Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 16 | Kamar Kos (1)


__ADS_3

Pindah kamar versi nekat. Sengaja tidak membawa keluarga seperti saat survei kemarin karena ingin menghabiskan waktu berduaan di menit-menit terakhir. Beruntung saja karena kedua orang tuanya percaya padaku. Tidak perlu berkelit dan mengarang alasan, keduanya lantas memberi kami izin untuk pergi ke Cisarua.


Berkendara dengan mobil sang ayah, kami menembus tebalnya kabut sambil bertautan tangan. Sesekali saling menoleh dan menebar senyum. Aku harus memanfaatkan momen. Bisa jadi, hari esok kami tidak akan mendapatkan kesenangan ini karena harus melewati fase pacaran jarak jauh antar kabupaten.


"Pelan-pelan aja, Kak."


Tidak berhenti aku mengingatkan Kak Bagas, jika pedal gas diinjak sedikit lebih kencang. Bukannya ingin mengulur waktu, aku hanya merasa ngeri saja. Lintas dataran tinggi di jam enam pagi bukan main gelapnya. Kabut, hawa dingin, jalanan kosong, dan licin di sini memang paling pas dilalui oleh kami si yang gak punya SIM. Tentu saja tujuannya karena ingin menghindari kejaran tilang bapak-bapak Polisi.


Kami sampai di gedung indekos. Sempat ada acara buka kunci dan geser gerbang terlebih dulu karena penghuni yang sudah menetap dipastikan masih terlelap. Kak Bagas memarkirkan mobil di pelataran Rifal Kos. Dia masih menyempatkan diri membukakan pintu untukku. Masih dalam mode kangen-kangenan, kami berjalan sambil bergandengan tangan, lalu berhenti di belakang mobil. Pintu bagasi pun terbuka, menampakkan sederetan ransel yang sengaja disiapkan Ibu Ester untuk kami bawa.


"Adek bawa yang mana?" tanyaku berharap diberi ransel yang isinya tidak terlalu penuh.


Kak Bagas yang selalu peka terhadap kondisi apa pun lantas memberiku sebuah tas laptop. "Ini, aja, sisanya tunggu kakak di kamar."


Niat hati ingin membawa ransel yang ringan malah diberikan tas jinjingan. Jelas saja aku tak enak dan tidak menerima kenyataan.


"Ini isinya apa?" Telunjuk mengarah ke ransel penuh muatan.


"Buku pelajaran. Berat, Sayang. Udah bawa tas laptop, aja." Dia sudah memberikan keputusan final.


"Masa adek bawa laptop, doang. Kalau bawa ini, gimana?" tunjukku pada ransel yang satunya.


"Kalau gak salah itu isinya peralatan makan, deh."


Merasa sudah mendapat barang yang sesuai, senyumku mengembang total. "Adek bawa ini juga, ya."


Pindah memindah barang dimulai. Kami memasuki kamar indekos yang masih sunyi senyap dengan membawa dua ransel dan tas laptop terlebih dulu. Kak Bagas kembali memintaku diam di kamarnya, memohon supaya aku tidak ikut membawa barang bawaan karena ransel yang tersisa tinggal yang penuh dengan muatan.


Tidak ingin ada percekcokan di hari terakhir kami bersama, aku memilih mengalah dan duduk manis di tepi ranjang. Namun, bukan Dara Dwiana yang bisa diam begitu saja. Posisi duduk seperti ini memancingku untuk melihat secara gamblang kondisi kamar yang akan ditempati Kak Bagas.


Kamar indekos ini katanya masuk dalam area tipe B. Memiliki luas kurang lebih 4x3 meter. Sudah mendapat fasilitas kasur, lemari, meja TV, dan dispenser. Alasan Kak Bagas memilih kamar ini karena bebas aturan, berjauhan dengan kamar pasutri yang memiliki anak, dilengkapi toilet pribadi dan keran air panas, juga adanya WI-FI gratis bebas akses. Sejenak aku memikirkan kenikmatan bebas dari orang tua di sini. Ah, membayangkannya saja membuatku ingin cepat-cepat duduk di kelas XI, supaya mendapat giliran PKL.


Dua ransel yang tersisa dalam mobil sudah dipindahkan ke kamar. Langkah pelan, Kak Bagas menutup dan mengunci pintu kamar supaya tidak mengganggu penghuni muda yang lain.


"Hah!" Embusan napas berat itu terdengar bersamaan dengan Kak Bagas yang duduk di lantai kamar.


"Capek, ya?" kataku sambil mengusap rambutnya penuh kelembutan.


Dia yang tampak keenakan pun berujung menyandarkan kepala di samping ranjang. Senyumku mendadak mengambang diiringi pemikiran gila yang tiba-tiba datang. Bisa-bisanya, aku berlagak seperti pengantin baru yang sedang honeymoon. Tidak ingin dikira menggoda, tanganku yang membelai lembut pucuk kepalanya pun terhenti sementara.


"Kak," panggilku sambil mencolek pundaknya.

__ADS_1


Kak Bagas tidak bersuara. Dia hanya mendongakkan kepala sambil tersenyum padaku.


"Pintu kamarnya mending dibuka, aja, deh."


"Takut di apa-apain, ya?" tebaknya sambil tertawa tanpa suara.


"Bukan, gitu," sanggahku mantap. "Adek percaya Kakak gak bakal ngapa-ngapain, tapi gak enak, aja, sama tetangga sebelah. Takutnya mereka berpikiran yang enggak-enggak."


"Tenang, aja." Dia beralih menggenggam lenganku erat. "Mereka juga sama kayak kita. Malah ada yang sekamar sama pacarnya."


