
Obat terbaik dari patah hati memang teman sendiri. Melihat mereka mengobrol, tertawa, dan bercerita membuat rasa sakitku hilang. Aku tidak membutuhkan Marcel sebagai pelampiasan. Bahagiaku bisa diciptakan tanpa harus menyakiti orang.
Sampai detik ini, baik Eren, Riska, dan Putri belum tahu perihal kandasnya hubunganku. Niat untuk bercerita memang ada, tapi aku terus meragu karena takut merugikan orang lain. Mereka mengenal Kak Bagas dan duduk di satu organisasi yang sama. Citra Kak Bagas di mata mereka selalu baik, romantis, dan berwibawa. Aku tidak ingin karena konflik ini mereka jadi ikutan kecewa. Setidaknya, nama baik ketua OSIS SMK Farmasi Bangsa harus terus dijaga terlepas di mantan atau pacar.
Sebuah senggolan tiba-tiba terasa, mengalihkan pikiranku dari konflik batin yang singkat. Putri dan Eren menatapku heran, sedangkan Riska tersenyum penuh hasrat yang disembunyikan. "Kenapa?" tanyaku kepada ketiganya.
"Kangen Kak Bagas, ya?"
"Ya?" Aku tersentak. Bukan main pertanyaan Riska.
"Iya, paling juga kangen Kak Bagas," komentar Putri ikut-ikutan.
"Dari tadi bengong mulu. Biasanya juga video call kalau istirahat," timpal Eren.
Ah, aku bengong terus ternyata. Pantas mereka berkelakar begini. Rindu pasti ada, tapi aku bisa apa?
"Hm ... lagi sibuk kayaknya dia." Aku tersenyum lebar, berusaha bersikap seperti biasanya.
"Bukannya Kak Bagas bucin, ya? Sesibuk apa pun pasti ngehubungi. Kamu dari tadi gak main HP lho, Ra."
Astaga. Eren kenapa mengamati sampai sedetail itu?
"Hm ... itu ... Kak Bagas dapat sif pagi. Jadi, gak bawa HP ke rumah sakit."
"Yakin?" Tatapan Riska berubah menyipit. "Bukannya minggu kemarin dia sif pagi? Aku inget, lho, kamu cerita begitu."
Ya Tuhan. Kenapa ingatan mereka tajam sekali?
"I-iya. Minggu ini dapat sif pagi lagi. Tukeran sama temennya."
Alasan itu berhasil membuat ketiganya bungkam. Mereka serempak menganggukan kepala dan tidak lagi membahas perihal Kak Bagas. Beruntung karena seseorang muncul di ambang pintu. Prayoga berjalan menghampiri, setelah sebeleumnya melambaikan tangan ke arah kami.
"Mau ngapain dia?" bisik Putri kepada kami.
"Paling juga mau ngasih info tentang kumpul OSIS," Riska balik berbisik karena orang yang bersangkutan sudah mendekat.
"Kebetulan banget lagi ngumpul. Mau kasih dua informasi, nih, ke kalian." Posisi Prayoga yang berdiri membuat kami serta merta harus mendongakkan kepala.
"Oke, informasi pertama!" teriak Eren dengan acungan jari telunjuk.
"Hari ini kita kumpul," jawab Prayoga.
"Informasi kedua!" teriak Eren lagi.
"Dara harus saya bawa kabur."
"Hah?" ucap kami bersamaan.
"Kabur ke mana?" tanya Putri mewakiliku.
__ADS_1
"Ke ruang pembina. Ayo, Ra! Kita dipanggil buat bahas proposal PORSENI."
Sedikit mengucap syukur karena Prayoga membawaku pergi. Aku tidak perlu kerepotan lagi terlibat dalam sesi interogasi mereka. Berbekal buku catatan rapat dan sebuah bolpoin, aku berjalan di belakang Prayoga. Berperan sebentar sebagai ekor yang mengikuti ke mana pun dia pergi.
"Ra?" panggilnya tiba-tiba sambil tak lupa menghentikan langkah.
Kini kami berdiri sejajar. Dia yang lebih tinggi dariku kembali membuatku mendongak, supaya lebih enak bertukar ucap. "Apa? Kenapa?"
"Kamu baik-baik aja, kan?"
Kedua mataku mengerjap. Agak terkejut juga. Kenapa dia bertanya tentang kabar? Kami satu sekolah, bertemu setiap ada peluang. Dia sudah melihatku berjalan kuat tanpa sempoyongan, kenapa masih bertanya begitu?
"Kamu baik-baik aja, kan, Ra?" ulangnya karena aku malah termenung.
"Baik," balasku dengan kepala mengangguk. "Kenapa kamu tanya itu?"
"Cuma memastikan arti dari bio WhatsApp Kak Bagas."
"Bio?" Keningku berkerut dalam. "Memangnya dia nulis bio apa?" Aku bertanya sambil melihat ponsel. Jemariku sudah menekan di sana-sini. Tergesa sekali karena penasaran dengan bio terbaru Ayang. Maaf, Mantan Ayang. Begitu layar terpampang, napasku mendengkus keras. Penuh rasa sebal, aku mengapungkan ponselku yang menyala ke hadapan Prayoga.
"Gak ada yang berubah, tuh!" Perasaan dari awal jadian kontrak, jadian benaran, hingga putus kemarin statusnya tetap sama. Dara bergembok.
"Ada," ralat Prayoga sambil menunjuk logo gembok. "Dulu gak ada tanda gembok terbuka. Sekarang ada."
