
"Jadi, ceritanya gitu ...." Aku mengakhiri kisah menyedihkan di hari ulang tahun.
"Ya, mungkin Kak Bagas sibuk, Ra. Harap dimaklum, aja." Prayoga yang menemukanku terduduk di lahan parkir mencoba menguatkan dengan sebuah tepukan lembut di bahu.
"Kalau buat maklum kayaknya aku bisa, Ga. Cuma yang jadi masalah di sini bukan itu."
Benar, lho. Untuk memaklumi keadaan dia yang batal mengambil hari libur, aku bisa. Mungkin aku bisa, tetapi pikiranku bukan terfokus pada itu saja.
"Masalahnya apa coba? Saya sampai gak nyangka lihat kamu nangis di lahan umum tadi."
"Masalahnya uang aku habis gitu, aja, Yoga!" jeritku tanpa mengenal gengsi. "Gak jadi masalah kalau sempat nikmati makanannya dulu."
"Lho, itu, kan, kamu bungkus makanannya!" tunjuk Yoga ke arah bungkusan dalam genggamanku.
"Ya, kan, cuma dibungkus. Ujungnya aku tetap makan di rumah. Feel-nya gak dapat, Ga. Mana udah dingin lagi."
Prayoga terdiam. Dia malah memandang tanganku yang menggoyang-goyangkan bungkusan makanan. Tak berapa lama kemudian, dia menarik bungkusan itu sambil beranjak dari tempat duduk.
"Kamu mau makanan hangat atau uang kembali?"
"Memang bisa?" Aku meragukan pertanyaan itu, sehingga tidak tahu harus menjawab apa.
"Mau yang mana?" tanyanya lagi, mendesakku supaya memberikan jawaban secepatnya.
"Ya, kalau uang bisa kembali secara full, aku pasti pilih uang." Sok-sokan tidak butuh makanan.
"Yakin? Memangnya kamu gak lapar?" Dia memandang sanksi.
"Hah! Nafsu makanku tadi gede, cuma karena Kak Bagas batal datang, aku jadi males buat makan."
Mendengar penuturan itu Prayoga manggut paham. "Jadi, uang yang keluar cuma-cuma malam ini ada berapa lembar?"
"Empat." Aku mengapungkan empat jari ke hadapannya. "Empat ratus ribu berarti."
Dia manggut lagi, kali ini sambil tersenyum tipis. "Tunggu di sini bentar, ya, Ra."
"Lho, mau ke mana?"
Dia tidak menjawab. Langkahnya terlalu serius memasuki gedung Romantic Cafe.
"Dia, kok, aneh banget, ya? Tiba-tiba datang, tiba-tiba ketemu juga di sini. Benaran kebetulan atau memang takdir, sih?"
Bukan GR, ya. Aku hanya ingat sedikit kalau rumah Prayoga bukan di daerah Lembang. Maka dari itu, wajar saja kalau aku merasa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan.
Terhitung lima belas menit aku menunggu. Tiada henti menengok jam di tangan karena dia terlalu kelamaan. Ke mana coba? Maksudku mau apa pergi ke dalam? Jam terus berputar dan aku harus segera pulang supaya tidak sampai terlalu malam.
Seolah tahu kebosanan diri, Prayoga keluar dari ambang restoran. Tangannya menenteng kembali kantung plastik yang berisi makanan dingin milikku.
"Ngapain, Ga?" tanyaku sedikit sebal karena dia tak jauh beda dengan Kak Bagas. Membiarkan aku menunggu di sini.
"Ra ...." Dia memanggil disertai dada yang kembang kempis.
"Kamu habis dari mana, Ga?" Pertanyaan tadi belum terjawab, pertanyaan ini pun sama tidak dijawab olehnya.
Prayoga malah fokus mengatur napas, membenahi cara berdiri tegak hingga akhirnya mengulurkan kantung plastik putih itu. "Nih," katanya.
