Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 30 | Masih Bersabar


__ADS_3

Aku pikir segalanya akan baik-baik saja setelah makan malam batal. Sebisa dan semampunya, aku tetap memberi kesan baik kepada Kak Bagas yang terus-terusan merasa bersalah. Sikapku tetap sama, seolah semua tidak pernah terjadi, padahal hati begitu merongrong ingin menuntut lebih.


Kini, bukan lagi pesanku yang tidak menjadi prioritas. Sekarang aku lebih sering menunggunya mengirim pesan, membuat panggilan, dan sejenisnya. Aku tidak mau pesanku terlalu lama mengambang. Cukup melelahkan menunggu kabar yang kadang tidak kunjung datang. Sabarku dalam menghadapi krisis hubungan berakhir diam karena terlalu lelah dalam segala hal.


Terlebih hari ini. Seolah kesedihan belum menampakkan ujungnya, Kak Bagas membuat sebuah panggilan hanya demi memberikan informasi yang menyayat hati.


"Kayaknya, kakak batal rayain ultah Adek."


Ingin menjerit dan membentak, tetapi sekuat tenaga menahan karena bagiku satu sambungan telepon itu berharga. Aku tidak ingin waktu terbuang percuma karena egoku dan rasa ingin lebih diperhatikan ini.


"Boleh adek denger alesan Kakak?"


Jantung dan suasana hati berubah tidak karuan. Posisi dudukku di bangku kantin sudah tidak nyaman seperti sebelumnya. Menegangkan memang menunggu jawaban Kak Bagas ini.


"Kakak tuker OFF sama siswa dari sekolah lain."


Kenapa bisa? Kenapa harus? Sepenting apa alasan dia sampai Kakak rela menukar hari libur? Kakak lupa janji waktu Senin malam? Kakak janji mau merayakan hari ulang tahun Dara di hari esok. Nyatanya, semua keluh kesah itu hanya mampu terucap di hati terdalam. Begitu bodohnya, aku malah menanyakan hal yang tidak terlalu penting-penting amat. "Memangnya, dia mau ke mana?"


"Bilangnya, sih, mau nemenin ibunya kontrol ke rumah sakit."


Ngilu. Terasa sakit, tetapi tidak berdarah. Mataku sampai berkaca-kaca karena dada sudah sesak tak tertahankan.


"Gak masalah kan, Yang? Keputusan kakak bener, gak, nih? Kakak takut Adek marah."


Takut aku marah, kenapa masih dilakukan juga?


"Terus ... janji Kakak waktu Senin malam gimana?" Bibirku sampai bergetar ketika mengucapkan itu.


"Oh, iya, ya. Kakak udah janji mau kasih Adek hadiah. Atau begini, aja. Hadiahnya kakak kirim via kurir, biar Adek cepet terima. Gimana?"


Aku mengangguk, mengulas senyum, walau hati tertampar habis-habisan. Bukan itu yang aku inginkan. Sama sekali bukan! Aku ingin kamu yang datang, kamu yang kemari, kamu yang temani aku. Urusan hadiah bisa kita bahas belakangan. Tidak ada hadiah pun tidak menjadi masalah buatku.


"Sayang? Gimana? Kok, diem, aja? Marah, nih?"


"Urusan itu, sih, terserah Kakak, aja."


Sebutir air mata mengalir begitu saja. Riska, Putri, dan Eren yang melihat hal itu langsung membelalakkan mata dan menunjuk ke arah wajahku. Tak ingin Kak Bagas tahu, buru-buru aku menyeka tetesan air itu seraya telunjuk menempel di depan bibir. Mereka harus diam, supaya Kak Bagas tidak mendengar.


"Oh, ya, udah. Pulang dinas kakak cari ekspedisi. Semoga suka hadiahnya, ya, Sayang."


"Hm ... makasih, ya," ucapku dengan logat bahagia.


***

__ADS_1


Rupanya godaan belum cukup sampai disitu. Dia yang berencana menukar hari libur tetap tidak bisa bertemu denganku karena sesuatu yang katanya penting dan mendesak.


Kalang kabut, aku sampai meminta izin kepada pengajar di kelas karena ingin meminta penjelasan atas alasan Kak Bagas. Aku khawatir alasan ini ada sangkut-pautnya dengan kesehatan atau sejenisnya yang benaran mendesak.


Namun, hatiku lagi-lagi dibuat hancur begitu mendengar alasan tersebut. Tubuh yang bersandar ke pintu toilet kamar mandi pun langsung terduduk saking lemas dan tidak berdayanya menghadapi tingkah barunya yang begitu unik.


"Kakak sehat, moge yang gak sehat."


"Oh ... moge, ya?" Senyumku tidak bisa menyembunyikan bibir yang bergetar.


"Iya. Libur minggu ini mau kakak pake buat benerin moge. Mumpung ayah lagi baik mau biayain servisnya. Lumayan, kan, Yang. Uang yang kakak kumpulin bisa kita pake jajan sepuasnya."


