
Sampai di rumah, aku tidak banyak bertingkah. Langsung masuk kamar, membasuh diri, dan berganti baju. Tidak lupa dengan kekasih, aku menengok kembali layar yang nyatanya belum membawa kemajuan notifikasi. Pasrah pada keadaan dan mencoba tidak berharap banyak. Ini hari kedua di sana dan dia sudah menunjukkan tanda-tanda kesibukan. Entah apa yang dia lakukan sampai menghilang seharian ini.
Seolah menjawab erangan hati, notifikasi yang sudah ditunggu-tunggu mendadak masuk dari orang bersangkutan. Saking terkejut dan tidak percaya, aku membawa ponsel ke ranjang, lalu menyimpannya sebentar. Butuh beberapa menit sampai aku menyadari bahwa pesanku dibalas Kak Bagas. Penasaran dengan balasan pesan terakhir, jemariku cepat mengusap layar ponsel.
Dari : Ayang
Ketiduran, maaf baru balas.
Kakak gak ada kuota, jadi ponsel gak dibawa ke RS
Tadi pulang mampir dulu ke kos-an Cecil, buat cicil laporan tugas akhir
Pulang-pulang langsung tidur dan gak sempat lihat HP
Maaf Sayang
Besok pagi kakak cari konter buat beli kuota ya
Ingin marah, jelas kecewa. Dia menghilang dan alasannya ... cuma itu. Dia bisa saja mengusahakan memberi kabar. Baik itu lewat Kak Cecil atau pun Kak Dewi yang juga ikut PKL di sana. Keduanya bahkan punya nomor ponselku, mengikuti akun Instagramku. Sejuta cara bisa dia lakukan, jika memang berniat menghubungi.
Namun, jika diingat-ingat lagi aku tidak mampu memberinya amarah. Sayang di waktu. Sudah susah memberi kabar, sekalinya mengabari dimarahi. Pasti Kak Bagas tidak akan senang kalau aku melakukannya. Belum lagi karena kesibukannya berkaitan dengan menolong nyawa pasien. Masa, iya, hatiku tidak sabar. Perjalanan menuju tiga bulan, kan, tidak sebentar.
“Dara! Kuat-kuat-kuat! Harus sabar, harus ikhlas, harus dewasa. Kak Bagas mungkin capek.” Tiada henti aku melafalkan kalimat penguat untuk diriku sendiri. “Benar, selama menghilangnya karena dinas, aku harus terima. Toh, kesibukannya jelas karena tugas, bukan karena main bersama wanita lain.”
Lama tidak diberi balasan, Kak Bagas berujung menghubungi via panggilan video. Terlebih dulu aku menghela napas dan mengatur hati, supaya nanti tidak terbawa emosi.
“Kakak!” sapaku sambil tersenyum lebar setelah siap melihatnya.
“Marah, ya?” Wajahnya sudah berubah khawatir.
“Enggak.” Kepalaku menggeleng, tak lupa aku memberinya senyuman untuk meyakinkan ucapan itu.
“Kakak minta maaf. Aslinya, tadi kakak lupa mampir ke konter. Kakak sengaja tinggalin HP di kos-an biar terhubung ke WiFi.”
“Iya,” tanggapku atas penjelasannya yang sama seperti via pesan.
“Iya, gak marah ‘kan?”
“Enggak. Dara gak marah,” ulangku lebih mantap lagi.
__ADS_1
“Hah! Kirain marah. Adek cuma read, doang, tadi.”
Cuma read, doang, karena aku fokus menata hati.
“Iya, tadi adek pergi dulu ke kamar mandi. Belum sempat balas chat Kakak.” Setidaknya, aku berbohong demi kebaikan. Demi kelancaran hubungan.
“Kakak janji, besok bakalan beli kuota biar kita chattingan lagi.”
“Hm.” Kepalaku manggut.
“Adek kenapa belum tidur?” tanyanya sudah berlalu dari obrolan menghilang seharian.
“Baru pulang. Tadi diajak kak Aya nonton.”
“Oh, pergi sama kak Aya. Tumben banget.”
Nah, dia pasti tahu kalau ini tidaklah wajar. Kak Soraya memang jarang mengajakku keluar. Wajar saja, jika tadi aku bisa langsung menebak niat dibalik ajakan main tersebut.
