
"Kak Raven nencintaimu, Flo," ungkap Alden Black.
"A-apa? Kamu lagi nge-prank aku?" Floretta tergagap mendengar ucapan suaminya.
"Nggak. Aku lagi serius ini. Kak Raven itu menyukaimu, makanya sampai sekarang dia nggak membunuhmu," kata Alden.
"Nggak usah yang aneh-aneh, deh. Mana mungkin dia menyukai manusia yang sangat dibencinya? Sejak awal dia berusaha mengusirku dari istana. Semua cara dilakukannya supaya aku pergi.
"Tapi dia nggak benar-benar melakukannya, kan? Dia malah beberapa kali memberimu hadiah kecil setelah kamu bekerja," ujar Alden terus meyakinkan sang istri.
"Um, tapi ..."
Alden tersenyum melihat wajah sang istri yang kebingungan.
"Flo, kalau dia mau membunuh atau mengusirmu dari istana, itu hal yang sangat mudah. Cobalah bertanya pada Bu Magenta atau Leon, sudah berapa banyak pelayan yang nggak keluar dari kamarnya hidup-hidup?" bisik Alden, agar tak seorang pun bisa mendengar mereka berdua.
"Hah? Semengerikan itu, kah?" balas Floretta merasa shock.
Alden mengangguk pelan. "Dia nggak akan mengajarimu cara bertahan di istana, kalau dia membencimu," ujarnya.
"Lalu ke mana para pelayan yang dia habisi itu?" tanya Floreta penasaran.
"Dibuang ke hutan Deadwood," jawab Alden dengan nada suara sangat rendah.
"Ah, jadi ancamannya dulu itu beneran?" Floretta merasa sangat bersyukur, dia bisa lolos dari vampir yang buas itu.
"Sekarang kamu mengerti, kan? Kenapa ayah dan ibu tak setuju dia menjadi seorang raja? Bisa-bisa penghuni kerajaan vampir tinggal setengah selama pemerintahannya, karena selalu dihabisinya saat sedang kesal," kata Alden.
"Tapi Kak Raven nggak sejahat itu, Al. Orang-orang hanya salah menanggapinya, dan menganggapnya jahat. Jadi dia merasa kesal karena diperlakukan seperti itu. Tapi yang aku tahu, Kak Raven itu orang yang bisa bersikap lemah lembut juga," kata Floretta.
"Yah, kadang-kadang aku juga menganggapnya buas dan mengerikan, sih. Sama seperti beberapa saat yang lalu," batin Floretta mengakui kesalahannya.
Alden tersenyum mendengar ucapan sang istri. "Karena itulah, aku membawamu ke sini, untuk melunakkan hati Kak Raven, dan menyatukan kembali keluarga Black yang sempat terpecah."
"Gimana caranya?" tanya Floretta bingung.
__ADS_1
"Dengan kelembutan dan ketulusan hatimu. Aku yakin, kamu bisa menjadi ratu yang bijaksana di kerajaan vampir." Alden mencium kening sang istri dengan lembut.
Floretta menghembuskan napas perlahan. Keningnya kembali berkerut. "Kalau aku jadi ratu, gimana dengan Erlina? Aku yakin dewan istana pasti nggak akan tinggal diam. Kemarin aku memang sempat ambisius menjadi ratu, tapi sekarang ..."
"Ssssttt! Sudah kubilang, kan? Aku cuma mau dirimu sebagai ratuku," kata Alden memutus kalimat Floretta.
"Hmm, ya ratu. Lalu gimana dengan selir? Bukannya para raja pasti memiliki selir? Dari awal kamu juga nggak cerita tentang Erlina padaku, kan?" ujar Floretta.
"Aku minta maaf karena terlambat menjelaskan soal ini padamu. Tapi aku ingin, kamu percaya padaku," balas Alden. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia bicara sangat serius saat ini.
"Umumnya memang begitu. Raja boleh memiki istri. Tetapi yang berhak menjadi ratu hanya satu, dan tidak harus istri pertama," jelas Alden.
"Lalu, hanya sang ratu lah yang boleh mencampuri urusan pemerintahan. Sementara para selir lainnya, hanya berhak mengurus putra-putri mereka sesuai aturan istana," lanjut Alden lagi.
"Hm, jadi itu sebabnya mereka nggak takut, kalau aku tetap menjadi istrimu walau dengan gelar selir raja?" tebak Floretta.
"Iya, benar. Karena hal itu juga Erlina dan keluarganya berusaha keras untuk memasuki istana ini sebagai royal family," jawab Alden.
"Lalu, kapan kamu akan mengambil selir?" tanya Floretta dengan suara tercekat. Tentu saja dia nggak terima, kalau sang suami memiliki istri selain dirinya.
