Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 29. Hilang Lagi


__ADS_3

“Duh, aku bego banget, sih? Padahal dia udah mengizinkan aku pulang ke dunia manusia. Tetapi aku malah memilih untuk tetap tinggal di sini, cuma karena nggak tega melihat wajah sedihnya.”


Floretta berkali-kali menghembuskan napas panjang, sembari menghapus make up di wajahnya dengan sebuah kapas. Floretta masih belum terbiasa memoles wajahnya seharian. Dulu bahkan dia hampir tidak memakai bedak sama sekali, karena uangnya selalu dipegang oleh sang bibi.


Setelah selesai membersihkan make up-nya, Floretta pun mengganti gaun malamnya dengan sebuah piyama dan bersiap untuk tidur.


“Tetapi apa benar dia mengorbankan banyak hal demi aku? Jangan-jangan dia dulu dibully, karena tidak bisa meminum darah manusia.”


Rupanya Floretta masih belum bisa mengenyahkan Alden Black dari pikirannya. Wanita itu masih mengingat dengan jelas, percakapan sang dokter dengan suaminya. Belum lagi obrolan para pelayan, yang terdengar mengejek raja vampir itu.


“Ah, gak tahu, deh. Pokoknya aku mau tidur aja,” ucap Floretta seraya menarik selimut tebal menutupi tubuhnya. Dia pun kemudian memejamkan matanya.


“Malam ini bobok bareng, yuk.”


“Gyaaa! Kenapa aku terbayang wajah mesumnya, sih?” Wanita itu mendadak berteriak.


Floretta yang baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba teringat pada ucapan sang raja vampir siang tadi, yang mengajukan sebuah permintaan untuk dikabulkan wanita itu. Tetapi Floretta langsung menolaknya mentah-mentah. Padahal mereka sudah pernah tidur bersama dalam satu kamar, meskipun sang raja tidur di atas sofa.


“Kalau kayak gini terus aku jadi nggak bisa tidur. Aku jadi rindu pada Gufo si burung hantu. Dia selalu menjadi tempat curhatku ketika ada masalah seperti ini.” Floretta yang malang, merasa sangat kesepian di tengah istana megah ini.


...🦇🦇🦇...


Keesokan paginya.


“Maaf, Yang Mulia mau ke mana?” Lily berlari mengejar Alden Black, yang melangkahkan kakinya menuju kamar sang istri. Wajahnya terlihat begitu panik.

__ADS_1


“Aku ingin membangunkan Floretta dan mengajaknya sarapan,” jawab Alden sambil mengayunkan kakinya lebih cepat lagi. Perutnya yang berbunyi nyaring, membuatnya tak sabar untuk segera sarapan.


“Tetapi Yang Mulia Floretta tidak ada di kamarnya,” lapor Lily kemudian.


Tep! Alden menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap sang pelayan. “Apa kamu bilang? Dia kabur lagi? Nada suara Alden yang lembut, mendadak berubah menjadi melengking tinggi.


“Bukan begitu, Yang Mulia. Tapi…”


Beberapa saat kemudian.


“Floretta, ngapain kamu di dapur?” Alden yang mendadak mengnjungi dapur istana, membuat suasana ruangan itu heboh.


“Selamat pagi, Yang Mulia. Aku membuatkan sarapan pagi untukmu. Semoga kamu suka.”


Tak seperti biasanya, Floretta menyambut suaminya dengan senyuman. Wanita yang menggunakan sebuah rok selutut dan baju blouse itu tampak sumringah. Dia meletakkan sebuah piring berisi daging kalkun dan ikan salmon ke atas troli, untuk dibawa ke meja makan.


“Y-yang Mulia, semua orang melihat ke arah kita,” bisik Floretta dengan napas sesak. Alden memeluknya terlalu erat.


“Ah, maaf.” Alden melepaskan pelukannya dengan wajah memerah karena malu. Rasa khawatir yang menguasai pikirannya, membuatnya lupa situasi dan tempat mereka saat ini.


“Makan, yuk. Kamu pasti lapar, kan?” bisik Floretta pada sang suami.


...🦇🦇🦇...


“Gimana? Enak nggak?” Floretta terlihat antusias, ketika Alden mencicipi potongan daging kalkun yang dimasak dengn bumbu khusus.

__ADS_1


“Enak, kok,” jawab Alden dengan ekspresi datar.


Dia kemudian memotong daging salmon, lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Ekspresi pria itu masih sama. Datar dan tetap fokus mengunyah sarapannya.


“Beneran enak? Tetapi wajah kamu kok muram gitu?” ujar Floretta sedikit ngambek. Dia sudah bangun lebih pagi demi memasak sarapan. Tetapi respon yang diberikan sang raja hanya seperti itu?


“Iya, beneran enak. Dagingnya lembut dan bumbunya terasa,” jawab Alden lagi.


Wajah Floretta masih muram dengan respon datar suaminya tersebut. Menurutnya, sang raja memberi komentar demikian bukan dari hatinya. Tetapi hanya untuk menyenangkan Floretta.


Alden yang memahami keadaan itu segera meletakkan pisau dan garpunya di sisi piring. Dia lalu menatap sang istri lekat-lekat.


“Sebenarnya aku membawa kabar buruk untuk kita,” ucap Alden dengan sangat lirih.


“Kabar buruk?” ulang Floretta sembari mengerutkan keningnya.


“Iya, tanggal pertemuan kita dengan anggota dewan istana sudah ditetapkan,” jawab Alden.


“Lalu masalahnya di mana? Bukankah kamu sudah menunggu momen ini?” balas Floretta tidak mengerti.


“Ini lebih buruk dari dugaan kita. Karena mereka menetapkan tanggal pertemuan tepat di saat aku melakukan kunjungan ke luar negeri,” kata Alden. “Aku meminta mereka mengundurnya, tetapi ditolak.”


“Jadi?”


“Jadi kamu harus menemui mereka seorang diri. Ini sangat berbahaya,” sambung Alden.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2