Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Ember Tumpah


__ADS_3

"Bang!" Aku menahan langkahnya dengan satu genggaman tangan. Beruntung tubuhku tidak terjungkal ke atas kasur. Perjuangan sekali, demi mendapatkan sebuah jawaban aku sampai berdiri tegak dalam sekali hentakan. Pusing yang menjalar sudah aku acuhkan karena ingin menahan langkah Kak Bagas yang berusaha menghindar dari pertanyaan.


"Apa, sih, Dek?" tanyanya seolah menahan kesal.


"Kenapa enggak dijawab?"


"Ya, buat apa?" Dia malah balik bertanya dan itu justru membuatku naik pitam.


"Kok, buat apa, sih? Dara, kan, udah bilang kalau diantara kita enggak ada rasa saling percaya, kerjasama tim enggak bakalan ada." Aku kembali menegaskan barangkali dia lupa.


"Ya, saling percaya juga bukan berarti harus tau segalanya dong, Dek. Nanti juga bakal ada waktunya kamu tau sendiri." Kak Bagas masih ngotot tidak mau memberitahu.


"Jadi, Abang lebih pengen aku denger namanya dari bibir orang lain gitu?" Mataku sudah membulat penuh.


"Ya ... astaga!" Wajahnya diremas keras dengan sebelah tangan. "Lagian ngapain, sih, pengen tau nama mantan abang? Adek, tuh, enggak bakalan kenal sama dia."


"Ya, minimal Abang kasih tau Dara namanya, kek, sebagai formalitas."


"Formalitas apa?" tanyanya dengan wajah sedingin es. "Pacar bohongan, kok, pengen tau privasi orang. Emang ada yang kayak gitu? Tolong jangan lewati garis kontrak, Dek! Lebih baik Adek sadar posisi hubungan ini."


Tubuhku langsung mematung. Mendadak aku kehabisan kata-kata untuk menyangkal atau menyahuti ucapannya yang terdengar lebih pedas daripada hujatan netizen. Napasku tahan sekuat mungkin karena kedua mata mulai terasa memanas. Aku tak ingin tangisku pecah di sini. Bagaimanapun, aku harus tahan harga karena posisi hubungan ini cuma sekadar kontrak belaka.


Tanganku sudah gemetar hebat, tak kuat menanggung genangan air yang hendak tumpah, aku berujung memejamkan kedua mata. Pelan, tetapi pasti, aku mengatakan kalimat ini. "Maaf ... udah melewati batasan." Ludahku telan sebentar sebelum kembali melanjutkan, "Dara pamit pulang, Kak!"


...***...


Tak berhenti aku membolak-balik ponsel. Menyalakannya, memastikan tidak ada notifikasi yang muncul, lalu kembali menekan tombol supaya layarnya mati seperti semula. Bersikap bodoh. Bodoh sekali karena aku berharap mendapat satu pesan dari seorang Bagas Raharja si Tukang Ngupil. Sudah tahu dia tidak akan mengirim pesan, tetapi aku tetap menunggunya.


"Aaaahhhh!" jeritku sambil meremas rambut hingga tak karuan. Kakiku memukul-mukul kasur saking gemasnya dengan keadaan ini. Sudah mah tidak ditahan, dibiarkan pulang, tidak bertanya keadaanku pula sekarang. Hah! Benar yang dikatakan Baim, Bagas memang manusia bodoh!


Kepalaku kembali menyelami bantal. Aku merasa semakin kesal, jika perkataannya kembali bergaung mengisi relung telingaku. "Kenapa aku disebut ngelangkahin garis kontrak, sih?" rengekku masih tak terima dibilang begitu. "Aku, kan, cuma pengen tau nama mantannya. Masa enggak boleh."


"Woi!" Teriakan dari orang yang paling ingin aku hindari terdengar. Lagi-lagi dia datang di saat aku ingin menyepi.


Kehilangan nafsu untuk menyambut tamu yang memasuki kamar, aku membiarkan dia duduk di sembarang tempat. Tanpa mengubah posisi telungkup aku mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan.


"Pasti lagi berantem, kan? Jeritan lo sampe kedengeran ke kamar sebelah, tau, enggak?"


"Bodo," ucapku jujur apa adanya.


"Kenapa, sih, idup lo enggak tenang-tenang, Ra? Kemaren dibuang Arfan, terus dihujat semua orang, sekarang udah dapet gantinya masih aja galau. Kenapa, sih?" Pertanyaan itu tidak menarikku sama sekali untuk membuka topik perdebatan antara aku dan Kak Bagas tadi siang.


"Acuhin aja bisa, kan? Ribet banget, deh!" Sungutanku sepertinya membuat Kak Sonia marah. Dia tak menggangguku lagi. Langkahnya pasti menuju pintu kamar yang terbuka.


