
"Syukurlah semua masalah besar sudah selesai. Istana jadi terasa lebih tenteram dan damai."
Floretta yang telah resmi menjadi ratu, menghirup udara segar di taman pribadinya yang asri. Bunga-bunga tampak bermekaran, dikelilingi capung dan kupu-kupu aneka warna. Kelinci putih dan abu-abu berlompatan di atas rerumputan, mencari daun-daun segar untuk sarapan paginya.
"Siapa bilang semua maslah udah selesai?" tegur Alden yang sedang mengancingkan kemejanya.
Floretta memutar tubuhnya dengan cepat. Kejadian tadi malam pun kembali berputar di kepalanya. Dia lalu menutup wajahnya yang memerah bagai apel, dengan rambut panjangnya.
"A-apa maksud Yang Mulia? Apa ada masalah baru?" ucap Floretta Black sambil memunggungi Alden.
Lelaki berkulit pucat itu melangkahkan kakinya dengan tegas. Dia memutara tubuh Floretta dan berhenti tepat di hadapannya.
"Tatap mataku," pinta Alden.
"H-ha?" gumam Floretta tanpa mengangkat wajahnya.
"Kubilang, tatap mataku," pinta Alden lagi.
Floretta tak kuasa menolak permintaan sang suami. Dia lantad mengangkat wajahnya, dan menatap pria itu dengan dada berdegup kencang.
"Flo, minggu ini kita ada kunjungan ke beberapa provinsi. Sebagai tugas awalmu menjadi ratu, kita akan mengadakan kegiatan sosial di tempat terpencil," kata Alden mengingatkan.
Wajah Floretta semakin memerah karena malu. Dia tadi sempat berpikir, kalau Alden hendak membahas kegiatan panas mereka tadi malam. Ternyata lelaki dengan kemeja cokelat itu hanya ingin membahas tentang pekerjaan.
"I-iya. Aku ingat kok, Yang Mulia. Tapi apa itu suatu masalah?" tanya Floretta dengan bingung. Dia memutar bola matanya lagi, menghindari pandangan lelaki tampan di depannya.
"Itu memang bukan sebuah masalah," jawab Alden. "Masalah utamanya ada pada diriku sendiri. Aku belum meminta maaf soal kematian kedua orang tuamu, membohongimu soal sosok burung hantu itu dan sosok asliku," jelas pria itu.
Alden menghentikan kalimatnya sejenak. Dia meraih tangan Floretta, lalu menggenggamnya. "Maafkan aku. Kalau saja aku lebih berani waktu itu, mungkin orang tuamu masih hidup saat ini," kata Alden dengan lirih.
"Sudahlah, Yang Mulia. Ini bukan kesalahan Yang Mulia Raja. Memang sudah ditakdirkan bahwa ayah dan ibuku harus lergu lebih cepat," jawab Floretta dengan nada sedih.
"Aku membawamu ke sini untuk menebus semua kesalahan itu. Memberimu keluarga, kasih sayang dan kehidupan yang layak," balas Alden lagi. "Ah, aku baru ingat. Aku belum sempat menunjukkan hadiah pernikahan yang ku janjikan padamu," lanjutnya.
Floretta tersenyum tipis. Matanya yang biru, melirik Alden Black sekilas. "Aku percaya pada Yang Mulia. Jadi jangan khawatir lagi. Aku juga minta maaf, karena sempat mencurigai dan mencelakai Yang Mulia waktu itu," kata Floretta dengan tulus.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Floretta. Mungkin kamu nggak tahu, tapi sebenarnya lubuk hatimu yang terdalam, sudah menunjukkan rasa percaya padaku," timpal Alden.
"Eh, beneran?"
Alden mengangguk. "Kamu pernah menciptakan sihir amore. Sihir paling langka yang pernah ada," jawab Alden dengan senyuman.
"Tapi kenapa kamu terus memanggilku dengan sebutan 'Yang Mulia?' Kapan aku mendengarmu menyebut 'sayang' lagi? Apa permainanku tadi malam kurang memuaskan? Kamu juga menghindari pandanganku dari tadi," ucap Alden ceplas ceplos.
"Apa? Jelas nggak? Maksudku nggak ada masalah! Semuanya memuaskan. Eh, bukan gitu, sih." Floretta salah tingkah menanggapi pertanyaan Alden.
"Hahaha ... Kamu benar-benar polo, ya. Beruntung aku mendapatkanmu," kata Alden terbahak menertawai istrinya. "Jangan malu-malu gini. Nantinya kita akan melakukannya tiap hari, kok," ujar Alden dengan santai.
"Yang Mulia!" pekik Floretta malu. Wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.
"Tapi, Flo. Aku serius mengatakan. Masalah kita belum benar-benar selesai. Kita harus mengurus masalah dengan paman dan bibimu di dunia manusia," kata Alden dengan wajah serius.
...🦇🦇🦇...
__ADS_1
"Floretta? Astaga, ternyata benar ini kamu."
