
"Raja kita udah beneran gila kayaknya. Kenapa sih, masih menerima wanita itu? Dia kabur dari istana karena takut dengan bangsa kita, tetapi ujung-ujungnya malah kembali lagi," bisik seorang pelayan yang membersihkan kamar raja.
Pelayan itu mengira, kamar mewah milik raja itu sedang kosong. Mereka tidak tahu, jika Floretta berada di balik kamar mandi.
"Mana mungkin manusia itu rela meninggalkan harta kekayaan Yang Mulia Raja? Dia butuh ratusan tahun untuk menghabiskan semua kekayaan milik Yang Mulia Raja tanpa bekerja," balas pelayan lainnya.
"Ini bukan suara Lily dan Bu Magenta. Apa mereka pelayan khusus di kamar raja?" pikir Floretta yang menguping dari balik pintu kamar mandi. Wanita itu sengaja mematikan shower, agar lebih leluasa mendengarnya.
"Tapi gimana caranya pelayan rendahan itu membuat raja luluh? Apa dia menggunakan ilmu hitam untuk membuat raja jatuh cinta? Padahal tunangan raja jauh lebih berkelas di bandingkan dirinya." Pelayan lainnya ikut berargumen.
"Duh, nggak tahu deh. Mungkin aja selera raja kita udah rusak parah," jawab pelayan pertama. "Tetapi memangnya dia nggak tahu? Gara-gara ulahnya semua pekerjaan raja tertunda. Bahkan negara tetangga sampai membatalkan kerja sama militer," sambungnya.
"Wanita seperti itu mana peduli sama sekelilingnya. Yang penting hidupnya bergelimang harta," balas yang lain.
"Huh, aku benci dia. Harusnya dia mati saja. Dia nggak pantas jadi ratu," umpat pelayan yang pertama.
"Gila! Siapa sih, yang berani ngomongin aku kayak gitu?" Rasa penasaran Floretta semakin meningkat. Dia segera memasang handuknya, dan hendak keluar dari kamar mandi memergoki mereka.
"Ya mau gimana lagi? Raja kita kan memang ada kelainan? Hanya dia sendiri vampir yang tidak menyukai darah manusia. Harusnya dia nggak pantas jadi Raja Vampir," balas pelayan kedua.
"Benar! Pasti karena itu juga dia dikucilkan dan nggak punya teman. Sifatnya aja aneh gitu," ujar para pelayan itu lagi.
"Hah? Apa mereka bilang? Alden nggak suka darah manusia?"
Floretta terkejut mendengar fakta tersebut. Calon ratu kerajaan vampir itu mengurungkan langkahnya, agar bisa mendengar gosip tentang Alden lebih banyak lagi.
"Katanya kalau nggak suka darah manusia, gairahnya juga lemah, kan? Apa itu alasannya Yang Mulia Raja menikahi manusia? Karena dia takut rahasia pribadinya di ranjang bakal terbongkar, kalau dia menikahi sesama vampir," ucap salah seorang pelayan sambil cekikikan.
"Hah? Apaan, sih? Kehidupan ranjang raja itu bukan urusan kita. Yang penting itu gaji kita naik terus tiap tahun," kata seorang pelayan yang berpikir realistis.
__ADS_1
"Udah yuk, cabut. Aroma darahnya bau banget, padahal dia nggak ada di ruangan ini. Yang Mulia Raja pasti nggak mengetahuinya, karena dia nggak pernah minum darah manusia," ajak salah seorang pelayan.
"Hahaha, benar itu. Kalau aja wajahnya nggak tampan, aku males banget menganggapnya sebagai raja," sahut para pelayan itu, sembari meninggalkan kamar sang raja.
"Kenapa nggak Pangeran Raven aja sih yang jadi raja?" timpal yang lainnya pula.
Floretta masih berada di dalam kamar mandi, ketika para pelayan meninggalkan kamar itu. Floretta. Dia membatu, sejak mendengar bahwa Alden tidak pernah meminum darah manusia.
Tetapi tidak lama kemudian, dia bergegas berganti pakaian dan hendak mencari keberadaan sang suami, yang sudah menghilang sejak dia bangun.
Beberapa saat kemudian, Leon Hazel sang pengawal dan Lily Ivory sang pelayan pribadi pun datang.
