Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 35. Membunuhmu


__ADS_3

Floretta baru saja selesai memberi makan burung-burung kecil di tepi jendela, ketika Lily datang dan membawakannya sarapan. Kedua bola matanya tertuju pada sebuah amplop besar yang terletak di meja kecil dekat pintu. Dia baru melihat benda itu di sana.


"Lily, apa ini?" Floretta menunjuk ke arah amplop tersebut.


"Oh, iya. Maaf, Yang Mulia. Aku hampir lupa. Ini surat dari ketua dewan istana, Yang Mulia. Tadi seorang pengawal mengantarnya ke sini," ujar Lily.


"Dari dewan istana. Apa isinya?" Floretta merasa ragu untuk membukanya.


"Tadi mereka hanya bilang, kalau ini surat yang harus Yang Mulia baca," ucap Lily seraya menyusun menu sarapan di atas meja.


"Kira-kira isinya apa, ya?" Floretta segera membuka amplop tersebut dengan dada berdebar. "Semoga ini bukan jebakan," imbuhnya.


Mengingat sikap anggota dewan yang sangat manipulatif, apa pun bisa mereka lakukan demi mengusir Floretta dari istana ini.


"Surat pembatalan pernikahan? Jadi mereka masih menungguku mengisi surat ini?" pikir Floretta resah. "Apa mereka benar-benar nggak takut lagi dengan raja?"


Florett kembali memasukkan lembaran kertas tersebut ke dalam amplop. Dia lalu meminta Lily untuk menyimpannya ke dalam lemari.


"Leon, apa selain bangsawan tidak bisa menjadi ratu di sini?" tanya Floretta tiba-tiba. Wanita itu bahkan belum menyentuh sarapan yang dihidangkan sang pelayan.


"Setahu saya bisa, Yang Mulia. Dulu kakek buyut keluarga Black pernah menikahi gadis dari kalangan biasa, dan menjadi ratu di sini. Tetapi prosesnya panjang dan nggak mudah" ucap Leon.


"Tetapi itu sudah terjadi tiga ratus tahun yang lalu. Aku nggak tahu, apakah aturannya telah berubah atau masih sama seperti dulu," sambung Leon lagi.


"Hmm, begitu ya? Lalu apa saja syaratnya? Apakah dia juga melalui beragam ujian seperti para putri bangsawan lainnya?" tanya Floretta.


"Apakah Yang Mulia sudah memutuskan untuk menetap di sini?" Leon balik bertanya pada sang putri.


"Apa aneh kalau aku memutuskan mendampingi suamiku? Karena aku seorang manusia?" balas Floretta lagi.


"Tidak, Yang Mulia. Aku justru senang, karena Yang Mulia terlihat lebih ceria sejak menikah," jawab Leon sembari tersenyum. "Sekarang aku merasa bekerja pada seorang vampir, dibandingkan dulu yang hanya terlihat seperti sebuah robot," imbuh sang pengawal.

__ADS_1


"Benarkah?" Floretta sedikit meragukan kalimat Leon. Dengan harta sebanyak ini, tentu sangat mudah bagi sang raja untuk mencari teman.


"Iya, Yang Mulia. Aku tidak tahu secara lengkap, apa saja persyaratan untuk menjadi ratu. Tetapi harus memiliki surat rekomendasi dari salah satu bangsawan tertinggi di sini, lalu mengikuti ujian resmi," kata Leon.


Leon menjelajah pepustakaan online kerajaan, untuk mencari sebuah buku tentang ujian calon ratu negeri ini.


"Ah, jadi maksudnya aku harus mendapatkan surat rekomendasi dari kelima keluarga bangsawan di sini?" balas Floretta.


"Benar, Yang Mulia."


"Haaah, itu mana mungkin. Mustahil mereka mau memberikan surat rekomendasi untukku. Mereka semua kan ingin aku diusir dari kerajaan ini," gumam Floretta.


"Apa yang akan terjadi, kalau aku tetap berada di sini? Apa akan terjadi perebutan kekuasaan? Atau lebih buruknya lagi, ada pertumpahan darah?"


