, kan?"


"Kakak gila?!" bentakku. "Segitu sukanya sama Marcel sampai rela memohon kayak gini? Otak kakak, tuh, di mana?" 


"Dia rela jadi segalanya buat kamu. Kamu mau jadiin dia pelampiasan juga, dia rela."


Aku mendengkus keras. "Udah. Memang paling bener Kakak pergi." Tanganku terapung menunjuk pintu. "Pergi, Kak."


"Coba kamu pikir-pikir lagi. Kalian cuma kurang deket. Kalau udah deket, kamu bakal tahu dia cowok yang baik."


Aku tersenyum sinis. "Dari awal dia bukan cowok yang baik. Kalau dia baik, dia gak mungkin cerita dan minta ini ke Kakak." Hening sebentar dan aku kembali berkata, "Kakak mending pergi. Aku udah gak galau lagi, kok. Besok aku bakalan jadi Dara yang ceria lagi."


Bagaimana galau tidak menguap coba? Sedihku langsung hilang karena ocehan Kak Soraya. Dia kira semudah itu melupakan Kak Bagas? Aku kesulitan menerima orang baru, terlebih karena alasan kandasnya hubungan belum menemukan kejelasan.


Terbersit rasa bersalah karena sudah membentaknya. Dia yang berinisiatif masuk kamar untuk menghibur pun berakhir keluar atas perintah dan pengusiranku. Mau bagaimana lagi? Nyatanya, kakakku tidak jauh berbeda dengan Marcel. Sudah tahu aku berduka, tidak menerima ruang untuk lelaki baru, tapi malah menawarkan hal sulit.


Tak berselang lama dari kepergian Kak Aya, ponselku bergetar beberapa kali. Dia mengirim pesan, padahal kami bersebelahan ruangan. Pesan yang dipenuhi tangkapan layar itu aku buka satu per satu.


__ADS_1



__ADS_2