__ADS_1
Jelas saja aku mengambil kembali kantung tersebut. Dari awal memang milikku, kan? Dia mau apa coba keluar-masuk sambil membawa kantung ini?
Namun, baru saja tanganku menyambar, sebuah hal berbeda terasa di sini. Kepalaku menunduk, memperhatikan kondisi kantung yang berbeda dari sebelumnya. Ada uap yang bermunculan. Uap makanan yang dipastikan karena objek di dalam sana sedang berada di fase panas-panasnya.
"Kamu beli lagi?" Aku terbelalak.
"Enggak," elaknya. "Mereka yang ganti."
"Se-rius?"
Kenapa bisa? Aku saja dapat makanan dingin, kenapa dia bisa?
"Sama ini juga, mereka yang ganti." Empat ratus ribu terulur ke arahku. Wajah Prayoga yang santai dan biasa saja menunjukkan gelagat serius nan penuh kejujuran.
"Ini kamu yakin mereka yang ganti?" Aku benaran ragu, nih.
“Iya, lah. Saya gak mampu kalau harus keluar uang segitu.”
Jujur, bukannya bahagia aku malah merasa tak enak. Kedua benda yang ada di tanganku kini sangat sulit didapatkan dari pelayanan tadi. Namun, melihat Prayoga yang mendapatkannya, mendadak membuatku yakin kalau dia menempuh perjuangan yang tidaklah mudah.
“Malah bengong.” Dia menyentil dahiku.
“Ya, aneh, aja.” Aku mengaku. “Kenapa mereka bisa semudah itu kasih hal ini ke kamu, sedangkan tadi aku gak diperlakukan sebaik itu.”
“Mereka baik, kok. Kalau gak baik, gak akan kasih ganti rugi makanan hangat dan uang ke kamu.”
“Iya, sih.” Aku mengangguk.
“Jangan kapok datang ke sini, ya. Kalau dapat pelayanan yang kurang baik, kamu bisa complain ke saya.”
Dia yang ditatap begitu lantas tersenyum menyeringai. “Iya, ke saya. Kafe ini milik keluarga saya, Ra.”
“Se-serius?” Aku sampai melongo karena tidak percaya dengan pendengaran barusan.
“Serius, lah,” katanya teramat santai. “Kamu perlu bukti? Apa saya harus ambil salah satu meja tamu buat rayain ulang tahun kamu?”
“Ah, enggak ….” Buru-buru aku menolak. “Gak usah,” ulangku lebih meyakinkan.
Ya, kali minta meja juga. Sudah kembali uang, kembali makanan pula. Bisa jadi kecemburuan sosial kalau aku sampai meminta salah satu meja lewat orang dalam.
“Saya bisa, lho, Ra. Mengusahakan itu saya bisa.”
“Gak perlu.” Aku sampai menahan tangannya. “Mending temenin aku makan ini.”
“Di mana? Di dalam?” Dia menunjuk gedung restoran.
“Di ….” Kebingungan pun melanda. Aku tidak tahu lokasi terbaik di daerah ini. Tujuan satu-satunya adalah Romantic Café dan untuk memakan ini masa, iya, harus masuk lagi?
“Apa mau di alun-alun?”
“Alun-alun?” Aku balik bertanya.
“Iya. Ayo!” ajak Prayoga sampai menarik lenganku.
Kami berjalan menyusuri area parkir yang dipenuhi motor-motor pengunjung. Tanpa disadari, hati merasa sedikit lega karena transportasi pulangku tersedia tanpa perlu diminta. Prayoga baik juga, ya. Sungguhlah salah karena aku hanya mengenal dia sekilas. Itu pun karena terhubung di organisasi yang sama.
__ADS_1
“T-tapi, Ra … saya bawanya mobil bukan motor.” Dia bicara saat kami berhenti di belakang sebuah mobil.
“Ini mobil kamu?” tanyaku yang malah menemukan hal lain, yakni Prayoga yang bisa menyetir mobil.
