
"Ini Dara, kan?"
Lah, dia tahu namaku.
"Iya, betul. Ini siapa, ya?" Masih kaku, dingin, dan ketus. Enak saja dia tidak memperkenalkan diri, padahal tahu ini nomorku.
"Saya Ester, Dara. Mamanya Bagas. Mama mertuamu."
Ma-ma mertua? Sukses aku membekap mulut yang menganga. Gila. Ini gila. Bagaimana bisa Ibu Ester tahu nomorku?
"Ra? Siapa?" Riska yang melihat reaksi terkejut lantas ingin tahu.
"Beneran rentenir?" timpal Putri.
Aku menggeleng. Cepat-cepat menenangkan diri, supaya bisa menyapa ibu Kak Bagas. "Bu, maaf. Dara pikir orang iseng."
Terdengar Bu Ester terkekeh-kekeh. Dari nadanya, sih, aku sudah bisa memastikan kalau beliau tidak akan mempermasalahkan sikapku saat mengangkat telepon.
"Iya, gak apa-apa. Ibu paham, kok. Dara pasti kaget karena ibu gak chat dulu."
"Iya, Bu. Maaf, ya." Aku memejamkan mata, menyadari bahwa hari ini kebodohanku sudah sebesar gunung.
"Iya, gak apa-apa, Sayang. Ibu juga minta maaf, ya. Lancang banget telepon kamu."
"Enggak lancang kok, Bu. Ibu boleh telepon Dara kapanpun ibu mau."
Gila. Gila benar cara ambil hatinya. Kedua teman yang mendengar ini pun berusaha tahan napas dan tawa. Mereka terus menggeleng tak percaya begitu memahami kalau yang menelepon ini ibunda Kak Bagas.
"Asyik. Ini beneran? Ibu boleh telepon Dara kapanpun?"
"Beneran, Bu. Kalau perlu juga Dara bisa datang langsung ke situ tanpa perlu nunggu Kak Bagas pulang."
Yakin, Ra? Yakin? Sudahlah, ngomong begitu saja dulu.
"Ah, jadi seneng dengernya. Berarti kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar sekarang, gak masalah, kan? Gak ganggu pelajaran Dara, kan?"
"Enggak kok, Bu. Dara juga ini lagi istirahat. Lagi senggang." Mulut bicara begitu, tetapi pandangan terarah ke Riska dan Eren yang mulai menggelar bungkusan nasi di hadapanku. Mereka memberi isyarat, supaya aku melakukan panggilan sambil menyantap makanan.
"Ah, syukurlah. Dara, kebetulan ibu pengen ketemu kamu sore ini. Bisa, kan?"
"So-sore ini?"
Aku mengulang seakan kuping salah dengar. Sepertinya, bumbu termakan omongan sendiri sudah mulai tercium. Apa itu artinya aku harus datang ke rumah Kak Bagas seorang diri? Duh, kenapa pula tadi aku bicara begitu?
"Hm-m ... anter ibu belanja, yuk! Sambil kita cari baju seragaman."
__ADS_1
Eh-eh, baju seragaman? Buat apa, nih? Mau ada acara apa? Tidak mungkin perjodohan Bagas-Dara, kan?
"Anu ... maaf, Bu. Baju seragaman buat apa, ya?"
"Lho, Bagas belum cerita?"
"Belum, Bu." Aku menjawab sambil menggelengkan kepala. Perlahan degupan jantung berubah jadi tidak teratur. Penasaran dan takut hal buruk terdengar seakan bercampur.
"Ih, Bagas gimana, sih? Katanya, mau undang sendiri. Untung ibu ambil nomor Dara pas Bagas pulang. Jadi, ketahuan, kan, kalau anak ini belum cerita."
Duh, kenapa bawa-bawa undangan, ya? Ini acara apa, sih? Kenapa Kak Bagas belum cerita juga?
"Mungkin Kak Bagas kelupaan, Bu. Tadi juga kami video call, tapi cuma bahas hari-harinya Dara. Belum cerita tentang hari Kak Bagas." Kurang apalagi coba? Membela si Ayang di depan ibunya? Kak Bagas utang muka, nih, sama Dara.
"Oh, begitu. Ya, udah. Ibu, aja, yang undang langsung, ya."
Tuhan, semoga hanya hal baik yang kudengar. Amin.
"Gini, Ra. Minggu ini ada acara makan keluarga. Sederhana, sih, cuma kelurga inti terus makannya juga di rumah. Dara bisa ikut, kan?"
Sebentar-sebentar. Aku sampai menahan napas mendengar semua ini. Tadi apa kata beliau? Makan-makan? Keluarga inti? Ini serius? Ta-tapi ... aku, kan, bukan keluarga.
"Ra? Gimana? Pasti bisa gabung, kan?"
Masalahnya, belum jadi keluarga gitu, loh. Ya, kali Dara nyelonong masuk.
"Lah, kok, takut ganggu. Dara juga, kan, sudah dianggap keluarga. Irish juga nanti datang, kok."
Irish? Siapa Irish? Siapa dia? Jangan-jangan cewek idaman keluarga Kak Bagas.
Puk!