Seorang lelaki dengan kaos cokelat, menyapa Floretta yang duduk manis di bawa pohon maple. Floretta yang sedang asyik membaca buku pun mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang menyapanya.
"Apa kabar, David Grey?" ucap Floretta dengan nads dan ekspresi datar.
"Ah, aku ..."
David sang mantan kekasih sekaligus saudara ipar dari Floretta itu mendadak malu dengan keadaannya. Keadaan mereka berdua tampak terbalik. Floretta yang dulu hanyalah seorang pelayan, kini cantik jelita. Sementara David saat ini lebih mirip dengan gelandangan dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan.
"Aku baik-baik aja. Tapi aku jarang pulang ke rumah. Cewek gila itu ... Ah, maksudku Violetta selalu merampas seluruh gajiku tak bersisa. Dia dekarang hanya terlihat seperti rubah gemuk yang tak terawat," celoteh David.
"Hmm." Floretta berdehem pelan, tak tertarik dengan kisah sedih sang mantan.
"Kamu sendiri tampak beda, Flo. Sekarang kamu terlihat cantik banget. Aku menyesal nggak mendengarkanmu dulu. Tapi di mana suamimu?" tanya David tanpa rasa bersalah telah mencampakkan Floretta.
"Aku sendirian. Suamiku ..."
"Heee? Kamu juga udah sendiri? Sebenarnya sekarang aku lagi merintis bisnis baru, setelah resign dari perusahaan itu. Apa kamu mau memperbaiki hubungan kita yang dulu?" David semakin berbicara tak tahu malu.
"Tapi dia milikku."
"Eh?" Seorang pria yang muncul dari belakang David, membuat pria itu terkejut. "Bukannya kamu sendirian?"
"Iya, aku memang sendirian. Suamiku sedang membelikan es krim untukku," jelas Floretta, menyambung kalimatnya yang belum usai. Tangan kanannya menerima sebuah es krim stroberi dengan toping cochochips.
"Ah ... Hahaha ...Ucapanku tadi jangan diambil hati. Aku cuma bercanda, kok," kilah David tertawa canggung.
"Tapi aku nggak bercanda. Floretta adalah ratuku. Dia nggak boleh merasa terluka dan direndahkan seperti dulu lagi," balas Alden dengan tegas.
"Lalu, kamu bukan resign. Tetapi dipercat karena menggelapkan uang perusahaan," sindir Alden.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya. Rubah betina itu benar-benar gila. Dia selalu menuntutku untuk memenuhi gaya hidupnya yang hedon. Belum lagi hutang mertuaku yang gak ada habisnya," ungkap David sambil menundukkan kepalanya.
Floretta tersenyum tipis mendengarnya. Ternyata dia tak perlu membalas dendam, untuk membuat pria itu menderita.
"Sebentar lagi kamu akan bebas dari gangguan rubah betinamu itu," kata Floretta menyeringai kecil, menampakkan barisan giginya yang putih.
"Bebas?" ulang David yang tak mengerti dengan ucapan Floretta.
"Iya, hari ini kamu akan menjadi saksi dalam sidang kejahatan yang telah dibuat oleh paman, bibi, dan kakak sepupuku," jelas Floretta.
"A-apa? Aku nggak mau," tolak David dengan tegas.
"Kenapa kamu takut? Bukannya ini kesempatan yang bagus untuk membalaskan dendam pada mereka? Atau kamu juga terlibat dalam kejahatan yang mereka buat?" Tatapan mata Floretta sangat tajam dan mengintimidasi.
"Jadi mereka sengaja menjebakku? Pantas saja beberapa hari ini aku sering melihat Floretta duduk sendirian, di sekitar taman ini," batin David merasa terkecoh.
"Kamu nggak bisa mengelak, David. Karena polisi yang akan menjemputmu," ucap Alden.
Beberapa bulan kemudian. Olive Green dan Jayden Green resmi dijatuhi hukuman mati, karena terbukti melakukan pembunuhan berencana dan melakukan perdagangan manusia terhadap keluarga Blue.
Pasangan suami istri itu juga dijerat dengan pasal pemalsuan data asuransi milik Floretta, hingga eksploitasi anak di bawah umur. Mereka wajib mengembalikan uang asuransi pendidikan yang ditinggalkan Aldric Blue dan Zinnia Blue kepada Floretta.
__ADS_1
Sementara Violetta Green dan David Grey yang terbukti menutupi kejahatan kedua orang tua mereka, dijatuhi hukuman yang lebih ringan. Pasangan itu juga ditimpa dengan pasal perjudian ilegal, serta peminjaman uang dari rentenir.
"Bangsat! Kenapa hidupku jadi hancur lebur begini? Harusnya bocah sial itu yang menderita, bukan aku," umpat Violetta Green dalam hati. "Lihat saja kalau aku sudah bebas nanti. Aku akan membalaskan dendamku pada cewek sialan itu! Aku nggak akan membiarkannya hidup tenang," tekad Violetta.