"Iya, ya, lumayan." Aku bicara seadanya.


"Tunggu, ya. Modal ketemunya kakak benerin dulu. Minggu depan kalau moge udah sehat, kakak turun gunung buat ketemu Adek."


"Oke, Kak."


"Adek lagi apa? Kenapa bisa telepon kakak? Lagi gak ada guru, gitu?"


Ada. Justru dengan gilanya aku meminta izin ke kamar mandi karena ingin mendengar alasan atas ketidakhadiran kamu di sini.


"Gurunya ada, kok," kataku. "Adek lagi di kamar mandi."


Aku tersenyum. Senyum terpahit karena dia dengan santainya bicara begitu. Sudah tahu aku rindu, tetapi tidak mengusahakan untuk bertemu.


"Sayang?"


Dia menegur karena aku malah terdiam lama. Terlalu banyak kata yang aku tahan sampai takut keceplosan. Alhasil, hanya ini jalan satu-satunya memungkas segala hal yang melewati pemikiran. "Kak, adek masuk kelas dulu, ya."


"Oke, nanti Adek pulang sekolah kakak telepon balik, ya."


***


Kesekian kalinya dia ingkar. Harapanku atas telepon balik itu terpaksa musnah. Dia tidak ada menelepon, memberi pesan, atau apa pun. Segalanya berjalan seperti itu sampai tiga hari berlalu.


Aku sudah mencoba berusaha, mengirimkan pesan, membuat beberapa panggilan, tetapi hasilnya tetap sama. Dia tidak menjawab karena berada di luar jangkauan. Saking penasaran dan dilanda sejuta kekhwatiran, aku memberanikan diri menghubungi Kak Cecilia. Yakin hati, sih, dia pasti tahu keberadaan Kak Bagas karena mereka ditempatkan di lokasi yang sama.


Dari : Kak Cecilia


Dia masuk, kok. Tadi juga sif pagi bareng aku.


^^^Untuk : Kak Cecilia^^^

__ADS_1


^^^Kakak tahu, gak, alasan dia ngilang akhir-akhir ini?^^^


Dari : Kak Cecilia


Ngilang gimana, sih? Susah dihubungi maksudnya?


^^^Untuk : Kak Cecilia^^^


^^^Iya. Dia susah dihubungi. HP-nya juga gak aktif.^^^


Dari : Kak Cecilia


Oke, wait. Aku coba tanya, ya. Mumpung orangnya lewat.


Harap-harap cemas aku menanti balasan Kak Cecilia. Terhitung semenit menunggu, akhirnya balasan itu pun datang.


Dari : Kak Cecilia


Habis kuota, Bebi. Dia gak ada modal buat beli pulsa dan WiFi di kos-annya bermasalah juga.


Kekecewaan yang melanda tidak bertahan lama karena Kak Cecilia membuat sebuah panggilan. Ibu jariku yang lemah sampai bergetar saat menekan layar demi tersambungnya panggilan tersebut.


"Sayang?"


Suara Kak Bagas mendadak terdengar dan mendominasi. Mulutku dibekap sebelah tangan. Ingin rasanya menjerit, menyatakan kerinduan terdalam, tetapi tertahan karena tetesan air mata sudah mewakilinya.


"Sayang, maaf. Waktu itu kakak mau telepon cuma habis kuota. Belum sempat beli sampai sekarang."


Aku mengangguk, menarik napas terlebih dulu sebelum mengutarakan jawaban. "WiFi-nya kenapa?"


"Kata tetangga sebelah, sih, lagi ada masalah. Bapak kos-nya, kan, datang sebulan sekali. Jadi, kami dipaksa nunggu sebentar sampai beliau datang."


Tuhan. Begini amat nasib LDR.


"Adek sabar, ya. Nanti kalau ada uang lebih kakak langsung beli kuota."


Nanti. Kalau ada uang lebih. Kalau ada dan itu entah kapan. Kenapa Kak Bagas tidak terbuka, sih? Aku bisa saja membantu membelikan dia kuota dari sini. Segalanya bisa dilakukan kalau memang dia memiliki kemauan.


"Sayang, udah dulu, ya. HP-nya mau dibalikin ke Cecil. Adek kalau ada apa-apa kasih tahu dulu, aja, dia. Cecil pasti nyampein pesan dari Adek, kok."


"Oh, iya, Kak. Nanti kalau ada apa-apa adek kabari Kak Cecil."


Selesai bertukar pamit, aku langsung memacu langkah menuju ruang di ujung halaman belakang. Tujuanku pasti, ingin mendatangi koperasi demi membeli paket internet untuk orang terkasih. Tidak ada lagi alasan kalau sudah begini. Aku tidak mau dia menghilang lagi. Demi terjaganya komunikasi, aku akan mengorbankan sebagian uang untuk kuota Kak Bagas.

__ADS_1


***


__ADS_2