
“Lingerie lagi? Lalu aku harus bagaimana?” seru Floretta kesal. Sang putri yang biasanya bersikap anggun dan elegan itu pun, membanting pintu lemari dengan keras.
“Ya kalau gitu pakai saja. Toh nggak ada siapa-siapa di sini selain kita berdua.”
“Kyaaa! Hantu!”
Floretta menjerit kuat, saat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya. Bukankah dia sendirian di kamar ini?
"Apa wajahku seseram itu, sampai kamu mengira aku ini hantu?"
Floretta memutar tubuhnya ke belakang, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Dia mendapati Alden berdiri tepat di belakangnya.
"Bukan begitu. Tapi gimana caranya Yang Mulia bisa ada di sini tiba-tiba?" gumam Floretta malu. Kedua tangannya sibuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut oleh bath robe mini.
"Aku kan bisa mengakses kamar ratu secara pribadi," ujar Alden sambil mengedipkan mata dengan nakal.
"Oooh, jadi semua ini rencana licikmu? Apa Yang Mulia juga, yang mengatur agar Lily bisa pulang ke kampung halamannya?" ujar Floretta dengan bibir manyun.
Wanita itu merasa salah tingkah, karena ini pertama kalinya dia mengenakan pakaian terbuka di hadapan Alden.
"Kalau soal itu aku nggak bohong. Ibunda Lily memang sedang sakit," jawab Alden. "Tapi, untuk saat ini aku ingin memberimu tanda, supaya kamu nggak bisa diganggu oleh vampir lain," sambung pria itu sambil tersenyum nakal.
"Memberi tanda? Seperti apa?" tanya Floretta dengan polos.
"Aku tahu, kamu sering dituduh bermain api denganku sebelum menikah. Tetapi mereka semua tetap merasa terancam dengan keadaanmu, kan? Bahkan sampai mengusirmu dari sini, biar nggak jadi ratu," kata Alden.
"Maksudnya?" Floretta masih tidak mengeti.
"Para vampir itu tahu, kalau syarat mutlak menjadi seorang ratu adalah masih dalam keadaan suci, sampai pernikahan dilaksanakan. Jadi sebenarnya mereka tahu, kalau kamu belum pernah disentuh sama sekali," jelas Alden.
"Jadi dari sana mereka tahu, kalau aku belum disentuh Alden sama sekali?" gumam Floretta dalam hati.
"Jujur aja, aku merasa khawatir melihat perubahan Kak Raven yang tiba-tiba. Makanya aku ingin melindungimu dan memberimu tanda. Kalau kamu sudah 'bercampur' dengan raja, maka peluangmu menjadi ratu akan semakin besar," kata Alden.
"Kalau begitu lakukan sa ... Tunggu! Kamu bilang apa tadi? Apa kita harus melakukannya?"
Floretta langsung mundur beberapa langkah setelah menyadari, apa yang harus mereka lakukan untuk mempertahankan posisinya sebagai calon ratu.
__ADS_1
Alden berjalan mendekati Floretta, hingga wanita itu terjepit di antara dinding dan dirinya.
"Memangnya kenapa kalau kita melakukannya? Toh, kita udah sah," ajak Alden. Wajahnya kian mendekat dengan wajah mungil wanita itu.
"Uh..."
Floretta bergumam lembut, ketika sebuah tangan kekar berkulit putih pucat mengelus pipinya secara perlahan.
Alden menghentikan aktivitasnya sejenak. Tatapannya memuja tubuh memakai tanpa cela milik Floreta yang hanya dibalut bath robe sepanjang sepangkal paha. Begitu seksi dan padat di area tertentu. Namun langsing dan ramping di area lainnya.
Lelaki itu lalu mendekatkan hidungnya di pipi Floretta, untuk menghirup aromanya.
"Harum dan sangat manis," bisiknya lirih, seraya menahan diri untuk tidak menyesap aroma darah yang memabukkan itu.
"T-tapi aku belum siap?" ujar Floretta dengan suara bergetar. Hasrat yan menggelora di dalam tubuhnya, bercampur padu dengan rasa takut yang menguasai dirinya.
"Lalu kapan kamu akan siap? Kita sudah hampir dua bulan menikah, tetapi belum juga melakukannya. Apa aku harus mengambil selir untuk menyalurkan hasratku?" ancam Alden.
