Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 92. Penyesalan Alden


__ADS_3

"Aku membunuh Aldric Blue dan Zinnia Blue, dibantu oleh Jade Green dan Olive Green. Aku berpikir jika mendapatkan darah super langka itu, maka pandangan semua orang padaku akan berubah," ungkap Raven dengan suara bergetar. Bibirnya bergerak pelan mengucapkan sebuah mantra, sehingga Floretta terlepas jeratan sihirnya.


Bagai di sambar petir, tubuh kaku Floretta bergetar saat mendengar pengakuan sang pangeran. Hatinya perih, mengetahuo bahwa kedua orang tuanya meninggal, karena ulah pria bodoh di hadapannya.


"Paman dan Bibi?" gumam Floretta lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan, karena menahan tangis.


"Ya, mereka terlilit hutang yang sangat besar, dan menjual ayah dan ibumu padaku."


"Jadi mereka tahu tentang dunia vampir?"


Raven menggelengkan kepalanya. "Mereka berdua menjual ayah dan ibumu kepadaku, Putra Konglomerat yang sedang mencari budak, melalui pasar gelap," jelas Raven.


Dengan bahasa isyarat, pria itu meminta keempat pengawal di hadapannya kembali berdiri.


"Aku yang hanya memerlukan darah kedua orang tuamu, akhirnya mengembalikan jasad kedua orang tuamu pada mereka. Jade dan Olive Green pun terkejut menerimanya. Mereka tak menyangka hal itu akan terjadi," sambung sang pangeran.


"Memangnya aku bakal percaya gitu aja? Lalu Alden?" selidik Floretta.


"Dia nggak membantuku sama sekali. Seperti yang kubilang tadi, aku mau meraih simpati kerajaan dengan mendapatkan darah langka itu. Jadi kenapa aku mengajak Alden?" kata Raven berterus terang.

__ADS_1


"Tapi rencanaku malah gagal total. Raja marah padaku, karena aku membunuh manusia dengan keji. Akhirnya gelar putra mahkota resmi dicopot dariku. Sejak itu aku semakin membenci semua orang, dan menyendiri," ungkap Raven lagi.


"Aku masih nggak percaya," jawab Floretta. "Jelas-jelas di buku diary itu dia menuliskan rasa bersalah berulang kali, karena telah ikut membunuh ayah dan ibuku. Kalian pasti merencanakan sesuatu yang licik, kan? " Floretta menjerit histeris dengan nada putus asa.


"Dia memang merasa bersalah denganmu. Karena waktu itu dia melihat semua perlakukanku pada ayah dan ibumu, tanpa berani berbuat apa-apa."


Raven menjentikkan jarinya dua kali. Seketika selembar kertas berwarna cokelat dengan tinta biru, terbang melayang ke hadapan Floretta.


"Itu adalah lembaran buku Diary yang hilang milik Alden. Aku merobeknya setelah ayah dan ibuku meninggal. Aku melihat, dia selalu menangis dan tak bisa tidur ketika membaca halaman ini," kata Raven. "Bacalah," ucapnya lagi.


Meski merasa enggan, Floretta tetap membaca lembaran buku diary milik sang suami itu. Floretta tercengang. Matanya terbuka lebar. Mulutnya menganga sambil menatap barisan kata yang ditulis dengan tinta biru tersebut.


"Tahun 5436 Kerajaan Vampir. Usiaku masih sebelas tahun, saat insiden itu terjadi. Musim gugur yang dingin itu, aku sedang bermain di laboratorium untuk mengisi liburanku."


Maafkan aku, Flo. Aku tak bisa menyelamatkan kedua orang tuamu. Aku yang vampir penakut ini hanya bisa bersembunyi, dari kakakku yang pemarah itu. Maafkan aku, sahabatku."


"Ah, bukan. Aku bukan sahabatmu lagi. Aku adalah pengkhianat," tulis Alden di akhir halaman.


Air mata Floretta menangis saat mengetahui semua fakta itu. Memori kepalanya pun teringat satu lembar halaman yang hilang, di antara lembaran buku diary lainnya. Tapi, apa semua ini beneran?

__ADS_1


"Tak kusangka Alden menyimpan rasa bersalah yang teramat besar hingga dia dewasa, karena tak mampu menyelamatkan kedua orang tuamu. "


"Ini semua belum bisa dijadikan bukti kalau Alden nggak bersalah. Bisa aja kalian merekayasa isi diary ini, untuk menarik simpatiku, kan?" Floretta masih tidak percaya dengan apa yang dia baca barusan. "Dia juga hampir melukaiku dengan sihirnya, kan?"


"Ya, catatan diary memang gak bisa dijadikan bukti otentik," ucap Raven. Pria itu lantas berdiri dan berjalan mendekati meja kerjanya.


"Ini beberapa bukti yang aku temukan, saat menyelidiki hubungan kalian berdua. Selama kau tinggal di sini, dia menyelidiki semua kejahatan paman dan bibimu. Dia juga membeli rumah peninggalan orang tuamu seharga dua kali lipat, yang telah disita oleh rentenir. Semua dia lakukan karena menyayangimu."


Wanita bermata biru itu tersentak kaget mendengarnya. Dia pun teringat surat dari bibinya beberapa waktu lalu, yang meminta bantuannya untuk membayarkan hutang. Namun Floretta menolaknya. Dia membiarkan rumah peninggalan kedua orang tuanya dijual atau disita, dan meminta Alden membelinya dengan harga dua kali lipat.


"Kamu masih belum percaya juga? Tadi Alden mengadakan rapat dengan anggota dewan penasehat istana untuk mengundurkan diri dari istana dan hendak membawamu tinggal di dunia manusia. Dia meyakinkan semua dewan penasehat, bahwa aku telah memenuhi syarat untuk memimpin kerajaan ini," ucap Raven.


"Apa? Dia mengambil keputusan sebesar itu?" Floretta menatap kakak iparnya dengan pandangan tak percaya.


"Ya, tapi tentu saja keinginannya ditolak dengan tegas," balas Raven dengan nada datar.


"Dari tadi aku sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi aku tak mendengarmu bertanya tentang keadaan Alden? Apa kamu nggak khawatir dengan keadaannya? Padahal dia langsung pergi meninggalkan pekerjaannya, saat mendengarmu terluka," sindir Raven pada sang adik ipar.


Floretta menundukkan kepalanya dengan malu. "Mungkinkah mereka udah tahu, kalau aku yang udah melukai Alden?" pikir Floretta dalam hati.

__ADS_1


"Sekarang kita sedang dalam masalah besar. Keadaan Alden sekarang ..."


(Bersambung)


__ADS_2