Floretta mendadak ngeri, memikirkan itu semua. "Apa aku memang harus menandatangani surat pembatalan pernikahan itu? Sampai hari ini Alden juga masih banyak menyimpan rahasia dariku, kan?" gumam Floretta bimbang.


"Duh, sepertinya buku tentang ujian calon ratu itu tidak ada di perpustakaan online. Sepertinya Yang Mulia harus ke perpustakaan istana untuk mendapatkan informasi lebih lengkap."


"Perpustakaan istana? Apakah itu tempat yang pertama kali aku datangi, saat sampai di istana ini?" ucap Floretta.


"Benar, Yang Mulia. Tetapi lebih baik Yang Mulia datang ke sana saat sore hari. Agar bisa leluasa mencari buku itu, tanpa diganggu oleh vampir lain," ucap Leon lagi.


"Hmm, baiklah. Apa kalian berdua bisa menemaniku ke sana sore nanti?" tanya Floretta.


"Siap, Yang Mulia," jawab Leon dan Lily secara bersamaan.


...🦇🦇🦇...


"Duh, buku yang ini tinggi banget. Apa ada kursi dan tangga di sini?"


Floretta menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk mencari bantuan. Tetapi sepertinya Lily belum kembali, sejak disuruh mengambil mantel hangat untuknya. Lalu, leon menghilang ke mana, ya?"

__ADS_1


Hup! Hup! Floretta mencoba melompat-lompat dan mengambil buku tua yang terletak di rak paling atas. Tapi tetap saja, meskipun dia sudah mengerahkan semua kekuatannya, buku itu masih terlalu tinggi untuk digapai.


"Kamu mau mengambil buku ini?" Seorang pria bersuara berat, mendadak mengambil buku itu, dan memberikannya pada Floretta.


"Terima kasih, Yang Mulia." Floretta menundukkan kepalanya, untuk memberi salam pada sang kakak ipar.


"Ngapain kamu di sini? Untuk apa buku-buku ini? Kau masih ingin menjadi ratu di sini?" tanya Raven dengan ketus. Secara terang-terangan dia menutup hidungnya dengan masker, untuk menghindari aroma darah Floretta yang bau busuk.


"Aku belum memutuskannya, Yang Mulia. Tetapi..."


"Nggak usah kamu pelajari. Aku yakin tidak akan ada yang mau memberikan surat rekomendasi padamu, termasuk aku." Raven memotong ucapan Floretta yang belum selesai.


Pria itu lalu duduk di sebuah kursi dekat rak buku, dan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Floretta dengan jelas. Wanita itu merasa lututnya terasa lemah, karena tatapan tajam dari pria itu. Seakan-akan tidak mampu untuk menopang tubuhnya lagi.


"Memangnya kamu udah lupa dengan ucapanku kemarin? Alasanmu ingin mendampingi Alden saja, masih belum cukup untuk menjadi ratu. Apalagi dengan statusmu yang hanya seorang manusia dari kalangan rendah. Apa kau mau menghancurkan kerajaan kami, dengan pengetahuanmunyang rendah itu?"


Sepertinya ucapan sang pangeran benar-benar tidak bisa difilter. Setiap kata-kata yang dilontarkan Raven, langsung menusuk tepat di jantung sang putri.


"Bukankah nenek buyutmu dulu juga dari kalangan biasa?" balas Floretta berusaha membela diri.


"Memang benar. Tetapi dia berasal dari bangsa vampir, dan lulusan universitas ternama di kerajaan ini," jawab Alden. "Sedangkan kamu?" Pria tampan itu menatap Floretta dengan tatapan remeh.


"A-aku ..."


"Sudahlah! Apa kau sudah lupa? Aku ini pernah hampir membunuhmu? Kecoak yang menggangguku saja akan aku bunuh hingga hancur berkeping-keping. Apalagi seorang manusia yang hendak mengambil alih kerajaanku."


Raven menunjukkan taringnya yang tajam dan panjang. Kedua bola matanya yang indah, berubah menjadi merah menyala. Jemarinya mengeluarkan kuku panjang yang sangat mengerikan.


"Asal kau tahu, aku bisa membunuhmu kapan saja. Terutama saat suamimu nggak ada di sini."


Pria itu mencengkeram leher Floretta dengan jari kukunya, hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas dan meminta pertolongan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2