
Tiada henti mengembuskan napas berat, meskipun raga sudah sampai di pintu rumah. Bingung sedari di jalan tadi. Ke mana aku harus belajar Photoshop atau CorelDraw untuk membuat pamflet dalam semalam? Sekelas YouTube yang banyak memasang tutorial pun tidak sukses mengajariku beberapa tahun silam. Masa, iya, aku harus menyerah pada tantangan Prayoga?
"Ah, bodoh deh. Semoga Kak Soraya bisa bantu."
Kepalaku menggeleng, bermaksud mengusir pemikiran yang bisa melemahkan semangat juang malam ini. Aktivitas membuka sepatu yang tertahan pun aku coba lakoni kembali. Tidak perlu panik, tidak perlu risau, aku punya kakak dan keluarga yang pasti bakalan ikut membantu mengerjakannya.
Setelah memantapkan hati berjuang, tanganku mulai menyentuh kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Ruang tamu kosong seperti biasa, jam petang begini Mami pasti sibuk memasak untuk makan malam keluarga. Menyadari kalau Kak Aya belum pulang, aku memilih menunggunya di kamar.
Derap langkahku lunglai. Tiada henti menundukkan kepala sambil melewati ruang tengah. Suara wajan dan sutil yang beradu mulai terdengar saat aku menaiki anak tangga. Hati sudah terus berharap. Semoga Kak Soraya bisa pulang dengan cepat dan tidak melipir ke rumah teman-temannya. Tepat di anak tangga terakhir, aku mendengar deham seorang lelaki.
"Jangan ditekuk terus, nanti kalau wajahnya bengkok gimana?"
Spontan kepalaku menoleh. Buru-buru mendekati railing, supaya pemandangan di bawah tangga terlihat jelas.
"HAH!" Sebelah tangan lantas membekap mulut. Ya Tuhan, Ya Tuhan. Beneran dia, kan? Aku sedang sadar, kan?
Sosok yang tadi bicara itu melambaikan tangan. Senyumnya yang merekah seakan menjadi pertanda bahwa penglihatanku tidak sedikitpun salah. Benaran ada Kak Bagas di sini. Memberi kejutan dengan datang tanpa wacana.
Niat untuk memasuki kamar jadi berubah haluan. Tidak lagi tertarik merebahkan diri karena ada yang lebih penting dari itu. Pontang-panting aku berlari, membikin Kak Bagas ikut mengatur posisi jadi berdiri di anak tangga terakhir. Tangannya terentang bersiap menyambutku ke dalam pelukan hangat.
Buk!
Satu lompatan dan aku langsung memeluk tubuhnya erat. Pertemuan yang tidak disangka seakan menjadi suntikan semangat untuk bergadang malam ini.
"Kenapa ke sini?" tanyaku sambil menarik kepala, menjauh dari dadanya.
"Gak boleh, ya?" tanyanya balik sambil mengusap belakang kepalaku.
"Maksud adek, kenapa gak bilang dulu?" jelasku.
"Namanya juga kejutan. Emang adek doang yang bisa bikin kakak kaget?"
Ah, pembalasan waktu itu ternyata. Diam-diam datang untuk memberi kejutan. Instingnya tanggap sekali. Tahu saja kalau aku sedang galau.
"Kaget, gak?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Aku mengangguk, semakin mengeratkan tangan yang melingkari pinggangnya.
"Astaga!" Teriakan Mami yang tiba-tiba menarik kepala kami untuk menoleh. "Bagas! Disuruh ambil kecap malah pelukan."
Kak Bagas yang mendapat semprotan hanya terkekeh. "Tadi mau ambil, Mi. Cuma ngelihat Dara sedih, jadi hibur dulu deh."
"Kakak masak?" tanyaku setengah tidak percaya.
"Iya. Nih, kakak sampai pakai celemek!" Dia bergerak melepaskan dekapan untuk menunjukkan balutan kain yang sama warnanya dengan Mami.
