Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 63. Rahasia Kelam Sang Pangeran


__ADS_3

"Uh, lagi-lagi aku membuat seseorang terluka dan hampir mati. Aku benar-benar tidak berguna."


Sejak menghisap darah Floretta, Raven menyendiri di dalam kamarnya. Tak ada seorang pelayan pun yang boleh memasuki ruangannya. Pekerjaannya pun menjadi terbengkalai.


"Aku benci pada diriku sendiri. Apa tidak ada cara untuk membuang insting pembunuh ini?" Ratap Raven pada dirinya sendiri.


Sejak kecil, dia memiliki obsesi yang besar terhadap darah. Bahkan dia bisa membunuh manusia demi memenuhi obsesinya tersebut.


Hal inilah yang membuat Raven dijauhi banyak teman-temannya saat masih kecil, dan membuat dirinya terkucil. Dia juga jarang dilibatkan dalam kegiatan kerajaan, karena sering membuat kerusuhan karena sifat haus darahnya itu.


Semakin lama, Raven pun semakin dilupakan oleh para rakyatnya, karena sering dihukum tak boleh keluar dari istana, agar tidak membuat keributan. Dia lalu dikenal sebagai Pangeran Dingin dan Kejam dari Kastil Ecarlatte.


Saat remaja, dia pun mencoba banyak cara untuk tetap mempertahankan tahtanya sebagai calon raja. Berbagai cara dia tempuh, hingga cara ekstrim sekalipun. Raven mengumpulkan darah-darah langka, untuk menarik simpati ayahnya yang berkuasa kala itu.


Namun, ternyata semua itu justru menjadi bumerang pada Raven. Walau pun sebagian besar vampir mendukung sikap sang pangeran yang beranjak remaja itu, tapi statusnya sebagai putra mahkota pun tetap dicabut.


Dia juga tak diizinkan memasuki dunia manusia selama beberapa tahun. Raven pun dianggap oleh beberapa pihak sebagai vampir yang berbahaya.


Hal itulah yang membuat kenangan Raven saat remaja sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada.


"Raven, Black! Apa kau membunuh manusia lagi?"


"Uh!"


Bruk! Raven terjatuh ke lantai. Seluruh tubuhnya lemas seketika. Kedua tangannya terangkat ke atas, dan memegang kepalanya yang mendadak sakit.


"Kau melanggar janjimu, Raven!"


"Maafkan aku. Aku nggak akan mengulanginya lagi," seru Raven sambil mengerang kesakitan.


"Kau dihukum! Dikurung dalam perpustakaan sampai perayaan ulang tahun raja selesai."


"Aku mohon. Maafkan aku. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi." Raven terus menerus menjerit, hingga suaranya bergema di dalam ruangan sempit itu.


"Kau boleh membenciku! Ibu terpaksa melakukan ini semua demi kebaikanmu. Tetaplah di sini hingga kamu merenungi semua kesalahanmu.


Klang! Pintu perpustakaan itu tertutup rapat, dengan sebuah dua buah gembok besar menggantung di sana. Serta lingkaran sihir penjaga yang amat kuat.

__ADS_1


"Ibu ...! Ku mohon jangan tinggalkan aku, Bu!"


Raven menjerit meminta pertolongan. Namun sang ratu vampir itu terus melangkah pergi, tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Ibu ...!"


"Haah... Haaah... Itu hanya mimpi?"


Raven mengusap peluh, yang membanjiri tubuhnya. Napasnya tersengal, seakan baru saja berlari menuju ke puncak gunung.


Rupanya dia tertidur setelah semalaman menyesali perbuatannya terhadap Floretta. Dia bahkan sampai memimpikan masa lalunya yang tidak ingin diingatnya itu.


"Ah, aku iri dengan Alden. Lebih baik aku nggak bisa meminum darah manusia, daripada hidup seperti ini," gumam Raven sedih.


...🦇🦇🦇...


"Apa? Kamu mau tetap melayani Kak Raven, setelah hampir mati kemarin?" kata Alden dengan mata membulat besar.


"Iya, ini kan udah jadi tugasku," jawab Floretta sambil menyanggul rambutnya, seperti pelayan lain.


"Nggak, kok. Yang Mulia Pangeran Raven belum membuat pengumuman resmi tentang statusku sekarang. Itu artinya aku masih menjadi pelayan pribadi Kak Raven, kan?" kata Floretta dengan santai.


