Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 41. Calon Selir


__ADS_3

"Baiklah."


Semua bangsawan di sana tersenyum, mendengar sepatah kata yang keluar dari bibir mungil Floretta. Itu artinya kemenangan berada di pihak mereka, dan manusia ini akan me nyingkir ke dunia manusia.


Floretta menjulurkan tangan kanannya, dan menyodorkan surat pembatalan pernikahan dirinya dengan sang raja vampir. Edmund pun menyambut surat itu dengan wajah sumringah.


Srak! Tiba-tiba Floretta merobek surat yang belum sempat disentuh oleh ketua dewan istana tersebut.


"Floretta! Jangan lakukan itu!"


Lengkingan suara pria dari arah pintu, membuat semua pandangan beralih ke sana.


"Yang Mulia Raja?" gumam Floretta dengan nada datar.


Wanita itu nggak kaget lagi, melihat kedatangan sang suami di sana. Para pelayan sudah pasti melaporkan, ke mana dia pergi pagi ini.


"Dasar perempuan j*l*ng! Apa yang baru aja kamu lakukan?" Russel menghardik sang putri, tanpa peduli ada raja vampir di sana.


Alden yang melihat itu semua membeku di tempatnya berdiri. Kepalanya masih mencerna, apa yang barusan terjadi. Bukankah Floretta datang untuk menyerahkan surat pembatalan pernikahan mereka?


"Hanya karena aku seorang manusia, apa kalian pikir aku ini lugu dan bodoh?" Floretta berbicara, sembari menatap seluruh anggota dewan satu per satu.

__ADS_1


"Aku sudah mengecek semua aset yang hendak kalian kasih padaku, sebagai kompensasi menandatangani surat ini. Dan semuanya fiktif," sambung sang putri lagi.


"Sialan! Gimana caranya dia mengecek semua itu? Apa dia meminta bantuan Alden?" gerutu Daisy Krimson dalam hati.


Para anggota dewan tidak bisa bicara banyak lagi, karen raja vampir yang agung telah ada di dalam ruangan itu bersama mereka.


"Oh iya, sayang. Tadi kamu bilang, 'jangan lakukan itu.' Kamu melarangku untuk merobek kertas itu, atau melarangku memberikan surat itu?" Floretta berbicara dengan nada manja pada sang suami.


"Sayang? Ini pertama kalinya dia memanggilku sayang." Hati Alden berbunga-bunga, mendengar kata-kata itu.


"Tentu saja aku melarangmu menyerahkan surat itu. Seperti yang kamu bilang tadi, mereka nggak bisa dipercaya," ucap Alden beberapa saat kemudian.


Floretta tersenyum puas, mendengar jawaban dari sang suami. "Aku nggak akan mundur sebagai ratu. Apa kalian pikir, derajat kalian jauh lebih tinggi dari manusia, hanya karena bisa meminum darah bangsa kami?" ucap Floretta sambil menyeringai lebar.


"Undang-undang yang mana?" potong Floretta dengan nada sindiran.


"Dari seluruh undang-undang yang aku baca, seorang ratu harus memiliki fisik dan jiwa yang sehat, mampu melalui berbagai ujian calon ratu, dan juga bersedia mendampingi raja dalam keadaan apa pun. Tidak ada satu undang-undang pun yang menyebutkan, bahwa calon ratu vampir harus seorang vampir."


Alden sang raja vampir tersenyum semang, mendengar penjelasan dari Floretta barusan. "Sepertinya aku nggak salah memilih calon ratu. Dia benar-benar cerdas dan pemberani," bisik Alden dalam hati.


Sebaliknya, para anggkta dewan justru bersungut kesal.

__ADS_1


"Cewek gila! Dia menyelidiki semuanya sampai sedetail itu?" gumam Daisy saat mendengar ucapan Floretta.


"Aku bukan wanita gila, Duchees Daisy. Aku hanya ingin mencari tahu, apakah pernikahanku ddngan Yang Mulia Raja adalah hal terlarang?" Floretta membalas


Daisy bersungut kesal, karena ditegur langsung oleh Floretta seperti itu. Dia tak menyangka, bahwa manusia yang memiliki pendengaran sangat terbatas, bisa mendengar suaranya yang memiliki intonasi sangat rendah.


"Memang nggak ada aturan tertulis seperti itu. Tetapi ratu yang cocok untuk melindungi negeri ini, tentu seorang vampir yang sudah sangat memahami dunia ini," balas Russel dengan nada lembut, untuk membujuk Floretta agar mau berubah pikiran.


"Aku rasa kalau Yang Mulia tetap tinggal di sini hanya akan membuat sakit hati, karena bisa jadi posisi Yang Mulia akan turun, menjadi seorang selir," sambung Daisy pula.


Alden tersentak kaget, mendengar kalimat Daisy yang blak-blakan itu. Sementara Floretta melirik Alden dengan tajam. Ini bukan pertama kalinya dia mendengar kalimat itu.


"Sudahlah, hentikan semua omong kosong kalian. Pertemuan ini tidak sah, karena kalian melaksanakannya secara diam-diam tanpa sengetahuanku dan penasehat istana," perintah Alden dengan tegas.


"Baiklah, kami akan berhenti untuk sementara," ujar Edmund seraya bangkit dari kursinya.


"Ku harap Yang Mulia nggak menyesal, jika suatu hari nanti semua perkataan kami akan menjadi kenyataan. Apalagi saingan Yang Mulia Putri adalah wanita jelita, sahabat Yang Mulia Raja seja kecil," sambung pria muda dari keluarga Grey itu lagi.


"Asal Yang Mulia tahu, semua vampir itu sangat manipulatif dan nggak bisa dipercaya," bisik Edmund.


"Grey, kamu terlalu dekat dengan istriku!" tegur Alden dengan sebuah bentakan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2