
"Mulai hari ini kamu adalah pelayan di bagian gudang. Kamu juga bertanggung jawab pada sampah di bagian dapur."
Raven mengumumkan pekerjaan baru Floretta di depan semua pelayan dapur. Wanita itu kini sudah mengenakan seragam abu-abu, dan rambut disanggul ke atas, seperti para pelayan lainnya.
"Pastikan semua pekerjaanmu benar. Jangan sampai ada sepotong kulit kentang pun tertinggal di lantai. Nanti Madam Cruella akan mengawasimu," lanjut Raven dengan tatapan tegas.
"Baik, Yang Mulia," ujar Floretta pasrah.
Sejak keputusan resmi tentang jabatan barunya diumumkan kemarin, Alden dan Floretta tak bisa menentangnya. Mau tidak mau, dia harus menjalankan keinginan sang pangeran kejam tersebut.
"Wah, gila. Dia bisa mampus kalau diawasi sama Madam kejam itu. Sebutir garam pun dia bisa melihatnya," bisik beberapa pelayan yang berdiri di barisan paling belakang.
Floretta yang mendengar itu semua, langsung lemas mendengarnya. "Kakak ipar sialan! Apa dia akan membunuhku pelan-pelan dengan cara seperti ini?" batinnya kesal.
"Aku tarik kembali kata-kataku kemarin, yang bilang dia kesepian dan butuh teman bicara," imbuh Floretta lagi.
"Kalian semua harus ingat, ya. Dia harus menyelesaikan tugasnya sendirian. Tidak ada satu pun yang boleh membantunya. Kalau ketahuan, maka Floretta maupun yang membantunya akan mendapat hukuman lebih berat lagi," kata Raven sambil mengancam.
"Cih, siapa juga yang sudi membantunya?" bisik para pelayan, sembari menatap Floretta dengan sinis.
"Dan kamu, jangan coba-coba untuk kabur lagi seperti dulu," sambung Sang Pangeran.
"Kenapa Pangeran Raven nggak langsung membunuhnya aja, sih?" bisik beberapa pelayan semakin julid.
"Sudah jelas, kan? Yang Mulia Pangeran Raven ingin mempermalukan manusia itu? Kita lihat saja, berapa lama dia bisa bertahan di sini," balas pelayan lain.
"Haah, mulai lagi hari-hari gelapku seperti dulu," batin Floretta. Wanita yang sudah biasa mendengar kalimat sindiran dan bentakan itu hanya tersenyum kecut, dan teringat masa lalunya yang kelam.
"Kau sudah paham kan, Floretta? Kalau kau ingin mendapat pengakuan dariku, sudah semestinya kau merangkak dari bawah," bisik Raven di telinga sang putri.
Tetapi kemudian dia buru-buru menjauh dari sana. Aroma darah sang putri yang semakin menggoda, membuat air liur Raven mulai menetes.
__ADS_1
"Aku benar-benar dalam masalah besar sekarang," batin Floretta.
...🦇🦇🦇...
"Ck! Kok nggak ada hal menarik sih, dari tadi? Aku bosan kalau begini terus. Padahal aku udah mengisi tenaga penuh untuk marah-marah tadi," gerutu Madam Cruella yang bertugas mengawasi pekerjaan Floretta.
Istri sang raja itu bekerja dengan sangat rapi dan sangat teliti. Wanita itu merapikan semua karung-karung berisi gandum, tepung hingga gula, lalu memastikan semuanya tertutup rapat dan tidak berada di tempat lembab.
Setelah itu dia menyusun bumbu masakan yang dikemas dalam botol dan kaleng, serta memastikan tanggal kadaluarsanya. Floretta juga mencatat jumlah persediaan masing-masing bahan makanan.Tak lupa, Floretta juga memastikan bahwa susu, mentega, dan keju tetap dalam keadaan segar.
Terakhir, Floretta lalu mengumpulkan semua sampah dapur, lalu memasukkannya ke dalam peti-peti khusus untuk sampah. Dia juga telaten memisahkan sampah-sampah tersebut berdasarkan jenisnya.
Madam Cruella berputar mengelilingi dapur istana nan luas itu, untuk mengecek hasil pekerjaan Floretta. Namun lagi-lagi, dia tak menemukan satu cela pun untuk dikomentari.
