
"Sesak! Rasanya sesak banget, seperti ada dinding tak terlihat sedang menghimpitku. Apa ini adalah akhir dari hidupku?" batin Floretta pasrah. "Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?" batinnya lagi.
Napas manusia itu terdengar memburu. Rasa takut dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Tubuhnya kian melemah.
"Ah, dia pasti sangat ketakutan. Aroma tubuhnya semakin wangi," batin Raven menggebu-gebu. Tanpa dia sadari, taringnya yang tajam telah keluar.
"Aku mohon, kakak ipar. Lepaskan aku dari sini," bisik Floretta hampir putus asa.
Tuk! Raven mundur selangkah menjauhi Floretta. "Kakak ipar? Hanya orang yang pantas, yang boleh memanggilku seperti itu. Dan kau hanya manusia biasa yang tak berarti apa-apa. Bahkan darahmu sekali pun," bentak Raven.
"Uh, aku nggak boleh ketakutan kalau masih mau hidup. Mereka bilang darah manusia yang takut itu semakin enak, kan?" batin Floretta. Keberaniannya mulai muncul kembali, setelah Raven menjauhinya. Wanita itu berusaha kabur dari hadapan Raven.
Raven yang sudah terbuai dengan aroma darah Floretta, mendadak lepas kendali. Rasa penasarannya semakin memuncak dengan wanita itu. Dia lalu kembali mendekati Floretta yang hampir saja kabur.
"Sekarang, saatnya kau mati!"
Duakk! Kaki Floretta naik ke atas, dan menendang tubuh kakak iparnya dengan kuat. Ternyata ilmu beladiri yang dulu dia pelajari di sekolah, sangat berguna di saat kepepet seperti saat ini.
"Itu benar! Aku memang tidak berarti apa-apa. Aku tidak berharga, karena aku bukan seorang vampir seperti kalian!"
Belum sempat Raven membalas tendangan dari Floretta, dia malah disemprot wanita itu dengan kata-kata bernada tinggi.
"Kalau kau paham itu semua, kenapa kau masih ada di sini?" balas Raven dengan nada tak kalah tinggi. Namun kali ini dia tidak menyakiti atau melukai Floretta seperti pertemuan awal mereka.
"Aku bahkan nggak tahu, kenapa Alden mempercayaiku, meskipun aku tidak bisa apa-apa! Tapi bukan berarti aku akan diam aja diperlakukan rendah dan kasar seperti ini."
Raven tidak kaget lagi melihat Floretta yang berani melawannya. Namun tetap saja lengkingan suara wanita itu mengganggu pendengarannya yang sangat sensitif.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" bisik Raven sambil menghirup aroma darah Floretta yang sangat menggiurkan.
"Aku akan buktikan padamu, kalau aku juga pantas berada di sini," jawab Floretta.
__ADS_1
Meski suaranya masih terdengar bergetar, tetapi kedua bola matanya yang biru, membalas tatapan mata sang pangeran.
Raven kembali mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Entah apa alasannya, hatinya selalu bergetar saat bertatapan langsung dengan sang adik ipar yang sangat dia benci.
"Bagaimana kamu membuktikannya? Kau bahkan tidak tahu apa pun soal menjadi ratu," balas Raven beberapa saat kemudian. Nada suaranya sudah mulai turun.
"Aku akan belajar dengan sangat keras. Meskipun aku akan bercucuran darah sekali pun," jawab Floretta dengan lantang.
"Hah! Apa kau yakin?" Cibir Raven sambil tertawa kecil. "Belajar sekeras apa pun, kamu tetaplah bangsa manusia yang lebih rendah dari pada kami," sambung sang pangeran.
"Aku udah bersumpah untuk selalu mendukung Alden, dan tidak akan meninggalkannya lagi. Dia suamiku secara sah," ujar Floretta seraya menepuk dadanya, untuk menunjukkan keseriusannya.
"Kau? Yang pelakor ini?" Raven tertawa semakin kencang.
"Uh!" Dada Floretta terasa nyeri, mendengar tamparan keras dari sang pangeran.