“Aku disuruh perhatiin temennya.” Setidaknya, aku harus jujur kepada Kak Bagas.
“Merhatiin gimana maksudnya? Temen cowok?”
“Lho, kok, kak Aya begitu? Dia, kan, tahu Adek punya kakak. Kenapa suruh merhatiin temennya?”
Belum apa-apa dia sudah salah paham.
“Huh! Kakak, kan, tahu kak Aya kurang peka soal cinta-cintaan. Dia suruh adek merhatiin temennya karena kepengin tahu, temannya ini benaran suka atau cuma manfaatin, doang, begitu.”
Setelah mendengar penjelasan singkat, Kak Bagas terlihat mengembuskan napas. “Terus Adek udah dapat hasilnya? Temennya beneran suka, gak, sama kak Aya?”
Aku menggigit bibir bawah, berujung bingung menjawab pertanyaannya yang sekarang. Kalau Kak Bagas tahu, dia bakalan berpikir jernih tidak, ya? Aku tidak akan disalahpahami, kan?
“Sayang, jangan bilang kalau temennya naksir Adek!”
“Eh, kok, tahu?” Mataku lantas terbelalak, tidak menyangka kalau Kak Bagas akan menebak demikian.
“Kelihatan,” dengkusnya sambil memalingkan wajah dari layar. “Hah! Kak Aya gimana, sih? Udah tahu Jegeg, pakai dibawa-bawa ketemu cowok.”
“Ngedumel apa?” ejekku menahan geli. “Coba ngomongnya sama adek, sini! Jangan bisik-bisik ke diri sendiri!”
__ADS_1
“Iya, udah tahu punya adik cantik, pakai dibawa-bawa ketemu cowok. Kalau temennya benaran naksir gimana? Kan, berabe,” gerutunya dengan nada tinggi.
“Kok, bisa berabe?” Rasanya, aku tidak ingin melepaskan Kak Bagas yang sedang terbakar api cemburu.
“Ya, iyalah! Kita, kan, lagi LDR. Zona yang paling berbahaya walaupun kita udah saling jaga hati. Benar, ya. Baru juga mulai udah dikasih ujian,” cerocosnya dengan wajah kemerahan.
“Cie, ada yang ketar-ketir karena ceweknya dikeceng cowok lain,” ejekku masih ingin melihatnya cemburu.
“Cie, ada yang suka dikecengin cowok lain, padahal cowoknya di sini jutekin perawat cantik,” balasnya tidak mau kalah.
“Oh ... oh ... oh, begitu, ya?” Aku semacam mendapat bocoran dari dirinya tentang perawat cantik. “Jadi, di sana ada perawat cantik, ya? Terus yang di sini gak cantik lagi, gitu?”
“Bu-bukan gitu, Sayang. Kakak cuma asal---“
“Gak mau tahu,” pungkasku. “Cerita sekarang tentang perawat cantik!”
“Gak ada,” katanya tiba-tiba berubah ucapan. “Gak ada perawat cantik, kok, gak ada.”
“Ah, masa? Tadi bilangnya perawat cantik. Berarti ada yang cantik, dong. Berani banget bilang cewek lain cantik, padahal lagi video call sama adek.”
Aku tidak marah. Hanya berpura-pura untuk melihat seberapa hebatnya Kak Bagas dalam menghadapi diriku yang terbakar api.
“Enggak, Sayang, enggak. Tadi asal ngomong. Suer! Gak ada perawat cantik di sini, di dunia ini. Udah paling bener kalau pacar kakak yang cantik. Udah!”
“Ah, masa?” godaku yang malah membuatnya tersenyum.
Hening beberapa saat karena dia tidak menjawab. Hanya aksi saling tatap yang mengisi kekosongan kami sementara waktu. Tak berapa lama kemudian, Kak Bagas membuka mulut untuk mengisi kesunyian ini.
"Kakak kangen."
Ah, tanpa diberitahu juga aku tahu karena turut merasakannya.
"Jaga hati, ya.”
“Kakak juga, ya,” balasku.
“Lusa kakak pulang. Tunggu, ya!”
“Pasti. Selalu ditunggu dan dinanti, pokoknya.”
__ADS_1
***