Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 39. Tandatangan Pembatalan Pernikahan


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Floretta memanggil Lily dan Bu Magenta, wanita itu mendengar obrolan dari para pelayan yang membuat telinganya panas.


"Eh, apa kalian udah dengar? Duches Erlina udah pulang dari kuliah di luar negeri," ucap salah seorang pelayan dengan volume cukup tinggi, seakan disengaja biar Floretta mendengarnya.


"Wah, beneran? Pantesan Yang Mulia Raja nggak jadi makan malam sama Yang Mulia Putri," balas pelayan lainnya.


"Pasti Yang Mulia Raja kangen banget sama Duchees Erlina. Dia kan udah nggak pulang selama satu tahun lebih," balas pelayan lainnya.


Floretta hanya berjalan melalui para pelayan itu tanpa menggubrisnya. "Dasar pelayan kurang kerjaan. Apa mereka seharian hanya berkumpul di lorong istana dan bergosip?" batin Floretta.


Rasa kesal yang dialami oleh Floretta menjadi berlipat ganda, setelah ditolak makan malam bersama suaminya. Dan sekarang malah dijadikan bahan gosip oleh para pelayan.


"Apa Yang Mulia Raja bakalan menikahi Duchees Erlina dan menjadikannya ratu?" celetuk salah seorang pelayan muda.


"Heeeii ... Mana mungkin. Katanya Putri Floretta kan tidak mau pulang ke dunia manusia," balas pelayan lainnya, sambil menyuruh rekannya mengecilkan suara.


"Loh, bisa aja kan Duchees Erlina menikah dengan Raja, kemudian diangkat menjadi ratu. Lalu posisi Putri Floretta diturunkan menjadi selir."


Celetukan dari pelayan ini sukses membuat langkah Floretta berhenti. Padahal tinggal beberapa langkah lagi sampai di kamarnya. Dia lalu menajamkan indra pendengarannya, untuk menguping pembicaraan mereka.


"Benar juga. Status sosial Duchees Erlina kan jauh lebih tinggi dibandingkan Putri Floretta yang cuma pelayan. Lagian Duchees Erlina sudah memenuhi persyaratan. Bukannya ini pernah terjadi di zaman Raja Edward?" timpal yang lain.


"Kalau itu beneran terjadi, aku setuju sih. Duchees Erlina kan wanita yang baik dan lemah lembut. Mirip seperti Mendiang Ratu Selene Blanche," gumam para pelayan lain.


"Apa yang mereka bilang itu benar? Kenapa nggak ada satu pun yang mengatakan hal ini padaku sebelumnya?" gumam Floretta dalam hati.


Masih dengan perasaan kesal, dia lalu memanggil Lily dan menyuruhnya untuk mengantar makanan yang dimasaknya ke kamar Alden.


...🦇🦇🦇...


"Eh, apa ini?"


Alden melihat sebuah tudung di atas meja dalam kamarnya. Dia lalu membuka tudung itu, dan mendapati dua buah kebab daging domba yang sudah dingin.

__ADS_1


"Terima kasih hadiahnya, suamiku. Ini hadiah kecil dariku. Semoga kamu suka. Mulai sekarang aku akan selalu menemanimu dan memberikan hadiah kecil seperti ini."


Alden tertegun membaca surat pemberian sang istri. Dia sedikit merasa bersalah, karena tadi menolak makan malam bersama Floretta. Padahal sebelumnya dia sendiri yang meminta, agar Floretta selalu menemaninya makan.


"Aromanya enak banget. Tapi sayang, perutku udah kenyang," gumam Alden.


Namun aroma yang mengundang selera, membuat Alden mencicipi masakan sang istri.


"Hmm, enak. Rupanya dia pandai memasak," gumam Alden. "Dia pasti sudah menyiapkan ini, dan menungguku untuk makan bersama."


Rasa bersalah Alden semakin besar. Dia lalu kembali mengenakan jasnya, dan menuju ke kamar Floretta.


"Ada apa malam-malam ke sini, Yang Mulia?" tanya Leon Hazel yang berjaga di depan kamar, bersama beberapa pengawal lainnya.


"Aku hanya ingin menemui istriku. Apa itu aneh?" balas Alden sambil mendengus kesal.