"Bukankah Yang Mulia berbuat begini demi melindungi Sang Raja? Aku tahu, kalian berdua sebenarnya saling menyayangi," ucap Floretta tanpa menjawab kalimat Raven yang terakhir.
"Jangan sok tahu. Aku bukan melindungi Alden atau siapa pun. Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan," balas Raven lagi.
Tak mau membuang kesempatan, Floretta pun segera beranjak pergi dari sana. Gumpalan bola bulu yang imut itu mengikuti langkah kaki Floretta di sisi kiri.
"Wah, Pangeran membiarkannya hidup? Tidak mungkin. Aku harus melaporkan hal ini pada anggota dewan lainnya."
Seekor burung merpati hitam mengepakkan sayapnya di dekat rumpun anggrek, lalu berubah wujud menjadi sosok wanita jelita berambut keperakan.
"Jangan ikut campur urusanku, Erlina," tegur Raven dengan wajah tak suka. "Sejak kapan kau ada di sana?" sambung pria itu lagi.
"Ah, aku ada di sana mungkin ... Sejak lima menit yang lalu," ujar Erlina setelah berpikir sejenak.
Wanita itu lalu berjalan memutari Raven, sambil menatap pria itu dengan tajam.
__ADS_1
"Aku masih sempat melihat pangeran yang berhati dingin ini terpesona dengan kecantikan manusia tadi. Astaga! Jangan-jangan pangeran dingin kita ini menyukai adik iparnya sendiri," ucap Erlina pura-pura terkejut.
"Sembarangan! Jangan membuat gosip yang tidak-tidak. Aku nggak mungkin menyukai seorang manusia, yang derajatnya nggak lebih tinggi dibandingkan sekeranjang apel di atas meja," bantah Raven buru-buru.
"Owww ... Baiklah. Kita lihat saja nanti," ucap Erlina sambil tertawa kecil.
Kedekatan yang telah terjalin di antara keduanya sejak kecil, menbuat Erlina tampak santai berbincang dengan saudara laki-laki raja vampir itu.
"Lalu apa urusanju datang ke sini? Kayaknya kita nggak punya janji, deh," ucap Raven.
"Bawa dulu aku ke dalam. Aku akan bicarakan di sana," sahut Erlina.
"Nggak! Kita bicara di sini aja. Aku nggak mengizinkan siapa pun memasuki wilayahku, kecuali raja."
Tak disangka, Raven menolak keinginan Erlina yang sok akrab dengannya. Hal itu langsung membuat mood Erlina memburuk.
"Huh! Ya udah! Padahal aku cuma mau mengajak Pangeran bekerja sama, untuk menyingkirkan manusia itu dari kerajaan kita," ucap Erlina bersungut-sungut. "Tapi kayaknya hal itu mustahil, karena Pangeran sendiri sepertinya membela dia," imbuh Erlina Amethyst.
"Jangan meremehkanku, Erlina. Siapa pun di kerajaan ini pasti tahu, kalau aku sangat ingin menjadi raja. Dan aku sudah menyusun rencana yang matang, untuk membuatnya nggak betah tinggal di sini," jawab Raven panjang lebar.
"Oh ya? Baguslah. Aku akan menagih janji Pangeran itu," balas Erlina.
"Tapi kau juga harus ingat! Kalau aku menang dan menjadi raja, posisimh sebagai calon ratu juga akan tergeser. Karena aku nggak akan memilihmu sebagai istri," sambung Raven sambil menyeringai lebar.
Wajah Erlina mendadak pucat. Dia baru menyadari, apa konsekuensi yang harus diambilnya, jika mendukung kubu Raven Black.
"Ah, aku lupa. Sore ini aku ada acara minum teh bersama para bangsawan dari Timur. Aku pergi dulu, ya," ucap Erlina menghindar dari Raven.
"Cih! Dasar pengecut. Dia pikir akan tetap menjadi ratu, siapa pun rajanya?" cibir Raven dalam hati.
Sementara itu di wilayah kediaman raja dan sang putri, Lily berlari dengan cemas menemui Hazel.
__ADS_1
"Hazel, ini gawat! Yang Mulia Putri Floretta hikang lagi," serunya.
(Bersambung)