Floretta lalu terdiam. Namun tubuhnya masih gemetar. Tapi dia tidak ingin ada orang ketiga di dalam pernikahannya.
Melihat wanita lugu itu mulai pasrah, Alden lalu menempelkan bibir seksinya, ke pipi sang istri. Perlahan namun pasti, gerakannya semakin turun ke bibir mungil wanita itu.
"Al, aku belum siap. Kasih aku waktu beberapa hari lagi."
Floretta melepaskan pagutan bibir mereka, lalu menjauhkan tubuh sang suami darinya. Tangan mungilnya menahan jemari sang suami, yang hendak menarik bath robe itu terlepas dari tubuh sintalnya.
Alden sedikit kesal dengan sikap Floretta. Nafsunya sudah terlanjur memuncak hingga ke ubun-ubun. Tetapi kemudian dia merasa iba, melihat Floretta yang semakin gemetar kuat, hingga tubuhnya lemas.
"Ya sudah kalau begitu," gumam Alden seraya meluruskan sesuatu di dalam celananya. "Sebenarnya masih ada cara lain untuk membuat tanda, meskipun tidak terlalu efektif," ujar Alden mengalah.
"Apa itu?" tanya Floretta sembari memperbaiki bath robe-nya yang sudah terbuka separuh.
"Menghisap darahmu."
"Apa? Nggak mau!" tolak Floretta dengan cepat.
"Lalu gimana caranya aku membantumu?" ujar Alden setengah membentak.
__ADS_1
Tentu saja dia kesal. Semua usahanya untuk menolong wanita itu selalu ditolak.
"Ta-tapi bukankah kamu akan sakit, kalau menghisap darah manusia?" bisik Floretta. Jemarinya yang mungil, mengusap pipi Alden dengan lembut.
"Y-ya, biasanya begitu. Tapi itu kan nggak membunuhku," jawab Alden. "Lagipula aku harus melindungimu apa pun caranya, agar kejadian dulu nggak terulang lagi," imbuhnya.
"Kejadian dulu?" ulang Floretta.
"Uh, iya. Maksudku kejadian yang kamu dijahatin mereka," ujar Alden sambil memutar matanya.
"Dia berbohong," gumam Floretta dalam hati.
"Apa aku boleh bertanya satu hal?" tanya Floretta.
"Tentu aja boleh."
"Apa aku akan berubah jadi vampir, setelah kalian gigit? Terus, gigitannya sesakit apa?" tanya Floretta takut.
"Kamu akan tetap menjadi manusia, kok. Terus soal gigitannya? Kalau kamu penasaran, kita coba saja."
...🦇🦇🦇...
Sinar mentari pagi yang masuk melalui sela-sela tirai jendela, membuat mata biru itu terbuka secara perlahan. Suara gumaman yang masih diwarnai kantuk, keluar dari bibir merah ranum sang pemiliknya.
Floretta belum pernah merasakan tidur yang senyenyak ini seumur hidupnya. Dengan kembali memejamkan mata, sebuah senyum cantik pun melengkung di wajah wanita itu.
"Tunggu!"
Floretta sontak membuka kedua matanya kembali, ketika menyadari sesuatu. Dia merasa sedikit aneh di sini.
"Bukankah tadi malam Alden berada di sini? Lalu ke mana dia sekarang? Apa yang terjadi padanya tadi malam?"
Wanita itu menyibakkan selimut lembut yang terbuat dari bulu domba merino, domba tersebut merupakan penghasil wol terbaik.
Floretta memeriksa bajunya. Kini dia telah mengenakan piyama, bukan lagi bath robe yang seksi. Spreinya masih sama seperti kemarin dan tidak terlihat ada bercak darah di sana.
Tetapi Floretta merasa lehernya agak pegal. Kaki jenjang nya pun meluncur turun dari ranjang, ke atas karpet tebal dan halus berwarna hijau emerald. Dia Lalu mengeceknya di depan cermin. Terdapat empat lubang kecil berwarna merah, seperti bekas tusukan jarum.
__ADS_1
Ah, rupanya Alden beneran menghisap darah ku tadi malam aku masih seorang manusia kan?
(Bersambung)