
Floretta berjalan mondar mandir dengan gelisah di dalam kamarnya. Setelah pertemuannya dengan mantan tunangan Alden, pikirannya tak bisa lepas dari kata-kata yang diucapkan oleh wanita cantik itu.
"Membuka deep web itu gimana sih caranya? Kok susah banget?" Floretta membuang napas dengan kasar.
Sejak tadi dia sudah mencoba segala cara, sesuai dengan tutorial yang dilihatnya di internet, untuk membuka situs terlarang tersebut. Namun wanita polos yang sebelumnya sama sekali nggak pernah membuka situs terlarang seperti itu, kembali gagal untuk yang kesekian kalinya.
"Haaah ... Nyerah, deh. Buang-buang waktu."
Floretta menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu meletakkan HP ke atas meja. Kedua matanya menatap langit-langit berwarna putih, yang dihiasi oleh lukisan bintang-bintang yang sangat memanjakan mata.
"Ayah, Ibu, aku merindukan kalian. Apa benar kalian meninggal karena dibunuh oleh makhluk buas itu? Dulu aku terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi."
Bulir air mata, jatuh ke pipi Floretta yang tirus dan putih bagaikan salju. Hatinya perih dan lelah menghadapi semua keadaan ini. Sejak kedua orang tuanya meninggal, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Tidak ada lagi tempat berlindung dan berbagi cerita. Tidak ada lagi rumah tempat dia pulang. Rasanya benar-benar mengerikan, menjadi sebatang kara di dunia yang kejam ini. Ingin rasanya dia menyerah dan pergi, tapi Floretta tak ingin membuat kedua orang tuanya di atas sana bersedih.
"Kalau memang benar mereka semua telah membunuh kedua orang tuaku, untuk apalagi aku berada di sini? Percuma aja aku bersimpati pada mereka," batin Floretta menahan tangis.
"Sayang, kamu ngapain? Acara besok kamu ..."
"Gyaaa ... Pembunuh! Pergi kalian semua!" Jerit Floretta sembari mengelak dari Alden.
"Astaga, Flo! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Alden pun panik melihat sang istri tiba-tiba menjerit histeris seperti itu.
"A-al? Maaf, aku terkejut kamu datang tiba-tiba." Floretta yang baru menyadari kesilapannya, buru-buru meminta maaf pada sang raja.
"Ya, sayang. Tapi kamu kenapa? Apa Kak Raven mengganggumu lagi?" tanya Alden dengan cemas.
"Nggak, kok. Aku cuma ..." Floretta menghentikan kalimatnya yang belum usai dia ucapkan.
"Tunggu! Nggak mungkin aku mengatakan hal ini pada Alden, kan? Bisa-bisa dia membunuhku sekarang juga," kata Floretta dalam hati.
__ADS_1
"Kayaknya kamu terlalu capek, Flo. Istirahatlah, nanti waktunya makan malam akan aku bangunkan. Apa malam ini kamu mau makan menu Asia, seperti drama yang kamu tonton?" ujar Alden dengan suara lembut. Jemarinya mengusap rambut halus milik wanita itu.
Tangis Floretta pun pecah. Dia menangis tersedu-sedu, di hadapan sang suami.
"Tuhan, tolong katakan ini semua nggak benar. Bagaimana mungkin orang sebaik ini bisa membuhuh kedua orang tuaku? Jangan rebut kembali kebahagiaan yang baru saja aku rasakan," batin Floretta dalam tangisannya.
"Ada apa dengannya hari ini? Pasti terjadi sesuatu, kan?" gumam Alden dalam hati.
"Leon, tolong kamu cari tahu apa yang terjadi pada Floretta hari ini," perintah Alden setelah
...🦇🦇🦇...
Keesokan harinya, perayaan ulang tahun raja. Berbeda dari biasanya, hari ini halaman istana yang luas itu dipenuhi oleh rakyat kerajaan vampir. Hujan salju yang turun sejak tadi pagi, tidak menyurutkan semangat mereka untuk merayakan hari spesial tersebut.
Seluruh sudut istana tampak indah, dihiasi oleh bunga-bunga segar dan pita berwarna warni. Para pelayan tak lagi mengenakan pakaian seragam mereka yang berwarna abu-abu. Kali ini mereka bebas menggunakan gaun-gaun indah bertabur kristal.
Namun dari semua kemeriahan itu, ada satu hal yang membuat Floretta bersedih, yaitu puluhan ribu darah botol darah segar manusia. Floretta mampu melihat semuanya, dari balik kaca jendela kamarnya yang luas.