Sukses aku tertegun, menatap layar yang ada dengan perasaan ngilu. Iya, sih. Sekarang memang ada tanda gembok terbuka, tapi di sampingnya juga ada gembok tertutup.
Susah payah menutupi dari semua orang, tetapi dia membuka masalahnya sendiri. Kenapa mudah,ya, untuk Kak Bagas?
"Ra---"
"Baik-baik aja, kok," tandasku. Setidaknya, di sini aku baik-baik saja. "Dia ...." Bibirku bergetar. "Dia ... iseng, aja, update begituan."
"Oh." Prayoga mengangguk, walaupun sorotnya tidak mempercayaiku. "Oke, ayo! Kita lanjut jalan. Kasihan Pak Abigail nunggu lama."
Imbas dari pertanyaan Prayoga adalah keheningan. Kami menghabiskan sisa langkah tanpa bertukar ucapan. Benaran sama-sama diam. Aku yang terpaku pada layar dan Prayoga yang merasa bersalah karena sudah lancang mempertanyakan hubunganku dengan kakak kelasnya.
Setiba di depan ruangan, dia mengambil inisiatif mengetuk pintu. Tidak membutuhkan waktu lama, setelah mendapat respons dari Pak Abigail, kami mulai memasuki ruangan. Wajah-wajah serius menghadap computer itu seolah memberiku petunjuk. Ini tidak akan mudah. Maksudku, proposal yang kubuat diprediksi sulit membuka kunci keuangan sekolah. Entahlah. Aku merasakan aura tidak nyaman. Masalah seolah akan datang sebentar lagi.
"Oke, karena kalian sudah di sini bapak mau jujur saja, ya."
Nah, kan, benar. Sesuai dugaan.
"Ini." Proposal buatanku diulurkan kembali. "Dara, boleh diketik ulang?"
"Diketik ulang, Pak?" Aku membutuhkan waktu untuk mencerna ucapan beliau.
"Iya, diketik ulang, dibuat ulang. Tolong perbaiki sebagus dan sekreatif mungkin. Proposal punyamu terlalu datar. Kepala sekolah tidak menemukan daya tarik karena kamu tidak menjabarkan kualitas dan ciri khas dari acara PORSENI tahun ini."
__ADS_1
"Kalau menyangkut kualitas dan ciri khas berarti berkaitan sama konsep, Pak?" Setidaknya, itu yang aku tangkap dari kesalahan proposal.
"Ya. Artinya, perubahan ini menyangkut tugas Prayoga juga. Kamu harus merombak semua konsep yang sudah dibuat."
"Semuanya, Pak?" Prayoga tak kalah terkejut mendengarnya.
"Iya. Oh, ada satu hal lagi. Jika proposal dan konsep ini selesai hari ini juga, dana tiga juta yang kalian minta kepada sekolah akan cair 100%."
***
Pembicaraan singkat itu menghasilkan efek yang berat bagiku dan Prayoga. Kami termenung sembari duduk berdampingan di lantai yang dingin. Tiada henti, embusan napas saling mengisi karena keberatan dengan syarat terbaru Pak Abigail.
"Gini ternyata pusingnya cari duit," gumam Prayoga setelah keheningan lama. "Cuma butuh tiga juta lho, kita. Sulitnya udah kayak minta belasan juta."
"Pantes, aja, Kak Cecil pilih aku. Biar ngerasain susahnya minta duit kali, ya." Aku baru memahami maksud ucapan itu. "Mana harus selesai hari ini coba? Gimana ceritanya? Aku ngetik proposal itu semaleman, Ga."
"Butuh semalaman, ya." Prayoga bermonolog. "Kalau dikerjain dua jam bisa, Ra?"
"Lo kata gue robot bisa secanggih itu." Bibirku mengerucut sempurna. Dia kira mudah apa membuat proposal yang unik dan terpakai?
Prayoga malah nyengir kuda. "Oke, oke, saya gak akan minta yang aneh-aneh. Gini, Ra, saya punya rencana. Kira-kira kamu mau denger, gak?"
"Ngomong aja! Selagi rencananya baik, pasti aku dengerin."
"Oke, nanti kita rapat bahas konsep baru selama dua jam. Kalau konsep udah di tangan, kita tinggal minta keringanan waktu ke Pak Abigail. Minta beliau buat stay di sini maksimal jam delapan malam."
"Berarti kita di sini sampai jam delapan malam gitu?" Aku mencoba menyambungkan idenya dengan otakku.
"Iya."
"Ah, anak-anak mana mau di sekolah sampai jam segitu. Kita bubaran, aja, jam empat sore. Rapat konsep dua jam udah dapat jam enam sore---"
"Ya, kalau mereka mau pulang silakan, aja."
Selaan ucapan itu membuatku memukul lengan Prayoga. "Terus maksud kamu, aku sendirian ngerjain proposal, gitu?"
"Ya, enggak." Prayoga malah terkekeh. "Ada saya. Kamu, kan, punya saya, Ra."
"Yakin mau nemenin sampai beres?" Aku menyipit ke arahnya.
"Yakin. Kalau harus semalaman juga boleh. Lagian, kan, ini menyangkut tanggungjawab saya juga."
Ah, mendengar itu aku jadi merasa aman. Ada yang mau menemani tugasku ternyata.
"Oke, kalau begitu aturannya. Aku siap bikin proposal dadakan."
"Dua jam?" Dia bertanya tentang itu lagi.
"Ya, ayo! Dua jam juga, ayo!" kataku mulai menyanggupi.
__ADS_1
***