
Seluruh tubuh Floretta terasa dingin. Tak terasa denyut nadi dan degup jantungnya. Lalu yang lebih mengerikan lagi, kulit dan ujung kukunya telah membiru.
"Jadi aku beneran udah mati?" pikir Floretta terkejut.
"Nak, kamu pasti bingung, ya? Seluruh tubuhmu dingin dan membiru, karena racun dalam tubuhmu belum keluar semuanya. Lalu denyut jantungmu memang sangat lemah karena kamu sempat koma selama lima hari, namun berangsur membaik," jelas Jasmine sambil mengusap rambut wanita muda di hadapannya.
" Aku keracunan? Ah, jadi aku masih hidup?"
Floretta menitikkan air mata. Dia kembali merasakan kasih sayang seorang ibu, yang sudah lama tidak dia rasakan.
Tetapi siapa yang telah meracuninya? Hal terakhir yang dia ingat adalah meminum cairan merah kental, saat pesta ulang tahun raja.
"Floretta! Kamu sudah sadar?" Alden yang hanya mengenakan baju kaos dan celana jeans, berlari memasuki ruangan. Itu adalah pemandangan yang sangat langka.
"Eits, kamu mau ngapain?" tanya Jasmine pada keponakannya itu.
"Tentu saja aku ingin ..."
"Memeluknya?" Jasmine memotong ucapan Alden dengan cepat. Alden pun mengiyakan.
"No! Kamu nggak boleh dekat-dekat dengannya, apalagi memeluknya," larang Jasmine.
"Kenapa? Ini nggak adil. Aku kan suaminya," protes Alden.
"Dia bisa mati kalau kamu memeluknya dengan erat. Jantungnya masih sangat lemah. Dan kamu pasti nggak akan bisa menahan diri kalau udah berada di dekatnya," kata Jasmine.
"Uh, Bibi kolot banget, sih." Alden menggumam kesal. Kedua tangannya dilipat di depan dada, dan bibirnya tampak manyun.
"Ssstt! Jangan ribut, Floretta pasti merasa pusing." Jasmine meletakkan jari telunjukknya di depan bibir.
"Nah, pengobatan sihir hari ini sudah selesai. Sebentar lagi dokter akan masuk, semoga keaadan Floretta semakin membaik," kata Jasmine.
"Untuk sementara kamu nggak boleh melakukan aktivitas terlalu banyak, Flo. Saat kamu belum sadar, Alden mencium kening dan pipimu sambil menangis. Aku nggak mau melihatnya menangis lagi, karena wajahnya sangat jelek," bisik Jasmine di telinga Floretta.
"Bibi! Hal kayak gitu jangan dibocorin, dong," protes Alden tak terima.
Wanita cantik yang sedang berbaring itu tersenyum geli. Dia tahu, sang Bibi hanya ingin membuatnya rileks dan nggak berpikiran macam-macam.
"Tapi Bibi senang, baru kali ini Alden menangisi seorang wanita, selain ibunya. Kamu pasti benar-benar manusia spesial di hatinya," ungkap Jasmine. "Ah, aku jadi ingin segera punya tambatan hati juga," imbuhnya.
__ADS_1
Mata Floretta berkaca-kaca, mendengar ucapan sang bibi barusan. Baru kali ini dia merasa sangat berharga, dan dianggap sebagai keluarga, setelah kedua orang tuanya meninggal.
"Bibi, jangan bicarakan yang aneh-aneh sama dia," kata Alden merasa malu.
"Hahaha, nggak aneh-aneh, kok. Sepertinya kalian butuh waktu bicara untuk berdua. Lagian sebentar lagi dokter juga akan datang. Aku akan menyibukkan diri dengan membaca surat-surat cinta yang menumpuk," kata Jasmine memamerkan senyuman manisnya.
"Sampai jumpa lagi, Flo. Ah, kamu harus ingat. Jangan mau dipeluk sama Alden kalau masih mau hidup," sambungnya.
"Duh, apaan sih, Bi?" protes Alden.
"Surat cinta?" gumam Floretta lemah. Keningnya tampak berkerut. Memangnya sekarang masih zamannya surat cinta?
"Oh, Bibi bekerja di sebuah majalah Fashion. Dia juga terkadang jadi modelnya. Jadi ya banyak banget pengakuan masuk di media sosial ataupun media sosialnya.
"Selamat pagi. Maaf aku sedikit terlambat. Bagaimana keadaan Floretta pagi ini? Aku dengar udah sadar, ya?"
