
Srak! Raven membuka kemejanya lalu melemparkannya sembarang ke arah kursi. Dadanya yang bidang pun terpampang jelas. Kulitnya sangat putih dan pucat, lebih pucat dari yang Floretta kira.
Floretta mundur menjauhi Alden, dan bergerak ke arah pintu. Namun, pintu kayu tua itu sudah duluan dikunci oleh Raven yang licik. Raven menghimpit tubuh Floretta ke dinding, hingga dadanya yang bidang, menyentuh bagian lembut di balik baju Floretta.
"Jangan, Pangeran. Aku nggak mau melakukannya!" teriak Floretta sambil meronta. Dia nggak mau kesuciannya direnggut oleh sang kakak ipar.
"Tenanglah, ini gak akan sakit. Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan," bisik Raven di telinga Floretta. Jemarinya menyentuh leher sang putri dengan lembut. Lalu membuka kancing paling atas seragam pelayan yang dikenakan Floretta.
"Ku mohon, jangan. Aku bisa melakukan apa saja, selain hal itu," ucap Floretta memohon pada sang pangeran. Tangannga gemetar kuat, tak bisa membela diri seperti yang dia lakukan biasanya.
"Gimana, dong? Aku maunya yang ini."
Jleb!
"Aarrrghhh!"
Raven menancapkan sepasang taringnya di leher jenjang milik Floretta, hingga wanita itu menjerit kencang. Darah segar berwarna merah menyala pun mengalir di leher Floretta.
Rupanya pria itu bukanlah ingin merenggut kesucian sang adik ipar, namun mencicipi darahnya yang memiliki aroma khas.
"Sakit! Rasanya ada beberapa bilah pisau menancap di leherku," batin Floretta sambil menahan sakit. Dia sama sekali tak berdaya untuk melawan. "Jadi ini sebabnya, Alden melumpuhkan ingatanku sebelum menghisap darahku?" gumamnya lagi.
Rupanya ucapan Alden yang bilang, sakitnya seperti digigit seekor kucing, tidak terbukti. Rasa sakit yang luar biasa ini, seakan membuat nyawa hampir keluar dari tubuh.
"Huek! Uhuk! Uhuk! Apa ini?" Alden berhenti menghisap darah Floretta.
"Bau darahmu belakangan ini memang sangat nikmat. Tetapi rasanya seperti darah orang mati," ujar Raven setelah memuntahkan darah milik Floretta.
"Tak mungkin kan, Alden yang nggak bisa menghisap darah manusia itu memberimu 'tanda'? Atau dia menyuntikkan ekstrak tanaman Atropa belladona padamu?" kata Raven dengan penuh emosi.
"Atropa belladona? Tanaman mengerikan itu?" batin Floretta sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian lehernya. Darah kental masih mengucur dari lehernya.
Atropa belladonna atau nightshade, merupakan tanaman semak beracun yang bisa dijadikan senjata rahasia. Tanaman ini menghasilkan buah beri hitam yang tidak boleh dimakan dan bisa mematikan.
Dalam jumlah yang sangat kecil, kandungan racun dalam tanaman tersebut bisa membuat darah memiliki rasa yang tidak enak, dan tidak membunuh manusia. Efeknya akan hilang dalam waktu satu minggu.
__ADS_1
Ini biasa digunakan para vampir, untuk menyelundupkan darah atau manusia ke dalam kerajaan secara ilegal.
"Gawat! Darahku nggak bisa berhenti mengalir. Apa dia sengaja membiarkanku begini, dan mati secara perlahan? Lalu kenapa nggak ada seorang pun yang mencariku?"
Floretta heran, kenapa kalung dengan detector bahaya yang dia gunakan dibalik gaun itu tidak berfungsi sama sekali? Apakah Raven udah tahu rahasia di balik kalungnya itu?
"Nih, tempelkan ekstrak bawang putih ini ke lehermu. Nanti lukamu akan menghilang dengan cepat." Raven memberikan sebuah salep yang memiliki aroma bawang putih yang sangat kuat.
Tanpa banyak bicara, Floretta pun langsung melakukannya. Perlahan, aliran darah itu berhenti lalu mengering.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan padamu?" tanya Raven sambil memasang kembali kemejanya. "Kau ini cuma benar-benar sampah! Bahkan darahmu pun nggak berguna," ujarnya lagi.
"Tidak berguna?"
