
“Aku masih seorang manusia, kan?”
Floretta memegang lehernya yang sedikit perih karena bekas gigitan. Beberapa kali dia meringis, karena menahan rasa sakit. Wanita itu juga membuka mulutnya lebar-lebar, untuk memastikan kalau di dalam mulutnya tidak tumbuh dua pasang taring seperti vampir lainnya.
“Selamat pagi, Yang Mulia.”
Marry yang bertugas menggantikan Lily, memencet pintu kamar Floretta dan berbicara melalui intercom.
“Masuklah,” perintah Floretta.
Wanita yang mengenakan seragam abu-abu itu lalu memasuki ruangan, seraya membawa sebongkah bawang putih, dan setangkai Tanaman yarrow atau Achillea millefolium.
“Yang Mulia Raja memintaku untuk membawakan ini,” ujar Marry sembari menyodorkan dua herbal itu.
“Untuk apa?” tanya Floretta tak mengerti.
“Tanaman Yarow ini akan saya giling, lalu dioleskan ke bekas luka untuk menghilangkan rasa sakitnya. Setelah itu tempelkan bawang putih ini untuk menghilangkan bekas luka,” jelas Marry.
“Oh, baiklah. Terima kasih Marry,” jawab Floretta.
Dia lalu mengoleskan tanaman yarrow yang telah dihaluskan oleh sang pelayan. Ajaib! Rasa perih dan pegal di lehernya berangsur hilang. Floretta kemudian menempelkan bawang putih yang telah diiris tipis ke bekas luka gigitan tersebut.
“Huh, ternyata televisi itu penipu! Kata siapa vampir takut dengan bawang putih? Ternyata mereka malah menggunakannya sebagai obat,” batin Floretta.
“Yang Mulia, air hangat sudah saya siapkan. Yang Mulia sudah bisa mandi sekarang,” ujar Marry membuyarkan lamunan Floretta.
“Oh, terima kasih. Tapi kamu nggak mengunci semua lemari gaunku seperti kemarin, kan?” ujar Floretta sembari memasang wajah kesal. Dia juga memastikan, bahwa tidak ada lagi baju haram itu di dalam kamarnya.
“Tidak kok, Yang Mulia. Saya sudah menyiapkan gaun untuk hari ini. Lalu soal tadi malam, saya minta maaf. Saya hanya menuruti perintah Yang Mulia Raja,” ucap Marry sambil tertunduk lesu.
__ADS_1
“Ya sudah, aku nggak marah padamu, kok. Tapi lain kali aku nggak mau seperti itu lagi,” ujar Floretta.
...🦇🦇🦇...
“Apa kamu udah siap, Flo?” Alden mengunjungi kamar sang istri, untuk mengajaknya sarapan bersama.
“Ya, aku udah siap.”
Hari ini Floretta mengenakan gaun berleher tinggi, dan bergaya klasik untuk menemani sang raja sarapan pagi. Alden terpana dengan kecantikan sang istri yang sangat sempurna. Bagaikan Dewi yang turun dari langit.
Namun, mereka berdua merasa canggung, saat kedua mata mereka saling bertemu pandang.
“Tadi malam …” Floretta dan Alden bicara bersamaan, lalu berhenti tepat di waktu yang sama juga.
“Kamu aja dulu. Ada apa?” ucap Alden mempersilakan Floretta bicara duluan.
“Aku sengaja membuatmu lupa akan rasa sakitnya. Lalu soal baju, kamu sendiri yang menggantinya sebelum tidur. Pelayan memberikannya padamu,” jawab Alden.
“Ah … Jadi begitu, ya?” gumam Floretta lega.
“Kenapa wajahmu terlihat ceria? Apa tadi kamu berpikir, bahwa aku melakukan sesuatu padamu, saat kamu tidur? Jangan-jangan kamu berpikir, kalau aku yang mengganti bajumu?” ucap Alden sambil menyengir.
“Nggak, kok. Bukan gitu.” Floretta mengibaskan kedua tangannya di depan dada. Dia malu karena Alden bisa menebak dengan tepat isi pikirannya. “Terus tadi kamu mau bilang apa?” Floretta dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
“Apa tadi malam tidurmu nyenyak? Aku langsung pergi setelah menghisap darahmu. Karena aku takut berbuat lebih dari itu, kalau terus bersamamu yang berpakaian seksi itu,” ujar Alden dengan wajah memerah.
Bagaimana pun juga, dia adalah pria normal yang butuh menyalurkan kebutuhan biologisnya.
“Nyenyak. Aku tidur nyenyak sekali, kok. Kamu nggak memberiku obat tidur, kan?” sahut Floretta dengan cepat.
__ADS_1
Wajah mungilnya yang tadi tertunduk malu, kini terlihat lebih semringah. Bibir merahnya yang ranum, terlihat melengkung ke atas.
“Ah, kenapa aku jadi teringat sensasi tadi malam. Rasa darahnya begitu nikmat dan segar. Sangat berbeda dengan darah manusia lain yang pernah aku hisap. Aku juga tidak sakit setelah menghisapnya,” gumam Alden pelan.
“Kamu bilang apa?” tanya Floretta.
“Hah, nggak kok. Ayo, makan. Aku sudah lapar,” ajak Alden.
Alden berjalan lebih dulu di depan, sementara Floretta menyusulnya di belakang. Ternyata pasangan suami istri tersebut masih sama-sama merasa canggung, akibat kejadian tadi malam.
...🦇🦇🦇...
“Kenapa semua orang tertawa, sih? Apa yang mereka tertawakan?”
Alden menatap para pelayan, yang secara terang-terangan mentertawakan Floretta. Pria itu merasa jengah, terhadap sikap tak sopan dari para pelayan. Dia bisa melihat, bahwa Floretta tak bisa sarapan dengan tenang gara-gara hal itu.
“Apa Yang Mulia belum membaca pengumuman resmi di website istana?” bisik Leon, saat melihat sang raja merasa kebingungan.
“Pengumuman apa?” ucap Alden. Dia lalu mengecek HP-nya. “Apa? Pelayan Gudang? Ini bahkan lebih rendah dari pelayan dapur,” seru Alden tak senang.
“Ada apa, Yang Mulia?” Floretta ikut-ikutan kaget.
“Lihat ini. Kak Raven membuatmu menjadi pelayan gudang istana, sebagai pelajaran pertama ujian ratu."
"Pelayan gudang?" Floretta tak kalah kaget mendengarnya.
"Ini nggak bisa dibiarkan. Pantas saja aku merasa aneh, karena dia tiba-tiba mendukungmu menjadi ratu?” umpat Alden dengan kesal.
(Bersambung)
__ADS_1