Pria itu mengusap rambut Floretta dengan lembut. Hatinya pedih melihat sang istri harus terbaring lemah di rumah sakit seperti ini. Padahal dia membawanya ke istana, demi melindungi dan membahagiakannya.
"Maafkan aku, karena telah lengah menjagamu, Flo. Padahal itu adalah rugas utamaku. Bukan tugas Leon Hazel atau siapa pun," bisik Alden menahan tangisnya.
"Heeii, jangan ngomong gitu, dong. Kamu tahu nggak? Sejak datang ke istana, aku bisa kembali merasakan kehangat keluarga. Terutama saat kita makan malam bertiga," kata Floretta.
"Maksudmu makan malam yang canggung itu?" tanya Alden.
"Iya, meskipun kita nggak banyak bicara malam itu, tapi aku mulai sedikit merasakan kembali apa yang namanya keluarga. Aku nggak pernah mendapatkannya, setelah ayah dan ibuku meninggal," kata Floretta.
Kedua matanya mendadak terbuka lebar, setelah dia mengucapkan kalimat terakhir. "Oh iya, aku jadi teringat lagi soal kematian ayah dan ibuku. Apa mereka dibunuh seperti yang dibilang Erlina? Atau meninggal karena sakit?" pikir Floretta resah.
...🦇🦇🦇...
"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran Raven."
__ADS_1
"Oh, kau sudah pulang rupanya? Gimana liburanmu?" tanya Raven dengan gayanya yang angkuh.
"Apa? Kami nggak pergi berlibur," ralat Floretta.
"Masa? Kamu pikir aku nggak tahu, kalau kamu mengajak Alden liburan ke pulau tropis, dan menjemur kulit putihmu di sana? Lihat, kulitmu sekarang jauh lebih tunning, kan?" ujar Raven dengan wajah garang.
"Kamu membuat Alden pulang terlambat dan melimpahkan banyak pekerjaannya padaku , agar dewan istana tak mencium keberadaan kalian di luar kerajaan vampir," sambung pria itu lagi.
Floretta tersenyum geli, melihat lingkar hitam di sekitar mata pria itu. Sepertinya dia benar-benar menyelesaikan tugas yang dilimpahkan Alden dengan baik, sampai merelakan waktu tidurnya. Floretta jadi sedikit kasihan melihatnya.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Aku nggak tahu kalau akan menjadi seperti ini," jawab Floretta. "Ah, aku membawa oleh-oleh kue pai susu dan abon ikan cakalang untuk Yang Mulia."
"Jadi kamu mau menyogokku?" Raven bangkit dari kursinya dan berjalan beberapa langkah mendekati Floretta.
"Kak Raven menyukaimu, Flo." Tiba-tiba dia teringat kata-kata Alden. Sontak Floretta pun ikut mundur menjaga jaraknya dengan sang pangeran.
"Maafmu diterima. Oleh-oleh darimu juga aku terima. Tetapi sanksi harus tetap dilaksanakan," kata Raven sambil tersenyum licik.
"Sa-sanksi?" tanya Floretta sambil menelan ludahnya.
Wajah Raven sudah benar-benar dekat dengannya. Tetapi Floretta sudah tidak bisa bergerak mundur lagi, karena di punggungnya sudah menempel di dinding.
"Iya, sanksi yang harus kamu bayar dengan tubuh dan isi kepalamu," bisik Raven di telinga Floretta. Calon ratu itu bahkan bisa mencium aroma mint yang menyegarkan dari pria itu.
"Maaf, Yang Mulia. Aku nggak bisa seperti ini. Aku adalah istri dari adikmu," ucap Floretta sembari mendorong dada Raven untuk menjauh darinya.
"Apa maksudmu? Statusmu kan masih menjadi pelayan pribadiku. Jadi kamu harus bertanggung jawab menyelesaikan tumpukan berkas di meja itu serta ratusan email yang masuk," ucap Raven sambil menunjuk ke arah meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan kertas.
"Aku harus menahan dirimu tetap berada di sini sampai semua pekerjaan itu selesai," sambung Raven lagi.
"A-ah, jadi kita mau menyelesaikan berkas. Ba-baiklah," jawab Floretta gugup karena malu. Pipinya yang seputih salju, tamlak merona bak buah peach segar.
"Hmm? Jadi kamu memikirkan apa tadi, sampai berani menolakku? Apa kamu pikir aku akan memaksamu berbuat sesuatu yang lebih panas dan bergairah?" tawa Raven sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh Yang Mulia Ratu Selene, kenapa kamu harus melahir dua pria dengan spek malaikat seperti ini, sih?" keluh Floretta dalam hati.
__ADS_1
(Bersambung)