
Dia masih bersikap seolah tidak melihatku, padahal aku sudah membuntutinya sejak beranjak dari parkiran. Aku bahkan rela menanggalkan rasa malu, melewati kawanan kakak kelas yang menatapku dengan ekspresi tak wajar.
Sampai di depan toilet pria— tempat yang kuyakini tidak terlalu banyak orang berlalu-lalang, tanganku sekuat tenaga menggenggam erat lengan Kak Bagas sampai tubuhnya berbalik seketika. Dia menatapku, masih dengan ekspresi terkejut. Mungkin baru tahu kalau tenaga seorang Dara bisa mengalahkan pertahanannya dalam mengambil langkah.
"Jelasin, dong, yang adek tadi liat itu apa?" Aku tidak mau berbasa-basi, tidak ingin membuang waktu dengan bersitatap terus-menerus seperti ini. Waktuku tidaklah banyak. Bel masuk juga sebentar lagi berbunyi. Aku tidak ingin memulai pagi dengan rasa penasaran dan mood yang hancur.
"Tadi Shafira. Mantan kakak."
Kakak? Sejak kapan panggilannya berubah? Sorot mata yang biasa lekat dan hangat dalam memandangku, kini aku sadari pun berubah drastis. Dia dingin, sedingin saat pertama kali berpapasan denganku dulu.
Mataku mengerjap, mendadak emosi dan pertanyaan menghilang hingga tak berbekas. Aku terlalu fokus mendapati wajahnya yang datar sampai kehilangan nafsu untuk meminta penjelasan.
"Tolong jauhi dulu kakak sebentar!" ujarnya yang lekas berpaling dariku dan berjalan maju.
Aku tidak mengejar, tidak pula menahan. Kak Bagas barusan sangatlah berbeda dengan Kak Bagas sebelum dipeluk Shafira. Dia terlihat terguncang. Baiklah, mungkin bukan waktunya bagiku untuk masuk ke dalam ranah hidup dan hatinya. Aku hanya berharap dia baik-baik saja dan bersikap seperti biasanya.
......***......
"Ra, tadi Kak Bagas dipeluk siapa?"
"Iya, Ra. Kok, berani peluk-peluk cowok orang, sih!"
"Mentalnya sekuat baja, ya, Ra. Kamu sabar banget. Kalau aku udah langsung ngegampar cewek yang meluk."
Mereka tiada henti bertanya hingga memberi komentar. Aku yang kepalang pusing sampai tak sanggup meneliti wajah mereka satu per satu. Cukuplah sikap Kak Bagas yang membuatku pening, mereka jangan menambah-nambah masalah ke dalam kepala ini.
Suara demi suara mereka sejenak terhenti karena derap langkah mulai memasuki ruang kelas. Itu Bu Wilas, wali kelas kami di X-1.
"Selamat pagi," sapa beliau sebelum duduk di meja guru.
"Pagi, Bu ...." sapa anak didiknya serempak.
"Ibu mau kasih info ke kalian. Alhamdulillah, siswa ibu tahun lalu, bisa balik lagi bersekolah di sini."
__ADS_1
Deg!
Siswa di tahun lalu? Gadis yang tadi? Shafira? Kenapa masuk ke kelas ini?
"Silakan masuk, Shafira!"
Bagai disambar petir di siang bolong. Kepalaku yang menoleh lantas mendapati sosok yang tadi memeluk Kak Bagas. Dia melangkah dengan pasti memasuki ruang kelas disertai senyum dan anggukan kepala yang menawan.
Tunggu, tunggu, kenapa kami jadi satu angkatan? Bukankah seharusnya, Shafira sekelas dengan Kak Bagas.
"Jadi, Shafir ini pernah sekolah di sini, tapi terpaksa berhenti dulu karena ada suatu problem yang bikin trauma. Alhamdulillah traumanya sudah bisa diatasi dengan baik, ya, Nak?" Ucapan Bu Wilas mendapat anggukan dari gadis itu. "Nah, jadi, sekolah mempertimbangkan Shafir untuk masuk lagi kemari dan mengulang pelajaran dari nol. Shafira, bisa kenalkan diri kamu dulu?"
"Bisa, Bu." Shafira menatap ke arah audiens setelah Bu Wilas melepas rangkulan di bahunya.
Gadis bernama Shafira itu berdeham sebelum akhirnya memulai perkenalan diri. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya Shafira Anna, biasa dipanggil Shafira. Saya tinggal di Cihampelas Garden Blok A No. 8. Mohon bantuannya, ya, teman-teman. Semoga kita bisa berkawan dengan baik."
