
Pergi diantar Kak Sonia, pulang diantar Kak Bagas. Kalau begini caranya, aku bisa bersemangat lagi pergi ke sekolah. Urusan Shafira sudah selesai, aku bahkan pulang membawa sekantong kepastian. Akhirnya, ada kejelasan, ya. Aku jadi tidak merasa sakit dan kecewa setelah mendengar pernyataan Kak Bagas.
Moge berhenti di depan pagar. Saking senangnya dibonceng Kak Bagas, jarak tempuh terasa cepat dan dekat, padahal kami sudah melewati jalan yang biasa dilalui. Dengan hati enggan, aku tetap memaksa diri menuruni motor dibantu tangan Kak Bagas yang menggenggam lenganku erat.
"Ra," panggilnya saat aku selesai melepas helm, lalu menaruhnya dalam pelukan. "Yakin mau pulang?"
"Hah?" Aku melongo bego. Kenapa Kak Bagas bertanya begitu coba?
"Ya, siapa tau, aja, masih kangen," jelasnya sambil cengengesan.
Aku menahan senyum, menebar pandangan ke segala penjuru. Hal kecil, sih, tetapi cukup membuat jantung ketar-ketir. "Teruuuss, mau ke mana?" tanyaku pelan. Aneh, perasaan tadi aku masih baik-baik saja. Masih bisa menatap wajah Kak Bagas dengan berani juga, tetapi kenapa sekarang malah malu, sih?
"Mami enggak akan marah, kan, kalau anaknya diculik sebentar?"
"Kayaknya, sih, enggak." Bohong. Belum juga bertanya aku sudah menjawabnya sendiri. Eh, tetapi aku yakin, sih. Mami tidak akan marah. Toh, beliau sudah tahu Kak Bagas. Ya, asalkan anaknya diantar pulang sebelum jam makan malam saja.
"Ya, udah naik lagi, yuk!" ajaknya sambil menyediakan pegangan.
"Mau ke mana dulu?" Aku tidak terlalu penasaran, sih. Hanya iseng bertanya saja.
"Ke mana aja, lah, yang penting sama Dara."
......***......
Kata ke mana saja, membawaku ke tempat waktu itu. Aku tidak mengerti, kenapa di antara banyaknya tempat Kak Bagas memilih Teras Cikapundung? Sudah pernah dikunjungi bersama, kenapa malah kembali ke sini? Apa karena tempat ini menyimpan kenangan yang sulit untuk dilupakan? Ya, kalau begitu konsepnya, Dara jadi senang memikirkannya.
"Kakak inget, kamu pernah bilang, pengen liat pertunjukan air mancur malem-malem di sini."
Ah, ternyata itu alesannya.
"Bentar lagi, kan, gelap. Ya, meskipun masih terlalu dini nyebut jam setengah 7 sebagai malam hari." Dia terkekeh sebentar lalu memberiku pergerakan yang sudah seperti menjadi kebiasaan. Kak Bagas menggenggam erat tanganku, mengajakku berjalan pelan memasuki area taman.
Rabu malam, taman memang tidak banyak pengunjung. Aku bahkan bisa menghitung orang-orang yang sedang berfoto di sini dengan jari. Saking sepinya, aku merasa bisa bebas menonton pertunjukan air mancur nanti.
"Diem di sini, yuk!" Kak Bagas menepi, tepat di samping bulatan air mancur. Aku menatap wajah Kak Bagas yang terkena pantulan lampu taman. Dia seperti tidak dalam posisi santai. Mulutnya yang terbuka seolah memberi isyarat, banyaknya pikiran dan kata yang hendak dia utarakan.
"Kenapa?" tanyaku lembut, memancingnya untuk menumpahkan semua keluh kesahnya.
__ADS_1
"Ra, kalau kita udahan aja, gimana?"
"Ya?"
Apa maksudnya? Apanya yang mau disudahi? Hubungan kami? Lho, kenapa? Bukankah tadi dia sudah memilihku ketimbang Shafira? Itu artinya dia mencintaiku, kan?
"Kontraknya." Dia berusaha menjelaskan. "Hari terakhir kontrak itu jatoh di hari Sabtu, tapi Kakak pengen kita sudahi kontraknya sekarang gitu."
"K-kenapa?" Mataku mengerjap. Lambat-laun napas pun terasa sesak. Hanya ada dua kemungkinan di sini. Dia meninggalkanku atau mengubah status bohongan jadi benaran.
"Kayaknya, kakak bucin banget sama kamu, Dara," ungkapnya. "Kakak enggak tenang kalau hubungan kita belum pasti kayak gini."
Mataku jadi memanas. Aku pikir hanya aku saja yang merasakan itu, nyatanya dia juga. Tahu akan begini, kemarin aku tidak akan terlalu over thinking terhadap Kak Bagas.
"Ra!" Kak Bagas menarik bahuku sampai kami berdiri berhadapan. "Maaf karena kemaren enggak kasih kamu kejelasan. Jujur, kakak kaget liat Shafira. Mana ujug-ujug meluk lagi. Kakak enggak kayak cowok lain yang bisa langsung kasih keputusan di hari yang sama. Kakak bener-bener perlu ngerasa-rasain hati biar enggak salah pilih." Dia terlihat menghela napas, merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponselnya.