Seharusnya Floretta senang, karena para vampir tidak menyukai darahnya. Tapi kali ini dia justru merasa tersinggung dengan kalimat itu. Menurutnya, dirinya terlalu berharga untuk disamakan dengan sampah.
"Aku berharap, kematianmu datang lebih cepat. Supaya tidak ada lagi lalat pengganggu di istana ini," ujar Raven.
"Uh, kepalaku terasa berat. Kayaknya efek gigitannya mulai terasa
"Wah, kuat juga kau rupanya? Kau mau tusukan di kepala atau jantung, untuk mempercepat kematianmu?" tanya Raven, sambil menyeringai lebar
Bruk! Floretta terhempas ke lantai, sebelum sempat menjawab pertanyaan sang pangeran.
...🦇🦇🦇...
"Yang Mulia, aku sudah menyiapkan menu makanan tradisional dan memesan ratusan liter darah manusia untuk acara hari ulang tahunmu besok," kata Erlina yang berjalan di sisi Alden.
"Terima kasih, Erlina. Tetapi itu bukan tugasmu. Berhentilah berlagak seperti seorang ratu," kata Alden dengan ekspresi dingin.
"Aku cuma mau membantumu, Al. Manusia itu tak kan bisa melakukannya," balas Erlina seraya menutupi rasa kesalnya.
Alden menghentikan langkahnya, lalu menghadap ke arah mantan tunangannya tersebut.
"Floretta itu calon ratu, Erlina. Kamu harus memanggilnya dengan sebutan yang sopan," tegur Alden tanpa mempedulikan perasaan sang mantan tunangan yang terbakar api cemburu.
__ADS_1
"Lagian tugasmu hanyalah sebagai staf kementerian pendidikan, sebelum kau dilantik menjadi menteri. Untuk acara ulang tahunku besok, sekretaris kerajaan dan kepala rumah tangga istana sudah menanganinya," sambung sang raja vampir.
"Uh!" gumam Erlina kesal.
"Eh, kenapa perasaanku nggak enak, ya? Ada apa dengan Floretta?" Jantung Alden mendadak berdebar kencang, dan perasaan cemas menguasainya.
Pria itu melihat ke arah HP-nya. Tak terlihat sinyal tanda bahaya dari chip rahasia yang terdapat pada kalung sang istri.
"Tapi hatiku terasa semakin sakit. Pasti ada sesuatu pada Floretta," ujar Alden pada dirinya sendiri.
"Yang Mulia, tapi aku juga ..."
"Maaf, Erlina. Aku harus segera pergi. Ada urusan penting mendadak." Alden memotong ucapan Erlina, dan berlalu pergi dengan terburu-buru.
"Yang Mulia, mau ke mana? Setelah ini kita ada rapat lagi," seru Erlina mengingatkan. Wanita itu semakin merasa kesal, karena sang raja meninggalkan tugasnya demi seorang wanita.
Namun Alden tak menoleh lagi ke belakang. Raja vampir itu justru mempercepat langkahnya, diikuti oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya.
"Haah, kenapa susah banget sih menyentuh hatimu, Al," gumam Erlina sedih.
Wanita itu menghapus air mata dengan punggung tangannya. Dia berusaha untuk tegar meskipun dirinya bagai sebatang ranting kecil, yang selama ini bertahan di tengah terpaan badai dahsyat. Berusaha mencengkeram sang pohon kuat-kuat agar tidak terlepas dan terhempas.
Namun ternyata sang pohon lah yang justru mengambil gergaji, dan memotong dan memotongnya. Memutuskan untuk membuang ranting-ranting yang tidak diperlukan lagi, karena sang pohon lebih memilih kupu-kupu genit untuk menemaninya.
Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada dirimu yang egois ini Erlina segera menunduk setelah mengucapkan kalimat itu berusaha menutupi kedua mata hasilnya yang mulai berkaca-kaca.
Sejak dulu dia selalu berusaha menenangkan pikirannya. Tak mungkin raja vampir itu bisa terpesona dengan gadis biasa seperti Floretta.
Tapi rupanya dia salah.
Sejak makan malamnya bersama Alden beberapa waktu yang lalu, Erlina bisa merasakan hasrat Alden yang tak tertahankan kepada Floretta.
"Cih! Lihat saja nanti."
Diam-diam Erlina sedang mencari celah dan siasat untuk membinasakan Floretta untuk selamanya.
__ADS_1
(Bersambung)