Aku tersenyum. Antara kagum dan gemas. Cocok juga Kak Bagas memakai celemek wanita. Makin naik level kegantengannya.
"Malah ngobrol. Jadi, Bagas mau bantu mami atau nemenin Dara, nih?"
Nah, lho, diberi dua pilihan. Dia pilih siapa coba?
Kak Bagas menatapku dan Mami secara bergantian. Seolah kebingungan memilih dua wanita dihadapannya. Hingga tak berapa lama kemudian, dia terkekeh sambil menarik tanganku ke dalam genggaman. "Kalau Bagas mau nemenin Dara boleh, gak, Mi?"
***
Jadilah aku yang diperlakukan sebagai tamu. Setelah menyusul Mami ke dapur untuk melepas celemek, Kak Bagas kembali membawa nampan berisi jus jeruk dan biskuit camilan.
"Nona mau istirahat di mana?" godanya setelah berdiri berhadapan denganku.
Aku terdiam, memandanginya dengan gelengan kepala. Sudah berlagak ala-ala pembantu, nih. Boleh juga. Kenapa Kak Bagas tidak melamar sebagai pembantu Mami saja coba? Pasti langsung diterima.
"Mang Ujang mau simpan jusnya di mana?" Aku balik melemparkan godaan.
__ADS_1
"Lho, kok, Mang Ujang?" Tidak terima dan mulai sewot.
"Habis gayanya kayak pembantu mami waktu dulu. Panggil nona segala," cibirku.
"Kan, biar Ayang senyum." Dia beralasan.
"Ya, udah taruh di meja TV, aja. Adek mau ke kamar dulu." Aku sudah memutuskan.
"Mau ngapain ke kamar?" tanyanya.
"Mandi sama ganti baju. Masa Kakak wangi, adek bau keringat?"
"Gak akan minum dulu?" Dia menawarkan sambil menggoyangkan nampan.
Ingin minum, sih, tapi gengsi. Kak Bagas sudah jauh-jauh ke sini. Pakai baju rapi, bersih, dan wangi.
"Adek mandi dulu, aja," tolakku lembut. "Sebentar, kok, gak akan lama."
"Hm, ya, udah. Kakak nunggu Adeknya sambil bantu mami lagi, deh."
"Rajin amat. Emang Kakak bisa masak?" Sedikit meremehkan, tetapi dia malah tertawa riang.
"Gak bisa. Dari tadi kakak cuma bantu lihatin," gelaknya.
***
Kata sebentar yang aku gunakan dalam hal mandi, benaran terjadi. Tidak memakan waktu lama, aku sudah berganti busana dari seragam jadi baju santai. Kami duduk-duduk di ruang keluarga, menyantap beberapa camilan beserta minuman yang disajikan Kak Bagas.
"Habis kumpul OSIS, ya?" Tebakannya memulai percakapan kami sore ini.
"Iya. Ada konsep baru lho, Kak." Dia belum tahu soal open house, kan?
"Buat pentas seni?" tanyanya dan aku mengangguk. "Konsep baru apa?"
"Oh, ya?" Dia terdengar tertarik. "Makin keren aja, ya. Kakak nonton gak, nih?"
"Hm ...." Aku berpikir sejenak. "Gak usah, lah."
"Hah? Kenapa?"
"Nanti banyak yang naksir lagi." Apalagi kalau mereka tahu Kak Bagas ketua OSIS. Bisa diajak foto bareng nanti.
"Oke. Kakak bakalan dinas, aja," ujarnya sambil mengangguk.
"Cie ... langsung nurut." Aku tertawa kecil.
"Iya, lah. Kalau kedatangan kakak bikin pacar cemburu, mending kakak gak usah datang, aja."
"Sip. Betul!" Aku mengapungkan ibu jari ke hadapannya. "Eh, iya. Kakak besok libur?"
"Enggak." Kepalanya menggeleng.