"Heh!" Teriakannya kali ini berhasil memancingku untuk menoleh. "Kalau lo kangen, tuh, enggak usah gengsi! Gas aja! Chat, telpon, bukan malah jerit-jerit kayak orang gila!"

__ADS_1


"Eh, sori, ya!" Aku balas menjerit dan bangkit. "Enggak ada, tuh, di kamusnya seorang Dara kangen sama Tukang Ngupil!"


"Alah, yakin lo? Udah kayak cacing kepanasan gitu masih enggak mau ngaku."


"Ah, udahlah sana! Netizen mana paham perasaan gue! Pergi sana!" usirku sambil melempar bantal ke arahnya.


......***......


Kelas masih sepi dan aku bersyukur datang lebih pagi. Selain karena tak mau melihat Kak Bagas di parkiran, aku juga tidak ingin disorot semua orang karena tak pergi bersama pasangan. Masa seminggu jadian sudah pisah motor. Ya, kali langsung heboh dunia perhujatan.


Harapanku belum sepenuhnya surut. Ponsel masih kulihat berkali-kali meskipun belum muncul satu pun notifikasi dari orang yang kutunggu. Mataku sampai berkantung hitam efek semalaman bergadang menunggu pesan yang tak kunjung datang. Napasku kembali mengembus berat. Hawa-hawanya, Kak Bagas tidak semudah itu meminta maaf padaku. Dia pasti menunggu maafku terlebih dulu.


"Hah, memangnya aku salah apa? Harusnya dia yang minta maaf duluan!"


"Oh, jadi karena ini aku dijadiin tukang anter!" Suara Riska terdengar nyaring begitu memenuhi ruangan. Dia menatapku sambil menahan tawa geli. "Nih, ada titipan dari Bebeb!"


"Apa, sih?" Aku menolak tas jinjing berisi kumpulan buku paket itu. Sudah jelas, sudah tertebak kalau itu titipan dari Kak Bagas. Dia benar-benar tak ada niat untuk berbaikan denganku rupanya, buku paket saja minta bantuan Riska untuk mengantarnya.


"Jangan cemberut gitu, dong!" Riska mencolek pipiku setelah duduk di bangkunya. "Tadi Kak Bagas mau ke sini, cuma ditelepon Bu Nurmala. Jadi, titip ke aku, deh!"


Secercah harapan terasa menyapa hatiku. Hanya mendengar Kak Bagas berniat datang saja, sudah membuatku bersyukur sebanyak ini. Gila, ya, efeknya! Kok bisa begini?


"Nih, terima! Berat tau lumayan," omelnya kembali menyerahkan tas itu. Kali ini, aku menerimanya dengan tangan terbuka. "Nah, gitu, dong! Kalau senyum, kan, keliatan cantik!" Riska mencolek pipiku sekali lagi.


"Ris, aku ke toilet dulu, ya!" Mendadak perutku terasa mulas tak tertahankan.


"Enggak-enggak." Aku menepis tegas tawarannya sebelum berlari keluar kelas.


......***......


Ponsel dikantong rok aku keluarkan. Ibu jariku langsung memilih pencatat tanggal datang bulan yang biasa aku gunakan. Ah, sial! Aku meringis tanpa suara.


Panas perut yang datang mendadak tadi berasal dari bercak darah yang mengotori ****** *****. Tanganku yang semula meremas pinggang, beralih jadi memijat pelipis. Bagaimana, nih? Lupa tanggal membuatku lupa membawa stok pembalut.


Napasku berembus berat, sambil memejamkan mata aku mencoba berpikir keras. Siapa yang bersedia meminjamkan sekaligus mengantarkan pembalut ke sini?


Baru satu pertanyaan yang muncul, tetapi bayangan Riska langsung memenuhi pelupuk mata. Benar. Aku menjentikkan jari. Ada Riska, aku punya dia. Tak ingin menunda waktu lebih lama lagi, aku lekas mengiriminya pesan.


^^^Untuk : Riska^^^


^^^Pinjem pembalut, kejebak di toilet deket tangga nih^^^


Pesan yang baru dikirim dua detik itu langsung dibaca olehnya. Lagi-lagi aku bersyukur dengan embusan napas lega. Untung saja Riska sedang membuka WhatsApp. Entah bagaimana nasibku, jika dia tidak menggenggam ponselnya.


Dari : Riska

__ADS_1


Tunggu, aku kesitu


Tubuhku bisa bersandar ke balik pintu dengan lapang. Riska memang bisa diandalkan. Kapan-kapan aku harus mentraktirnya mie kocok kaki sapi untuk menebus semua kasih sayangnya padaku. Tentu saja. Sudah selayaknya aku melakukan itu.


