
"Selamat pagi, Yang Mulia. Apa Yang Mulia memanggilku?"
Floretta menemui Raven, yang memanggilnya dini hari begini. Para pelayan saja belum pada keluar dari kamar mereka. Hanya ada beberapa pengawal yang berjaga.
"Ya, aku memanggilmu," jawab Raven yang masih nengenakan piyama berwarna hitam pekat. Rambutnya yang terlihat acak-acakan entah kenapa justru membuatnya semakin tampan. "Mulai hari ini kamu akan aku berhentikan sebagai pelayan pribadiku," sambungnya.
"Eh, kenapa? Apa karena aku melakukan kesalahan kemarin, Yang Mulia?" tanya Floretta merasa bersalah.
Raven menggelengkan kepalanya. "Tugasmu sudah selesai, dan kamu juga udah lulus melalui ujianku," jelas pria itu. "Mulai hari ini kamu resmi diangkat sebagai asisten pribadi Yang Mulia Raja. Pengumunan resminya akan disebarkan melalui webiste istana," imbuh sang pangeran dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Wah, yang benar?" Floretta masih tak percaya, mendengar ucapan kakak iparnya tersebut.
"Memangnya kapan aku bercanda padamu? Bukankah seorang istri seharusnya mendampingi suaminya?" balas Raven. Dia memandang Floretta sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya.
Floretta melebarkan kelopak matanya, dan senyumnya mengembang. "Terima kasih, Yang Mulia," jawabnya sangat bersemangat.
"Hm." Raven berdehem tanpa menunjukkan ekspresinya.
"Sebenarnya dia ikhlas menaikkan jabatanku apa nggak, sih?" tanya Floretta dalam hati.
"Tapi sebelum pergi, ayo ikut denganku sebentar," perintah Raven.
"Eh? Ke mana?" Floretta masih trauma mengikuti Raven seperti waktu itu. Terakhir kali dia pergi mengikuti pangeran vampir itu, nyawanya hampir melayang.
"Jangan membantah! Ayo ikut saja. Aku nggak akan berbuat macam-macam padamu," kata Raven memaksa.
"Ba-baik, Yang Mulia," jawab Floretta. "Pokoknya kalau dia macam-macam, aku akan langsung menendang anunya, seperti malam itu," tekad Floretta dalam hati.
"Kau nggak perlu melakukan itu. Sudah ku bilang aku nggak akan melakukan aneh-aneh padamu, Putri Floretta. Aku juga masih ingin hidup tenang dan menikahi seorang wanita," ucap Raven tiba-tiba.
"Nah, kan? Anda bisa membaca isi pikiranku?" Floretta yang berjalan di belakang Raven pun bergidik ngeri.
Raven hanya menyeringai kecil, sambil mengayunkan kakinya menuruni tangga batu. Tampaknya ruangan itu adalaj bangunan kastil yang lama.
"Eh? Anda kembali membawaku ke sini?"
__ADS_1
Floretta bingung, karena mereka tiba-tiba memasuki perpustakaan pribadi milik keluarga Black, yang menyimpan kenangan kelam sang pangeran. Padahal mereka melalui jalan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
"Hm ... Aku ingin memberi hadiah, karena hasil kerjamu cukup memuaskanku," kata Raven sambil tersenyum tipis.
"Ha-hadiah?" ulang Floretta dengan suara tercekat.
"Hei, jangan mulai berpikir aneh-aneh lagi. Pilihlah beberapa buku yang kau sukai. Aku meminjamkannya untukmu," kata Raven.
"Ini beneran?" tanya Floretta ragu.
"Ya, cepat pilih. Kamu boleh mengambil maksimal lima buku. Syaratnya, kau harus benar-benar membacanya, dan menjaganya," perintah Raven.
Floretta pun memilih-milih buku yang ingin dia baca. Raven menunggunya dengan sabar, sambil memainkan ponselnya.
"Aku mau pinjam buku ini, Yang Mulia," ucap Floretta, sambil meletakkan lima buah buku tebal di atas meja.
"Astaga! Memilih buku pun kau nggak bisa," gerutu Raven sambil mengambil buku yang dipilih Floretta, dan mengembalikannya ke rak. Dia hanya menyisakan satu buku di atas meja.
"Loh, tapi tadi katanya aku boleh memilih buku sendiri?" protes Floretta.
"Ya, tapi buku-buku itu nggak ada ilmu yang bisa kau ambil, kalau harus menjadi calon ratu," kata Raven. "Nih, untukmu. Baca dengan benar. Aku akan mengetesnya nanti," kata Raven.