Lagi-lagi aku memukul kepala karena terlalu overthinking. Begini, nih, kalau kebanyakan nonton drama. Belum apa-apa sudah membayangkan hal yang berlebihan. Apa karena Bu Ester bawa-bawa kata undangan dan baju seragaman.
Ya Tuhan. Secepat itukah? Kenapa berasa mau datang ke pernikahan harus memakai baju seragam? Apa jangan-jangan benar lagi pikiranku tadi? Irish si wanita idaman keluarga Kak Bagas. Calon mantu idaman.
"Fix, ya. Pokoknya, nanti Dara datang ke butik yang Ibu kirim alamatnya. Jangan sampai telat, lho! Ibu tunggu."
Panggilan terputus, padahal aku belum memberi jawaban apalagi kepastian. Ini seperti diberi ultimatum bahwa aku harus datang. Pikiranku kembali berubah kelabu setelah sebelumnya mendapat suntikan semangat yang singkat. Merasa ingat pada orang yang memberi suntikan, buru-buru aku mengiriminya pesan chat.
Untuk : Ayang
Kak, Irish itu siapa?
Tidak ada tanda-tanda dia akan membaca atau membalas pesan. Tahu, sih, jam segini dia sudah memulai sif. Semua pesan yang terkirim akan dibalas di pukul 18.00 atau pukul 20.00. Hah! Hancur sudah. Aku harus menahan rasa penasaran yang dalam.
__ADS_1
Lelah karena menerima dua kali panggilan, ponsel yang sudah melaksanakan tugas itu berakhir dimasukkan ke saku almamater. Hanya tersisa sepuluh menit sebelum bel istirahat berakhir. Mau tak mau, nafsu tak nafsu, aku harus makan menu yang dipilihkan ketiga temanku. Sebentar. Kenapa sedari tadi aku hanya melihat wajah Riska dan Putri?
"Ke mana Eren?" Aku baru sadar bahwa dia belum kembali dari kantin.
"Tadi, sih, bilangnya mau makan di kantin. Mau ngobrol sama anak taekwondo." Jawaban dari Putri.
"Taekwondo? Dia mau gabung?" Pertanyaan kedua yang aku ajukan. Kali ini sambil mulut penuh dengan suapan nasi dan ayam tepung.
"Bukan!" Riska berseru. "Dia lagi ngeceng ketua ekskul itu."
"Aaaahhh ...." Aku pura-pura paham saja. Jujur, sih. Tidak terlalu banyak tahu tentang ekskul itu. Terlebih karena aku tidak tertarik. Aku juga tidak mau KEPO terhadap urusan orang. Mungkin kalau ada kesempatan nanti Eren akan bercerita dengan sendirinya.
"Tadi teleponan sama ibunya Kak Bagas?"
Mereka akhirnya mengajukan pertanyaan ini. Aku yakin keduanya menahan penasaran cukup lama. Setelah memastikan wajah mereka menatapku, aku baru memberi jawaban. "Iya, tadi ibunya Kak Bagas. Pengen ketemu sore ini, tapi aku ragu buat datang." Barangkali mereka bisa memberi masukan.
"Kenapa ragu?" Putri menanggapi. "Bukannya kesempatan bagus, Ra?"
"Memang kesempatan bagus, tapi tadi aku denger ada nama cewek lain yang disebut Bu Ester." Itu yang masih mengganjal di hati.
"Siapa namanya?" Riska ingin menelusuri lebih dalam.
"Kalau gak salah denger, sih, namanya Irish." Agak ragu, tapi sepertinya jawabanku benar.
"Kamu baru denger nama itu? Sodaranya Kak Bagas kali." Kalimat penenang pertama ini dari Putri.
"Gak tahu juga, sih." Aku malah menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
"Terus tadi bahas tentang keluarga inti itu apa?"
Ah, benar. Aku melewatkan ini. "Jadi, beliau ajak ketemu aku sore ini karena mau beli baju seragaman buat acara makan-makan keluarga di hari Minggu."
"Lah, berarti bener Irish ini sodaranya Kak Bagas." Kalimat penenang kedua dari Riska. "Menurutku datang, aja, Ra. Kayaknya Irish bukan siapa-siapa, deh. Kalau kamu diundang, berarti kamu masih diakui sebagai calon mantu mereka," sambungnya.
"Apa datang aja, ya?" Aku masih butuh diyakinkan.
"Datang dulu." Support Putri.
"Yup! Ketemu dulu! Si Irish sodara atau bukan, itu bisa jadi urusan belakangan." Riska menjentikkan jari.
"Nah, kalau misalkan ntar sore ketahuan si Irish bukan sodaranya Kak Bagas, kamu bisa milih gak datang pas acara makan keluarga. Beres, kan?" Putri jadi lebih aktif dan pandai memberikan solusi. Sungguh berbeda dengan perilakunya kemarin-kemarin.
Mereka membiarkanku terdiam, memberiku waktu untuk berpikir, hingga akhirnya hati pun merasa mantap untuk menerima saran. Benar, sih, kata Riska dan Putri. Aku mendapat undangan juga karena masih diakui sebagai pacar Kak Bagas. Memang baiknya aku datang sore ini untuk memastikan bahwa Irish kawan, bukan saingan.
***
__ADS_1