Sekitar sepuluh menit aku menunggu, telingaku akhirnya mendengar derap langkah memasuki toilet. Ingin memastikan kalau orang yang datang itu Riska, aku lekas melekatkan telinga di balik pintu berbahan uPVC ini. Senyumku spontan mengembang karena pintu diketuk tiga kali dari luar.


"Siapa?" tanyaku sekadar memastikan meskipun sudah bisa menebak orang yang datang. Tanganku yang hendak membuka kunci pintu tertahan, tidak ada suara yang menjawab pertanyaanku barusan.


Keheningan yang berlangsung beberapa detik itu memancing rasa penasaranku. Berbekal keberanian maksimal, tanganku menggeser kunci, lalu membuka pintunya selebar mungkin.


"Hai, Dara!"


Byur!


Aku refleks memejamkan mata. Dinginnya air membasahi rambut hingga turun menembus pori-pori wajahku. Sebelum membuka mata, terlebih dulu aku menghapus sisa-sisa air yang bercucuran. Ada apa ini? Siapa mereka? Wajah-wajahnya begitu asing. Seragam boleh sama, tetapi untuk nama, aku benaran tak mengetahuinya.


"Lo, kan, yang namanya Dara?" tanya si pemegang ember.


"Iya, emang kenapa?" Jauh didasar hati, aku ketakutan setengah mati. Namun, aku tidak boleh menunjukkannya di hadapan mereka. Jika mereka berani menyiramku dengan seember penuh air, berarti mereka juga bisa bertindak lebih dahsyat dari ini.


"Lo yang sok cantik itu?" tanya gadis yang satunya.


Mataku mendelik. "Sok cantik gimana, sih?" Perasaan aku selalu bersikap biasa saja. Kenapa dibilang sok cantik?


"Jangan, gitu, juga natapnya, Jablay!" Gadis yang membawa ember tadi mendorong kepalaku sampai sedikit terjengkang.


Bukannya lari, aku malah makin mengetatkan nyali. Kedua tangan yang disimpan di samping badan sudah mengepal sepenuhnya. Aku mengacuhkan kedua kaki yang gemetaran, lalu berjalan mendekatinya. "Kenapa? Lo takut? Baru diliatin, doang, udah ciut," ejekku tak mau mundur.


"Eh!" Kali ini, bahuku didorong oleh gadis yang satunya. "Jangan mentang-mentang lo pacaran sama Ketos jadi bisa berlagak, ya!"


Penjelasannya membuatku paham. Bibirku menyunggingkan senyum sinis. "Oh, jadi ini gara-gara Bagas Raharja." Masih aku sempatkan menatap wajah mereka satu per satu. Hanya satu kemungkinan yang ada di sini. Mereka kakak kelasku, fan yang katanya bar-bar dan siap melakukan apa pun.


"Gue ingetin, ya, sama lo! Jangan belagu! Bagas enggak akan pernah lindungin lo dari keganasan Bagas Lovers."


"An***, segininya!" umpatku merasa hal ini tidak perlu untuk dilakukan.


"Eh, lo ngomong apa barusan?"


Aku meringis tertahan, si gadis yang berdiri di samping pembawa ember sudah berani bertindak lebih. Dia menjambak rambut sampai kepalaku ikutan menengadah untuk menahan tarikannya yang kuat.


"Ngomong, ******! Lo ngomong apa tadi?" teriaknya cukup memekakkan telinga. Aku tidak bergeming karena fokus menahan kulit kepala yang mulai terasa perih. Dia menggoyangkan kepalaku dengan keras sambil berkata lagi. "Ngomong sekali lagi kalau berani!"


"Gue enggak takut." Aku tertawa menahan pedihnya jambakan ini. "Gue enggak akan mundur," sahutku semakin membuatnya marah dan terus menarik rambutku. "Kalian yang kayak gini malah bikin gue semakin pengen milikin Bagas!"


......***......

__ADS_1


Salam sayang dari Assyafa Isti untuk pembaca setia dunia Dara dan Bagas. Aku mau sedikit bercerita tentang Informasi yang kemarin diunggah. Jadi, kemarin aku ada niatan buat pindahin lapak ini ke platform lain, mengingat susahnya buat taken kontrak sama pihak NT. Namun, niat itu batal, Eperibadeh! Kontrakku Alhamdulillah diproses dengan baik. Aku batal mundur seperti Dara yang tetep mertahanin Bagas.


Aku juga mau ngucapin terima kasih, buat orang yang udah nyusulin ke DM Assyafa Isti karena pengen tau kejelasan cerita ini. Jujur, itu kali pertama banget buat aku yang masih newbie. Huhu terharunya sampe semangat buat nulis lagi. Semoga kalian betah ya di sini. Love ❤️


__ADS_2