"Ini." Dia menunjukkan layar ponsel yang menyala. Ada sebuah foto yang terpampang dalam layar. Foto kontrak pacaran Bagas dan Dara selama sebulan. "Sebulan kurang, masalah dan tujuan masing-masing udah tercapai. Bahkan Tuhan sampai kasih kita bonus, Ra. Barisan para mantan sampai ngajak balikan. Hubungan kita kedepannya, itu tergantung kamu. Kakak cuma menawarkan keseriusan. Kita ulang semuanya dari awal. Tanpa ada embel-embel kontrak, perjanjian, dan keuntungan. Gimana? Dara mau, kan?"
Aduh, darimana coba dia dapat kata-kata sebagus ini? Mataku jadinya berair, kan. Tanganku mengibas di depan wajah. Mengajak pandangan melipir sejenak dari Kak Bagas. Rasanya, tangisku pasti pecah kalau bersitatap terus-terusan.
Aku mengangguk. Aku tahu maksud Kak Bagas bukan begitu, tetapi mataku sulit diajak kompromi. Alhasil, aku memasrahkan diri. Membiarkan dia memelukku erat untuk meredakan tangis yang berubah sesenggukan.
"Kakak juga mau minta maaf karena udah teledor kemaren. Mungkin kalau kakak bisa jaga barang dengan baik, Shafira enggak akan mungkin nge-chat kamu pake nama kakak. Wajar kamu marah banget tadi, tapi, Ra. Kakak bersyukur karena dia ambil hape kakak."
Kepalaku mendongak, memberi akses untuk melihat wajahnya lekat. Apa maksudnya itu? Kenapa hal itu harus disyukuri? Aku sampai menangisi nasib semalaman karena Kak Bagas tidak menjaga ponselnya dengan baik.
"Kakak jadi lebih cepet sadar karena hapenya enggak ada. Jadi, ngerasa sepi dan enggak biasa aja. Biasanya tiap malem chat, paginya video call, terus tiba-tiba gelap ini mata. Dari kehilangan itu kakak belajar kalau emang dari awal hati kakak bukan buat Shafira. Dari awal kakak udah lupa sama dia."
"Yakin?" Aku memastikan. "Terus kenapa waktu di koperasi lama banget pelukan sama dia?"
"Lama apaan? Cuma sepuluh detik, mah, kilat Dara."
Aku mendorong cengkeramannya mendengar pernyataan itu. "Oh, jadi sepuluh detik itu kurang? Kakak berharap pelukannya lebih dari itu, gitu?"
"Bukan," jerit Kak Bagas gemas. Dia sampai menangkup wajahku. "Itu kakak diem, aja, karena Shafira lagi ngomong. Kakak udah nolak, tapi tangannya kuat banget, lho."
"Bilang, aja, keenakan," cibirku. Sebenarnya aku percaya, sih, tetapi asyik saja melihat wajah Kak Bagas yang merah padam begitu.
__ADS_1
"Astaga. Kakak bukan cowok yang sekotor itu, Dara."
"Iya, iya, deh. Dara percaya." Aku tak ingin membahas Shafira lagi.
"Jadi, gimana?"
"Gimana apanya?" Aku mulai bingung.
"Hapus enggak, nih, kontraknya?" Kak Bagas kembali mengulurkan ponselnya.
Ah, aku paham sekarang. Pantas saja Shafira tahu status bohongan kami. Ternyata dia biangnya. Kenapa coba kertas kontrak pakai difoto-foto segala? Ketahuan orang lain, jadi berabe, kan.
"Kakak beneran sayang sama Dara?" Aku sekadar memastikan. Melihat jauh ke bola matanya yang berwarna cokelat itu.
"Kalau enggak sayang, kakak enggak mungkin segalau itu pas kamu marah."
Aku mendengkus. Dia mulai jago gombal sekarang.
"Serius, kakak tadi bingung banget harus ngapain. Mana kamu enggak mau lagi diajak ngomong. Gimana kakak bisa jelasin semuanya coba?"
"Tapi itu Kakak punya cara. Sampe dibawa-bawa ke rapat OSIS, kan?" Seharusnya, itu tidak boleh dilakukan, meskipun oleh seorang ketua.
"Ya, mau gimana lagi? Kakak cuma berusaha, aja, buat yakinin Dara."
"Ya, udah. Dara mau kayak, gitu." Aku sudah memutuskan dengan sebaik-baiknya.
"Mau apa, nih?" Dia menatapku jail.
"Dara mau jadi pacar Kakak," jelasku balik memberinya kepastian.
"Serius?" Kak Bagas mulai menatapku dengan kilatan matanya yang berbinar.
"Duarius," sahutku cepat.
Aku tidak mungkin menolaknya, kan? Perjalanan sebulan ini sangatlah panjang untuk dijelaskan. Ibarat kata, mau bahagia saja susah. Giliran sudah bahagia, masa mau dilepas? Selagi dia tidak melepas tanganku lebih dulu, maka aku akan menggenggam tangannya lebih erat. []
......TAMAT......
__ADS_1