
“Kamu harus menemui para anggota dewan itu seorang diri. Ini sangat berbahaya," kata Alden. "Kita nggak tahu, apa yang akan mereka lakukan nanti," sambung pria itu dengan wajah cemas.
Floretta tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan suaminya. "Kamu jangan khawatir. Aku berani menghadapi mereka sendirian, kok," ujarnya.
"Aku tahu kamu itu pemberani. Tetapi ini bukan masalah main-main, Flo. Mereka pasti sengaja mencari waktu pada saat aku nggak ada di sini, biar bisa melakukan apa pun padamu. Licik sekali," balas Alden sambil mengumpat kesal.
"Coba kamu ingat-ingat lagi. Kenapa kamu memilihku jadi calon ratu?" ujar Florettta.
Alden hanya diam mendengarkan pertanyaan istrinya. Dia memiliki beribu alasan untuk menikahi gadis itu. Tetapi dia nggak tahu, alasan apa yang ingin didengar oleh sang istri saat ini.
"Huh, kamu nggak ingat? Aku jadi kecewa, nih. Jangan-jangan kamu waktu itu cuma asal ngomong aja untuk membujukku," ucap Floretta beberapa saat kemudian.
"A-aku ingat, kok. Kamu cantik, pintar dan baik hati," jawab Alden dengan asal. Alden bernapas lega, saat wajah Floretta kembali tersenyum.
"Nah, sekarang aku kan udah membuat keputusan, untuk tetap tinggal di sini mendampingimu. Jadi masalah seperti ini pasti akan terjadi lagi nanti," ujar Floretta menjelaskan pendapatnya.
"Jadi maksud kamu?"
"Ya aku harus siap dengan segala kondisi terburuk di kerajaan ini jika ingim mendampingimu. Termasuk menghadapi para anggota dewan itu sendirian," ucap Floretta lagi.
Alden tersenyum mendengar jawaban bijak dari istrinya itu. "Rasanya aku udah memilih wanita yang terlalu sempurna, untuk mendampingiku," gumam Alden seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Tapi sayang, mereka itu jauh lebih berbahaya dari anggota dewan di dunia manusia. Mungkin saja mereka akan menghinamu habis-habisan, dan semua omongan mereka itu disengaja untuk menjatuhkan mental kita," lanjut Alden lagi. Dia menatap wajah istrinya dengan sendu.
"Aku paham maksudmu. Tetapi kita sudah nggak bisa menghindar lagi, kan?" Floretta membalas tatapan sang suami dengan mesra, hingga pria itu salah tingkah.
"Aku janji akan tetap menjaga diriku, selama pertemuan itu. Lalu mereka juga nggak mungkin membunuhku begitu aja di ruang pertemuan, kan? Percayalah, sayang. Aku akan baik-baik aja," sambung Floretta dengan berbisik.
"A-ah, ya tentu saja mereka nggak akan berani membunuh calon ratu begitu saja. Meskipun sebagian besar rakyat di negara ini tidak setuju, tetapi itu tetap perbuatan kriminal."
__ADS_1
Alden mengalihkan pandangannya dari sang istri, lalu menyendokkan potongan daging yang masih belum habis ke dalam mulutnya. Namun karena dia gugup dan terburu-buru, akhirnya potongan daging itu terselip di pangkal tenggorokannya, dan membuat raja vampir itu tersedak.
Floretta tertawa kecil melihat tingkah sang suami, sambil memberikan air minum untuknya. "Ternyata raja vampir pun bisa merasa salting, ya," gumamnya dalam hati.
"Tapi aku penasaran sama sesuatu, apa semua anggota dewan istana itu lawan politik kita? Atau mereka seperti ini cuma karena kamu menikah dengan manusia?" tanya Floretta penasaran, setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"Sebenarnya ada lima keluarga bangsawan tertinggi di kerajaan ini. Yaitu keluarga Black (hitam), keluarga Blanche (putih), keluarga Amethyst (ungu), keluarga Krimsom (Merah) dan keluarga Grey (Abu-abu)," jawab Alden.
"Wah, aku baru tahu. Apa keluarga Black itu bangsawan tertinggi?" ujar Floretta antusias.
