Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 77. Bulan Madu (2)


__ADS_3

"Apa kamu mau melakukan bulan madu di sini?" tanya Alden sambil tertawa nakal. "Kamu udah siap memberikannya padaku, kan?" bisiknya sambil mengusap pipi sang putri.


"A-apa? Jangan macam-macam kamu, Al! Kamu mau melakukannya di sini, dan dalam waktu sesingkat itu?" Floretta langsung mundur beberapa hasta dari suaminya.


"Oh, jadi kalau di tempat tertutup dan waktu panjang kamu mau, nih?" goda Alden. "Tuan Putri, kamu mau ke mana?"


Alden Black berlari mengejar Floretta yang berlari menjauh, dan mendekati pintu masuk tadi. Namun karena rimbunnya bunga-bunga, langkahnya menjadi sedikit terhambat. Sinar matahari cukup terik, membuat peluh mengalir di sekujur tubuh wanita yang berbalut gaun biru itu.


"Ah, ini pertama kalinya aku merasakan sinar matahari di dunia vampir," pikir Floretta senang.


Selama di dunia vampir, kulitnya semakin bertambah pucat, karena suhu udara yang sangat dingin, dan matahari yang enggan muncul.


Napas Floretta mulai tak teratur karena berlari kencang. Untung saja dia telah sampai ke sisi pintu. Tapi, telinganya tak mendengar suara langkah kaki Alden di belakangnya.


"Astaga! Vampir kan tidak kuat pada sinar matahari," pekik Floretta. Dia buru-buru mencari keberadaan sang suami, di tengah hamparan bunga dan sinar matahari yang menyengat.


"Vampir memang tidak kuat terhadap sinar matahari, kecuali aku dan Pangeran Raven."


Secara mengejutkan, Alden muncul di belakang Floretta sambil membawa beberapa jenis bunga liar aneka warna. "Ini untukmu," ucap Alden lagi.


"Terima kasih," jawab Floretta malu-malu.


"Sebenarnya aku bisa saja mengejarmu dengan teleportasi, tapi permainan kita jadi nggak adil, dong. Aku maunya kita sama-sama menikmati permainan ini panas ini."


Raja vampir itu menempelkan hidungnya di pipi Floretta yang merona. Gerakannya semakin turun ke bawah dan berhenti di leher Floretta yang jenjang. Jemarinya bergerak liar di bawah paha wanita itu.


"Al, jangan begini. Orang-orang bisa mencari kita nanti," bisik Floretta dengan napas terengah-engah.


"Apa kamu nggak tahu, seorang raja vampir punya kemampuan khusus, yaitu menghentikan waktu pada saat-saat tertentu?" ucap Alden sambil tersenyum nakal.


"Gawat! Apa dia serius? Aku masih belum siap melakukannya, sampai misteri kematian orang tuaku terbuka," pekik Floretta dalam hati.


"Aku bisa aja melakukannya di sini. Tetapi seperti yang aku bilang tadi, permainan gak akan seru kalau aku menggunakan sihir. Tapi ku rasa, hari ini aku butuh sihir."


Alden menjentikkan jemarinya. Beberapa ekor kelinci yang sedang berlari di antara bunga-bunga, mendadak berhenti. Demikian juga dengan kupu-kupu bersayap kaca yang hendak menghisap nektar, berhenti di antara rerimbunan bunga matahari yang sedang mekar.


Cup! Alden menempelkan hidungnya di bahu dan leher wanita itu. Floretta menggumam pelan tanpa penolakan. Seluruh urat syarafnya terasa menegang, saat Alden menyentuh titik-titik sensitifnya dengan liar.

__ADS_1


"Al, jangan ... Uh ..." Suara Floretta sangat lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


"Al ..."


"Hmm?"


Alden membungkam bibir Floretta dengan bibirnya. Mereka pun saling bertukar saliva. Alden bisa mencium aroma buah peach, dari bibir mungil wanita itu.


Beberapa menit lamanya mereka saling berpagutan. Gaun Floretta tersingkap ke atas, dan jemari Alden aktif di bawah sana.


"Al, jangan lanjutkan. Orang-orang bisa melihat kita yang berantakan nanti," bisik Floretta sambil menggumam pelan.


"Kamu yakin mau menghentikan kenikmatan ini?" tanya Alden dengan suara berat dan napas sesak.


"Hu'um. Aku nggak mau menghancurkan acara kita, hanya gara-gara ini,"


"Baiklah, aku mengalah." Alden menurunkan gaun Floretta, dan membantunya merapikan rambut. "Ayo kita kembali."


Alden menjentikkan jarinya dua kali, dan semua kembali normal.


...🦇🦇🦇...


Floretta dan Alden berjalan menuju ke pintu, tempat mereka datan tadi. Bunga dan pepohonan yang rindang, menaungi mereka dari sinar matahari. Keduanya saling bergandengan tangan.