Sayangnya keinginan itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Violetta akan bebas tiga puluh tahun lagi, saat usianya telah mencapai lima puluh tiga tahun. Atau mungkin saja ini terakhir kalinya dia melihat dan bertemu dengan Floretta.
...🦇🦇🦇...
"Ah ... Cuaca hari ini sangat cerah. Sudah lama kerajaan vampir gak merasakan musim panas seindah ini." Alden Black merentangkan tangannya di bawah sinar mentari pagi yang hangat.
"Memulai hari dengan segelas minuman kesukaanku dan cahaya matahari adalah salah satu kegiatan favoritku," ucap sang raja sambil menyeruput darah kelinci segar di cangkirnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kita nggak jalan-jalan pagi aja? Udah lama kan kita nggak bersantai seperti ini?" ajaknya.
"Bukannya kamu ada rapat dengan kementerian perdagangan hari ini? Kalau terlambat, ketua dewan istana akan memarahimu lagi, lho," tegur Floretta yang sedang mengoleskan selai stroberi ke roti panggangnya. Meski mereka telah saling beradaptasi, tetapi selera makan mereka tetap berbeda.
"Ugh, dasar wanita galak. Padahal aku cuma ingin menghabiskan waktu denganmu," ucap Alden seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kita bertemu setiap hari. Dan saat ini urusan pekerjaan jauh lebih penting," kata Floretta dengan tegas.
"Iya, sayangku. Setelah ini aku akan pergi rapat," ucap Alden yang baru saja menghabiskan darah kelinci dalam cangkirnya. Dia lalu membasuh mulutnya dengan seteguk teh melati. "Tapi sebelum aku pergi, aku harus mengisi energi dulu," imbuhnya.
"Hah? Mengisi energi? Kamu kan baru saja selesai sarapan, Yang Mulia," balas Floretta dengan kening berkerut.
"Maksudku ini." Tanpa aba-aba, Alden mengecup pipi Floretta, lalu memeluknya dengan mesra
"Iiiih ... Ayah dan Ibu kok bermesraan di depan kita, sih? Aku dan Ansel juga mau dipeluk ayah." Seorang gadis cilik berusia enam tahun memprotes sikap Alden. Matanya yang biru hazel dan kulit pucat, persis sekali dengan Alden Black.
"Tentu saja Aurora dan Ansel juga akan mendapat pelukan sayang dari ayah." Alden lalu memeluk putra putri kembarnya dengan penuh kasih sayang.
Alden sangat bersyukur, memiliki anak yang sehat dan cerdas. Kerajaan juga semakin makmur, sejak Floretta naik menjadi ratu mendampinginya. Seluruh rasa bersalah pria itu pun perlahan sirna.
"Bu, hari ini aku nggak mau makan darah kelinci. Aku mau sandwich tuna dengan ekstra bawang putih aja," kata Ansel, menolak secangkir darah beraroma kuat pada Floretta. Iris matanya yang sebiru lautan, serta rambut hitamnya sangat mirip dengan Floretta. Tetapi taring kecilnya tetap serupa dengan sang ayah.
"Iya, sayangku. Kalau Aurora mau sarapan apa?" tanya Floretta dengan lembut.
"Aku mau sosis darah lembu dan salad kol ungu saja," seru Aurora.
Para bocah blasteran vampir dan manusia itu memiliki sifat dan selera yang unik. Mereka terlahir cerdas, menyukai makanan manusia dan darah seperti vampir dan mampu beradaptasi di cuaca yang sangat panas atau dingin.
"Kalau gitu Ayah pergi dulu, ya," ucap Alden. Kedua anak kembarnya melambaikan tangan dengan kompak. Sementara Floretta hanya tersenyum manis.
"Flo, apa kamu ada waktu siang ini? Ada yang ingin aku diskusikan denganmu."
Setelah Alden pergi, Raven datang menemui sang ratu. Anehnya, pria itu selalu menghindari bertatapan langsung dengan adik iparnya.
"Tentu saja aku ada waktu, Pangeran? Jadi, apa yang mau kita bahas?" tanya sang ratu berusaha memandang wajah tampan pria itu.
"Ini masalah sengketa di perbatasan. Menyangkut hidup ribuan anak kecil." Lagi-lagi Raven menghindari tatapan sang ratu.
Padahal sudah tujuh tahun berlalu, apa Pangeran belum melupakanku? Sudah banyak putri cantik dan baik hati yang bersedia menjadi istri Pangeran," kata Floretta tiba-tiba.
"Ah, i-itu ... aku masih ingin sendiri, kok. Bukan apa-apa," kata Raven dengan gugup. Wajahnya memerah bagaikan apel segar.
"Ternyata Pangeran bukanlah vampir mengerikan seperti yang dikatakan orang banyak. Pangeran hanyalah lelaki biasa yang setia. Semoga suatu hari nanti Pangeran membuka hati lagi untuk wanita lain," gumam Floretta lirih.
__ADS_1
Raven hanya tersenyum tipis sambil memandang wanita yang telah mencuri hatinya itu. "Ya, semoga saja," batinnya.
...~~ Tamat ~~...