Alden mengangguk. "Sejak kakek buyutku berhasil menyatukan kerajaan ini, keluarga Black menjadi bangsawan tertinggi. Lalu bangsawan tertinggi kedua adalah Blanche, keluarga ibuku," ucap Alden.
"Tetapi saat ini keluarga Black sudah musnah karena perang politik. Yang tersisa hanya aku dan kakakku, pangeran Raven," sambung pria itu.
"Lalu keluarga Yang Mulia Ratu?" tanya Floretta.
Setelah diingat-ingat, sampai sekarang dia tidak pernah melihat keluarga Alden, selain foto ayah dan ibu raja vampir itu di internet dan foto-foto yang terpajang di setiap sudut istana. Alden juga tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada Floretta.
Wajah Floretta berubah menjadi sedikit muram. Kedua alisnya turun. "Sekarang aku sedikit mengerti kenapa kamu memilihku," bisik Floretta dengan lirih.
"Kenapa?" Alden mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Karena keadaan kita nggak jauh berbeda. Sudah ditinggal oleh keluarga tersayang," jawab Floretta. Suaranya terdengar bergetar, seperti menahan tangis.
Alden pun mengalihkan pandangannya, agar Floretta tidak melihat matanya yang berkaca-kaca.
...🦇🦇🦇...
"Kak, apa kakak masih sibuk?" Alden duduk di sebelah Raven, yang sedang sibuk mengecek data keuangan kerajaan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Tumben Raja Vampir yang sombong ini datang menemuiku dan bersikap manis? Apa kamu masih mau meminta, agar aku menerima Floretta jadi ratu?" sindir Raven.
Pria lajang yang jadi rebutan para vampir wanita itu, menutup laptopnya. Dia lalu menarik kursi kerjanya, dan menghadap ke arah sang raja vampir.
"Bukan. Aku kali ini aku meminta bantuan kakak," jawab Alden.
"Bantuanku? Tumben kamu meminta bantuanku? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh vampir kejam seperti aku?" ujar Raven masih dengan nada sindiran.
"Aku besok akan ke keluar negeri selama beberapa hari," ujar Alden.
"Lalu? Bukankah kamu punya menteri dan ratusan pegawai istana, untuk menghandle pekerjaanmu?" balas Raven ogah-ogahan.
"Ini bukan pekerjaan istana seperti biasanya. Hanya kakak yang bisa melakukannya," kata Alden. "Aku ingin kakak menjaga Floretta, selama aku pergi," sambungnya.
"Apa? Aku nggak salah dengar? Kamu mau meminta orang yang pernah mencelakai istrimu, untuk menjaganya?" Raven tertawa terbahak-bahak.
"Ah, aku tahu. Kamu mau mengejekku dengan cara ini, kan?" sambung Raven di sela-sela tawanya.
"Aku serius, Kak. Dua hari lagi akan ada pertemuan resmi Floretta dengan anggota dewan istana. Aku khawatir meninggalkan Floretta sendirian," jawab Alden dengan wajah serius.
"Jadi aku disuruh mendampingi manusia lemah itu, pada pertemuan anggota dewan nanti? Kamu kan tahu, aku nggak suka diperintah olehmu seperti itu. Seakan-akan aku ini bayanganmu." Raven kembali menolak permintaannsang adik.
"Kakak nggak perlu melakukan itu. Cukup pastikan kalau keadaan Floretta baik-baik aja," jelas Alden.
"Hanya kakak satu-satunya keluarga yang aku miliki. Jadi hanya kakak, orang yang aku percayai. Aku percaya, malam itu kakak nggak benar-benar ingin membunuh Floretta," sambung Alden meyakinkan sang kakak.
Raven berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke sisi jendela yang memperlihatkan hujan badai salju di luar sana. Seluruh halaman istana tertutupi oleh kristal es yang putih bersih. Udara dingin yang menyeruak masuk melalui celah ventelasi, membuat pria itu pun menaikkan suhu penghangat ruangan.
"Kenapa aku harus melakukan semua itu? Hanya karena kita saudara kandung?" ujar Raven beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Harusnya aku senang, kalau calon ratu-mu itu tewas di tangan para anggota dewan istana. Karena kalau kamu nggak punya pendamping, peluangku jadi raja akan semakin besar," sambung Raven sambil tertawa lepas.
(Bersambung)