Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Jalani Saja, Katanya


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat ketika hati merasa berbahagia, padahal jalan-jalan ini bisa terbilang sederhana. Mulai dari pagi menuju siang di Teras Cikapundung, lanjut siang menuju sore makan di Bakso Semar, dan sore menuju malam terdampar di tempat ini, yakni Cihampelas Skywalk atau yang biasa disebut Teras Cihampelas Walk.



Destinasi terakhir ini cukup meraup kocek tiga ribu rupiah untuk parkir. Sisanya gratis. Kami hanya perlu sedia tenaga dan air mineral karena jembatan ini memiliki panjang 450 meter.


Sebelum mulai jalan sore, Kak Bagas sudah melepas jaketnya. Aku yang kebetulan memakai kemeja tipis berlengan panjang, hanya perlu melipatnya sampai siku.


Masih dengan perilaku yang sama. Kak Bagas selalu menggenggam tanganku saat berjalan, menyebrang, ataupun masuk ke restoran. Sesekali aku menatapi samping wajahnya yang terkadang terkena sinar matahari. Ganteng sih, tetapi sayang, Kak Bagas bukan milik Dara.


"Kalau capek bilang, ya, Dek!" perintahnya yang seketika membuatku mengerjapkan mata.


"K-Kenapa gitu, Bang?"


"Nanti abang gendong."


"Hah, yakin?" Aku tak percaya.


"Yakin, lah!" ucapnya yang ringan di mulut, tetapi berat di hati.


"Tenang, aja, adek enggak bakalan capek!"


Namun, setengah jam setelah ungkapan percaya diri itu. Napasku mulai tersengal-sengal, begitupun posisi tubuh yang sudah mulai loyo.


Pandangan dipaksa aku arahkan ke depan. Jembatan penyeberangan yang kami pijak masih terbilang jauh dari kata sampai. Ini baru setengah jalan, tetapi kakiku sudah ngilu dan pegal. Beruntung karena hari ini aku mengenakan sneaker. Tidak bisa aku bayangkan, jika tadi yang kupilih sepatu modelan t-strap. Pasti merepotkan dan lecet di mana-mana.


"Sini, Dek!"


Kak Bagas seperti paham permasalahan stamina lawannya yang mulai menurun. Terbukti, dia menarik dan membimbing pelan tubuhku untuk duduk di salah satu tempat yang kosong.


"Sebentar, ya! Tunggu!" perintahnya yang tidak aku tanggapi. Dia berlari menembus keramaian orang dan menghilang tanpa bayangan.


Langit di atas kepala sudah mulai menjingga. Tanganku beralih mengangkat ponsel, sudah pukul 17.55. Hah, kata sehari yang saling kami janjikan akan segera selesai.


"Adek!" Kak Bagas meneriaki dari kejauhan. Tangannya melambai, memudahkanku untuk mencarinya di antara segelintir orang. Dia tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangkan permen kapas bentuk hati dan berwarna merah muda. Bak anak kecil, Kak Bagas berlarian ke arahku sambil melindungi permen kapas dengan sebelah tangan yang terapung di depan benda itu.


"Ini buat Adek!"


Aku memperhatikan rona wajahnya yang berubah kemerahan. Dada yang kembang kempis itu cukup membuatku yakin kalau Kak Bagas mengikis jarak terlalu jauh untuk mendapatkan sebuah permen kapas dan dua botol air mineral dingin. Merasa iba karena perjuangannya yang begitu tulus, tanganku berujung mengambil sehelai tisu dari dalam tas. Menjepitnya di antara jemari telunjuk dan tengah.

__ADS_1


"Sini," pintaku yang memberi isyarat padanya untuk mengambil posisi duduk.


Namun, bukannya duduk di sampingku, Kak Bagas malah mengambil posisi jongkok. Dia sempat meletakan kantong plastik berisi dua botol air mineral ke permukaan jembatan. Sebelah tangannya yang terbebas dari permen kapas di diletakkan di atas lututku. Alhasil dengan posisi begitu, dia harus menengadahkan kepala, supaya aku lebih mudah dalam menyeka keringatnya.


"Dek," ujarnya saat aku memulai acara menyeka peluh yang bercucuran.


"Hem?" sahutku seadanya.


"Jangan terlalu perhatian!"


Mendengar kalimat itu, tangan yang semula menyeka jadi terdiam. Aku menatap jauh ke bola matanya yang terbuka lebar.


"Kalau Adek perhatian gini, abang bakal susah lepasnya."


......***......


Perlu waktu lima belas menit untuk menghabiskan sebuah permen kapas dan dua botol air mineral. Langit yang semula berwarna jingga pun, kini berubah jadi gelap gulita.


Bersyukur karena Skywalk ini dihiasi beragam jenis lampu taman yang estetik. Kami jadi tak perlu bergelap-gelap ria karena sisi romantisme jalanan mulai terasa.



Tiada hentinya aku menatap sekeliling dengan perasaan takjub. Kawasan yang semula padat perlahan mengendur hingga hanya tersisa beberapa orang saja yang masih bertahan menikmati indahnya pemandangan malam daerah Cihampelas.


"Balik parkiran aja, ya, Bang. Kayaknya udah sepi juga." Sebenarnya, bukan sepi yang menjadi masalah utama. Aku merasa kakiku tak cukup kuat, jika harus terus menelusuri jembatan ini sampai akhir.