"Selamat pagi," sapa Floretta tiba-tiba. Dia baru saja selesai mengenakan gaunnya, dan belum sempat merias diri.
"Selamat pagi, Yang Mulia Putri Floretta," jawab Lily dan Leon, seraya mendundukkan kepala mereka.
"Maaf saya datang terlambat, Yang Mulia," ujar Lily. Dia merasa nggak enak, karena Floretta telah selesai mandi dan menyiapkan pakaiannya sendiri.
"Yang Mulia Raja menitip pesan, beliau ada rapat sebentar menteri pertahanan yang sempat tertunda. Yang Mulia Putri Floretta bisa sarapan sendiri, atau berjalan-jalan di sekitar istana," ucap Leon Hazel.
"Ah, terima kasih, Leon. Tetapi rasanya hari ini aku hanya ingin berada di kamar, sambil menonton drama," jawab Floretta dengan ramah. Dia menegakkan kepalanya, ketika Lily menyisir rambutnya yang hitam dan panjang.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan berjaga di luar. Kalau ada perlu apa-apa, Yang Mulia bisa mengatakannya pada Lily," balas Leon dengan hormat.
"Tunggu, Leon," seru Floretta tiba-tiba.
"Iya, Yang Mulia."
"Apa benar banyak pekerjaan raja yang tertunda, karena aku kabur kemarin?" selidik Floretta.
__ADS_1
"Anu ... Soal itu ..." Leon ragu untuk mengatakannya.
"Katakan, Leon. Ini perintah dariku," desak Floretta. Ini pertama kalinya Floretta menunjukkan sikap sebaga seorang bangsawan.
"Benar, Yang Mulia. Memang ada beberapa pekerjaan yang tertunda. Tetapi semua sudah ditangani para menteri dengan baik," jawab Leon dengan jujur.
"Ternyata begitu. Jadi aku mengacaukan semua urusan negara," gumam Floretta merasa bersalah. "Lalu...apa benar Yang Mulia Raja nggak meminum darah manusia?" tanya Floretta dengan suara sangat lemah.
"Ah, apa Yang Mulia mendengar obrolan para pelayan?" ucap Leon menutupi rasa terkejutnya.
"Kamu juga mendengar mereka bergosip?" Justru Floretta yang terkejut dengan respon yang diberikan Leon.
"Saya hanya menebaknya, Yang Mulia. Tetapi jangan dipikirkan terlalu berat, Yang Mulia. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan dan kenyamana Yang Mulia selama di sini," ucap Leon.
"Kenapa kalian semua seakan menutupi hal itu? Apakah itu suatu aib?" tanya Floretta dengan lirih. Dia menatap Lily dan juga Leon secara bergantian.
"Yang Mulia Raja sangat sensitif dengan hal itu. Beliau tidak mau dianggap cacat, hanya karena tidak meminum darah manusia," ujar Leon. "Saya harap, Yang Mulia juga harus berhati-hati membicarakan hal ini pada Yang Mulia Raja," imbuh pria muda itu.
"Cacat? Jadi vampir yang tidak meminum darah manusia dikatakan cacat? Jadi kalian semua meminum darah manusia untuk mengenyangkan perut?"
Pertanyaan Floretta semakin membuat Leon dan Lily merasa bersalah. Bagaimana pun juga, calon ratu mereka adalah seorang manusia.
"Kenapa kalian berdua diam aja? Apa kalian juga membenciku yang hanya manusia ini? Bahkan di dunia manusia pun aku hanya seorang pelayan rendahan," ucap Floretta menumpahkan sesak di dadanya.
"Jangan menangis, Yang Mulia. Kami tidak pernah begitu ..." ucap Lily berusaha menenangkan Floretta.
"Sebenarnya telingaku sudah penat, mendengarkan semua gosip itu. Saat ini kamar adalah tempat ternyaman bagiku," ujar Floretta sambil menunduk sedih. Gaun yang dipakainya basah, karena tetesan air matanya.
"Apa Yang Mulia menikahi raja kami karena hartanya? Atau memang benar Yang Mulia Putri menggoda raja kami dengan segala cara?" tanya Leon secara frontal.
__ADS_1
(Bersambung)