Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 50. Tempat Terlarang


__ADS_3

Gedubrak!


Suara benturan benda keras yang saling bertabrakan, membuat Floretta terjaga dari tidurnya. Wanita itu segera membuka kelopak matanya lebar-lebar dan mencari sumber suara yang mengagetkannya tadi. Ekor matanya lalu menangkap sebuah gumpalan benda putih seperti kapas, bergerak menjauhinya.


"Pillow!" Floretta berseru memanggil kucingnya yang berlari kencang menuju ke arah pintu.


"Pillow! Jangan keluar!" Seru Floretta sambil berlari mengejar kucing berbulu putih yang buntal itu.


Pillow mengira bahwa Floretta sedang mengajaknya bermain. Ia lalu berlari semakin kencang, dan keluar melalui celah pintu yang terbuka sedikit.


"Astaga! Pillow, jangan menyusahkanku! Ini bukan waktunya olahraga," seru Floretta yang melangkahkan kakinya secepat kilat untuk menangkap hewan peliharaannya, hadiah dari sang suami.


Kucing betina bermata hazel itu melompat dan berlari ke sela-sela pot bunga dan lorong istana, semakin menjauh dari kamar Floretta.


Floretta mulai kewalahan ketika napasnya sesak, dan kakinya terasa pegal. Padahal dari tadi wanita itu meminta tolong pada para pelayan yang berpapasan dengannya, untuk menangkap Pillow. Namun mereka semua mengacuhkan permintaan sang putri.


Floretta tetap mengikuti kucingnya yang sangat lincah dan gesit itu. Tanpa disadari, Floretta telah berlari sangat jauh dan meninggalkan wilayah tempat tinggal raja dan ratu.


"Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah aku larang untuk muncul di hadapanku lagi?" Suara bentakan yang tiba-tiba, membuat Floretta dan kucing kesayangannya melompat kaget.


"Pa-pangeran?"

__ADS_1


Wanita itu mundur beberapa langkah, menghindari pria dengan tatapan mengerikan itu. Sementara hewan mungil berbulu putih itu, berlari mendekati kaki Floretta dan bersembunyi di belakangnya.


"Apa Alden tidak mengajarkanmu sopan santun saat memasuki istana ini? Jangan seenaknya kamu memasuki wilayah terlarang!"


Deg!


Ucapan Raven Black barusan membuat detak jantung Floretta berhenti sejenak. Napasnya tertahan dan bola matanya spontan menyapu seluruh sudut ruangan itu.


Seluruh dinding yang didominasi dengan warna hitam dan ukiran hewan-hewan aneh, serta minimnya cahaya lampu, membuat aura di sana terasa berbeda. Ditambah lagi dengan aroma darah yang begitu kuat, membuat Floretta baru menyadari, betapa dia telah jauh dari teritorinya.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku segera pergi dari sini," ujar Floretta dengan suara bergetar.


"Hmm, siapa bilang kamu boleh pergi dari sini, setelah sembarangan masuk ke wilayah terlarang?"


Lutut Floretta mendadak lemas, melihat pemandangan ngeri di hadapannya. Kaki pria tampan itu ternyata tidak menjejak ke lantai, layaknya manusia biasa.


"Hei, kenapa aroma darahnya berbeda dibandingkan saat pertama kali bertemu? Kali ini aromanya terasa manis dan segar."


Raven mengernyitkan keningnya. Dia tidak lagi mencium bau busuk dari manusia rendahan di hadapannya.


Floretta terperanjat, ketika tiba-tiba saja wajah Raven sudah begitu dekat dengannya. Ini pertama kalinya mereka berada dalam jarak yang sedekat itu.

__ADS_1


Tulang pipi Raven yang tampak bagus, kokoh dan tinggi, sangat menggambarkan wajah aristrokrat yang berkedudukan tinggi. Garis rahangnya yang tegas dan berbentuk L, serta hidungnya mancung dan lurus, membuat pria itu terlihat semakin menawan. Lalu matanya ... Ah, tetap saja terlihat mengerikan seperti hendak mengoyak mangsanya.


"A-aku harus pergi, Yang Mulia," bisik Floretta dengan wajah ketakutan. Dirinya yang telah tersudut dengan punggung menempel di dinding, berusaha mencari celah untuk melarikan diri.


Namun Raven yang memiliki kekuatan lebih besar, malah lebih dulu mendorong tubuh Floretta dan menekan pundak wanita itu semakin menempel ke dinding. Istri dari raja vampir itu pun mengerang kesakitan.


"Apa ini? Kenapa aku bisa mencium wangi feromon dari tubuhnya? Bukankah dia hanya seorang pelayan?" Raven semakin bingung dengan wanita di hadapannya.


"Yang Mulia, tolong lepaskan aku," bisik Floretta dengan lirih.


"Mau melarikan diri dari sini? Cih! Kekuatan manusia biasa sepertimu bukanlah tandingan bangsa kami," ucap Raven sambil menatap Floretta dengan tajam.


Pria itu semakin enggan melepaskan wanita itu secara cuma-cuma. Dia sangat tertarik untuk mengulik informasi tentang wanita misterius ini lebih jauh lagi.


Sementara itu Floretta sudah tidak bisa berkutik lagi. Dia tak mampu menahan detak jantungnya yang berdebar tidak terkendali karena ketakutan. Kedua kakinya semakin gemetar.


"Lepas," lirih Floretta dengan tubuh melemas. "Tolong biarkan aku pergi," imbuhnya memohon pada sang pangeran.


Bukannya menuruti permintaan Floretta, pria tampan yang misterius itu justru menyeringai pelan. Dia tidak bergerak sedikit pun, dari posisinya saat ini.


"Apa ini adalah akhir dari hidupku?" batin Floretta pasrah.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2