"Ya, udah. Kita lanjut pulang aja, ya," ucapnya yang lekas aku setujui dengan anggukan.


Dia mulai berjalan menghampiriku, menepuk-nepuk kedua tangan seperti tengah membersihkan debu atau kuman yang menempel. Setelah kami berdiri berdampingan, dia perlahan mengulurkan sebelah tangan. "Sini tasnya," pintanya yang membuatku melongo.


Mendapati reaksiku yang diam saja, Kak Bagas jadi mengambil langkah cepat dan penuh inisiatif. Tali sling bag yang melingkar di tubuhku perlahan ia tarik dan keluarkan. Aku yang masih tak paham jalan pikirnya hanya mampu menatap tanpa berusaha mengolah kata.


Dia melingkarkan tali itu di tubuhnya. Setelah dirasa posisi tasku aman dan nyaman, Kak Bagas berangsur mengambil posisi jongkok kembali. Aku yang terkejut melihat ulahnya, jadi mengambil dua langkah mundur. Ada apa ini? Kenapa dia berjongkok begitu?


"Naik, Dek! Abang gendong sampe parkiran."


"Eh, enggak, ah!" tolakku cepat sambil menggoyangkan kedua tangan. Gila saja, jika aku naik ke punggungnya. Rutenya, kan, lumayan jauh.


"Naik, Sayang!" paksanya sambil menarik tanganku supaya mau mendekat.

__ADS_1


"Jauh, Bang." Aku sampai menunjuk ke arah depan meksipun ujung jembatan tidak bisa kami lihat sepenuhnya.


"Iya, makanya naik. Adek udah capek begitu. Abang beneran enggak tega liatnya."


Tak ingin mengulur waktu karena perdebatan kecil, aku berakhir menuruti keinginan Kak Bagas. Penuh kehati-hatian aku menaiki punggung lebar itu, mengalungkan lengan di bawah lehernya, lalu menyandarkan dagu di bahu kanannya.


Kak Bagas bangkit penuh percaya diri. Seolah tidak mengangkut beban apa pun, dia mulai melangkah, mengambil jalan yang lurus secara perlahan. Lampu-lampu yang indah itu kami susuri satu per satu. Entah apa yang sedang dipikirkan Kak Bagas, tetapi yang pasti, kami melewati suasana romantis ini tanpa melemparkan sepatah kata pun.


Sampai di lima menit selanjutnya, Kak Bagas mulai berucap, "Dek, kok tadi enggak ngerespon?"


Ingatanku menguap ke kata tadi yang ia ucapkan. Pasti maksudnya yang gombalan itu, kan? Tentu aku diam saja. Banyak alasan yang aku pikirkan saat Kak Bagas mengucap kalimat indah itu.


"Tadi, kapan?" Lebih baik aku pura-pura tak tahu saja.


"Itu yang tadi," kukuhnya. "Yang abang bilang, kalau Adek perhatian gini, abang bakal susah lepasnya."


"Oh, yang itu ...," kataku mengambang, berusaha terlihat tidak terpengaruh. "Takut dikira GR kalau ngerespon." Itu salah satu alasannya.


"Astaga! Siapa juga yang bakalan nyangka kayak begitu?" semprotnya dengan dada ngos-ngosan. "Abang enggak akan sekejam itu kali, Dek!"


"Ya, kan, adek cuma mau kontrol hati. Enggak mau terlalu kebaperan juga karena takut berakhir kecewa." Alasan kedua yang aku pikirkan tadi.


"Emang hati bisa semudah itu dikontrol? Enggak bisa, Dek. Abang jamin sama diri Abang sendiri."


Mendengar hal itu, aku jadi tertegun. Sekelebat hawa hangat bermunculan di hati dan benakku. Apa ini artinya Kak Bagas juga merasakan hal yang sama? Benar, kan? Aku tidak mungkin salah tebak, kan? Di sini bukan cuma aku, kan, yang terbakar api?


Ingin membuktikan kebenaran prediksi, aku berujung mengatakan hal yang sedari pagi tertahan. "Bang!" panggilku pelan di sebelah telinganya.


"Apa?" gumamnya dengan mata masih menatap lurus ke depan.


"Akhir bulan kita udahan, kan, ya?"


Pertanyaan dariku itu mampu menghentikan langkah Kak Bagas. Dari arah samping seperti ini, aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang tiba-tiba mengeras. Tak ingin Kak Bagas salah tangkap dengan pertanyaan itu, aku kembali berucap guna menjelaskan, "Kalau misalkan, salah satu dari kita ada yang baper gimana?"


Hening. Aku yang ketakutan mendengar jawaban itu berujung mengigit bibir bawah dengan keras. Aduh, kenapa setelah bertanya rasa malunya seakan naik ke ubun-ubun, ya? Bagaimana kalau Kak Bagas tidak menjawab? Bagaimana kalau pada akhirnya hanya kekecewaan yang aku dapatkan?


"Kalau misalkan ada yang baper, ya," ulangnya meskipun terdengar mengambang.


Aku semakin tidak ingin mendengar jawaban. Perlahan kepalaku mengambil langkah menunduk dalam.

__ADS_1


"Sayang!" panggilnya membuatku tersentak. "Kalau ada yang kebawa perasaan, ya, udah kita jalani aja! Toh, hati kita juga berhak bahagia, kan?"


...***...


__ADS_2