
“Lily, sebenarnya kita mau ke mana, sih?” tanya Floretta yang mengikuti Lily berjalan di depannya.
Mereka berdua sudah menuruni dua anak tangga tanpa menunggunakan lift, lalu berbelok menelusuri lorong istana yang megah ini, hingga napas Floretta ngos-ngosan. Namun yang Floretta tahu, tempat ini bukan menuju ke ruang tamu istana yang ada empat ruangan itu. Bukan pula menuju ke aula pertemuan atau ke dapur istana yang super luas.
“Sebentar lagi sampai kok, Yang Mulia,” ujar Lily tanpa menoleh ke belakang.
“Dari tadi kamu juga bilangnya sebentar lagi sampai,” sahut Floretta sembari melengos kesal. “Setidaknya kasih tahu aku, dong. Sebenarnya kita mau ke mana?” ucap Floretta sembari mengatur napasnya.
Dia akui, Kastil Ecarlatte yang menjadi tempat tinggalnya saat ini benar-benar luas. Ada banyak sekali ruangan di lantai dasar ini. Setiap ruangan juga memiliki tema desain interior yang berbeda-beda, namun tidak meninggalkan kesan mewah dan elegan. Fungsinya juga berbeda-beda.
Sayangnya telinga Floretta mulai panas. Para pelayan dan pegawai istana yang berpapasan dengan mereka, selalu bebisik dan meliriknya dengan tatapan remeh.
“Lily, apa kamu nggak malu berjalan sama aku?” tanya Floretta sembari mempercepat langkahnya. Vampir wanita itu benar-benar gesit bagaikan anak kancil. Floretta kewalahan mengikutinya.
“Kenapa aku harus malu?” tanya Lily sedikit memperlambat langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
“Karena kamu melayani seorang manusia,” jelas Floretta.
“Aku nggak pernah malu dengan hal itu. Lagipula, aku sudah lama tingal di dunia manusia, Yang Mulia. Jadi aku sudah terbiasa berinteraksi dengan para manusia,” ucap Lily.
“Oh, ya? Sejak kapan kamu tinggal di dunia manusia?” tanya Floretta penasaran.
Selama ini dia tidak tahu, jika ada makhluk penghisap darah yang hidup di antara para manusia. Jangan-jangan selama ini dia juga bergaul dengan para vampir?
“Sejak aku kuliah, Yang Mulia. Lalu setelah tamat aku bekerja di peruhasan Yang Mulia Raja sebagai akuntan,” jawab Lily.
Tep! Floretta mendadak menghentikan langkahnya. Kini dia jauh tertinggal di belakang sang pelayan.
“Loh, kenapa Anda tiba-tiba berhenti, Yang Mulia? Apa ada sesuatu yang mengganggu?” Floretta berbalik badan, dan menatap Floretta dengan heran.
“Ternyata kastamu lebih tinggi dari pada aku. Kamu seorang wanita berpendidikan dan memiliki karir cemerlang. Sementara aku yang kamu layani ini, hanyalah seorang pelayan. Kamu nggak merasa posisi kita ini terbalik?” ujar Floretta merasa rendah diri.
“Kenapa Yang Mulia bicara seperti itu? Aku bangga kok menjadi pelayan pribadi Yang Mulia Putri. Nggak semua orang bisa mendapatkan posisi penting ini. Aku sangat menghargai semua pekerjaanku,” balas Lily sambil tersenyum manis.
__ADS_1
“Walaupun kamu harus melayani seorang manusia?” tanya Floretta memastikan.
“Iya. Memangnya kenapa dengan manusia? Menurutku kedudukan manusia dan vampir itu sama. Seandainya ada elf di dunia ini, aku pasti juga memperlakukan mereka sama,” jawab Lily dengan lembut.
“Kamu benar-benar keren, Lily,” balas Floretta. Dia merasa kagum dengan pelayan pribadinya itu. Siakpnya begitu dewasa dan anggun. Cara bicaranya juga sangat santun, menunjukkan dia orang yang berpendidikan.
“Tapi aku heran, bukankah usia kita hampir sama? Tapi kenapa kamu sudah selesai kuliah dan bekerja? Padahal di usia kita sekarang ini, seharusnya masih duduk di bangku kuliah,” tanya Floretta penasaran.
Lily hanya tersenyum penuh rahasia, sambil melanjutkan langkahnya. “Kita sudah sampai, Yang Mulia. Mari masuk.”
Pelayan wanita itu berhenti di sebuah lorong yang sangat sepi. Ada banyak tanaman yang diletakkan di sana. Aroma tanaman yang segar pun menyapa mereka.
Lily kemudian mendorong sebuah dinding berwarna kecoklatan dengan motif kayu. Tak disangka, dinding tersebut bergerak perlahan dan membentuk sebuah pintu geser otomatis. Sang pelayan lalu mempersilakan istri sang raja untuk masuk.