"Yang Mulia Putri Floretta sudah tidur sejak tadi. Beliau berpesan, tidak mengizinkan seorang pun memasuki kamarnya sampai besok pagi," kata Leon dengan tegas.


"Uh, dia pasti masih ngambek gara-gara tadi," kata Alden dalam hati. Dia tidak tahu, jika Floretta saat ini sedang menyusun sebuah rencana bersama para pelayannya.


...🦇🦇🦇...


"Woah, aku nggak menyangka Anda akan terlihat secantik ini, Yang Mulia." Lily berdecak kagum, melihat wanita dengan paras cantik dan anggun bagaikan bidadari itu.


"Jadi menurutmu selama ini aku jelek?" ujar Floretta menggoda sang pelayan.


"Ampun, Yang Mulia. Biasanya Anda juga terlihat sangat cantik, kok. Tetapi kali ini sangat luar biasa," Lily buru-buru meralat kalimatnya.


"Tapi beneran, Yang Mulia Putri nggak bertemu dulu dengan Yang Mulia Raja?" tanya Bu Magenta. "Beliau pasti menunggu Yang Mulia Putri untuk sarapan bersama," imbuh pelayan senior tersebut.


Huh! Floretta jadi kesal lagi, gara-gara masalah makan bersama.


"Tidak, Bu Magenta. Kami sudah punya acara masing-masing pagi ini." Floretta tetap berbicara dengan lembut sambil tersenyum, meskipun hatinya masih merasa dongkol.

__ADS_1


"Nah, sudah selesai. Yang Mulia sudah bisa sarapan," ucap Lily. Dia merasa puas dengan tatanan rambut yang dibuatnya.


"Aku makan anggur dan minum secangkir susu saja untuk sarapan pagi ini," kata Floretta kemudian.


Wanita itu sengaja memilih sarapan yang nggak ribet dan lama, agar bisa buru-buru pergi. Dia tidak ingin rencananya gagal, karena bertemu Alden sebelum menemui Edmund.


"Baik, Yang Mulia." Bu Magenta segera menyiapkan sarapan, sesuai permintaan majikannya.


Dua puluh menit kemudian.


"Yang Mulia Floretta telah datang," seru seorang pengawal, yang berjaga di depan pintu ruang pertemuan anggota dewan.


Tap! Tap! Tap! Floretta melangkah dengan anggun, layaknya seorang ratu. Gaun birunya yang bermandikan kristal perak, membuat penampilannya terlihat mewah dan elegan. Kalung emas dan tiara mungil di kepalanya, juga menambah kesan anggun pada mantan pelayan tersebut.


Semua mata menatapnya tanpa berkedip. Mereka semua kagum, dengan kecantikan Floretta yang luar biasa. Bahkan Daisy yang seorang wanita pun, mengakui kecantikan wanita itu. Padahal Floretta hanya memoles wajahnya dengan make up tipis.


"Padahal kemarin penampilannya biasa-biasa aja, tetapi kenapa hari ini dia terlihat seperti seorang ratu sungguhan?" batin para anggota dewan.


"Apa dia sengaja mau menunjukkan, kalau dia orang paling penting di sini?" cibir Russel tak suka.


"Dia pikir, dia cantik berdandan seperti itu? Hah, dia masih sama seperti tikus got yang bau." Daisy denial terhadap isi hatinya sendiri.


"Rupanya kalian semua datang tepat waktu, ya. Apa kalian semua melewatkan sarapan, hanya untuk menungguku?" ucap Floretta dengan nada sangat rendah, namun cukup menyindir.


"Tentu saja. Kami sangat menantikan kedatangan Yang Mulia Putri Floretta. Jadi apa keputusan Yang Mulia?" tanya Edmund mewakili para anggota dewan.


"Baiklah, terima kasih sudah menunggu." Floretta kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. "Seperti yang aku bilang kemarin, aku datang ke sini untuk menyerahkan surat pembatalan pernikahan.


Semua anggota dewan istana menahan napas, saat Floretta membuka amplop.


"Ini, Duke Edmund," ujar Floretta.


"A-anda menandatanganinya, Yang Mulia?" gumam Edmund tidak percaya. Dia melihat tanda tangan Floretta tertera di bagian bawah surat, dengan tinta berwarna biru.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2