Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 33. Alasan Menjadi Ratu


__ADS_3

“Apa yang akan terjadi, kalau aku menolak untuk menandatanganinya?” tanya Floretta.


“Maka gelas-gelas kosong di sini akan menunggu, untuk diisi dengan darah dari mayatmu sekarang juga,” jawab Edmund sambil mengekuarkan gigi taringnya yang tajam.


Gulp! Floretta menelan salivanya dengan kasar. Hatinya berdebar kencang.


"Vampir-vampir ini. Aku bisa merasakan, kalau ucapan mereka nggak main-main. Semua tatapan mereka seperti ingin mengulitiku hidup-hidup," batin Floretta tak tenang. "Di mana Leon? Pasti mereka melarang pengawalku untuk masuk," pikirnya lagi.


"Tunggu apalagi? Semakin cepat kamu menandatanganinya, maka semakin cepat pula kamu menjadi konglomerat di dunia manusia," bisik Daisy yang sudah mengeluarkan gigi taringnya.


"Apa kalian nggak rugi? Kalian sendiri kan yang bilang, kalau darahku baunya nggak enak. Kalian pasti nggak bisa meminumnya," ucap Floretta sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Hahaha ... Kamu terlalu percaya diri, Floretta. Kamu pikir, kami akan meminum darahmu?" Daisy tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan Floretta.


"Hei, pelayan! Darah kamu bukan untuk kami minum, tetapi untuk diberikan pada hewan peliharaan kami," sambung wanita dari keluarga Krimson itu.


"Cukup, Daisy! Kamu udah terlalu dekat dengannya!"


Suara pria yang tiba-tiba terdengar dari belakang, membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara.


"P-pangeran Raven?" Seru semua orang di ruangan itu.


"Ma-af, Pangeran. Aku hanya bercanda dengan calon ratu kita."


Daisy langsung menjauh dari Floretta, ketika seorang pria tampan dengan baju kemeja hitam memasuki berjalan mendekati meja rapat.


Floretta juga ikut terkejut, melihat kedatangan sang pangeran. "Dari mana dia masuk? Semua pintu kan masih tertutup?" pikir Floretta bingung.


"Se-selamat datang, Yang Mulia Pangeran Raven. Ada apa Yang Mulia sampai datang ke sini?" ucap Edmund sembari membungkukkan badannya di depan Raven, untuk memberikan salam.


"Kenapa wajah mereka semua nampak tegang? Sepertinya mereka lebih takut pada Pangeran Raven dibandingkan Alden," gumam Floretta.

__ADS_1


"Aku tidak menyetujui pertemuan ini," ucap Raven tanpa basa basi. "Dan lebih buruknya lagi, kenapa aku tidak diundang. Padahal aku adalah keturunan keluarga bangsawan tertinggi di kerajaan ini," sambungnya.


"I-ini salah paham, Yang Mulia. Persoalan Putri Floretta telah menyebar hingga keluar istana. Jadi kami pikir ini harus diselesaikan secepatnya," ujar Edmund dengan suara bergetar.


"Kok dia bisa ada di sini, sih? Cih, pasti Leon Hazel si pengawal itu yang melaporkannya," gerutu Russel dengan berbisik.


"Aku bisa mendengarmu, Russel!" bentak Raven, hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. "Sekali lagi kalian berbuat sesuka hati, akan aku bunuh kalian semua," sambung sang pangeran.


"Tapi Pangeran, kalau masalah ini terus berlarut-larut, kerajaan tetangga bisa meremehkan kita dan keamanan daerah perbatasan bisa terganggu," ujar Novac nembuka suara.


"Aku tahu, kau kecewa karena adikmu gagal menikah dengan adikku. Tetapi keputusan yang diambil dalam rapat ini tidak sah, jika tidak diikuti oleh seluruh anggota bangsawan, termasuk sang raja," balas Raven.


"Bubarkan rapat ini. Pertemuan secara resmi akan diatur ulang, setelah raja kembali dari luar negeri," perintah Raven. Dia lalu memaksa Floretta untuk pergi dari sana.