Sesaat Floretta ragu untuk memasuki ruangan itu. Terlebih dia nggak tahu itu ruangan apa. Tetapi pada akhirnya dia memasui ruangan misterius itu, setelah Lily mendahuluinya masuk ke dalam sana.
“Wow! Luar biasa.”
Kedua bola mata Floretta berbinar, ketika melihat sebuah ruangan yang cukup luas dengan design modern. Seluruh dindingnya dipenuhi oleh susunan buku berbagai warna dan ukuran. Bagian tengahnya terdapat sebuah sofa modern berwarna putih, dengan meja berukir yang sangat indah. Di beberapa sudut ruangan juga terlihat kursi santai untuk membaca buku.
“Apakah ini perpustakaan istana?” tanya Floretta tanpa mengedipkan matanya. Dia benar-benar takjub, dengan segala kemewahan yang dimiliki oleh kerajaan tersebut.
Wanita itu gemar sekali membaca buku, mekipun belakangan ini dia sangat sulit melakukan hobinya itu. Floretta selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja keras mencari uang. Tidak ada waktu untuk sekedar membaca satu halaman pun.
“Membaca nggak membuat kita kaya. Lebih baik kau manfaatkan waktunya untuk bekerja,” begitulah kata bibinya kala itu.
“Bukan. Ini ruang pribadi Yang Mulia Putri,” jawab Lily.
Telinga Floretta seakan tegak, mendengar jawaban dari Lily. “Ruangan pribadiku?” ulang Floretta tak percaya. “Bukankah aku sudah punya kamar pribadi yang tak kalah mewah di lantai tiga?” sambung wanita bermata biru.
“Itu kan ruang tidur, Yang Mulia. Sementara ini didesain khusus oleh Yang Mulia Raja untuk tempat bersantai. Taman itu juga tempat pribadi Yang Mulia Putri,” jelas Lily.
“Benarkah?” gumam Floretta masih tak percaya.
__ADS_1
“Tentu saja, Yang Mulia,” jawab Lily dengan wajah serius.
“Tetapi aku nggak melihat ruangan ini di dalam denah istana waktu itu?” ucap Floretta.
“Ruangan ini letaknya tersembunyi dan memiliki pengamanan berlapis. Tidak sembarang orang bisa masuk dan mengetahuinya. Jadi tempat ini benar-benar aman dan tenang. Apa Yang Mulia mau melihat tamannya?”
Tanpa menunggu jawaban dari Floretta, Lily pun membuka pintu kaca yang mengarah ke taman. Udara dingin pun menyeruak masuk ke dalam perpustakaan yang hangat. Lily kemudian memberikan sebuah mantel pada Floretta, untuk membuat manusia itu tetap hangat.
“Ini luas banget. Bagian mana saja yang menjadi taman pribadiku?” tanya Floretta.
Calon ratu itu mengedarkan panangannya ke hamparan salju yang cukup tebal. Dia bisa melihat beberapa lubang kelinci, di balik rerimbunan tanaman perdu tanpa daun. Wanita yang kini bergelar Putri Vampir itu merasa gemas, melihat hewan-hewan bertelinga panjang yang sedang tertidur nyenyak itu.
“Semuanya, Yang Mulia. Tidak ada seorang pun yang akan datang ke sini selain Yang Mulia dan Yang Mulia raja,” ujar Lily. “Pada saat musim semi, taman ini dipenuhi bunga-bunga indah aneka warna. Ada banyak kelinci dan tupai juga di sini,” sambung sang pelayan.
“Ini benar-benar indah,” gumam Floretta tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
“Sebenarnya tempat ini sudah ada beberapa bulan sebelum Yang Mulia menikah. Tetapi Yang Mulia Raja belum sempat mengetahuinya karena …”
“Karena aku terus-terusan kabur dan mengurung diri di kamar?” ujar Floretta, menyambung kalimat Lily yang tidak selesai.
“Iya,” sahut Lily singkat. “Oh iya, kamar ini terhubung langsung dengan kamar Yang Mulia Putri di lantai tiga. Ada tangga dan lift khusus yang mengarah ke sana.”
Pelayan itu kemudian menunjukkan sebuah ruangan tersembungi di balik rak buku, yang mengarah ke sebuah tangga dan lift.
“Ini beneran langsung terhubung ke kamarku?” tanya Floretta tak percaya.
“Benar, Yang Mulia. Tangga ini tembus ke ruang ganti milik Yang Mulia Putri.”
“Lah, terus ngapain tadi kita capek-capek muterin lorong, sampai telingaku panas mendengar ejekan para pelayan itu?” protes Floretta.
“Hehehe …” Lily hanya menjawab kalimat Floretta dengan sebuah tawa hambar.
“Tapi aku juga penasara sama satu hal. Apa benar semua ruangan ini dibuat khusus untukku? Bukankah Yang Mulia Raja sudah punya tunangan? Tapi kenapa dia nggak perna muncul untuk melabrakku?”
__ADS_1
(Bersambung)