Ingatannya akan kejadian menjijikkan saat dia diculik dulu, dan ketika Raven mengoyak kulitnya kembali terulang. Belum lagi rumor bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh para vampir, yang hingga kini membuarnya overthinking pada Alden dan Raven.
"Kau udah siap, Flo?" tanya Alden.
"Ya, aku udah siap," jawab Floretta.
Hari ini dia mengenakan gaun sutra berwarna navy berbentuk A-line, dengan batu safire dan berlian menghiasi ujung roknya yang lebar. Sebuah tiara menghiasi rambutnya yang di sanggul messy low bun. Lehernya yang jenjang, semakin terlihat indah dengan kalung emas dengan hiasan permata berbentuk mawar merah, warisan Yang Mulia Ratu Selene Blanche.
Alden terpana dengan kecantikan ratunya tersebut. Memandang wajah wanita itu setiap hari, tak membuat raja vampir itu bosan. Dia justru semakin jatuh cinta pada wanita jelita dari ras manusia tersebut.
"Sebelum acara kamu sarapan dulu, ya. Tadi malam kamu tertidur lelap tanpa makan malam. Aku udah menyiapkan bubur abalone khas Asia untukmu," kata Alden.
"Terima kasih, Yang Mulia. Tetapi aku nggak selera makan," ujar Floretta tak bersemangat.
__ADS_1
"Aku mengerti perasaanmu, Flo. Ini pasti berat untukmu. Tapi kamu harus tetap mengisi perutmu, walau satu sendok aja," bujuk Alden dengan sabar. "Terus, aku nggak memaksamu untuk mengikuti acara ini. Kalau kamu nggak sanggup, kamu boleh istirahat di kamar selama acara," kata Alden lagi.
"Nggak apa-apa. Aku tetap ikut acara walau pun sebentar. Mereka pasti mengejekku lagi, kalau aku absen dari acara ini," kata Floretta sembari mengumpulkan mentalnya.
"Ya udah kalau gitu. Tapi kamu makan dulu, ya. Aku suapin, deh," bujuk Alden lagi.
Floretta pun menganggukkan kepalanya sambil menahan tangis, melihat sikap manis sang suami.
...🦇🦇🦇...
Perayaan ulang tahun raja begitu meriah. Beragam festival budaya pun ditampilkan dari setiap provinsi. Beragam makanan mewah disediakan di ratusan tenda, yang dapat dimakan oleh siapa saja.
Floretta pun mendampingi sang raja, meski dihujani cibiran dan tatapan tajam dari para bangsawan vampir. Apalagi Alden Black sang raja vampir selalu menggenggam tangannya dengan wajah tersenyum ceria. Sementara itu Pangeran Raven Black, berada di sisi kanan raja dengan baju kebesarannya.
"Erlina, apa ini? Katanya kamu sudah menyusun rencana dengan matang? Lihat, wajahnya baik-baik aja, tuh. Nggak ada masalah sama sekali," bisik Novac pada sang adik, yang duduk di sebelahnya.
"Duh, aku nggak tahu. Padahal aku udah mengatakan semuanya pada dia kemarin. Apa dia nggak peduli pada kedua orang tuanya?" umpat Erlina kesal. "Tapi aku ..."
"Ssstt! Jangan ribut. Sebentar lagi memasuki acara inti. Lagipula seluruh rakyat juga sudah membuat surat penolakan Floretta, kok. Cuma mereka menahannya sampai acara ini selesai," tegur Edmund Grey.
"Tapi aku mau bilang ..."
"Ssssttt!"
Para bangsawan senior melirik tajam ke arah gadis vampir itu, sambil meletakkan telunjuk mereka di depan bibir. Rupanya mereka telah memasuki acara inti, yakni meminum darah manusia.
"Tenanglah, Floretta. Ini semua darah yang diambil dengan cara legal, kok. Bukan dengan kekerasan. Lagipula aku juga nggak meminum darah manusia," bisik Alden menenangkan sang istri yang tampak tegang.
Seorang pelayan senior lalu memberikan dua gelas berisi cairan merah kental pada sang raja vampir dan istrinya, Floretta Blue. Floretta lalu meneguk isi gelas tersebut bersama para vampir lain yang meminum darah manusia segar.
Bruk! Tepat setelah tegukan terakhir, Floretta pun ambruk ke lantai.
__ADS_1
"Floretta!" seru Alden panik. Tim medis pun buru-buru datang menghampiri sang putri yang tergeletak tak berdaya.
(Bersambung)