"Cih, menyebalkan! Kenapa dia mengganggu acara kita, sih?" umpat Russel dan Daisy, ketika Raven dan Floretta telah pergi dari sana.


...🦇🦇🦇...


"Kenapa kau mengikutiku? Bukankah kamarmu berada di arah yang berlawanan?" tanya Raven pada wanita mungil yang mengikuti jejak kakinya.


"Terima kasih, Yang Mulia," ujar Floretta sembari menundukkan tubuhnya.


"Huh? Kau pikir aku menolongmu? Jangan salah paham. Aku cuma nggak suka mereka mengadakan rapat tanpa diriku," balas Raven, lalu melanjutkan langkahnya.


"Tapi aku tetap berterima kasih. Karena kedatangan Yang Mulia di ruang rapat, aku jadi bisa menghirup udara segar lagi," balas Floretta dengan polos.


Raven membuang napasnya dengan kasar, lalu menatap manusia itu dengan tajam.


"Kau sudah mencoba melarikan diri dari sini. Alden juga sudah mengizinkanmu untuk meninggalkan istana. Tetapi kenapa kamu kembali lagi? Apa alasanmu?" Raven melontarkan pertanyaan pada Floretta, yang masih mengikuti langkahnya.


"Aku hanya ingin berada di sisi suamiku saja, Yang Mulia. Lagipula, bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri?" kata Floretta sambil menundukkan kepalanya. Meskipun sangat tampan, tetapi tatapan tajam dari Raven masih membuat Floretta takut.

__ADS_1


"Kau kira aku bakalan kagum dengan jawabanmu itu? Dari sorot matamu saja aku tahu, kalau hatimu masih merasa ragu," ucap Raven dengan ketus.


Floretta tak bisa menjawab kalimat itu. Hatinya memang merasa ragu. Apakah dia bisa bertajan di kerajaan ini, jika semua vampir membencinya?


"Aku masih penasaran. Apa yang kau lakukan sampai Alden mau menikahimu yang nggak berguna seperti ini? Apa kamu memberikan pelayanan spesial setiap malam?" cibir Raven.


"Aku nggak pernah melakukan hal serendah itu, Yang Mulia. Sampai saat ini bahkan kami belum melakukan apa pun," seru Floretta. Suaranya melengking hinga ke ujung lorong istana.


"Oh, ya? Hahaha ... Jadi Alden pun tidak mau menyentuhmu?" Raven tertawa dengan nada sindiran.


"Astaga! Bodohnya aku! Kenapa aku membuka aib sendiri?" Floretta menyesal, karena keceplosan mengatakan hal itu.


"Ma-maksudku, sejak awal aku nggak pernah berniat menjadi ratu," seru Floretta sambil menantang mata kakak iparnya tersebut.


"Terus kenapa kau ada di sini kalau nggak niat jadi ratu?" bentak Raven. Tubuh Floretta bergetar mendengar Raven yang melengking.


"Apa kau nggak sadar? Berapa banyak wanita yang saling membunuh hanya untuk mendapatkan posisi itu? Lalu ada jutaan rakyat yang menunggu ratu baru untuk melindungi mereka?" sambung pria tampan berambut hitan itu lagi.


Floretta hanya mengepalkan kedua tangannya, tanpa membalas kalimat sang pangeran.


"Sialan! Kenapa semua ucapannya benar, sih? Aku kan jadi nggak bisa melawannya," gerutu Floretta dalam hati.


"Aku nggak peduli sebesar apa keinginanmu untuk berada di sisi Alden. Tetapi kalau kau nggak berniat jadi ratu, sebaiknya pergi saja dari sini.


Wajah Floretta semakin murung, mendengar kalimat terakhir dari Raven. Hatinya bingung, keputusan apa yang harus diambilnya saat ini. Apakah bertahan di kerajaan dan mendampingi suaminya? Atau menyerahkan posisi ini pada sang tunangan raja?


"Lalu jangan ikuti aku lagi. Bau darahmu sangat mengganggu. Kamu nggak pantas menyandang nama keluarga Blue."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Alden pun pergi meninggalkan Floretta yang masih diam membeku.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2