Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 34. Pendamping Ideal Sang Raja


__ADS_3

"Aku bingung, kenapa mereka bilang darah keluarga Blue itu enak? Apa mereka pernah membunuh dan meminum keluargaku?"


Floretta duduk terdiam di kursi baca, yang menghadap ke taman. Tidak ada pemandangan lain, selain hamparan salju. Perkataan para anggota dewan dan juga kakak iparnya, masih terngiang-ngiang di telinganya. Hal itu membuat nyalinya kembali menciut.


"Apa karena hal ini, Alden melarangku untuk mengungkap identitas asliku?" tanya Floretta pada dirinya sendiri. "Jadi dia beneran ingin melindungiku? Apa kekuargaku ada hubungan erat dengan kerajaan vampir ini?"


Ingatan Floretta berputar ke masa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Hari-harinya begitu bahagia, bersama ayah dan ibu kandungnya. Ketika musim dingin seperti ini, ibunya aoan selalu membuat sup hangat dan juga bubur kacang merah untuk di makan bersama. Ayahnya juga selalu menjaga perapian, agar rumah mereka tetap hangat.


Namun semua itu tidak berlangsung lama. Pada usianya yang ke tujuh tahun, ayah dan ibunya mendadak sakit keras, lalu meninggal dunia dalam waktu bersamaan.


Floretta yang masih sangat kecil, kemudian diasuh oleh kerabat jauh ayah Floretta, Jayden dan Olive Green. Sejak saat itu, Floretta pun kehilangan semua kehidupan indahnya. Gadis cilik itu harus hidup dalam serba kekurangan, dan menjadi tulang punggung keluarga, di usia yang masih sangat muda.


"Ah, kenapa aku jadi teringat masa lalu yang menyedihkan itu, sih?"


Floretta melemparkan pandangannya ke arah halaman buku yang sedang dia pegang. Jemarinya yang lentik, mengusap air matanya yang mengalir di pipi, agar tidak jatuh ke atas lembaran kertas tersebut.


"Tapi kalau dipikir-pikir, ucapan mereka semua memang benar. Seorang ratu bukan hanya menjadi pendamping raja. Tetapi juga harus memiliki wawasan yang luas, agar bisa membantu menjalankan urusan kerajaan."


Manusia yang sebentar lagi memasuki usia dua puluh tahun itu, kembali merasa rendah diri. Bukan hanya dengan sang tunangan raja, Floretta juga merasa tertinggal jauh dibandingkan dengan para pelayannya yang berpendidikan tinggi.


"Memang benar, Alden berhak memilih calon istri yang lebih baik dari pada aku, untuk membantunya menangani kerajaan ini," pikir Floretta lagi.


Drrrttt! Suara dering telepon, membuat jantung Floretta hamoir saja melompat keluar. Dia segera mengangkat telepon dari suaminya tersebut.

__ADS_1


"Halo, istriku. Gimana keadanmu di sana?" tanya Alden ketika panggilan video itu telah terbubung.


"A-aku baik-baik aja, Yang Mulia," jawab Floretta dengan kaku. Ini pertama kalinya dia melakukan panggilan video dengan snag raja.


"Beneran kamu baik-baik aja? Kamu nggak merasakan apa-apa selama aku tinggal?" tanya Alden dengan wajah serius.


"Iya, aku nggak kenapa-kenapa, kok," balas Floretta sambil mengangguk kuat. Wajahnya bahkan memasang ekspresi tersenyum.


"Uh, aku sedih banget. Bahkan sedikit pun kamu nggak rindu padaku," ucap Alden dengan nada sedih.


"Astaga, Yang Mulia. Aku pikir tadi Yang Mulia menanyakan masalahku di kerajaan." Floretta menggelengkan kepalanya dengan heran, karena sikap sang raja yang seperti anak remaja.


"Memangnya pertanyaanku salah? Sekarang kan kita suami istri? Aku saja sudah merindukanmu sejak mobilku keluar dari halaman istana," ucap Alden menggoda sang istri. Senyuman di wajahnya terlihat nakal dan bisa meluluhkan hati para kaum hawa yang melihatnya.


"Pekerjaanku lancar, kok. Tetapi aku masih ada beberapa pertemuan lagi, lalu singgah sebentar ke perusahaan sebelum kembali ke kerajaan," jawab Alden.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Floretta. Tanpa sadar wajahnya melukis senyuman manis, seakan dia benar-benar tulu, saat mengatakan kalimat itu.


"Haaah, tapi aku kesepian, nih. kamu harus cepat-cepat mengurus paspor, biar kita bisa keluar negeri bersama-sama. Aku baru ingat, kita belum melakukan bulan madu, kan?" kata Alden dengan ekspresi datar.


"Uhuk! Gimana bisa dia mengatakan hal menggelikan seperti itu dengan wajah tak berdosa?"


Floretta tersedak, padahal dia tidak sedang makan atau minum. Wanita itu tidak tahu, gimana ekspresi wajahnya saat ini. Tetapi yang jelas, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bagaikan sedang melakukan lomba lari di musim panas.

__ADS_1


Sementara sang raja tertawa puas, melihat Floretta yang salah tingkah. Menurutnya, wajah Floretta yang malu-malu terlihat semakin cantik.


"Ngomong-ngomong gimana pertemuan dengan anggota dewan tadi? Apa yang mereka bicarakan? Mereka nggak melukaimu, kan?" Alden menghujani Floretta dengan sederet pertanyaan.


Floretta terdiam sejenak. Dia menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang suami.


"Semuanya baik-baik aja, kok. Seperti biasa, mereka menolakku menjadi ratu dan mengusirku dari sini. Tetapi mereka nggak melukaiku," ucap Floretta dengan berhati-hati. Dia tidak ingin sang raja tahu, kalau para anggota dewan mengusulkannya untuk membatalkan pernikahan.


"Apa mereka melontarkan kata-kata jahat padamu?" tanya Alden lagi.


"Nggak juga. Aku udah terbiasa mendengar kata-kata yang lebih jahat dari pada itu," jawab Floretta. "Lalu soal kedudukanku sebagai ratu, akan diadakan pertemuan ulang bersamamu dan seluruh anggota dewan nanti," imbuhnya.


Wanita itu kembali melukiskan senyuman manis di wajahnya, agar sang suami percaya pada kalimatnya.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku sempat cemas pada keadaanmu. Jadi aku menitipkanmu pada Kak Raven," ucap Alden dengan wajah lega.


"Apa? Yang Mulia Raven?" Kedua mata Floretta terbuka lebar, ketika mendengar pengakuan Alden barusan.


"Iya. Meskipun dia pernah menyerangmu, tetapi sebenarnya dia itu pria yang baik. Hanya dia yang bisa aku andalkan dalam istana," balas Alden.


"Aku tahu. Yang Mulia Pangeran Raven telah melaksanakan tugasnya dengan baik, kok," ucap Floretta.


"Apa? Benarkah?" tanya Alden tak percaya. Padahal sebelum pergi, saudara laki-lakinya itu dengan jelas mengatakan, dia tak akan pernah mau melindungi Floretta.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2