Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 82. Bukan Darah Blue


__ADS_3

"Apa kau bilang? Kastil Welwitschia diserang dan Putri Floretta menghilang?" Raven mengulang kalimat Orange yang nebgabarinya via telepon.


"Benar, Yang Mulia. Sekarang Yang Mulia Raja meminta pertolongan untuk menggantikan pekerjaannya sementara di sini," jawab Orange, menyampaikan pesan dari Alden tadi. "Yang Mulia Raja ingin menyembunyikan masalah ini untuk sementara waktu," imbuhnya.


"Cih, udah kuduga raja lemah itu nggak bisa menjaga satu orang manusia dengan benar. Gimana dia mau menjaga kerajaan ini?" umpat Raven kesal.


"Emm ... Maaf, Yang Mulia. Jadwal acara Putri Floretta dan Yang Mulia Raja memang berbeda. Jadi mereka terpisah dan kejadiannya begitu cepat. CCTV kastil tidak menangkap kejadian aneh apa pun, selain para prajurit yang hendak mendobrak pintu kamar Yang Mulia Putri," jelas Orange yang masih tersambung di telepon.


"CCTV nggak menangkap apa pun? Sudah pasti ini pekerjaan para vampir penyihir itu. Harusnya dari awal aku nggak melepas mereka bepergian sendirian. Kalau begini kan aku juga yang repot," gerutu Raven pada Orange.


"Eh, tunggu! Kalau keadaan di sana sedang kacau. Artinya aku juga nggak bisa meninggalkan istana begitu saja," celetuk Raven mendadak.


"Kenapa, Yang Mulia?" tanya Orange bingung.


"Kelompok itu pasti sudah merencanakan semuanya dengan matang. Erlina nggak akan bisa menikah dengan Alden, karena sang raja sudah punya calon ratu sendiri," ucap Raven membeberkan isi pikirannya.


"Lalu?" Orange masih tidak tahu, ke mana arah pemikiran sang pangeran dingin itu.


"Tentu saja cara satu-satunya menjadi royal family adalah menguasai kerajaan. Dan ini kesempatan emas bagi mereka untuk menduduki istana. Karena kalau aku berada di sana, tugas kerajaan akan terbengkalai, dan istana bakalan kosong," jelas Raven lagi.


"Ah, benar juga," gumam Orange. "Kalau begitu sebaiknya kita membuat alasan lain, untuk menyembunyikan keadaan Sang Raja dan Tuan Putri untuk sementara waktu," sambung wanita itu lagi.

__ADS_1


"Siapa aja yang udah tahu tentang hal ini?" tanya Raven lagi.


"Sejauh ini aku baru memberi tahu dewan penasehat istana yang ikut ke lapangan, Yang Mulia. Tapi aku yakin sebentar lagi pasti semuanya bakal tahu," ucap Orange.


"Baiklah, kita susun rencana baru untuk menutupi masalah ini," balas Raven memutar otaknya.


...🦇🦇🦇...


"Huek! Apa-apaan ini, Erlina! Kau bilang dia keluarga Blue yang punya darah manis? Ini sih udah jelas aroma dan rasa darah keluarga green. Bahkan darah kambing dan domba masih jauh lebih enak dari pada ini."


Novac memuntahkan darah segar yang baru saja diteguknya. Dia juga membuang cairan berwarna merah pekat di dalam gelas kristal itu ke lantai.


"Aneh. Ini nggak masuk akal. Aku udah periksa semua dokumen resmi dia di dunia manusia. Dan memang benar, dia hanyalah keponakan jauh dari keluarga Green," ucap Erlina mengerutkan keningnya.


"Huh! Dasar bocah. Bisa saja mereka sengaja mengecohmu untuk meraup untung besar."


"Jangan memanggilku bocah, Russel! Aku ini calon menteri pendidikan. Jabatanku jauh berada di atasmu," ucap Erlina nggak terima dengan cibiran bangsawan krimson itu.


"Cih, tapi memang benar, kan? Mana ada vampir yang bisa ditipu selain bocah? Coba kau teguk darah manusia itu. Pasti kau nggak sanggup menelannya, karena rasanya mirip air comberan," kata Russel lagi.


"Aku setuju dengan Russel, Erlina. Kita nggak bisa memanfaatkan darah manusia ini."

__ADS_1


Edmund sang ketua dewan istana ikut menyela pembicaraan Erlina dengan Russel. Pria yang semula duduk di sebelah Novac, kini berdiri dan berjalan mendekati sosok manusia yang tergeletak gak berdaya di lantai itu.


"Tugas kita menyingkirkannya masih belum selesai. Kita harus menghilangkan jejaknya, sebelum Alden menemukannya," ucap Edmund lagi.


"Aku setuju. Kita musnahkan saja manusia ini. Atau kita kembalikan dia ke dunia manusia dalam keadaan gila," celetuk Daisy Krimson yang sejak tadi diam saja. Dia baru selesai mengeluarkan isi perutnya yang terguncang, karena meminum darah Floretta.


Edmund menatap tajam wanita yang terbaring lemah di lantai. Lampu temaram di ruang bawah tanah itu masih memperlihatkan dengan jelas bibir mungil manusia tersebut. Gaunnya tampak kotor, bercampur padu dengan debu dan pasir di lantai.


Pergelangan tangannya yang mungil tampak tersayat cukup dalam. Darah segar pun berceceran di lantai, mengeluarkan bau amis yang menyengat. Sudah bisa dipastikan, nyawanya nggak akan bertahan lebih lama lagi.


"Aku lebih menyukai opsi kedua. Kembalikan dia ke dunia manusia dalam keadaan gila. Jadi Alden nggak bisa menuduh kita dengan kasus pembunuhan atau penganiayaan," ucap Novac memberi masukan.


"Oke, kita lakukan rencana itu," kata Edmund menyetujui saran para anggotanya.


"Ya sudah kalau gitu. Tubuh manusia ini kita tinggalkan saja dulu di sini, sampai kita punya waktu yang tepat untuk membuang dia ke dunia manusia," kata Erlina kemudian.


"Aku udah mengunci tempat ini dengan segel sihir yang kuat. Jadi raja vampir yang bodoh itu nggak akan bisa melacaknya," ucap Erlina penuh dendam.


"Nah, masalah ini udah selesai, kan? Sekarang kita tinggal menguasai istana, selagi mereka sibuk mencari Tuan Putri ini," ucap Novac dengan senyuman sinis.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2