
"Duke Edmund? Sedang apa kamu di depan kamarku? Lalu ke mana para pengawal?"
Floretta menghentikan langkah kakinya, ketika melihat seorang pria dengan pakaian resmi kerajaan mondar mandir di depan kamarnya dengan gusar. Lelaki yang sedang memunggungi Floretta itu pun perlahan membalikkan tubuhnya yang tinggi. Sekarang dia menatap sang putri dengan mata cokelatnya yang tajam.
"Aku datang untuk bernegosiasi dengan Anda, Yang Mulia." Edmund membungkukkan punggungnya, untuk memberi hormat pada Floretta.
"Negosiasi apa lagi?" ucap Floretta dengan suara rendah, takut terdengar oleh Alden.
Lelaki itu hanya menyeringai, saat melihat wajah ketakutan Floretta. Langkah kakinya yang semakin dekat, terus mengauin ke arah sang putri yang diam tak bergerak.
"Edmund, jangan menakutinya seperti itu. Seorang pelayan bilang, kalau kamu sedang mencariku." Alden yang baru saja datang, memecahkan suasana tegang antara Floretta dan Edmund.
"Tinggalkan kami berdua," ucap sang raja dengan nada tegas pada wanita bergaun perak itu.
Floretta pun mematuhinya. Dia lantas berjalan menuju kamar rahasianya di lantai satu. Namun hatinya bertanya-tanya, apa gerangan yang akan dibicarakan Edmund dengan suaminya. Apakah soal Floretta yang hendak kabur ke dunia manusia?
"Kita bicara di ruang pribadiku saja."
Setelah Floretta pergi, Alden mengajak Edmund ke sebuah ruangan dengan design modern minimalis yang dominan putih. Tidak banyak perabotan di ruangan itu. Hanya ada satu set sofa berwarna abu-abu, sebuah rak buku dan tanaman hias, serta akuarium mini dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni.
"Duduklah, apa yang ingin kau bicarakan?Aku dengar kamu menyuruh pelayan untuk membereskan pecahan batu bulan di kamarku?" tanya Alden.
"Dia bukan pelayan, Yang Mulia. Dia adalah keluarga Amethyst, orang suruhan Erlina," ucap Edmund. "Mereka sekarang sedang menyusun rencana untuk menggulingkan tahta Yang Mulia. Kita harus cepat mengangkat seorang ratu," lanjut pria itu.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya? Bukannya kamu ada di lihak mereka?" komentar Alden masih tak percaya. Dia mengernyitkan keningnya, ketika mendengar kalimat yang meluncur dari mulut musuhnya itu.
"Aku memang masih belum terima, seorang manusia menjadi ratu negeri ini. Tetapi aku juga gak mau terjadi perang seperti dulu lagi. Keluarga bangsawan Amethyst sedang mempersiapkan Novac sebagai raja."
__ADS_1
"Novac?" Alden mengangkat kepalanya dan menatap wajah Edmund, untuk memastikan bahwa pria itu tidak berbohong.
"Iya. Erlina menaruh dendam pada Yang Mulia, dan ingin membalasnya dengan cara begini," jelas Edmund. "Lebih dari setengah dewan penasehat istana juga memihak kepada mereka," sambung pria bermata cokelat itu.
"Kalau soal dewan penasehat istana, aku sudah tahu sejak lama. Mereka hanya bermanis bibir di depanku saja. Kedua orang tuaku juga meninggal karena mereka," balas Alden dengan wajah sedih. Menjadi seorang raja, artinya menanggung beban seluruh kerajaan.
"Meskipun para pelayan sudah aku bungkam, tetapi soal kesehatan Yang Mulia yang telah pulih pasti akan menyebar dengan cepat. Lalu mereka membuat rencana baru. Sebaiknya kita mempercepat ujian calon ratu, dan mengukuhkan kekuatan," usul Edmund.
"Apa yang kamu inginkan?" ucap Alden dengan nada suara dingin.