“Bukan. Saya belum dikasih mobil karena belum punya SIM. Ini mobil kakak. Saya antar dia karena mau jaga malam di sini.”
Ah, pantas saja kami bertemu. Dia sedang mengantar kakaknya kerja ternyata.
“Terus nanti kakak kamu pulangnya gimana?” Aku tidak mau, ya, kalau dia sampai bolak-balik demi mengantarku makan di alun-alun.
“Paling juga dijemput pacarnya besok.” Dia berkata dengan enteng.
“Besok?” Sedikit bingung dengan satu kata itu.
“Iya, kafe ini buka 24 jam. Kakak Irish jaga sampai besok, paling kalau mau tidur, ya, tidur di ruang khusus.”
Baru aku paham. “Tapi kamu gak keberatan, kan, anter aku makan?”
Dia malah tertawa ringan. “Kan, saya yang nawari. Ya, artinya gak ada rasa keberatan sama sekali.”
***
Sayangnya, niat makan di alun-alun terpaksa batal juga. Bukan, bukan dibatalkan oleh manusia. Kali ini sukses dibatalkan oleh keadaan. Alun-alun tutup sementara waktu karena ada perbaikan jalan-jalan taman. Kecewa seberat-beratnya. Entah kenapa dengan hariku ini. Kenapa tidak ada satu pun hal yang berjalan seirama dan sesuai keinginanku? Kira-kira dosa yang mana hingga Tuhan memberi hukuman di hari yang seharusnya menjadi hariku yang paling spesial?
“Gak usah sedih, gitu,” ujar seseorang yang sedari lama duduk di kursi kemudi menemaniku.
Mataku memanas. Kelebatan perjuangan hari ini memenuhi seluruh penjuru benak. Sesak lagi untuk ke sekian kalinya. “Aku … aku ngerasa hari ini apes banget, Ga.” Sudah sesak, masih memaksa bicara. Alhasil berkaca-kacalah kedua mata.
“Apes apa, sih, Ra?”
“Apes, aja. Mulai dari kejebak macet hampir sejam, Kak Bagas ngaret dan ujungnya gak jadi datang, terakhir ini ….” Aku tidak sanggup lagi berkata-kata.
Prayoga tidak lagi memberiku kata-kata penenang, dia malah tersenyum hingga berani menahan tawa.
“Gak lucu tahu!” semprotku kesal.
“Bukan, gitu, Ra. Kamu merasa gak, sih, ada sesuatu yang spesial hari ini?”
“Spesial apa?” Dia bodoh apa, gimana? Sudah jelas hariku berantakan. Spesialnya di sebelah mana?
Dia yang mendapatiku menatap sinis langsung mengubah posisi duduk, supaya bisa berhadapan denganku. “Gini, deh. Coba kamu lihat segalanya dari sisi yang berbeda. Percaya sama Tuhan. Tuhan sayang kamu. Mungkin Dia punya cara sendiri buat kasih kamu kejutan. Udah biasa, kan, kalau yang ulang tahun dikasih kesel dulu sebelum kebahagiaan?”
“I-iya, sih.” Cukup masuk akal.
“Nah, kesialan yang kamu rasain sekarang mungkin, aja, bentuk surprise dari Tuhan. Dia kasih kamu rasa kesal dulu baru bahagia.”
“Apa begitu, ya?” Aku malah meragukan kuasa Tuhan.
“Iya, lah. Perlu bukti?” tanyanya.
“Bukti apa maksudnya?”
“Sebentar, ya, saya bawa buktinya.”
Prayoga tersenyum sebelum meninggalkanku di mobil. Entah apa yang akan dia lakukan, tetapi yang jelas langkahnya teramat pasti menjauhi lokasi parkir. Gerak-geriknya sekarang sedikit membuat hati tersentuh. Bukankah seharusnya ini yang dilakukan Kak Bagas? Kenapa Tuhan malah mengirimkan orang lain untuk mengobati lukaku atas ketidaksempurnaan Kak Bagas?
__ADS_1
***