"Nah, itu sekilas tentang nama dan alamat Shafira, ya! Kira-kira dari kalian ada yang mau bertanya tidak?" tawar Bu Wilas yang langsung ditanggapi dengan teriakan kaum lelaki di kelas ini.
"Yoga mau tanya!" Dia yang paling gencar mengacungkan tangan berakhir mendapat anggukan dari wali kelas. "Shafir udah punya pacar?"
"Malah nanya yang kayak, gitu," omel Bu Wilas menyela mulut Shafir yang hendak terbuka.
"Kalau Shafir mau jawab, ya, enggak jadi masalah, dong, Bu."
Shafira yang mendengar ucapan Yoga barusan lekas membuka mulut dan menyatakan jawaban. "Shafir dari dulu punya pacar, kok. Orangnya juga ada di kelas XI-1."
Triple Kill. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah melihat Kak Bagas dipeluk, sekelas dengan orang yang bersangkutan, dan mendengar dia masih berstatus pacaran dengan sang mantan. Wuah, sensasinya! Lebih dari melihat Arfan menembak Cecilia.
Nyatanya, rasa pedihku belum cukup sampai disitu. Bu Wilas yang menemukan kursi di sampingku belum terisi kembali mengungkap kata-kata. "Shafir duduk di samping Dara, aja, ya! Dara baik banget, kok, orangnya."
Ya, saking baiknya, aku sampai menerima gadis itu untuk duduk di sampingku. "Silakan," ucapku sembari menggeser kursi dan menepuk bantalannya terlebih dahulu sebelum diduduki penghuni baru.
...***...
__ADS_1
"Dara ... Dara ...."
Entah sudah berapa kali gadis itu mencolek lenganku. Hah, jangankan untuk menjawab, untuk menoleh dan menatap wajahnya saja terasa sesak dan tentu membuat enggan. Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Aku yang terbiasa makan bekal dari ibunya Kak Bagas jadi kebingungan sekarang. Aku temui saja atau aku beli nasi di kantin sendiri?
"Dara ... Dara ...."
Kali ini aku jengah dan menyerah. "Kenapa, ya?" tanyaku berusaha bersikap seperti biasanya. Ramah dan bertutur yang sopan.
"Kamu masih inget aku, kan?"
Ya, mana mungkin aku lupa. Kamu memberiku petunjuk berharga sekaligus merebut kesenanganku yang paling utama, yakni Kak Bagas.
"Aku sempet kasih kamu—"
"Dara inget, kok," potongku cepat sebelum dia menjelaskan semuanya. "Dara juga udah tepatin janji, ngebantu Kak Bagas buat nangkap mereka. Makasih, ya, infonya berharga banget." Aku lekas beranjak, memasukkan ponsel ke saku rok dan mulai mengambil langkah perlahan.
"Dara tunggu!" Dia sampai membalikkan badan guna menahan tanganku. "Aku mau ngobrol sama kamu."
"Dara mau istirahat, Shafir," pungkasku yang tak mau berinteraksi lebih lama.
"Sebentar, kok. Bisa duduk sebentar?"
Aku menahan napas demi meringankan rasa sesak dalam dada. Sepertinya, akan sulit bagiku terlepas dari sosok Shafira. Matanya yang menatap teduh begitu menarik untuk dikasihani dan diperlakukan dengan baik.
Mau tak mau, aku memaksakan diri duduk kembali di posisi semula. Pun tak luput kupasang telinga dengan tajam untuk mendengarkan semua keluh kesah yang akan dia bicarakan.
"Dara, sebelumnya mohon maaf karena Shafira enggak ngakuin nama pas kamu tanya," ucapnya sebagai kata pembuka. "Niatnya, aku enggak mau kamu tau tentang statusku. Apalagi, kamu ada hubungan kontrak, kan, sama Kak Bagas."
Kepalaku spontan menoleh. Kami saling beradu tatap dalam diam. Darimana dia tahu tentang hubungan kontrak ini? Apa semua ini memang direncakan dari awal? Apa mereka sengaja memanfaatkanku untuk menangkap pelaku perundungan? Sialan!
"Dara, karena kalian cuma hubungan kontrak, boleh enggak Shafira kurang ajar sedikit?"
"Maksudnya apa?" Bibirku sampai bergetar barang menyebut dua kata itu.
__ADS_1
"Shafira pengen Dara balikin semuanya. Tolong diingat, ya, Dara! Kami berpisah karena lingkungan yang tidak mendukung. Hati enggak bisa berbohong, buktinya Kak Bagas rela dipeluk aku depan umum. Jadi, Dara ... tolong balikin hubungan kami seperti semula, ya! Balikin Kak Bagas juga karena Kak Bagas dari awal milik Shafira."
...***...