"Gimana bisa dia melakukan semua hal ini sendirian? Bahkan para pelayan lain saja yang bekerja bersama-sama, masih tidak serapi ini hasilnya. Dia juga sangat teliti mengerjakan semuanya," ujar Madam Cruella.
Grooowwwlll! Suara dari perut Floretta memecah keheningan di ruangan itu. Floretta pun baru menyadari, bahwa dia belum makan sejak tadi pagi.
"Baik, Madam," ucap Floretta tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ya ampun, ini pemandangan yang sangat luar biasa. Ternyata kamu cocok banget ya menggunakan pakaian itu. Kenapa nggak sekalian melamar jadi pegawai resmi aja?" salah seorang pelayan yang bertugas di dapur, tertawa senang melihat Floretta.
"Gimana rasanya dipermalukan seperti ini? Seru banget, kan?" timpal pelayan lainnya, yang bertugas untuk menyiapkan darah seluruh anggota istana.
"Huh! Abaikan saja, dia. Pekerjaanku masih belum selesai," gumam Floretta pada dirinya sendiri.
"Apa? Dia mengabaikanku? Bahkan sudah jadi pelayan pun kamu masih sombong, ya," umpat pelayan tersebut.
Floretta masih tidak menggubris para pelayan tersebut. Dia sibuk mengumpulkan kulit kerang, bekas sarapan tadi pagi.
"Heh! Kamu mendengarku apa nggak? Nih, pel bagian ini sekalian. Aku mau menyiapkan makan malam untuk raja dan pangeran," kata kedua pelayan tersebut, sambil tertawa cengengesan. Mereka meletakkan sebuah ember dan sebuah kain pel di sebelah Floretta.
__ADS_1
"Mengepel lantai bukan tugasku. Aku hanya bertugas merapikan gudang, dan membuang sampah di dapur saja." Kali ini Floretta membalas para pelayan tersebut.
"Jangan banyak membantah! Posisimu sekarang hanyalah seorang pelayan gudang. Bahkan lebih rendah daripada kami. Cepat lakukan itu! Mengepel kan bagian dari bersih-bersih sampah juga," kata mereka.
"Purple, Tosca, jangan ganggu Floretta. Kerjakanlah pekerjaan kalian," tegur Madam Cruella, yang mulai jengah dengan sikap para pelayan tersebut.
"Madam jangan terlalu memanjakannya, dong. Mentang-mentang dia istri raja, lalu dia nggak mengerjakan tugas dengan benar," protes kedua wanita itu.
"Nih, untukmu." Tiba-tiba saja salah seorang di antara mereka mengangkat ember, hendak menyiram Floretta dengan air kotor itu.
Byurrr! Air kotor itu pun tumpah semuanya hingga ke lantai.
"Loh, kok nggak basah?" Floretta yang kebingungan, mengangkat wajahnya dan melihat sekelilingnya.
Rupanya Raven telah berada di ruangan itu, dan berhadapan langsung dengan para pelayan tadi. Namun, ada yang berbeda dari mereka. Seluruh tubuh kedua wanita itu tampak basah kuyup dan mengeluarkan bau tak sedap.
Sepertinya tadi Raven menggunakan sihirnya, dan menuangkan air dalam ember itu ke arah para pelayan.
"Dia memang pelayan saat ini, tapi aku nggak membiarkan kalian berbuat sesuka hati," ujar Alden dengan rahang mengeras.
"Maaf, Yang Mulia. Kami hanya mengajarinya, karena pekerjaannya tak beres," kilah Purple yang memiliki kulit sedikit gelap.
"Kalian pikir aku nggak bisa mendengar ucapan kalian tadi? Urus saja pekerjaan kalian sendiri. Jangan sampai makan malam terlambat gara-gara ulah kalian. Yang bisa memerintah Floretta hanya aku dan Madam Cruella," balas Raven dengan sengit.
"Huh! Kenapa dia membela manusia itu, sih? Kakak sama adek sama aja," gerutu para pelayan itu dalam hati.
"Oh iya, jangan lupa ganti baju kalian. Bau busuknya tercium sampai di sini." Raven memberikan perintah tambahan.
Floretta tak bisa menahan tawa, melihat kedua pelayan resek yang kini sudah bau got itu. Padahal Floretta sendiri masih nggak tahu, gimana nasibnnya selanjutnya.
(Bersambung)
__ADS_1