"Apa kamu khawatir karena jadwal kita berbeda, Yang Mulia?" tanya Floretta.


"Eh, dari mana kamu tahu?" tanya Alden.


"Habisnya kelihatan jelas di wajahmu, kalau lagi memikirkan sesuatu. Kamu tersenyum cuma waktu mengajakku bulan madu saja," cibir Floretta.


"Tuh, kan? Benar yang aku bilang tadi. Kamu suka memperhatikan wajahku. Apa aku setampan itu, Putri Floretta?" ucap Alden tersenyum nakal.


"Jangan mengalihkan cerita. Selama ini kalau kamu punya masalah, kamu pasti menyembunyikannya sendirian," kata Floretta dengan geram.


"Aku cuma khawatir melepasmu sendirian. Ini acara resmi kerajaan pertama yang kamu ikuti sendirian," kata Alden Black.


"Kalau sesuatu hal terjadi padamu karena aku lengah, maka aku akan menyesalinya seumur hidupku," kata Alden. "Ditambah lagi ada rumor yang mengatakan, kalau kastil Welwitschia memiliki kutukan kuno, yang dapat melenyapkan manusia dengan sihirnya," imbuh Alden.

__ADS_1


"Duh, jangan terlalu cemas. Aku kan juga punya sihir pelindung di kalung ini serta detektor bahaya di kalung ini," kata Floretta. "Lagian Yang Mulia Putri Jasmine sudah mengajarkan aku banyak hal. Aku jadi lebih percaya diri menghadapi acara resmi kerajaan," ucap Floretta.


"Flo, jangan remehkan para vampir. Meskipun itu cuma rumor, kita harus tetap waspada. Karena ini pertama kalinya manusia mengunjungi Kastil Welwitschia setelah ratusan tahun," ucap Alden.


"Aku paham, Al. Tapi aku juga nggak bisa mengelak dari acara ini begitu aja, kan? Ini waktu yang tepat untuk debutku sebagai anggota resmi kerajaan. Kalau acara kecil seperti ini aja kita mengelak, para anggota dewan akan mencibir kita," kata Floretta.


"Iya, sayang. Aku tahu. Tapi ..."


"Shhh ...! Percaya sama aku. Kamu membawaku ke sini karena yakin aku mampu jadi ratu, kan?" Floretta menyentuh wajah tampan Alden dengan kedua tangannya yang mungil.


"Iya, sih," gumam Alden.


"Lagipula aku nggak akan hilang semudah itu. Aku ini calon ratu, ada banyak mata dan pengawal yang mengawasiku. Kalau pun sesuatu terjadi, aku nggak akan menyerah gitu aja. Karena aku masih mau hidup lebih lama di sisiku."


Kedua mata Alden terbuka lebar mendengar pengakuan dari istrinya. Bibirnya tak mengeluarkan kata-kata tetapi wajahnya yang memerah telah berbicara, kalau dia merasa terharu mendengar ucapan ratunya tersebut.


"Kenapa bengong? Pasti aku barusan cringe banget, ya?" ucap Floretta malu.


"Siapa bilang? Dari awal aku udah tahu, kalau kamu adalah wanita spesial. Makasih udah bertahan dan jadi wanita kuat untukku," Alden mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Ah, aku baru ingat. Ada sesuatu yang harus aku kasih ke kamu." Alden merogoh saku jas yang sedang dia pakai.


"Apa itu jimat lagi?" tanya Floretta.


Alden menggelengkan kepalanya. "Ini jauh lebih spesial." Alden membuka sebuah kotak hitam, lalu memasangkannya di tubuh sang istri.


"Ini adalah tiara milik ibuku, sebelum dia naik tahta menjadi ratu. Menurutku sudah pantas kamu memilikinya," jelas Alden. Dia tersenyum puas, melihat tiara dengan mutiara biru itu bertengger di kepala Floretta dengan cantik.


"Apa Kak Raven udah setuju, perhiasan ini diberikan padaku?" tanya Floretta cemas.


"Tentu saja. Bahkan Bibi Jasmine juga udah setuju," jawab Alden.


"Beneran?"


Alden mengangguk. "Biasanya perhiasan ini hanya diberikan pada seorang istri, yang terbukti setia pada suami dan kerajaan. Tapi tindakanmu selama ini sudah membuktikan, kalau kamu rela melempar segalanya demi bersamaku. Bahkan pulau pribadi di dunia manusia sekali pun," jelas sang raja vampir.


"Terima kasih, Al. Aku pasti akan berusaha menjadi istri dan ratu yang baik bagi kerajaan ini," ucap Floretta.

__ADS_1


"Sekarang kamu udah siap, kan? Ayo kita membuka acara festival sains dan pendidikan ini," kata Alden menggandeng tangan Floretta, keluar dari pintu ajaib itu.


(Bersambung)


__ADS_2