"Tapi gimana kalau nanti kamu dilukainya lagi? Kemarin kalung itu nggak berfungsi, kan?" ujar Alden sambil menatap Floretta dengan wajah cemas.


"Hei, percayalah padaku. Ini kan bagian dari pelatihan calon ratu. Kalau hal seperti ini aja aku ingin melarikan diri, gimana aku bisa jadi ratu nanti?" balas Floretta.


Senyuman manis di wajah wanita itu, justru membuat Alden semakin khawatir. Gimana nanti kalau dia nggak bisa melihat senyuman indah itu lagi?


"Udah, deh. Nggak usah melow. Ayo kita sarapan. Jam tujuh aku harus udah berada di sana, supaya pangeran nggak memarahiku lagi."


Floretta yang telah selesai berdandan, menarik lengan Alden dan mengajaknya pergi dari ruangan itu.


"Tunggu!"


Raven menarik Floretta, lalu mendekapnya dengan erat. "Ya udah, kamu boleh pergi ke sana. Aku nggak akan bisa menang melawan cewek keras kepala kayak kamu," ujar Alden mengalah.


"Hati-hati, sayangku. Kamu harus tahu, perpustakaan itu bukanlah tempat menyenangkan bagi Kak Raven. Banyak kenangan kelam di sana," sambung Alden, tanpa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Hah? Masa? Bukannya di sana tempat kamu dan dia bermain bersama sang ratu?" ucap Floretta bingung.


"Awalnya iya, tapi kemudian tempat itu berubah menjadi neraka bagi Kak Raven," bisik Alden hampir tak terdengar.


"Memangnya apa yang terjadi di sana?" tanya Floretta penasaran.


...🦇🦇🦇...


Raven membuka kedua matanya lebar-lebar. Keningnya berkerut dengan sebelah tangannya menopang dagu. Sementara Floretta berdiri kakudi hadapan sang pangeran, dengan kedua tangan saling menggenggam.


"Berapa lama lagi dia memandangiku seperti ini? Rasanya sudah lebih dari lima menit aku berdiri seperti ini? Apa dia sedang berpikir, bagian tubuh yang mana yang duluan di kasih ke serigala liar di hutan Deadwood?" batin Floretta yang kakinya mulai terasa pegal.


"Aku nggak nyangka kamu bakal datang ke sini lagi, setelah kejadian kemarin," ucap Raven dengan intonasi datar.


Pria itu heran, ini pertama kalinya ada yang berani kembali menemuinya, setelah hampir mati karena diserang oleh diringa.


"Tentu saja aku harus kembali, Yang Mulia. Bukankah Yang Mulia belum mencabut tugasku sebagai pelayan pribadi?" jawab Floretta dengan suara bergetar.


Meski senyuman manis terukir di wajahnya, tapi perasaan takut masih menguasai tubuhnya. Bayangan mengerikan soal kejadian kemarin, masih berputar di kepalanya.


"Apa alasanmu? Jangankan manusia, tetapi para bangsawan vampir pun pasti akan lari jika telah melihat sosok asliku," selidik Raven yang merasa curiga.


"Apa benar itu sosok asli Pangeran? Aku ragu, karena Pangeran jarang sekali berinteraksi dengan dunia luar," kata Floretta. "Dan alasanku berada di sini, adalah untuk menuntaskan tanggung jawabku yang sedang menjalani ujian calon ratu," sambungnya.


"Oh, jadi kamu mau menyuapku dengan cara ini, agar memberikanmu rekomendasi sebagai calon ratu?" sindir Raven yang menyeringai lebar. "Kamu pikir aku bakal tersentuh dengan sikapmu itu?" tanya sang pangeran.


"Yah, anggap saja begitu," balas Floretta tak tersinggung sedikit pun.


"Hmmm, baiklah. Tapi buka dulu celemekmu itu. Kamu nggak membutuhkannya hari ini," perintah Raven.


Floretta pun menuruti perintah kakak iparnya tersebut. Dalam hati dia menebak-nebak, pekerjaan apa yang akan diberikan oleh pangeran dingin itu hari ini.


"Karena kemarin pekerjaanku banyak terbengkalai, jadi ku harap kamu bisa membantuku. Ayo ke ruang kerjaku. Kamu siap kan, dengan tugas apa saja yang aku berikan?" bisik Raven sambil tersenyum begitu manis.


Glek! "Mati aku. Semoga kali ini nggak aneh-aneh lagi," batin Floretta.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2