"Hah?" Edmund mengerjapkan matanya dengan bingung.
"Kamu pasti nggak melakukan ini dengan tangan kosong, kan? Apa yang kamu inginkan dariku?" tegas Alden.
Edmund hanya terdiam. Sesungguhnya dia datang ke sini tanpa memikirkan rencana apa pun. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah balas dendam pada para sahabat yang telah mengkhianatinya.
"Apa kamu beneran tulus memihak kami?" tanya Alden setelah beberapa detik hening.
"Aku sendiri nggak tahu. Aku hanya memihak pada kelompok yang bisa dipercaya dan nggak berkhianat," jawab Edmund dengan ragu.
"Hm, baiklah. Soal ujian ratu yang dipercepat aku setuju. Tapi masalahnya, apa Floretta siap menjalaninya? Ini bukan seperti ujian di dunia manusia, yang hasilnya bisa dimanipulasi," kata Alden dengan cemas.
"Yang Mulia, Putri Floretta telah melalui semua ujian dengan baik. Apalagi dengan sosoknya sebagai penyihir agung saat ini. Dia adalah calon ratu yang sempurna bagi negeri ini," kata Edmund.
Alden tertawa kecil mendengar kalimat itu. "Duke Edmund, kamu nggak sedang menjilatku, kan?" Pria itu masih belum percaya sepenuhnya pada bangsawan Grey di hadapannya.
"Anggap saja begitu," balas Edmund tak menampik tuduhan sang raja vampir. "Tapi aku lebih memikirkan pekerjaanku sebagai ketua dewan istana. Aku harus memastikan kerajaan ini tetap tenteram tanpa ada peperangan," imbuhnya sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Alden terdiam sambil memandang lelaki yang beberapa saat yang lalu masih menjadi musuhnya.
"Apa surat rekomendasi dariku masih belum cukup, untuk membantu Putri Floretta menjadi seorang ratu?" ucap Edmund kemudian.
"Ku rasa itu cukup. Kita harus melakukannya dengan cepat, sebelum pihak oposisi menguasai istana. Aku harap kamu bisa memegang ucapanmu, Duke Edmund," kata Alden.
...🦇🦇🦇...
"Apa ada yang mengganggumu, Yang Mulia? Sejak pertemuan dengan Duke Edmund tadi, Yang Mulia selalu gelisah," kata Floretta dengan cemas.
Alden membalikkan tubuhnya, lalu duduk di sofa disamping sang istri. "Flo, kamu udah siap untuk ujian calon ratu, kan?" ucapnya.
"Apa? Udah jelas belum. Aku belum sempat belajar sama sekali," balas Floretta dengan cepat.
Alden menanggapi jawaban sang istri hanya dengan pandangan yang intens dan penuh intimadasi.
"Memangnya apa yang terjadi? Bukannya tadi siang Yang Mulia membujuk dewan penasehat istana untuk mengangkat Pangeran Raven sebagai raja?" kata Floretta beberapa saat kemudian.
Alden lalu menceritakan semuanya, tanpa satu hal pun yang ditutupi. "Apa Edmund bisa dipercaya?" tanya Alden sambil mengerutkan keningnya.
Floretta menghela napas pelan, lalu menghembuskannya kembali. "Entahlah, aku pun masih belum bisa mempercayaimu, Yang Mulia," ucapnya lirih.
Alden tidak terkejut mendengar kalimat yang meluncur dari wanita jelita itu. Namun wajahnya tertunduk sedih, karena mengetahui sang istri sedikit menjaga jarak dengannya hari ini. Sejak tadi, dia mendengar Floretta menyebutnya dengan "Yang Mulia", bukan "sayang" atau "kamu" seperti biasanya.
"Tapi bukankah hal ini harus didiskusikan dengan dewan penasehat? Mana bisa Yang Mulia memutuskan sendirian?" kata Floretta lagi.
(Bersambung)
__ADS_1