"Ah, selamat pagi, dokter. Iya, Floretta sudah bangun, tetapi keadaannya masih lemash," balas Alden.
"Floretta? Tumben banget aku nggak dipanggil dengan gelar Yang Mulia?" pikir Floretta bingung.
"Keadaanmu sudah sangat membaik, Flo. Kalau hari ini kamu makan dengan cukup, ku rasa besok sore kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit," kata dokter paruh baya itu dengan ramah.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Nanti akan masuk seorang perawat, untuk melepas infus dan selang oksigen. Kamu udah bisa sarapan seperti biasa hari
"Terima kasih, dokter," ucap Alden.
"Flo, apa kamu besok mau berjalan-jalan di taman kota dan toko buku, lalu makan pizza favoritmu?" ajak Alden dengan mata berbinar, setelah sang dokter meninggalkan mereka berdua.
"Toko buku? Pizza?" ucap Floretta heran.
"Iya. Kamu mau, kan?" bujuk Alden.
"Apa ini di dunia manusia?" tanya Floretta ragu.
"Iya, kita lagi berada di dunia manusia. Aku membawamu ke sini, supaya lebih cepat pulih. Udara di sana kurang cocok untukmu," jelas sang raja vampir.
"Pantas saja dari tadi aku merasakan suhu yang agak hangat. Cuaca di luar jendela juga lebih cerah, dibandingkan di dunia vampir. Lalu, dokter tadi juga nggak memanggil dengan sebutan Yang Mulia," kata Floretta.
"Cuaca di dunia manusia sudah mulai memasuki musim semi. Ah, pasti banyak salju mencair di mana-mana," kata Alden. "Apa kamu juga mau berkunjung ke Sungai Diaphanous?"
__ADS_1
"Ya, aku mau," jawab Floretta mengangguk senang.
Perlahan denyut jantung wanita itu mulai meningkat dan kembali normal. Ujung jemarinya yang tampak pucat dan membiru, perlahan terlihat memerah.
Ting! Sebuah pesan masuk di ponsel milik Floretta.
"Hei, katanya kamu udah sadar, ya?" Ternyata itu pesan dari Raven.
"Iya, Yang Mulia," balas Floretta singkat. Jemarinya masih terlalu lemah untuk mengetik pesan.
"Syukurlah. Jangan lupa jaga kesehatan, supaya kamu bisa cepat kembali bekerja padaku. Jangan lupa, posisimu sebagai pelayan pribadiku belum dicabut. Pekerjaan jadi menumpuk sejak kamu sakit," tulis Raven dalam pesannya.
"Huh! Menyebalkan! Jadi dia memintaku untuk segera sembuh, biar bisa kembali menjadi babunya? Ku pikir dia benar-benar khawatir padaku," gumam Floretta kesal.
"Ada apa, Flo?" tanya Alden bingung.
"Haah, Kak Raven benar-benar nggak punya hati, ya," gerutu Floretta kesal. Tapi di waktu bersamaan, wanita itu juga nggak terlihat marah beneran.
"Apa, sih?" Alden merebut HP milik Floretta dari tangannya.
"Hahaha, ternyata dia bisa melakukan hal seperti ini juga padamu?" Alden tertawa terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya yang terasa keram.
"Cih, kamu bikin aku tambah kesal, Al," gumam Floretta dengan bibir maju tiga sentimeter. "Tapi dia beneran khawatir padamu, kok," ungkap Alden.
"Masa, sih?" cibir Floretta nggak percaya.
Namun Alden justru mengangguk kuat. "Dia marah banget, waktu tahu ada yang menukar minumanmu dengan racun. Dia juga bersedia menggantikan pekerjaanku, selama aku membawamu berobat di sini," kata Alden.
"Eh, jadi beneran?" Floretta merasa bersalah, karena telah mencurigai kakak iparnya itu.
"Iya."
"Terus giman kondisi istana setelah kejadian itu?" tanya Floretta penasaran.
"Nggak ada seorang pun yang tahu, kalau aku membawamu keluar kerajaan vampir. Kak Raven benar-benar menutupinya dengan sangat rapat. Jika anggota dewan istana mengetahui aku melalaikan tugas, pasti mereka dengan cepat mencari penggantiku," ungkap Alden.
"Kak Raven sebenarnya sangat menyayangimu. Cuma seluruh istana sudah terlanjur menggapnya pangeran dingin yang kejam," balas Floretta.
Alden justru menggelengkan kepalanya. "Dia mencintaimu, Flo. Kak Raven melakukan ini semua, karena dia mencintaimu," ucap Alden.
__ADS_1
(Bersambung)