
Sudah lewat lima belas menit dan Kak Arfan belum sampai rumahku. Pertama kalinya, lho, ini. Biasanya kalau tidak jadi menjemput dia selalu memberi kabar, baik itu pesan atau telepon. Aku sudah mengigit kuku ibu jari sampai pendek, menatap jam yang tertempel di dinding dengan gemas. Tak hentinya aku menelepon Kak Arfan meskipun orang yang bersangkutan tidak menjawab panggilan.
"Dek, kok, belum berangkat?" Kak Sonia yang baru selesai sarapan agak terkejut melihatku masih bersandar di sofa tamu.
"Arfan belum jemput," dumelku tanpa mengalihkan pandangan.
"Udah jam enam lebih empat lima, lho, ini!" Suaranya mendadak meninggi. "Dia enggak akan jemput kali, udah mending pergi sendiri, aja."
Emosiku mendadak meluap, padahal Kak Sonia baru mengatakan hal itu. Mataku semakin tajam melihat jarum jam yang bergerak, tetapi tak membawa Arfan ke hadapanku.
"Udah di chat belum?" tanya Kak Sonia sembari membawa sepatu dari rak lalu memakainya.
"Dari hari Minggu enggak ada kabar," dumelku pelan karena sudah tak berselera.
"Lah, terakhir ketemu berantem emang?"
Aku menggeleng. Terakhir bertemu di lapangan sekolah, saat dia pergi terburu-buru demi seorang Cecilia.
"Mau dianter kakak, enggak?"
"Ya, udah," sahutku lemas.
"Semangat, dong! Kagak dapet kabar bukan berarti dunia kiamat, Ra."
"Udahlah, ayo!" pungkasku tak ingin lagi mendengar ocehannya.
......***......
Kak Sonia mengantarku sampai ke depan gerbang. Sayup-sayup kudengar suara mikrofon yang mulai membaca pembukaan upacara bendera. Sudah pasti telat, aku memilih turun dari motor dengan tenang.
"Ra, kamu telat, tuh!" Kak Sonia menatap pintu gerbang yang sudah ditutup dan dikunci dari dalam.
"Ya, udahlah. Mau gimana lagi?" Ucapanku memang terdengar santai. Namun, isi hatiku berkata lain. Aku takut dihukum oleh guru BK atau tim tatib.
"Semangat, ya! Bilang, aja, kamu pacar Arfan." Setelah melepas ejekan yang enteng di mulut, Kak Sonia menarik gas motornya kencang sampai berlalu menjauh dariku.
Napasku berembus berat. Bagaimanapun ini sudah terjadi, aku tidak bisa mengulang waktu supaya tidak terlambat ke sekolah. Langkah gontai, aku hampiri gerbang yang sudah terkunci itu, mengetuk-ngetuk pelan besi pagar sampai terdengar bunyinya.
"Aduh, aduh! Telat banget ini mah, Néng! Ke mana, aja?" tanya Pak Satpam sambil berteriak, membuat beberapa anak yang berbaris didekat pos menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Maaf, Pak." Aku tidak bisa mengucap banyak kata. Sudah tahu salah dan merasa beralasan tidak akan mengatasi masalah.
"Baris di sana!" tunjuknya ke arah mereka yang rupanya senasib denganku.
Aku melangkah penuh rasa syukur. Setidaknya, aku berbaris bertemankan tiga orang yang tak dikenal. Lokasi di pinggir pos satpam memang terkenal sebagai bak hukuman, jika terlambat masuk sekolah. Kami pasti diminta berdiri di tempat yang terkena sinar matahari sampai upacara dan guru BK mengomeli kami hingga tuntas.
"Kamu bukannya pacar si Arfan? Kok, bisa telat?"
Kepalaku menoleh, begitupun dua orang yang berbaris di sampingnya. Ah, aku bertemu lagi dengan si ikal yang waktu itu menjadi tatib. Mengingat posisinya minggu lalu, senyum sinis jadi tertoreh pasti. "Kakak bukannya petugas tatib, ya?"
Raut wajah yang hendak mengejekku seketika berubah jadi bisu. Dia mengalihkan pandangan ke segala arah untuk meredam sengitnya tajamnya tatapan mataku. Hah, dia kira aku bakal diam saja?
"Pacarnya tatib, tuh, harusnya enggak boleh telat," bisiknya sambil menggeser posisi berdiri.
Mulutku menyeringai, masih dengan tatapan tajam aku memandangnya. "Harusnya, petugas tatib kasih contoh yang bener! Masa telat."
"Jangan ngobrol!" Teriakan itu mengejutkan kami. Badanku lekas mengambil posisi sikap sempurna lagi. Derap langkah seseorang menghampiri barisan orang terlambat.