Lah, dia malah ikut-ikutan orang. Baiklah. Untuk sementara waktu, aku akan membiarkan pintu kamar ini tertutup. Yakin saja, sih, Kak Bagas yang notabene sayang orang tua dan diriku tidak mungkin berani bertindak lebih jauh.


"Kak?" panggilku karena dia diam lagi. Pasti lelah setelah membawa dua ransel sebesar gaban.


"Hm?"


"Nanti kalau mau makan gimana?" Seingatku indekos ini tidak difasilitasi dengan dapur umum.


"Kemarin, sih, Bu Maria kasih tahu ada dapur umum di sini."


"Eh, iya? Ada, gitu?" Kenapa hanya aku yang tidak ingat?


"Ada, tapi gak tahu disebelah mana. Kenapa? Adek lapar?"


"Ah, gemas." Dia mendadak bangkit membuatku menjauhkan tubuh secara spontan.


"Astaga, Sayang. Kakak gak bakalan makan kamu. Kenapa kayak yang waspada, gitu?"


Aku terkekeh-kekeh dan kebingungan dalam memberi alasan.


"Angkat kakinya," pinta Kak Bagas tiba-tiba.


"Eh, mau ngapain?" kataku. Panik mode ON.


"Mau tidur," jawabnya santai.


"Tidur di sini?" Aku menunjuk kasur yang sedari tadi menjadi lahan duduk manis.


"Ya, kali sekasur berdua sama Adek. Angkat kakinya, Sayang. Ini, kan, kasur geser."


"Hah?" Tersentak bukan main. Gila. Kenapa aku bisa lupa? Kasur di kamar Kak Bagas, kan, bentukannya kasur geser yang bisa ditiduri dua manusia. Astaga. Ketahuan, deh, pikiranku sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Menepis rasa gelagapan, kakiku mencoba terangkat walaupun segan. Benaran melancarkan aksi sesuai ucapan, Kak Bagas langsung menarik kasur bagian bawah. Sebisa mungkin tanganku mencekal lengannya, menahan tubuh Kak Bagas supaya tidak terlentang sekarang.


"Kenapa?" tanyanya kebingungan.


"Kakak gak bawa sprei, gitu? Kotor, lho, Kak. Kamar ini, kan, pernah ditinggali orang lain."


Dia terdiam lama sampai akhirnya memberiku jawaban. "Kayaknya, sih, ibu kasih sprei."


"Oke, di ransel mana? Biar adek yang cari." Aku berjalan mendekati ransel yang terkapar di pojok ruangan. Bergegas membuka salah satu ransel yang katanya berisi perlengkapan baju ganti. Benar saja. Bu Ester memang membekalkan seperangkat sprei karena tahu pihak indekos tidak menyediakannya.


"Bisa pasangnya?" tanya Kak Bagas seraya memberiku akses untuk memasangkan alas tidur.


"Bisa, dong."


Tidak sampai lima menit, sprei motif kotak-kotak berwarna hitam sudah terpasang rapi di kedua kasur. Niat Kak Bagas yang semula tertahan pun lantas dilancarkan lagi olehnya. Dia merebahkan diri, langsung memiringkan posisi jadi berhadapan denganku yang terduduk di ubin kamar.


"Mau tidur gak?"


Entah itu basa-basi bertanya atau benaran menawarkan, tetapi jawabanku sama, yakni menggelengkan kepala.


"Kakak izin tidur boleh? Bangun jam tiga pagi karena ibu ribut banget."


Aku mengizinkan. Tidak salah kalau dia kelelahan. Sudah harus berkemas, menjemput pacar ke rumah, dan belum lagi dia harus mengemudi sejam perjalanan. Sangatlah wajar kalau sedari tadi dia berusaha menahan kantuk demi selamatnya kami sampai di sini.


Tanganku tertarik lagi memberinya belaian lembut, Kak Bagas yang merasakan hal itu kembali membuka mata, lalu memberiku senyuman penuh. "Coba pinjam tangannya."


"Tangan yang mana?" Aku mengapungkan kedua tangan.


Kak Bagas tidak menjawab. Dia hanya menarik sebelah tanganku, lalu mengecupnya lembut. "Dara, i love you."


Sejenak aku termangu. Gila. Dia jarang mengatakan itu. Terbilang hampir tidak pernah menyatakan itu, tetapi sekalinya berucap ... meleleh seluruh pertahanan Dara.


"Kakak ... gak mau LDR," ucapnya tiba-tiba. Tanpa memberiku tatapan, dia mengusap punggung tanganku yang masih berada dalam genggaman. "Kalau bisa. Iya, andaikan bisa, penginnya di sini bareng-bareng Adek."


Diingatkan tentang LDR, bunga-bunga yang semula bermekaran di relung hati jadi layu kembali. Andai dia tahu, aku sama hancur dengannya karena perpisahan tiga bulan ini.


"Adek tahu ini pengalaman pertama kakak sama dunia cinta-cintaan. Ada ketakutan tersendiri aja, gitu. Takut gak bisa memberikan yang terbaik buat Adek."


Makin sedih saja. Aku sampai tidak bisa berkata-kata karena takut tangis pecah. Kak Bagas yang menyadari hal itu lantas meremas tanganku. "Malah sedih," katanya.


"Iyalah, Kakak bahas terus soal ini. Adek jadi berat lagi," keluhku.

__ADS_1


"Iya, iya, maaf. Udah jangan sedih, ya. Hari terakhir, kita haru senang-senang pokoknya."


***


__ADS_2