Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 97. Ujian Calon Ratu


__ADS_3

"Apa dia akan berhasil?" bisik Raven pada Alden yang duduk di sebelahnya. Matanya yang biru hazel, melirik ke arah Floretta yang duduk sendirian di kursi paling kanan.


"Entahlah, semoga saja," balas Alden sambil mengangkat kedua bahunya. Wajahnya yang tampan, terlihat jauh lebih tegang dibandingkan Raven.


Tadi malam setelah berbincang dengan Floretta, Alden mengumpulkan beberapa pihak dan melakukan rapat terbatas. Mereka pun sepakat untuk melakukan ujian calon ratu hari ini. Beberapa bangsawan kelas menengah, seperti keluarga Beige, Cinnamon, Bronze, hingga Mint dan Emerald, secara mengejutkan memberi dukungan pada Floretta Blue.


Floretta berjalan ke tengah aula dengan langkah tegas namun tetap anggun. Dagunya terangkat, menunjukkan kesiapannya untuk mengikuti ujian calon ratu.


Semua kamera di ruangan itu menyorot ke arahnya. Berbeda dari biasanya, ujian ratu kali ini akan disiarkan secara langsung di seluruh negeri, agar tidak ada kecurangan.


Floretta tersenyum tipis ke arah kamera, bagaikan seorang model profesion. Kulitnya yang putih terlihat sehalus sutra. Sayapnya yang luar lebar, tampak kemilau seperti butiran pasir di pantai yang tersiram cahaya matahari. Rambutnya yang biasa terlihat hitam, kini berwarna perak dan digulung ke atas tanpa tiara atau hiasan apa pun.


Sosok baru Floretta, membuat semua orang yang hadir di ruangan itu terkejut. Tak ada yang menyangka, akan hadir seorang penyihir agung di tengah-tengah mereka.


Para bangsawan yang hadir pun saling berbisik. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa menjadi penyihir agung? Apa rumor yang menyatakan kalau dia satu-satunya keluarga Blue adalah benar?


"Ck, kita terlambat. Harusnya kita langsung menyerang istana saat Alden terluka kemarin," gerutu Daisy yang duduk di barisan kursi bangsawan kelas dua.


"Masih belum terlambat. Kita bisa mengalihkan perhatian mereka saat ujian berlangsung. Jadi ujian ini akan gagal dan manusia itu kehilangan kesempatan untuk menjadi ratu di negeri ini," bisik Russel sambil tersenyum misterius, disambut dengan anggukan kepala Erlina.


Ujian calon ratu pun dimulai. Satu per satu pertanyaan yang dilemparkan oleh tim penguji, dapat dijawab oleh Floretta dengan sangat baik. Beberapa ujian praktek pun dapat dilalukannya tanpa kesalahan.


Erlina mulai terlihat gusar. Iris matanya yang berwarna kecoklatan, bergerak ke kanan dan ke kiri memperhatikan keadaan sekitar. Sesekali wanita berambut pirang itu melemparkan pandangangannya keluar jendela. Dia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.


"Үхсэн ойн чөтгөрүүд та нар хаана байна?" Erlina menggumam pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Hanya suara dewan penguji dan riuh bangsawan yang memenuhi aula istana tersebut. Erlina lalu mendongakkan kepalanya ke atas, sembari mengibaskan satu tangannya.


Butiran air mendadak turun dan mengucur dari angkasa dengan cukup lebat. Beberapa saat kemudian petir dan kilat pun menyambar dengan kuat, diiringi hembusan angin kencang.


Semua panik. Badai yang tak disangka-sangka, datang menyerang ibukota. Beberapa staf kerajaan tampak panik. Mereka pun mengabarkan, bahwa di beberapa titik mengalami banjir. Padahal hujan baru saja turun sekitar lima menit yang lalu.


"Banjir? Aneh banget? Selama belasan tahun kota ini nggak pernah lagi mengalami banjir," pikir Raven curiga.


Hujan yang turun karena sihir itu pun tak kunjung berhenti, membasahi seluruh wilayah ibukota. Ujian calon ratu pun tertunda. Alden dan beberapa stafnya mengurus banjir terlebih dahulu.


Erlina tersenyum tipis. Rencananya hampir berhasil. Wanita itu mengedarkan pandangannya, menunggu semua orang lengah.


Blarrrr!


Wanita itu terkesiap dan memekik kaget, ketika sebuah kilat cahaya tiba-tiba menyambarnya. Dentuman suaranya begitu keras, mengantam tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Tak seorang pun yang menolongnya untuk berdiri.


"Y-yang Mulia Raja?" lirih Erlina yang gemetar melihat sosok raja vampir itu marah.


Pria dengan wujud menyeramkan dan taring panjang itu melayang di udara. Sepasang sayapnya yang berwarna hitam kelam, berkilauan sepanjang lima meter di masing-masing sisi punggungnya. Matanya yang memerah menatap Erlina dengan tajam.


Alden terlihat marah. Tidak ... Dia terlihat murka lebih tepatnya.


Rose Fuchsia mengernyitkan keningnya sambil mengedipkan mata beberapa kali. "Yang Mulia Raja punya sayap?" gumamnya.


Sementara Erlina tak dapat mengendalikan tubuhnya, yang mendadak pucat dan gemetar karena ketakutan. Bagaimana bisa Alden mengetahui, kalau dia lah penyebab semuanya? Alden kan tidak bisa merasakan energi sihir tingkat tinggi?

__ADS_1


"Ya, hanya penyihir level tertinggi yang memilikinya," jawab seseorang bersuara berat di belakang mereka.


"Edmund? Apa maksudnya ini?" tanya Rose.


"Ku dengar salah seorang keluarga Amethyst meletakkan batu bulan di kamar raja dan membuat pria itu terluka. Namun, hal itu justru membangkitkan kekuatan tersembunyi miliknya. Kalian telah menggali kuburan kalian sendiri," jawab Edmund.


"Kau mengkhianati kami?" timpal Daisy pula.


"Bukannya kalian duluan yang berkhianat dariku? Iya kan, Erlina?" kata Edmund sambil mengeraskan rahangnya, karena menahan marah.


Erlina hanya mematung, sambil menelan ludahnya. Napasnya semakin terasa sesak, tatkala sosok bersayap hitam itu terbang mendekatinya. Para vampir lain yang berada di sana pun berlari menghindar.


"Хөөе, хараал идсэн чөтгөрүүд. Чамайг там руу явуулахыг бурхадаас гуйхаас өмнө энэ бүх эмх замбараагүй байдлыг зогсоо."


Suara maskulin yang menggemakan mantra sihir itu, serta merta membuat mata cokelat Erlina membelalak lebar karena terkejut.


"Sial!" desisnya pelan. "Dia telah menemukan kunci sihirnya," lanjutnya dalam hati.


Lalu selang beberapa detik kemudian, Alden merentangkan tangannya dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyulaukan.


Erlina semakin terpekik kaget, ketika cahaya putih itu menghantam tubuhnya. Kedua matanya terpejam rapat, karena kilau cahaya itu membuat kepalanya berdenyut dan terasa nyeri.


Hujan yang tadi turun kian lebat, kini serta merta berhenti. Ketika titik air telah benar-benar sirna, cahaya mentari yang kuning keemasan pun kembali menyinari permukaan bumi.


Tapi, ada masalah baru yang muncul. "Di mana Yang Mulia Putri Floretta? Jika Yang Mulia tidak menyelesaikan ujian ini, maka beliau akan gagal menjadi ratu," ucap salah satu dewan penasehat istana.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2