Mendapati kami yang sudah membungkam mulut, dia berujung tak bicara lagi, hanya berdiri tegak lalu menaruh lengan di belakang badan dengan posisi menghadap ke depan.
Mataku baru mau menangkap wajahnya setelah sepuluh menit dia berdiam diri tanpa mengubah posisi. Wah, dari samping saja wibawanya bukan main! Aku merasa pernah melihatnya, tetapi di mana, ya? Kenapa rasanya tidak asing?
"Pasukan saya ambil alih, siap, grak!"
Pelan, berat, tetapi berbobot. Gila! Pantas saja dia dijadikan Ketua OSIS. Bahkan setara Kak Arfan saja kalah. Eh, aku mulai gila! Kenapa aku membandingkan dia dengan Kak Arfan?
"Setengah lengan lencang kanan, grak!" Dia masih memberi aba-aba. "Istirahat di tempat, grak!" Memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perintah, dia menatap kami satu per satu lalu mulai berkata, "Kalian tahu, kan, hukuman kalau terlambat dan tidak mengikuti upacara?"
"Tahu," jawab tiga orang di sampingku. Aku diam saja, mengikuti mereka. Toh, aku anak baru, jadi kurang hapal dengan hukuman di sekolah ini.
"Oke. Sekarang kalian harus menjawab semua pertanyaan saya. Mulai dari kamu!" Tubuh Kak Bagas menghadap orang yang berdiri di ujung kananku. "Sebutkan nama, kelas, dan alasan terlambat!"
"Nama saya Karina, kelas XI-3, alasan terlambat karena bangun kesiangan."
Aku mendengarkan tanpa mengalihkan pandangan karena takut ditegur dan mendapat kelebihan hukuman.
"Sudah berapa kali kesiangan?" tanya Pak Tatib lagi.
"Baru satu kali."
__ADS_1
Semua diberikan pertanyaan yang sama, sampai tiba giliranku, peserta terakhir yang mengikuti barisan orang-orang terlambat. "Nama saya Dara Dwiana, kelas X-1. Alasan terlambat karena menunggu jemputan." Sontak kejujuranku mendapat tatapan mata dari semua orang.
"Nunggu jemputan?" Alis Kak Bagas terangkat sebelah. Dia tampak meragukan alasanku. "Memangnya kamu nunggu dijemput siapa?"
"Arfan. Dia, kan, pacarnya si Arfan." Jawabanku dilangkahi oleh si ikal. Sialan betul mulutnya!
"Arfan Wiguna?" Aku mengangguk dan dia kembali bersuara. "Kamu enggak tahu Arfan jadi pemimpin upacara hari ini?"
Hah? Ya, aku tidak tahu. Orang bersangkutan tidak memberitahu satu hari sebelumnya.
"Lain waktu kalau komunikasi, tuh, jangan setengah-setengah, ya! Kasian, kan, kamu jadi telat sendirian!"
"Iya, Kak." Aku menjawab asal dan tak mau melihat wajahnya lagi.
"Oke. Sekarang kalian tahu, kan, hukumannya apa?" tanya Kak Bagas yang dijawab oleh semua orang kecuali aku.
"Jalan bebek sampai ke kelas."
......***......
Sesampai di kelas, peluhku sudah bercucuran, melewati pelipis hingga dagu. Aku berjalan terseok menuju bangku yang lekas disambut oleh Riska.
"Minum, dulu, minum!" Dia bahkan membuka penutup botol, memudahkan aku untuk meminumnya. Setengah air botol aku tenggak sampai merasa tenggorokan yang kering terbasahi.
"Kirain kamu absen hari ini," ujar Riska setelah melihatku lebih tenang dan santai.
"Enggak. Aku nunggu Kak Arfan, tapi dia enggak dateng," sahutku pelan karena kehilangan tenaga untuk bicara.
"Ya, ampun! Kenapa harus ditungguin, sih? Jelas-jelas waktu itu dia ninggalin kamu demi cewek lain."
Aku tidak mau menjawab. Pandangan mataku kosong ke arah papan tulis putih. Aku tidak tahu langkahku menunggunya benar atau salah. Tadi pikiranku begitu yakin kalau Kak Arfan pasti datang meskipun terlambat.
"Dara kagak masuk, ya!" Teriak Putri yang aku acuhkan.
Aku tidak menoleh ke sumber suara karena sudah diwakilkan Riska yang bertanya, "Kenapa?"
"Dia dateng kagak?" tanyanya yang kini sudah berdiri di hadapan kami. "Ra, kamu harus ke kantin sekarang!" Putri mengguncang bahuku sampai mataku mau menatapnya serius. "Kak Arfan lagi nembak cewek lain!"
......***......
__ADS_1