"Kenapa?" tanya Raven sambil memalingkan wajahnya.
"Apa pangeran sudah memutuskan, untuk mendukungku jadi calon ratu?" tanya Floretta.
"Masih belum. Aku harus mengujimu beberapa kali lagi. Makanya kau harus belajar dengan baik. Karena kalau tidak, aku akan merebut tahta Alden dan menjadi raja yang kejam," kata Raven.
Floretta tersenyum mendengarnya. "Terima kasih, Pangeran. Aku tahu Pangeran itu orang yang baik. Kalau sewaktu-waktu Pangeran butuh teman, aku akan datang dan mendengarkan curhat Pangeran," kata Floretta dengan senyum manisnya yang menggoda.
"Apa, sih? Lebay banget. Aku tuh Pangeran dingin yang kejam, nggak butuh teman," kata Raven. "Belajar aja dengan baik. Aku dan Alden juga udah meminta Bibi Jasmine untuk mengajarimu bagaimana kehidupan putri bangsawan di sini," sambungnya.
"Sekarang pergilah. Aku mau menyambung tidurku yang tertunda. Kau ingat jalan keluar dari sini, kan?" kata Raven mengusir sang putri.
"Tindakanku ini sudah benar, kan? Beginilah aku seharusnya, menjaga jarak dengan istri dari adikku ini. Aku nggak boleh menyukainya," pikir Raven bernapas lega.
__ADS_1
Bruak! Pintu perpustakaan pun tertutup rapat. Floretta hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Astaga! Yang Mulia! Sejak kapan kamu di situ?" Floretta melonjak kaget, melihat sang raja berdiri sambil bersandar di dinding samping pintu perpustakaan.
"Sejak awal kamu datang ke sini," jawabnya seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah selama itu? Memangnya Yang Mulia nggak tidur? Nanti ada pertemuan dengan menteri perdagangan, kan?" ucap Floretta.
"Gimana aku bisa tidur, kalau istriku yang cantik ini berduaan dengan kakakku di waktu subuh begini? Padahal dia nggak mau ku ajak malam pertama, tetapi malah keluyuran di kastil seorang pangeran," kata Alden dengan nada sedikit kesal.
"Aaahh ... Jadi raja vampir ini sedang cemburu?" goda Floretta.
"Apanya yang cemburu? Aku cuma khawatir, calon ratu yang udah susah payah aku bawa dari dunia manusia, malah tewas di mangsa kakaknya sendiri," kata Alden mengelak dari tuduhan Floretta.
"Iya deh, iya. Aku percaya. Apa sekarang Yang Mulia Raja Vampir ini mau membantuku membawakan buku? Tanganku rasanya sudah pegal." Floretta menyodorkan buku-buku super tebal itu pada suaminya.
"Tanpa kamu minta pun, aku akan membawanya," kata Alden.
...🦇🦇🦇...
Setelah Floretta diberhentikan dari pelayan pribadi sang pangeran, situasi istana pun mulai berubah. Floretta tidak perlu memakai seragam pelayan dan melakukan pekerjaan kasar lagi.
Tatapan para pelayan perlahan juga berubah. Mereka sudah jarang mencibir dan menggosipkan Floretta. Bahkan mereka sering menghindar, jika tanpa sengaja berpapasan dengan calon ratu vampir itu.
Tapi sejak itu pula, Floretta tak pernah bertemu dengan Pangeran Raven lagi. Pria itu selalu mengurung diri di kamarnya. Dan menghindari setiap acara internal istana yang dihadiri oleh Floretta.
"Pangeran benar-benar membingungkan, ya? Kalau dia masih nggak suka padaku, kenapa nggak membunuhku seperti para wanita lainnya?" cerita Floretta pada sang bibi melalui video call.
"Bibi nggak tahu jawabannya, Flo. Tapi menurut Bibi, ini adalah caranya untuk menghindari pandangannya dari dirimu" jawab Jasmine.
"Kenapa? Apa karena darahku?"
Jasmine menggeleng. "Dari rasa cintanya padamu," kata Jasmine. "Kamu juga mengingatkannya pada orang itu. Dia nggak mau membuat kesalahan dua kali," sambung sang bibi.
"Orang itu? Siapa maksud Bibi?" tanya Floretta penasaran.
__ADS_1
"Ah ... I-itu ... Sebaiknya Raven sendiri yang cerita padamu," jawab Jasmine terbata-bata, yang baru sadar kalau dia keceplosan.
(Bersambung)