"Terus kenapa bisa turun gunung?" Dia sedang menerapkan pulang-pergi atau bagaimana?
"Biasa, Sayang. Kakak kebagian jumping sif. Besok sif malam. Jadi, hari ini kakak tidur di rumah ibu. Besok siang baru berangkat kerja."
"Oh, jadi di tidur di sana kalau kebagian sif pagi, aja?"
"Yup, begitu." Dia tersenyum sambil mengacak pelan rambutku.
"Bakal terus kayak begitu, Kak?" tanyaku penuh harap.
__ADS_1
"Iya, kayaknya bakal terus gini. Biar ketemu Adek dua hari sekali."
Aku terdiam. Semakin galau kalau dihadapkan pada situasi begini. Ingin mendukung keputusan Kak Bagas, tapi takut dia kelelahan.
"Gak seneng, ya?" tanyanya sambil menyentil ujung daguku.
Aku mengakui. "Takut Kakak kecapekan."
"Enggak. Gak akan. Mumpung ada uang lebih dan mumpung moge sehat juga," katanya.
Dia memutar posisi jadi duduk menghadapku. "Jangan khawatir! Kakak mantap mau pulang-pergi dua hari sekali. Udah gak betah di sana lama-lama." Tangannya mengusap sebelah pipiku. "Sekarang kakak mau tanya boleh?"
"Tanya apa?"
"Ada masalah apa di sekolah?"
"Hah?" Keningku mengeryit. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu?
"Lagi ada masalah di sekolah, ya?" tanyanya lagi.
"Masalah, sih, enggak. Cuma lagi ada beban, aja." Sepertinya, dia mengingat wajah murungku ketika menaiki tangga tadi.
"Beban apa?" Suara yang bertanya itu begitu lembut dan menghangatkan. Dia seolah berkenan menjadi sandaran dan limpahan kekesalanku atas perintah Prayoga.
"Adek disuruh bikin pamflet via Photoshop atau Corel. Disuruh bikin proposal sama surat edaran juga." Ceritaku.
"Disuruh sama siapa? Pak Abigail?"
"Bukan," sanggahku. "Sama Prayoga."
"Lah, pamflet itu tugasnya anak mading sama jurnalis. Kakak biasa minta mereka, kok. Ya, memang kerjanya lama, tapi editan mereka oke-oke. Mereka juga tahu tata letak pemasangan informasi, biar banyak orang yang lihat."
"Mungkin karena kerja mereka lama jadi Prayoga nyuruh adek," kataku berusaha menyimpulkan pemikiran Prayoga.
"Tapi Adek jadi keteteran kalau begitu." Dia sedikit ngegas. "Deadline-nya kapan?"
"Besok—"
"Gak kira-kira!" umpatnya. "Prayoga kenapa jadi begitu?"
"Mana adek tahu, Kak. Mood dia jadi berubah setelah keluar ruang Pak Abigail." Aku juga tidak tahu alasan dia berubah begitu.
"Dia kira nge-desain pamflet bisa selesai satu malam apa? Perlu mikir ide warna dan kata-kata."
Ujungnya, jadi Kak Bagas yang kesal dan aku yang terdiam.
"Hah, astaga!" Dia mengerang sembari memijat kening sendiri. "Maaf, maaf. Malah kakak yang ngomel."
Aku tersenyum mendengar kesadaran dirinya.
"Ya, udah kalau deadline-nya besok, kita kerjain sekarang bareng-bareng, gimana?"
"Bareng-bareng?" Sedikit bingung dengan satu kata itu.
"Iya, bareng-bareng. Kakak bantu." Dia menepuk dadanya pelan.
"Memangnya Kakak bisa desain?" Bukan meremehkan, kali ini aku hanya bertanya saja.
"Bisa, dong."
"Serius?" Mataku langsung berbinar.
__ADS_1
"Duarius!" Dia tersenyum lebar sambil mengapungkan dua jari dengan percaya diri.
***